#368: Pertemukanlah~

Dibaca 90 kali

IMG_5770edit

Salah seorang tante saya, punya kepercayaan yang dia pegang sejak muda bahwa ada orang yang mulutnya jahat tapi hatinya baik. Iya, semacam orang itu suka teriak-teriak ngatain orang lain tapi di dalamnya–jauh di dalam lubuk hatinya–dia adalah orang yang lembut dan baik. Yang mana saya dan ibu saya gak percaya. Berkali-kali ibu saya mengatakan pada tante saya ini bahwa yang namanya teko hanya mengeluarkan cairan yang sama dengan isinya. Kalo isinya teh, ya yang keluar teh. Kalo kopi, yang keluar ya kopi. Gak mungkin keluarnya kopi tapi dalemnya susu. Sampai akhirnya, tante saya ini menemukan dengan mata kepalanya sendiri kalo orang yang dia bilang “mulutnya jahat tapi hatinya baik” tadi kelihatan isi hatinya yang ternyata sama dengan isi omongannya.

Memang gak ada orang yang sempurna baik dan sempurna jahat. Yang ada mungkin orang yang berusaha menjadi lebih baik dan berusaha menjadi lebih jahat. Tapi saya percaya bahwa menjadi lebih baik itu perlu ditunjang dengan memperbaiki tata bahasa juga. Makanya ada pepatah yang mengatakan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Ini artinya bukan kalo kamu pake bahasa Indonesia trus itu menunjukkan kalau kamu orang Indonesia. Tapi, kesantunan bahasa kamu itu menunjukkan “sebangsa” apa kamu. Karena orang yang bahasanya santun (santun beneran, bukan yang boongan buat nipu orang) pastilah dia “sebangsa” dengan orang yang santun lainnya. :cutesmile:

Satu hal yang saya perbaiki ketika saya mulai memperbaiki diri saya adalah memperbaiki bahasa yang saya gunakan. Mulai dari cara ngomong sampai ke ngomongin apa. Kadang, saya pengeeen banget ngomongin hal yang jelek-jelek, tapi saya tahan. Saya lupakan dan saya menyibukkan diri dengan hal lain. Saya juga berusaha untuk gak gampang menghujat, gampang menilai, gampang merendahkan. Minimal kalopun saya pengen menghujat, saya melakukannya dengan bahasa yang gak rendahan gitu lah. Misalnya beberapa kali saya melihat orang yang menghujat pembunuhan orang utan dan gajah, tapi bahasa yang dipakai kasar sekali. Sekali waktu saya menegurnya dengan mengatakan bahwa kalo dia mau menghujat orang dan mengecam perbuatannya, lakukanlah dengan elegan. Jangan ngebikin derajat kamu keliatan sama rendahnya dengan mereka. Dan kalo kamu mau sarkastik, lakukanlah dengan cerdas. Setidaknya kecerdasan kata-katamu itu bisa menghibur orang yang ngerti sama sarkasnya kamu itu. :D

Melukai orang itu gak perlu pake kata-kata yang tajam kok. Karena semua kata itu bisa tajam, tergantung kamu meletakkannya di dalam kalimat yang kayak apa.

Satu lagi yang gak saya suka; judgement. Apalagi kalo udah urusan agama.

Eh, si ini sesat loh.

Si ini Syi’ah. <– trus yang bilang gini gak paham Syi’ah itu apaan dan yang ada di Indonesia itu yang kayak apa. *facepalm*

Si ini kafir.

Bukannya karena saya gak percaya mereka yang disebutkan itu Syi’ah atau kafir atau apapunlah. Tapi karena perdebatan yang mengikutinya–yang kemudian membuat orang-orang yang berdebat kelihatan lagi pindah ke “bangsa” yang lain. Apalagi kalo sampe dengan mudahnya menggolongkan orang-orang dengan kalimat, “Orang pinter mah pada keblinger!”

Mungkin kita harus berhenti belajar dan jadi bodoh aja gitu, ya. Biar gak keblinger…. Soalnya susah sih. Ada orang pinter yang bisa ngasih kita banyak pelajaran dan kita serap ilmunya, karena dia pinter, dibilang keblinger. Trus kita ini mau belajar sama siapa lagi? Apalagi kalimat itu dikatakan untuk melabeli orang pintar secara umum. Gak ada dasarnya. Minimal penelitiannya lah, biar saya bisa mempertimbangkan mau percaya apa gak.

Dan ada lagi kalimat kayak gini: PNS mah makan gaji buta! Pemalas!

Generalisasi.

Soalnya kalo PNS makan gaji buta dan pemalas, harusnya pekan kemarin yang banyak tanggal merahnya, suami saya bisa ongkang-ongkang kaki di rumah dan kita bisa jalan-jalan ke pantai seperti yang udah lama saya rencanakan. Kenyataannya? Dia di rumah, bawa setumpuk kerjaan kantor, dan ngelembur sampe menjelang pagi. Jangankan ke pantai, main sama anak-anak aja waktunya gak banyak.

Gak semua orang pinter keblinger. Gak semua PNS pemalas. Gak semua [insert job here] [insert bad adjective here].

Saya emang kayak kutu loncat, keluar masuk grup dan komunitas untuk mencari yang nyaman saya tinggali. Kalo ada yang bikin gak nyaman, langsung saya keluar gak pake banyak basa-basi. Karena saya mau jadi lebih baik. Dan saya percaya lingkungan di mana kita bergaul akan menentukan kayak apa bentukan kita nantinya. Dan kalo ada yang masih penasaran, karena itu jugalah saya nge-delete FB saya. Di sana, saya lebih banyak ngebaca yang gak baik dibanding yang baik dan menyenangkan. Lebih banyak yang bikin ngurut dada dibanding yang bisa diambil pelajarannya.

Karena kita akan menarik orang yang sejenis dan sebangsa dengan kita, maka saya pengen memperbaiki diri jadi lebih baik agar bisa menarik orang-orang baik mendekat juga. Sepertinya bukan hanya do’a dipertemukan dengan jodoh yang berupa pasangan yang perlu dipanjatkan, tapi juga jodoh yang berupa orang-orang baik menemani kita menjadi lebih baik. Gak perlu sempurna baik sekali, cukup yang punya pemikiran sama bahwa kita harus lebih baik dari hari ke hari, waktu ke waktu.

Pertemukanlah saya~

Saya juga bersyukur udah ketemu sama banyak orang baik yang bikin saya banyak belajar dari mereka. Walopun emang sih, kalo ketemu orang sepuluh, misalnya, nanti ada satu-dua yang aneh. :D Saya bersyukur ketemu temen penulis yang pikirannya disibukkan dengan isu yang emang ada dan nyata di masyarakat, bukan menulis untuk aliran tertentu, apalagi partai politik tertentu. *dikeplak* Yang masih ngeliat KDRT, LGBT, dan hal-hal semacam itu perlu diperjuangkan untuk dihilangkan dan bukan melulu menciptakan Fahri dan Aisha baru yang serupa tapi tak sama–tak sama setting-nya, dipindah ke Norway, atau ke mana lah gitu yang bukan Kairo. Yang gak menggurui dan berjalan bersisian dengan pembacanya untuk menemukan kemungkinan dunia lain yang bisa dihuni dan lebih baik. Yang seperti kata Bang Eka Kurniawan; “Sibuk menjejali cerita dengan pesan moral tapi lupa cara bercerita yang baik.”

Lupa apa gak bisa, hayooo? :D

Tapi tetep, ya Allah, pertemukanlah saya dengan lebih banyak orang baik, orang pintar, dan orang bijak.

Pertemukanlah saya~

Dan sekarang, tante saya itu, dia lagi galau memutuskan apakah dia harus mulai mempercayai bahwa mulut yang jahat itu bisa jadi hatinya gak baik, atau tetep berpikiran bahwa ada orang yang dengan mudah ngatain manusia lain dengan segala nama binatang dan tetap berhak dapat predikat; mulutnya aja yang jahat, hatinya mah baik.

Harusnya saya udah gak perlu terganggu sama hal-hal kayak gini, ya. Aaaah, sudahlah.

6 Comments

  1. Nona Syam
    Jun 23, 2014

    efbi lagi demam debat capres Ta…
    jadi pengen pemilu cepat berlalu…

    • octanh
      Jun 26, 2014

      Di twitter juga samanya, Mbak Non. Tapi masih lebih asyik diikutin karena banyakan lucunya dibanding panasnya. Hahahaaaa…. :D

  2. Ety Abdoel
    Jun 15, 2014

    akhirnya di delete Mbak? pantes gak bisa inbok kan lagi.
    Kalau novel barunya terbit, colek aku ya :cutesmile:

    • octanh
      Jun 17, 2014

      Iya, Mbak Ety. Akhirnya di-delete. :D Masih lama itu bakal ada novel baru, heheee…. Aku mo pindahan dulu ke kampung rencananya. :D

  3. Rebellina Santy
    Jun 13, 2014

    oh, pantesan, kok enggak pernah lihat statusmu yang bernas seliweran. ternyata udah di delete ya? emang fb lagi panas dengan link-link yang membuat otak jadi ikut terbakar, hehehe. tapi pilih tetap punya karena menyibukkan dengan grup lainnya. Semoga kalau situasi sudah normal, bisa kembali temanan di fb :)

    • octanh
      Jun 17, 2014

      Iya, Mbak Rebellina. Akhirnya di-delete. Saya juga udah agak keteteran ngurusnya. Soalnya tiap pagi pas buka, itu notifikasi bisa sampe 50-an lebih. :mewek: Suka kelewat notifikasi yang emang penting jadinya. Kayaknya saya gak mau punya FB lagi, Mbak Rebellina. Blog aja sama Twitter. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)