#351: Selayar, Suatu Ketika

Dibaca 210 kali

IMG_5115edit

Matahari terbit di Pelabuhan Pamatata.

Gak pernah kebayang kalau ada suatu masa dalam hidup, saya keluar dari Jakarta dan bukan untuk liburan. Dulu saya mengira kalau saya akan ada di Jakarta, mungkin … selamanya. Bahkan ketika menjelang penempatan tugas Tuan Sinung, saya sempat bertanya, “Bisa gak sih, kamu ditempatkan di Jakarta aja?”

Saya gak mau keluar dari Jakarta bukan karena saya takut dengan kehidupan di tempat lain. Saya hanya merasa sudah terlalu cinta pada setiap sudut Jakarta. Jalan-jalan ramai yang saya lewati setiap hari, polusi, berebutan tempat duduk di Busway, sempit-sempitan di angkot, semua itu saya rasakan sebagai bagian dari diri saya. Memang kehidupan seperti inilah yang cocok dengan saya.

Ternyata, saya salah.

IMG_5033edit

Menjemur ikan asin di pelabuhan kecil untuk nelayan. 

Saya boleh berkehendak, tapi ada yang Maha Berkehendak. Tuan Sinung ditempatkan di Kepulauan Selayar—pulau yang bahkan namanya tidak pernah saya dengar sebelumnya. Saya membayangkan perjalanan ke sana akan begitu jauh, begitu melelahkan. Dan itu memang benar. Kepulauan Selayar letaknya jauh di selatan kota Makassar; dua ratus lima puluh kilometer jalan darat dan ditambah dengan dua jam ferry.

Di bulan-bulan tertentu, ketika keadaan laut sedang tidak bersahabat, ferry bisa diliburkan dan lalu-lintas kendaraan ke Selayar pun berhenti. Itu bukan hanya berarti kamu gak bisa menyeberang ke Pulau Sulawesi, tapi juga kamu akan kesulitan menemukan barang-barang tertentu. Misalnya, ketika ferry diliburkan seminggu lebih di bulan Desember kemarin, saya harus berputar di Kota Benteng (ibukota Kepulauan Selayar) untuk mencari susu UHT kotak dan gagal menemukannya.

IMG_3134edit

 Matahari terbenam di dermaga Benteng.

Dulu saya menganggap bahwa tinggal di tempat yang jauh dari kota itu akan mematikan sebagian dari kehidupan saya. Saya gak akan bisa datang ke acara kebudayaan yang saya suka, ke galeri kalau ada pameran, atau sekedar main ke mall dan toko buku. Itu semua benar. Tapi, ada banyak ladang besar yang juga menanti untuk saya kerjakan. Misalnya, di Selayar gak ada yang namanya macet. Tuan Sinung menghabiskan waktu di jalan untuk pergi dan pulang dari kantor maksimal setengah jam sehari. Ini pun biasanya kalau saya ada titipan belanjaan yang harus dia beli. Gak ada cerita waktu habis di jalan. Saya memegang kendali dua puluh empat jam penuh dari waktu hidup saya sehari.

Saya punya banyak waktu untuk banyak hal dan itu yang membuat saya bisa melakukan banyak hal. Sewaktu di Jakarta, saya memang menggunakan waktu saya di Busway atau angkot untuk membaca. Tapi itu membuat mata saya sakit, kadang. Gak konsen juga. Di sini, saya bisa membaca selama yang saya bisa di mana pun yang saya mau.

IMG_3227edit

 Pantai Baloiya Resort. Yang coklat-coklat itu ganggang loh, bukan sampah.

Yang paling saya sukai dari Selayar ini adalah keindahannya.

Ketika saya pertama kali diajak melihat pantai Baloiya Resort, saya langsung menganga takjub; bersih banget! Pantainya terawat dan nyaris gak ada sampah. Karena letaknya yang dekat dengan Taman Laut Takabonerate, saya suka melihat ikan-ikan dengan warna dan bentuk yang gak pernah saya lihat sebelumnya di sini. Harganya pun murah. Mau sepuluh ekor ikan cakalang sepanjang tiga puluh sentimeter? Cukup keluarkan uang sepuluh ribu saja.

Kalau senja tiba, saya suka keluar rumah dan melihat langit perlahan menjadi jingga, merah, lalu coklat, dan kemudian menghitam. Pemandangan yang selalu luar biasa setiap kali saya melihatnya. Bintang-bintang pun selalu kelihatan terang dan memenuhi langit setiap malam ketika cuaca cerah.

IMG_3081edit

 Rumah penduduk di dekat dermaga.

Kadang saya mengajak anak-anak main ke pelabuhan kecil yang jaraknya gak sampai satu kilometer dari rumah. Melihat kapal kayu yang menunggu penumpang untuk kemudian pergi ke pulau-pulau kecil di sekitar Pulau Selayar. Atau kadang kapal besar yang membawa bahan keperluan sehari-hari. Semua itu pemandangan yang membuat anak-anak tertarik dan penasaran. Dan senja di pelabuhan itu selalu indah.

Sekarang, hampir lima tahun saya tinggal di sini. Saya sudah sangat terbiasa dengan orang-orang yang begitu baik dan ramah. Kalau saya ke mesjid, saya suka melihat kunci mobil dan kunci motor tergeletak di kotak amal. Bapak-bapak yang sholat di mesjid biasa melakukan itu tanpa takut kendaraannya akan dibawa kabur orang. Apalagi kalau mereka datang memakai sarung dan baju koko. Daripada kuncinya nanti berbunyi-bunyi ketika sholat, mereka lebih suka meletakkannya di atas kotak amal itu. Sekali waktu, saya pernah meninggalkan dompet di pasar. Ketika sampai rumah, saya baru ingat. Saya kembali lagi ke pasar dan melihat dompet itu masih ada di sana, di posisi terakhir saya tinggalkan.

Saya sudah terlalu terbiasa tinggal di Selayar.

IMG_2511edit

 Pulau Karang Kecil di Pantai Baloiya.

Tapi mungkin saya harus meninggalkannya tidak lama lagi karena seperti air, saya harus mengalir agar tetap jernih. Dan lima tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk kesempatan bisa hidup dan menikmati apa yang Selayar berikan untuk saya.

Agar saya bisa bercerita tentang tempat-tempat lain yang juga saya singgahi. Tapi saya merasa bahwa Selayar akan tetap menjadi tempat favorit saya.

… karena saya pernah tumbuh di Selayar, suatu ketika.

IMG_3123edit

 Kapal yang sedang bongkar-muat di dermaga.

Dan apa yang sudah kamu serap untuk menumbuhkanmu, itu akan jadi bagian dari dirimu.

______________________________________________________

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti “A Place to Remember Giveaway”.

Banner-GA

16 Comments

  1. Uniek Kaswarganti
    May 16, 2014

    Lhooo… Mb Octa mau pindah kemana? *malah interogasi :>

    Pantai Baloiya Resort-nya emejing ya mba, huhuuu…bikin mupeng.

    Terima kasih sudah meramaikan GA A Place to Remeber :)

    • octanh
      May 20, 2014

      Waaah, lagi penjurian ya ini, Mbak Uniek? :D Saya mau pulkam, Mbaaak.

  2. Yosfiqar Iqbal
    Apr 29, 2014

    Tulisannya keren, foto-fotonya bikin berdebar-debar. Sebagai pecinta pantai, saya mesti kesana nih! =)

    • octanh
      May 20, 2014

      Harus dateeeng! Ini baru pantai yang biasa aja, Bang Yosfiqar. Ada yang lebih cakep. Kalo yang deket-deket kota, ya cuma segini ini bagusnya. Yang lebih jauh, lebih indah dan bersih. :D

  3. Riski Fitriasari
    Apr 27, 2014

    saya juga punya mimpi Mak, suatu saat saya ingin hidup di tempat seperti itu.. :)

    • octanh
      May 20, 2014

      … trus kita jadi tetangga. *melanjutkan mimpinya Mbak Riski*

  4. Susanti Dewi
    Apr 25, 2014

    Foto2nya bagus banget, sebagus aslinya tentunya

    • octanh
      May 20, 2014

      Cakepan aslinya, Mbak Susanti. Kalo di foto, suka gak dapet suasananya. Cuma gambar doang. Padahal kalo sore, selain pemandangan yang indah itu, juga suak dengeran suara burung dan anginnya enak banget. :D

  5. linda
    Apr 24, 2014

    tempat yg sangat sangat indah. saya mau nangis bacanya mbak karena saya kangen sulawesi. dulu saya sempat tiga tahun di sana. saya memang ga suka ikan tp kalo ada laut atau pantai saya suka. beruntung sekali bisa tinggal di sana. :T.T:

    • octanh
      May 20, 2014

      Mbak Linda dulu pernah tinggal di Sulawesi mana? Suami saya pas dateng ke sini juga gak suka ikan, Mbak Linda. Tapi karena sayur mahal, daging mahal … ya terpaksa deh dia saya masakin ikan melulu. Tapi lama-lama suka dianya. :D

  6. nyapurnama
    Apr 24, 2014

    aaaaakkk bagus banget Mbak, aku pengen banget ke Selayar dan ke Takabonerate. Tinggal di sana juga aku rela kayaknya… :>

    • octanh
      May 20, 2014

      Kalo tinggal menetap … jangaaan! :D Lumayan terpencil soalnya. :D Kalo buat liburan sih, oke banget. :D

  7. Nia Haryanto
    Apr 24, 2014

    Wuih…. cakep banget pemandangannya. Pengen ke sanaaaaaa…
    *jauhnya* :D

    • octanh
      May 20, 2014

      Kalo ke sini emang harus diniatin buat ketemu saya, Mbak Nia. Baru deh gak berasa jauh. *dikeplak*

  8. HM Zwan
    Apr 24, 2014

    wow,subhanallah…indah banget pulaunya mbkkkk…pingin kesana jadinya ^^

  9. noe
    Apr 24, 2014

    Maaakkkk… Huhuuuu… Indah bangeettttt. Aku pingin kesana sumpaaah. Jatuh cinta berkali-kali pada sulawesi selatan.
    Makasih sdh ikutan, muach.muach dari Serang..

Trackbacks/Pingbacks

  1. [Update Pemenang] A Place to Remember Giveaway | Nurul NOE - […] Octa NH, Selayar Suatu Ketika, mendapatkan buku 52 Reflection of Life dan […]
  2. [Update Peserta] A Place to Remember Giveaway | Nurul NOE - […] 7. Sukma Atika Wati 8. Susanti Dewi 9. Ina Tanaya 10. Bunda Lily 11. Pakde Cholik 12. Kania 13. …

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)