#356: Sudah Kukatakan Itu Jalan Sunyi

Dibaca 175 kali

IMG_5338

Saya gak pernah membaca sambil lalu….

Saya selalu membaca dengan serius. Mencermati setiap kata. Saya senang kalau menemukan kata baru, idiom baru, atau kadang hanya dialog lucu yang menurut saya bisa sangat menghibur dari buku yang sedang saya baca. Itu makanya saya kalau membaca novel, bisa sampai hitungan 3-4 hari atau minggu. Gak pernah ada cerita saya bisa membaca 2 atau 3 jam saja.

Sekarang saya lagi membaca bukunya Gladwell yang baru. Udah jalan seminggu dan saya masih ada di bab dua. Soalnya saya ngebaca sambil nandain bagian yang menarik, yang lucu, yang menurut saya bisa di-quote, atau bahkan yang bisa jadi pelajaran seandainya saya mau belajar menulis feature kayak dia. Biasanya saya nandain pake post-it, tapi karena buku Gladwell yang saya punya ini bentuknya ebook, jadinya saya nandain langsung di ebook-nya. Lebih simpel sih. Tapinya kalau nandain pake post-it, setidaknya saya nulis. Saya jarang banget nulis tangan sekarang-sekarang ini soalnya. :mewek:

Tujuan akhir saya sih, bisa merumuskan bagaimana cara menulis seperti itu. :D

Gladwell

Kalau ada buku yang saya anggap menarik, saya akan me-review-nya. Gak cuma buku sih, tapi apapun yang menarik. Kalau ada buku yang gak berhasil menarik perhatian saya, saya gak akan nge-review. Dibaca aja gak kali, ya. Mungkin dibaca beberapa halaman depannya aja trus dibalikin ke rak. Buat saya, review yang saya tulis itu adalah penghargaan dan apresiasi saya pada buku itu. Post-it yang banyak saya tempelkan di buku itu, bukan sekedar saya taroh di sana untuk nandain bagian mana aja yang bisa dikritik, tapi juga kadang isinya quote yang saya suka, atau dialog yang menurut saya lucu atau bagus. Saya gak membuat review untuk outsmart penulisnya–gak untuk merasa lebih pintar dari penulisnya karena berhasil menemukan kelemahan yang penulisnya gak liat.

… dan biasanya saya gak pernah merasa sebersalah ini ketika me-review….

Mungkin juga karena–seperti yang saya tulis di salah satu post blog ini dulu–bahwa saya besar di komunitas kepenulisan yang antara penulis yang satu dan yang lain gak pernah merasa lebih pintar atau lebih bagus. Karya yang bicara. Jadi kami tetap menulis, saling mengkritik, menyemangati. Itu semua dilakukan tanpa ada rasa bahwa kalau kamu dikritik, maka yang mengkritik itu gak suka sama kamu. Ataupun; kalau kamu dikritik, yang mengkritik itu bisa jadi gak lebih bagus dari kamu. Lah, wong dia bisanya mengkritik kok, bukan berkarya kayak kamu.

Dan itu membuat beberapa tukang kritik di sana disayangi, dinanti kritiknya, digangguin terus sampe mau baca karya kita dan mau ngasih kritik. Kritik dihargai. Itu juga yang membuat saya merasa gak apa-apa kalo dikritik. Ya setidaknya, saya ngerasa bahwa itu bukan hal yang salah atau pengkritik itu iseng sama saya. Karena siapa sih yang mau menghabiskan waktu membaca buku just to outsmart the author? Mungkin ada sih ya, tapi yang jelas itu bukan saya. Saya menghormati setiap penulis. Dan saya gak bisa bilang bahwa saya lebih bagus dari penulis yang lainnya.

Itu juga yang membuat saya galau beberapa hari belakangan. Ketika saya udah baca buku yang mau saya review berhari-hari, menandai dengan hati-hati dengan post-it, lalu menulis dan gak pernah kurang dari 1.500 kata (Mei Hwa saya review dengan 5.000 kata saking saya pengen orang tahu bahwa novel ini worth to buy dan saya buktikan itu dengan menulis review-nya sebaik yang saya bisa). Semua novel yang saya review itu bagus menurut saya, kalau gak bagus, gak saya review. Termasuk Hujan dan Teduh. Walaupun temanya kontroversial, saya merasa penulisnya punya tone yang lembut, depth, sekaligus tenang. Itu hal yang sangat menarik buat saya.

Saya me-review bukan hanya karena saya ikut IRC. Hadiah netbook gak cukup besar buat bikin saya tergiur, I told you. :D

Sekarang saya baru merasakan kalau menulis ini jalan yang sunyi sekali. Dulu gak. Dulu terasa sangat ramai dan hangat dengan teman-teman yang bahkan melemparkan jokes tentang karya kita dan kita ketawa padahal itu sinis. Hahahaaa….

Sekarang saya kesepian sekali.

Walaupun berkali-kali saya sudah mendengar bahwa menulis itu jalan sunyi, tapi saya baru tahu kalau itu bisa sesunyi ini karena persaingan antarpenulis yang merasa dirinya lebih baik dari penulis lain. Sesuatu yang baru saya temukan karena selama ini saya menganggap penulis itu berusaha sendiri sambil merendahkan dirinya … agar yang menjadi tinggi itu adalah karyanya, bukan dagunya.

Tuan Sinung lagi ke Bali sejak Senin kemarin. Saya jadinya gak ada teman ngobrol. Tapi pagi ini, dia mengirimkan pesan:

“Bersabarlah. Kenyataannya di sini masih paternalis. Figur masih berperan lebih besar dari sistem. Kalau mau didengar, jadi besarlah. Ketika kamu udah besar, apapun katamu, akan didengar. Aku juga sedang berusaha jadi besar, agar aku didengar.”

Trus saya nanya lagi sama dia: apa dia ingin jadi besar agar bisa jadi puncak yang bisa terteriak ke bawah dan bahkan meludah?

Dia bilang sih gak. :D

“Aku mau bilang kalau itu harus diubah.”

PDO

Selamat memulai perjalanan ke puncak, Tuan Sinung. Kalau kamu katakan bahwa menulis itu jalan sunyi, aku juga akan katakan padamu dari sekarang bahwa di puncak itu sunyi.

… tapi kita bisa jalan berdua, kan? Berlima sama anak-anak. :D

4 Comments

  1. riawani elyta
    May 15, 2014

    Apakah status Fbku tempo hari turut berkontribusi untuk postingan ini Octa? jika iya, aku mohon maaf, jika itu menimbulkan kesalahpahaman. Tak ada maksud untuk mengajak para penulis menghargai dirinya dengan cara merendahkan orang lain. Tidak sama sekali. Ada banyak poin “penghormatan” kepada para kritikus yang kuisyaratkan dalam status itu, jadi, mohon kiranya kalimat terakhir yang bernada guyon tak lantas dijadikan poin terpenting. Jika aku boleh menganalogikan, itu sama halnya dengan menyemangati seorang penyanyi amatiran yang gugup di atas panggung, bisikkan padanya kalau semua penonton itu adalah patung. Tetapi, apakah anggapan itu lantas membuat si penyanyi besar kepala? Kurasa tidak. karena yang dia butuhkan adalah keyakinan bahwa dia bisa bernyanyi.

    Pernahkah para penulis menuntut para kritikus dn reviewer untuk bersikap humble dalam kritikannya? Mungkin ada, tapi kurasa tidak banyak. Karena penulis juga mengerti posisinya sebagai yang “di”, dinilai, dikritisi, dsb, sedangkan si reviewer or kritikus berada di posisi me – menilai, mengkritisi, dsb, jadi yang sebaiknya dilakukan penulis adalah menerima dengan lapang dada dan menerimanya sbg masukan berharga.

    Tapi di sisi lain, penulis juga butuh suntikan energi dan motivasi untuk tetap menulis, dan jika itu dia dapatkan dgn cara menganggap rendah orang lain, maka disitulah dia kehilangan sisi humble nya, dan akan lebih tidak humble lagi, kalau dia sudah menganggap karyanya baik dan antikritik hingga enggan berbenah.

    Teruslah mereview dengan caramu Octa, aku yakin, banyak penulis yang tersanjung bukunya dikupas sedemikian detail dan cerdas, dan mohon maafkan, jika terkadang sisi-sisi sentimentil penulis muncul ke permukaan, sebagaimana kami juga akan selalu berusaha berlapang hati dengan semua kritik dan masukan, dan berusaha menjaga sikap sebagaimana yang menjadi ekspektasi atau bahkan tuntutan banyak pihak. Terima kasih :)

  2. leyla hana
    May 14, 2014

    Yang di atas gue itu komen apaan yak? :D

    Itu fotonya yang di bawah apa nyambungnya Mba?
    I love your critics! *ngikutin yg komen di atas gue :D

    • octanh
      May 20, 2014

      Itu foto perjuangan menuju puncak biar gak diremehin dan didengar, Mbak Leyla. :D Baca dong komen di atas entuuuh! :D Mbak Leyla nangis gak dikritik. Kalo nangis, sini mana itu naskahnyaaa? Manaaah?!

  3. Rantau Anggun
    May 14, 2014

    For several reasons—that same with this thread, I made a big decission in that stuff (writers, being together and those things) like 6 months ago, my dear sister. And you know what? It’s almost not easy choice for me. Big deal and big risk, I guess.

    I just let many peoples wondered. “Why and how can be?”, they asked. Even I did it by silenceness (hope so), but the risk was in big scale enough. But, its okay. I accepted it. Once again, in silence way still. I didn’t excactly answer those questions. Oh might be few friends knew my reasons for it. But, it didn’t really change the risk (LOL).

    You know? Until now, I don’t and never pretend that nothing special for being lonely. Even in this path—write etc. Being lonely isn’t better than together way. But for me, it’s more keep peace and grateful.

    Together way might be match in my several identities. As a citizen, mother, women or wife. But not in writing stuff. Altough I’m officialy duet, but that’s not the point. OMG my English keep go to worst thing. Sorry this is just practice, hope you understand what I wrote. Hahaha.

    Finally, I keep my own conclution. Whether we like or not, sometimes peoples make a big decission. And argue it’s better or not, good or bad, great idea or pathetic. Argue that, it doesn’t make our selves better either.

    Deep in my heart, I love this thread. Okay as usual for your threads before. But, this is different. I never so honest about what I feel since years ago in social media. But it doesn’t matter. I always think, that humble and gentle, are good character that writers must hold on. Strong. Permanent.

    Because how can we make a heartbreaking masterpiece, if we were so proud before? :)

    Ana uhibukifillah, Mbak Octa :)

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)