#363: Huma yang Kau Pilih Sendiri

Dibaca 64 kali

IMG_5116

Waktu saya mau menuliskan ceracau pagi ini–di antara gamang mencari judul dan menyiapkan anak-anak ke sekolah–saya mengingat satu kata yang sudah lamaaa … sekali gak pernah saya dengar, apalagi saya ucapkan: huma.

Pertama kali saya dengar kata ini di lagunya Ebiet G. Ade yang judulnya Untukmu Kekasih; kukatakan kepadamu tentang hijau huma. Huma ini artinya ladang, atau kalau lebih spesifik, ladang yang dibuka dari hutan. Di kampung saya banyak ladang model begini. Hutan ditebas, ditebang pohonnya, lalu dibakar sampai jadi ladang. Setelah itu baru diolah tanahnya dan biasanya bukan untuk dijadikan sawah. Tapi ladang kacang atau umbi-umbian.

Saya bukan mau ngomongin pertanian dan perladangan. Saya cuma keingetan kata itu aja tadi dan kayaknya kok ya ketjeh gitu kalau dipake untuk judul tulisan ini. :D

Hampir dua minggu ya, saya deaktif akun Facebook. Hampir dua minggu juga kegiatan saya lebih banyak membaca dan menulis. Keliatan kan, dari blog ini yang ditulis lebih sering dari biasa. Tapi itu juga karena, kayaknya, saya emang orang yang suka bercerita. :D

Duluuu … sekali, saya pernah membaca sebuah nasehat; kalau kamu ngerasa tidak punya banyak waktu, matikan tivimu. Dan saya mematuhi nasehat itu dengan gak punya tivi sekalian. Hasilnya memang saya baru sadar kalau sehari itu 24 jam dan itu panjaaang. Waktu kita nonton tivi, kayaknya waktu menjadi cepat berlalu. Saya lagi baca buku tentang persepsi waktu sekarang dan di sana dijelaskan bahwa waktu itu mengikuti persepsi kita–sadar atau tidak. Kalau kita liburan misalnya, lalu di suatu waktu kita mengenang liburan itu, rasanya akan lebih lama dibanding dengan yang sebenarnya terjadi. Kita liburan tiga hari tapi rasanya–pas dikenang–kayak seminggu. Waktu kita jatuh, waktu seperti melambat, kayak slow motion. Itu juga benar adanya karena persepsi kita pada saat itu. Waktu jalan-jalan sama patjar, waktu rasanya cepat berlalu. Itu pun benar. Semuanya persepsi.

Sekarang saya sedang mematuhi nasehat yang lain. Kali ini tentang diet. :D

Bukan diet makanan karena itu susah. Tapi tentang diet penulis. Kalau mau jadi penulis yang baik, berhentilah terlalu banyak membaca bacaan yang gak bermanfaat untuk apa yang akan kamu tulis. Misalnya dengan membaca semua status dan twit. :D

Semua orang dengan mudah bisa menulis sekarang. Tanpa harus memikirkan apakah tulisan itu akan bermanfaat, atau menghibur, atau menyenangkan. Pokoknya menulis. Dalihnya sih biasanya karena menulis itu terapi jiwa. Tapi kamu gak harus terapi di tempat umum, kan? :T.T:

Menulis di Facebook misalnya, bisa dengan mudah mendapat pembaca. Apalagi pembaca seperti saya yang punya kebiasaan membaca semua yang keliatan di newsfeed. Kebiasaan saya ini sebenarnya agak gak bagus juga karena itu ngebikin saya gak menyaring apa yang saya baca. Semua masuk aja gitu. Termasuk status galau, perdebatan, hoax, sampai ke tulisan genit dari pasangan yang PDA di sana. Setelah beberapa tahun terbiasa membaca itu semua, saya pun sampai pada kesimpulan bahwa saya harus berhenti. Saya harus mulai diet. Membaca apa yang memang ingin saya baca dan saya tahu ada manfaatnya untuk saya. Lalu dari bacaan-bacaan bagus itu, saya menulis. Karena waktu saya gak banyak dan saya gak bisa mengurusi semua urusan yang bisa direcokin. :D

Soalnya; rubbish in rubbish out.

Mungkin saya bisa pake dalih lain untuk tetap ber-Facebook ria. Misalnya untuk riset karakter. Tapi lagi, setelah saya pikirkan … karakter orang mah bakalan sama aja. Sosmed hanya membuat mereka lebih mudah mengutarakan apa yang ada di pikiran mereka. Jadi baca buku psikologi lebih relevan sepertinya. :D

Kalau diibaratkan kehidupan media sosial itu seperti riuh kota besar yang dengan mudah saya bisa bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang, maka saya harus memutuskan bahwa saya harus ke hutan (bukan untuk berlariku–kayak kata Rangga) untuk membuka lahan dan membuat huma. Saya harus menyudahi petualangan dari kafe ke kafe, ngopi sana-sini, atau sekedar hangout rame-rame untuk kemudian mengambil arit dan mulai bekerja. Karena dikeriuhan kota seperti itu, saya sudah kehilangan suara saya sendiri. Kehilangan diri saya sendiri. Ketika orang-orang mulai memasukkan potongan stoberi dan daun mint ke dalam teko kaca dan mengatakan itu lebih baik dari minum air putih biasa, saya jadi merasa bersalah dengan kebiasaan minum kopi tubruk saya yang jelas menurut mereka gak sehat sama sekali.

Saya menjadi bukan seperti saya lagi.

Sementara itu saya ingin menulis dengan kejujuran. Bukan dengan dasar nilai moral atau apapun yang secara konsensus patut diperjuangkan. Mungkin saya punya medan perang saya sendiri.

Dan keriuhan itu membungkam.

Padahal, apa sih yang menarik dari sebuah tulisan, novel, atau karya lain? Buat saya sih, sisi personalnya. Bukan nilai moral yang dia usung. Kalaupun apa yang disebut nilai moral itu ada, dia subtle; gak terasa tapi seperti molekul wewangian, dia tercium ada di sana memberi kesempurnaan rasa.

Saya membaca beberapa blog yang saya suka bukan karena si empunya blog banyak memberi tips atau ceramah bagaimana menjadi manusia yang lebih baik. Tapi karena mereka–si pemilik blog itu–banyak menceritakan dirinya sendiri, menertawakan diri sendiri (yang kadang membuat saya menertawakan diri saya sendiri juga).

Saya mencari sisi kemanusiaan mereka agar saya tetap mengingat bahwa saya manusia juga–yang punya kesempatan menjadi lebih mulia dari malaikat dan menjadi lebih hina dari iblis. Lalu, kenapa saya masih juga membaca sesuatu yang berusaha menjadikan manusia seolah malaikat? Kita bisa lebih dari itu.

Jadi, saya membuat huma saya sendiri.

Rasanya gimana gak ikut keriuhan kota? Hmm … kayak pindah dari Jakarta ke Selayar. :D Saya baru ngeliat bahwa banyak hal yang harus dibaca. Bahwa proses menulis bukanlah update status sambil pamer sekian kata atau bab sudah ditulis. Bahwa mempromosikan naskah kita bukanlah mengutip satu-dua kalimat menarik untuk di-likes teman-teman kita. Bahwa pemikiranmu adalah bagian paling potensial untuk jadi bahan promosi.

Karena di akhir pekan, orang-orang kota itu akan berwisata ke pinggiran kota dan kamu bisa menjual hasil humamu kepada mereka. Karena … menulis bukan kegiatan sosial dan gotong-royong yang dilakukan bersama-sama dengan memakai kaos berlogo.

Jadi, fellow writers, kalau kamu merasa sesak, kehabisan ide, atau kesulitan bergerak … menepilah. Carilah hutan terdekat dan bukalah humamu. Lebih banyaklah berdialog dengan dirimu sendiri. Baca buku bagus lebih banyak dan berlatih menulis lebih sering.

Errr … tapi mungkin sesekali saya akan ke kota untuk membeli pupuk atau barang lain. :D

5 Comments

  1. Devi
    May 30, 2014

    Iya, media sosial itu semacam kota yang riuh banget ya…. Kadang kita dapet pengaruh dari apa yg kita baca di sana, baik itu pengaruh baik atau kurang baik. Sesekali saya suka menepi kalo lagi berselancar di dunia maya. Misalnya ke tumblr yang relatif lebih sepi (lalu nyampah), atau berkunjung ke blog atau situs :p. Tapi saya rasa saya semacam komuter. Kerjaannya pindah-pindah, sebentar di desa (atau mungkin pinggiran kota), sebentar di kota (eh bentar apa malah lebih lama ya? Hahaha :D ). Dan berkunjung ke blog Kak Octa jadi salah satu alternatif tempat melepas lelah buat saya. Bisa dapet bahan refleksi diri. Dan entah kenapa setiap ke sini rasanya kayak menepi ke sebuah tempat tenang, kayak pedesaan yang ada pantainya mungkin? XD Yah intinya tenang aja rasanya. Padahal masih sama ya aktivitasnya, internetan :)) (dan saya buka tab bisa banyak, dan biasanya ada media sosialnya juga :T.T: ). Ya, mungkin balik lagi gimana kita bisa menyaring apa yang baik apa yang kurang baik dari apa-apa yang udah kita baca kali ya. Kayaknya saya mesti belajar itu. Dan entah kenapa, saya enggak keberatan klo pun hal itu membuat saya berubah dari saya yang lama. Misalnya ketika saya banyak membaca blog teman yang orangnya ga galau-an, fokus dan positif dalam mengejar impiannya, rajin, dan punya gaya hidup lebih baik. Saya ingin bisa seperti dia. Tapi saya ngerti kok perasaan “nanti enggak jadi gue sendiri lagi dong”. Karena saya pun sambil nyontoh mereka yang baik, saya sering ngukur sama diri saya sendiri. Apa dengan kayak gitu saya kehilangan diri saya? Ah, rumit ya hehehe :p. Saya lagi suka juga nih Kak berkunjung ke psychologytoday(dot)com.Menarik, soalnya banyak artikel yang “gue banget” :oops: Ditunggu selalu sharing2nya ya kak :cutesmile:

    • octanh
      May 30, 2014

      Ngomong-ngomong tentang Tumblr, aku pernah bikin trus bingung. :mewek: Dia sederhana banget ya. Gak kayak blog. Dan biar asyik, harus follow orang. Ini dia yang bikin aku bingung. Aku gak tau mau follow siapa. Trus akhirnya dibiarin aja itu Tumblr, gak diisi-isi. :T.T:

      Aku juga suka ke Psychology Today. \(^.^)/ Baca-baca doang yang menarik artikelnya. Kemaren (udah lama sih, 3-4 hari yang lalu lah) aku baca tulisan yang ngupas tentang scent, odor, dan perfumery di sana. Trus aku sampe beli ebook-nya saking pengen banget baca yang lengkap. Ternyata menarik banget banget banget emang!

      • devi
        May 30, 2014

        Follow aku aja :lol: :D
        Kak Vai juga ada tumblrnya tp ga aktif.
        Ummm terus apa lagi ya, search aja keyword apa gitu hehehe XD. Siapa tau nemu tumblr asik :p.

        Hooh ada buat beli ebooknya ya…. Aku masih blm paham cara beli2 kayak gituan dr internet (kecuali yang dalam negeri)

  2. Ety Abdoel
    May 29, 2014

    Pantesan nggak bisa inbokin fb :oops: ..selamat menempuh jalan sunyi…Mba

    • octanh
      May 30, 2014

      Iya, Mbak Ety. :D Biar pada kelar ini yang mau ditulis. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)