#362: Tentang Kedalaman yang Kau Ceritakan

Dibaca 51 kali

IMG_5994edit

Untuk versi SoundCloud dari post ini, silahkan klik di sini.

Kerena–sepertinya–saya gak bisa menyelesaikan event Bulan Narasi, jadi saya mengendapkan dulu cerita yang saya tulis selama sebulan belakangan ini. Menurut perhitungan saya, harusnya dua hari lagi saya sudah bisa menyelesaikannya. Tapi memilih untuk tidak menyelesaikannya dulu dengan alasan: kedalaman.

Klise ya? Hahahaaa…. :D

Bisa sih, harusnya saya tulis aja sampai selesai tanpa meributkan urusan kedalaman ini. Tapi nanti ceritanya jadi kering dan berubah jadi sambungan kalimat-kalimat yang gak membawa ke mana-mana selain menceritakan ceritanya saja. Udah.

Beberapa novel yang saya baca gak meninggalkan bekas apapun. Saya melupakan karakternya tepat setelah novel itu saya tutup dan kembalikan ke rak. Saya melupakan ceritanya. Kadang ada sih, yang masih tertinggal. Tapi itu biasanya ganjalan-ganjalan yang saya rasakan ketika membacanya. Misalnya aja kalau saya nemu plothole gede dan itu akan mengganggu sampai beberapa lama. Tapi itu lebih ke rasa terganggu karena saya tahu harusnya penulis lebih jeli untuk gak meninggalkan lubang menganga sebesar itu. Itu aja.

Beberapa novel melakukan lebih dari itu: dia mengganggu sampai ke dalam mimpi. Apa karena ceritanya super-duper dramatis dengan karakter yang menggila, berteriak, menangis, dan membuat kasihan? Gak. Atau karena setting-nya luar biasa indah di entah-sebelah-mana-bagian-dunia yang gak pernah saya kunjungi? Gak.

Bahkan beberapa yang saya baca pengalamannya mirip mengobrol dengan orang yang wajahnya gak punya ekspresi dan kata-kata yang diucapkan datar tanpa intonasi. Ceritanya dingin, mengalir dengan kecepatan sama tanpa riak, tanpa batu yang menghalangi. Misalnya novel Kazuo Ishiguro yang The Remains of the Day. Tapi … ceritanya, karakternya, bahkan beberapa adegan masih mengendap di kepala saya.

Bukan karena saking flat-nya. Bukan. Tapi karena penulisnya membawa ke kedalaman yang saya sendiri baru sadari ketika selesai membacanya. Dia menarik pembaca dari permukaan dan membawa ke dasar … terus ke dasar tanpa kita merasa sesak napas. Dan itu membuat banyak hal yang meresap justru di tengah ketenangan diksi, kesederhanaan cerita, dan beberapa ada di sepi sendiri karakternya memahami dirinya. Saya menemukan itu begitu menyentuh.

Dan penulis gak akan bisa menyentuh pembaca tanpa hati yang lebih dulu tersentuh. Tanpa kelembutan yang lebih dulu dia miliki.

Kalau kita mendengarkan seorang penyanyi menyanyi, kadang yang menyanyi tanpa banyak improvisasi dan narik urat leher, terasa lebih merasuk ke hati. Seperti sekarang ini, sambil menuliskan catatan ini, saya mendengarkan John Legend yang All of Me. Dia menyanyi santai, rapi (suaranya gak ada yang hilang kendali), stabil, dan gak ada yang sampe teriak-teriak hanya untuk memperlihatkan kalau dia punya range suara yang lebar. Tapi nyanyiannya terdengar bercerita, tenang, menghanyutkan. Di beberapa kasus, seneng sih ngedenger nyanyian yang penuh improvisasi. Kedengeran lebih segar. Tapi saya suka dengernya sesekali aja. Namanya juga improvisasi kan, ya. Kalau dilakukan di setiap nyanyian dan jadi SOP, itu bukan improvisasi lagi namanya. :D

Kadang, ketika saya membaca cerita yang begitu menggebu ingin menceritakan sesuatu yang luar biasa, pengalaman inspiratif penuh dengan liku yang menguras air mata (bahasa sinetronnya sih, begitu), atau karakter yang dibuat super unik sehingga buat saya terasa seperti non-human, saya malah gak merasakan kedalaman. Saya merasa seperti berenang di arus deras dan gak bisa menikmati apapun yang ada di sana karena saya sibuk menyelamatkan diri. Saya sibuk menghindari batu dan memastikan tubuh saya tetap mengambang walaupun terseret arus. Saya sibuk keluar dari pikiran apapun yang berusaha penulisnya paksakan lewat cerita itu. Saya sibuk menghindari pesan moral yang disuap paksa. Kearifan yang dikatakan dengan tidak bersahaja.

Kita tidak bisa membawa pembaca tenggelam di kedalaman dengan cara seperti itu. Ketenangan, perhitungan, pelan tapi pasti membiarkan cerita bergerak, membuat karakter yang mudah identifikasi (setidaknya kalaupun dia unik, dia dibuat dekat dengan pembaca), menenggelamkan dan membuat pembaca tanpa sadar menelan lebih banyak air tanpa membuat mereka sesak dan berontak ingin menyelamatkan diri.

Mungkin cover novelnya Neil Gaiman yang Ocean at the End of the Lane ini bisa menggambarkan keadaan yang saya maksudkan:

Ocean_at_the_End_of_the_Lane_US_Cover

Kedalaman seperti ini yang sedang berusaha saya ciptakan dan itu tidak mudah. Karena lebih mudah marah-marah dan memperlihatkan emosi dibanding menjadi tenang, menyimpan perasaan, tanpa kelihatan sok bijak. :D

Tapi tenang bukan berarti tanpa konflik. Di kedalaman yang gelap, hiu besar berenang diam-diam. Konflik yang dimasukkan bisa lebih berlapis dan dalam. Dan ini perlu riset tentang karakter. *lalu procrast*

Dan tentu saja kedalaman seperti ini gak bisa dibuat kalau saya gak berusaha menjadi lebih dalam juga.

Banyak yang mengira membuat cerita itu bisa membuat begitu saja. Gak perlu pake riset, belajar, banyak membaca, apalagi memahami karakter yang dibuat sebagai manusia (bukan boneka yang diwayangi penulisnya). Walaupun gak langsung kelihatan, tapi kita bisa melihat penulis mana yang emang pemikirannya luas, mana yang gak. Itu terasa. Bahkan ketika dia menulis cerita romance biasa pun, itu terasa.

Dan saya ingin menjadi salah satu penulis yang seperti itu….

Yang gak lagi mengeluhkan ceritanya hancur, adegannya gak nyambung, dialognya garing, konfliknya gak dapet, tapi mulai lebih banyak memikirkan sedalam apa saya ingin membawa pembaca saya. Karena ini adalah perjalanan, tentu saja saya harus menyusurinya sendiri dulu sebelum mengajak orang lain ke sana.

Jadi … balik lagi ke cerita di awal, naskah hampir jadi itu saya simpan lagi. Entah untuk berapa lama. :cutesmile:

2 Comments

  1. Milo
    May 27, 2014

    udah balik sinyal wifi-nya? selamat! *inipenting

    saya juga lebih suka penyanyi yang nyanyinya gak ngotot dan gak kebanyakan improvisasi. berasa kaya liat cewek pake makeup super menor. *apahubungannya

    Itu The Remains of The Day itu novel baru apa lama? Beredar di sini apa Mb Octa cuman baca ebooknya?

    • octanh
      May 28, 2014

      Masih ngambek-ngambekan itu modem. Kayaknya emang udah menjelang mau rusak deh, itu. Soalnya suka dipake donlot semaleman gak mati. Kemaren itu modemnya nyala tapi lampu wifi-nya gak nyala. Jadinya kalo online bisanya pake kabel gitu. :T.T:

      Aku punya udah lama itu, Milo. Cetakan 2008 apa ya. Kayaknya ada cetakan barunya deh. Soalnya sempet ngeliat ada yang nge-share kavernya tapi beda sama punyaku. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)