#367: Do What You’re Best At

Dibaca 46 kali

IMG_5422edit

“Apa kabaaar?!”

Ini pertanyaan yang sering saya jawab lebih sering akhir-akhir ini dibanding sebulan lalu. Mungkin karena saya gak keliatan berkeliaran di sosmed ya. Errr … Facebook lebih tepatnya. Tapi kalo ada yang suka ngeliatin saya di Twitter, di sana saya lebih cerewet dibanding biasanya. :D

Saya baik.

Hidup saya seperti biasa. Mungkin lebih pagi dan lebih teratur, ya. Saya bangun dan sekitar jam tujuh saya duduk di meja yang menghadap ke pekarangan depan. Di depan laptop sampai anak-anak SMA di dekat rumah lewat sekitar jam dua belas siang. Saya melakukan apapun yang saya suka di sepanjang lima jam itu. Kadang saya gak nulis sih. Lebih sering saya nulis cuma satu atau dua jam dan sisanya saya ngerjain yang lain; nge-games, ngutak-ngatik ini-itu, nonton, hmm … nge-games, nge-games, yaaa … paling banyak saya nge-games. :D

Saya juga gak nulis banyak. Sehari paling ketjeh selesai seribu kata. Itu pun kalo saya lagi kepengen banget nulis. Tapi rata-rata sekitar lima ratus lah, ya. Belum termasuk ngeblog sih itu. Jadi itungannya–buat saya–lumayan banget. Apalagi kalo diliat dari produktivitas saya beberapa bulan belakangan yang kayaknya menurun tajam.

Kemaren sempet ada yang nanya sama saya. Pertanyaan tepatnya, saya lupa. Tapi kira-kira gini; gimana sih, caranya ngebagi waktu kalo kita pengen ngerjain banyak hal di waktu yang bersamaan? Pertanyaan ini ditanyain ke saya mungkin karena yang nanya ngeliat saya ngelakuin banyak hal. Yang mana sebenernya gak salah sih, tapi juga gak sepenuhnya benar. Karena sebenarnya saya melakukan sesuatu yang masih ada benang merahnya. Bukan hal-hal berbeda yang butuh keahlian berbeda-beda pula. Tapi emang produk jadinya lain-lain.

Benang merahnya adalah; saya nulis.

Lalu, saya ngeblog. Ini masih nulis juga. Dari ngeblog, saya nulis apa yang saya lakukan di waktu luang kalo gak nulis. Yang mana itu ternyata adalah; ngejahit. Jadi saya nulis tentang jahit-menjahit. Karena saya perlu foto untuk menjelaskan apa yang saya lakukan dengan bahan-bahan jahitan itu, saya moto. Dan ternyata, saya juga kadang suka nyoba resep baru. Saya moto resep yang saya coba. Lalu saya menuliskan ulang resep dan cara pembuatannya. Untuk ngebikin foto keliatan makin bagus, saya belajar Photoshop. Yang mana ternyata, saya kadang perlu ngegambar sendiri jadi saya belajar AI–masih sodaraan sama Photoshop. Dan dari AI dan Photoshop ini, saya bikin gambar atau foto untuk ilustrasi tulisan saya. Gitu doang sebenernya putarannya.

Dari semuanya itu, yang paling saya suka yaaa … nulis. Yang lainnya; masak, ngejahit, dan lainnya, kadang saya kerjakan untuk jadi bahan tulisan aja.

Jadi nasehat saya kalo kamu mau ngerjain banyak hal; mulailah dari yang paling kamu paham dan tahu. Lalu, jadilah ahli. :D

Minggu lalu, saya ngebaca tulisan ini: “Do What You Love” is a Horrible Advice.

“Passion is not something you follow,” he adds. “Passion is something that will follow you as you put in the hard work to become valuable to the world.”

Alasannya karena:

It’s easy to confuse a hobby or interest for a profound passion that will result in career and business fulfillment. The reality is, that type of preexisting passion is rarely valuable.

Karena dasar pemikirannya:

“Producing something important, gaining respect for it, feeling a sense of control over your life, feeling a connection to other people — that gives people a real sense of passion,” Newport says.

Karena passion itu sebenarnya adalah:

Passion is a side effect of mastery.

Jadi yang harus dilakukan adalah:

“Don’t focus on the value your work offers you,” Newport says. “That’s the passion mindset. Instead focus on the value you produce through your work: how your actions are important, how you’re good at what you do, and how you’re connected to other people.”

When you do, the passion could follow — and if you work hard enough, someday you could be so good that, as Cal says, they can’t ignore you.

Tentang mastery dan bakat, udah pernah saya bahas sebelumnya. Rumusnya “sepuluh ribu jam”. Jadi kalo kamu mau ahli di bidang tertentu, lakukan hal itu selama sepuluh ribu jam. Kalo kamu melakukannya delapan jam sehari, tujuh hari seminggu, kamu perlu waktu selama delapan tahun. Anak-anak yang dibilang berbakat itu hanya beruntung menemukan hal yang menarik buat mereka di usia sangat muda lalu berlatih lebih banyak dibanding yang lain sehingga dengan cepat menjadi lebih ahli. Kuota sepuluh ribu jamnya udah mereka penuhi bahkan kadang sebelum yang lain masih galau dengan apa yang ingin mereka lakukan.

Tapi ini rumus standar, sih. Kadang kita nemu kasus yang bisa masuk kategori langka. Tapi karena kebanyakan dari kita gak langka, jadinya rumus standar ini bisa dipake umum.

Jadi gak ada itu orang yang ujug-ujug tau-tau langsung bisa. Dan berhentilah bertanya pada penulis apa yang menjadi inspirasi mereka karena biasanya yang paling mempengaruhi karya adalah kerja keras gimana karya itu dibuat. Kamu gak akan dapet pelajaran apapun dengan nanya inspirasi–selain jadi tahu dia terinspirasi oleh apa. Tanya: berapa jam dia nulis sehari dan sejak kapan. Teraturkah? Kalau pas kamu hitung ternyata dia udah nulis lebih dari sepuluh ribu jam, yaaa … pantes kalo dia jadinya bagus.

Saya nulis sejak kapan, ya?

Kayaknya sejak saya bisa nulis. Saya nulis puisi mulai 3 tiga SD. Trus nulis cerpen mulai kelas 1 SMP. Sepanjang SMA, saya mencoba nulis novel. Sayangnya, saya gak ngelakuinnya teratur. Kalo lagi kepengen aja. :mewek:

Kalo ngitung saya mulai nulis sejak umur 9 tahun dan sekarang umur saya hampir 29 tahun, jadinya saya udah nulis selama 20 tahun. Anggaplah dari 20 tahun itu saya nulis bener setengahnya, jadi 10 tahun. Dan sepanjang 10 tahun itu, saya nulis gak lebih dari 3-4 jam sehari. Saya bahkan belom ngelewatin 10.000 jam! Aaaaak~! *gelindingan*

2 Comments

  1. milo
    Jun 9, 2014

    I don’t know what I’m best at. even I don’t know what I’m good at.. *kemudian galau*

    • octanh
      Jun 10, 2014

      Ini si Milo ngapa minta di-approve ya, komennya? Email ganti yak?

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)