#361: If It’s a Broken Heart, Then Face It

Dibaca 112 kali

IMG_5205edit

Walaupun hati setiap makhluk dapat hancur–seperti kata Desperaux–tapi hati saya tidak pernah benar-benar hancur.

Pagi ini, ketika saya mengganti kopi dengan teh manis karena sakit kepala, saya mengingat-ingat lagi apa yang saya rasakan ketika hati saya benar-benar hancur. Saya bengong di depan laptop sambil ngeliatin Thaariq yang lagi main di halaman–dan pohon mangga tetangga di depan rumah sepertinya tumbuh cepat sekali karena dua bulan lalu baru dipotong tapi sekarang sudah rimbun lagi.

Harusnya pagi ini saya menulis tentang patah hati. Saya sedang menulis novelet pendek (sekitar 40 halaman) dan sudah sampai pada bagian di mana si karakter utama saya patah hati. Patah-sepatah-patahnya … karena cinta. Masalahnya, saya gak pernah patah hati karena cinta.

Aneh, ya?

Tapi begitulah. Sebelum saya menikah (dan jatuh cinta) pada Tuan Sinung, saya gak pernah benar-benar jatuh cinta sepertinya. Bukan berarti juga dia cinta pertama saya karena saya juga suka pada banyak cowok sebelumnya. Hanya aja, saya gak pernah patah hati. Cinta pada lawan jenis sepertinya bukan bagian paling penting dalam hidup remaja sampai menjelang menikah buat saya karena saya sibuk pada hal-hal lain yang bisa membuat hati jauh lebih patah dan hancur.

Hal-hal yang membuat saya menangis berhari-hari dan bahkan di awal masa remaja saya sempat membuat saya merasa sebagai orang paling gak beruntung sedunia, ternyata bukan cinta.

Dan apa yang saya lakukan sepanjang waktu yang berat itu? Saya menahannya.

Ini emang kedengarannya agak bodoh tapi saya menahan sakitnya. Sambil menangis saya mengatakan pada diri saya sendiri bahwa semua ini akan berlalu. Sama seperti ketika saya menahan sakit kontraksi sebelum melahirkan; saya menahannya sambil mengatakan ini akan berlalu. Karena tidak ada sakit yang akan tinggal di dalam diri saya selamanya. Kalau manusia lain sebelum saya yang pernah merasakan itu bisa keluar dengan selamat, maka saya juga bisa. Maka ini adalah sakit yang bisa ditanggung manusia–dan saya. Maka saya akan melaluinya.

Tapi saya sendiri gak yakin kalau sakit patah hati juga punya jenis kesakitan yang sama. Karena penyebabnya adalah cinta. Beda dengan jenis kesakitan yang saya rasakan dan itu penyebabnya adalah kebencian. Adakah sama?

Karena saya gak bisa berbohong ketika menulis. Orang akan tahu. Saya juga tahu bahwa saya gak bisa menyentuh hati yang lain dengan kebohongan walaupun itu dibalut sedemikian rupa sampai kebohongannya ditutupi dengan kalimat; kita ambil saja hikmahnya. Itu sama saja seperti berita hoax yang disebar di sosmed dan pembaca disuruh mengambil hikmahnya tanpa melihat lagi apakah itu benar atau gak. Seperti puisi-puisi yang ditulis dengan mengambil sudut pandang orang yang sudah mati dan dibuat seolah orang itu memang akan mengatakan hal seperti itu. Itu kebohongan. Mungkin menyentuh, tapi tidak bisa sampai menyusup jauh. Mungkin bisa membuat terharu, tapi tidak mengajarkan pemaknaan baru. Karena itu bohong.

Dan fiksi sebagiannya memang kebohongan. Yang diceritakan ulang dengan dasar kebenaran sehingga kadang terasa tipisnya sekat yang dibuat untuk membatasi kebenaran yang disadur ulang menjadi fiksi. Karena itu beberapa fiksi begitu menyentuh.

Karena kadang kita gak perlu membaca cerita bombastis yang berurai airmata darah untuk bisa menjadi sedih. Yang sederhana, biasa saja, tapi terasa dekat, akan membuat jalan dengan mudah ke hati.

Saya masih bengong di depan laptop dan ini sudah setengah jam berlalu….

Jadi, seperti apa sakitnya patah hati karena cinta itu?

Kalau saya tahu bahwa hari ini saya akan kebingungan seperti ini, saya akan senang hati menerima patah hati karena cinta ketika remaja dulu. Agar tahu rasanya. Seperti apa sakitnya. Apa bisa ditahan hanya dengan mengatakan bahwa semua akan berlalu?

If it’s a broken part, replace it.
If it’s a broken arm, then brace it.
If it’s a broken heart, then face it.
(Details in the Fabric–Jason Mraz)

Mungkin rasanya sama saja dengan hati yang patah karena sebab lain. Mungkin caranya sama saja; tahan dan hadapi.

Face it.

4 Comments

  1. devi
    May 26, 2014

    Hmmm rasanya … sakit?
    Kayak ada yang nusuk-nusuk rongga dadanya. Dan jadi berat rasanya. Terus nangis :p. Tapi biasanya nangisnya itu semacam sesenggukan yg lemah. Soalnya klo saya pernah ngalamin nangis yang sesenggukannya lbh parah, sampe badan saya kayak mau luruh, kayak kalo lagi posisi duduk, saya sampe membungkuk secara alamiah karena sangat berat di dada, nyesek, tp tangis itu kyknya bukan karena cinta2an…lbh karena sepi, atau ngerasa lemah, yah gitu. Kalo karena cinta-cintaan biasanya dadanya kayak ada yg nyayat, dan nangisnya bisa dalam diam, kecuali udah ga tahan bisa ngeluarin suara…. Klo saya tangisan karena lemah dan sedih atau karena teringat hal lain yg selain gebetan itu yang paling bikin sesenggukan sampe badannya bungkuk hehehe. Sekian :)) #kabuuurr

    • octanh
      May 27, 2014

      Boleh nih, aku quote. Ya Devi, ya? *puppy eyes*

  2. Rosa
    May 26, 2014

    Sama saja saya rasa mbak, cara terbaiknya tahan dan hadapi… maka semuanya pasti akan berlalu :)

Trackbacks/Pingbacks

  1. #369: Saya Meminjam|Octaviani Nurhasanah - […] waktu sebelumnya, saya mencoba mencari tahu seperti apa rasanya patah hati itu. Tapi saya sungguh tidak bisa. Akhirnya saya …

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)