#349: Tentang Menemukan

Dibaca 107 kali

kelepon

Gambarnya gak nyambung. Ah, sudahlah. Hahahaaa….

Beberapa kali saya merasa bahwa satu hal yang diperlukan ketika memulai sesuatu itu adalah … kemauan. Bukan yang lain. Nanti di perjalanan, kamu akan dipertemukan.

Misalnya karena saya dulu suka menulis fantasi—high fantasy apalagi—saya pun dipertemukan dengan sekumpulan orang yang suka menulis fantasi, terutama high fantasy. Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari mereka dan itu gak akan bisa dibayar dengan apapun. Terutama tentang world building yang rumit itu, tentang konsep, dan juga tentang bagaimana membuat sebuah spesies—setidaknya—bisa dipercaya kalau ada. Soalnya di kumpulan orang-orang itu, ada dokter yang akan mengoreksi kesalahan anatomi atau fungsi organ dan logika biologis lainnya.

Tapi saya gak bisa lama-lama di sana karena kemudian saya tertarik dengan hal lainnya lagi. Saya kemudian tahu bahwa yang namanya high fantasy itu sulit dan memasarkannya pun sulit di sini. Apalagi kalau penulisnya bukan orang luar dan novelnya bukan novel impor. Saya mencoba membuat fantasi, tapi dikawinkan dengan romens dan gak perlu world building yang sulit. Saya pun dipertemukan dengan penulis yang punya keinginan sama. Kami pun banyak berdiskusi.

Lalu, gak lama kemudian, satu hal yang ada di kepala saya dan jadi keinginan baru: saya harus menerbitkan buku. Gak bisa hanya dengan mengaku-ngaku penulis padahal karyanya belum pernah masuk ke pasar dan belum pernah menerima pedesnya kritik di Goodreads. Hahahaaa…. Saya pun dipertemukan dengan seorang teman yang mengenalkan penerbit yang akhirnya menerbitkan novel pertama saya.

Setelah novel itu terbit, saya punya keinginan lain: saya ingin menulis dengan lebih baik. Bukan hanya dengan segenap hati, karena sepertinya hati bisa aja salah. Tapi juga dengan segenap pikiran. Ibarat kata salah seorang penulis favorit saya dari SMA, Afifah Afra: menulis itu harusnya seperti hamil. Dijaga sejak berbentuk janin, diberi nutrisi yang cukup, dan dipersiapkan kelahirannya dengan suka cita. Sehingga, ketika akhirnya dia benar-benar lahir, karya itu akan menjadi persembahan pada dunia. Sesuatu yang kamu lakukan karena kamu mencintai apa yang kamu lakukan. Bukan karena kamu ingin popularitas, materi, apalagi sekedar hanya untuk pembuktian diri kalo kamu bisa “hamil”.

Sampai di sini, saya harus bergerak lagi. Mencari teman-teman lain yang bisa membantu. Setidaknya, menunjukkan bagaimana hal itu dilakukan. Kadang saya merasa bahwa kebanyakan semangat itu datangnya bukan dari diri saya sendiri. Saya bukan orang yang bisa memotivasi diri sendiri ternyata. Tapi datang dari teman-teman. Bukan pula dari pujian atau dorongan untuk berkarya. Kebanyakan semangat untuk terus menulis itu datang dari obrolan ringan yang gak ada hubungannya dengan tulis-menulis. Hal-hal remeh yang dibicarakan karena mereka dan juga saya, mungkin udah capek ngurus proyek masing-masing. Sapa-sapaan ringan dan pembahasan tentang kejadian yang sama sekali gak akan membantu menyelesaikan naskah. Semua itu menjadi pengalih perhatian yang akhirnya membuat saya bisa fokus ketika saya berada di depan naskah yang harus saya kerjakan.

Setiap kali saya punya keinginan, hal yang saya dapatkan biasanya adalah dipertemukan. Bukan keinginannya seketika dikabulkan. Karena itu saya selalu menyambut orang-orang baru yang masuk ke hidup saya. Mungkin memang gak semua orang baik, tapi orang gak baik pun datang memberi pelajaran. Misalnya si Udin yang tempo hari saya ceritakan.

Sekarang saya dalam proses menyelesaikan dua naskah yang beda genre. Tiga sih sebenernya kalau mau ngitung naskah ujicoba yang saya buat untuk latihan dialog, deskripsi, setting, dan karakterisasi. Bukan untuk dicoba terbitkan apalagi mau dikasih ke orang buat dibaca karena emang dari awal mau dibuat suka-suka (baca: ancur). Saya jarang meng-update progress kerjaan saya ini di sosmed pribadi karena saya kebanyakan sekarang ini cuma haha-hihi di sana. Seneng-seneng doang. Untuk urusan naskah ini, saya biasanya langsung diskusi sama orang yang saya percaya bisa memberi masukan. Sisanya saya diskusi di komunitas atau grup yang ada di Facebook.

Untuk grup kepenulisan, saya menjadi anggota BAW (Be a Writer). Awalnya saya ikut komunitas ini karena ingin “dipertemukan” dengan siapa aja yang bisa membantu saya. Dan di sana saya ketemu dengan segambrengan teman-teman yang emang bukan hanya membantu tapi juga mau dengan senang hati direpotkan. Seru banget pokoknya. Apalagi rata-rata anggotanya udah pada menerbitkan buku.

Beberapa waktu belakangan, BAW mulai membuka diri untuk lebih banyak orang. Dulunya, hanya boleh ada seratusan orang di grup. Yang tidak aktif dalam hitungan satu bulan, dikeluarkan. Hal ini dilakukan agar sesama anggota bisa saling berinteraksi dengan akrab dan saling mengenal. Bukan hanya posting dan komen sesuatu di sana, trus udahan deh. Komunitas BAW yang lebih open ini mengajak teman-teman semua untuk masuk dan bergabung. Akan ada materi yang disiapkan oleh mentor berpengalaman. Misalnya Riawani Elyta yang sudah menerbitkan belasan novel. Lalu ada juga kegiatan lain yang dikawal oleh para koordinator harian.

Buat teman-teman yang ingin ikut keseruan di sana, silakan gabung di grup Facebook-nya dan juga ikuti perkembangannya melalui blog ini.

Have fun writing. 

3 Comments

  1. istiadzah
    Apr 22, 2014

    Hokeh, Udah ke grupnya. Makasih infonya, Mbak. :nyucuk:

  2. Fardelyn Hacky
    Apr 20, 2014

    Aseeeek….saya jadi bagian BAW juga dong :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)