#369: Saya Meminjam

Dibaca 75 kali

IMG_5119edit

Pagi ini, ketika saya sedang mengetik dan Tuan Sinung mau ke kantor, dia mampir sebentar di meja saya. Seperti biasa, memberitahukan kalau dia akan pulang siang, atau sore, atau ada rapat, atau apalah–yang saya gak begitu peduli karena dia akan pulang sore menjelang maghrib. Selalu. Apapun keadaannya. Mau santai atau tidak, mau banyak pekerjaan atau tidak, buat saya keadaannya selalu terlihat seperti dia sibuk setiap hari. Karena itu juga kalau saya melihat dia membawa tumpukan pekerjaan ke rumah, ingin rasanya membuangnya ke tempat sampah. Seakan seharian di kantor gak cukup untuk mengerjakan itu semua ditambah lagi lembur di rumah. Rumah ini bukan kantor. Iya sih, saya ngetik sepanjang pagi di rumah, tapi saya melakukan di jam yang saya tentukan sebagai “jam kerja”. Di luar itu, saya gak lembur.

Saya bukan mau curhat tentang itu.

Pagi ini, ketika saya sedang mengetik dan Tuan Sinung mau ke kantor, dia mampir sebentar di meja saya.

“Why you’re writing while touching your cleavage?” tanyanya.

“I’m not touching my cleavage. I keep my broken heart stays in its place so it doesn’t fall to the floor.”

Saya gak nulis sambil megangin dada. Saya sedang menjaga hati saya yang hancur sehingga dia tetap ada di tempatnya–di rongga dada–dan gak jatuh ke lantai.

Saya sedang menulis adegan sedih. Dan entah kenapa, gak seperti biasanya yang kadang saya menulis tanpa emosi, kali ini hati saya benar-benar hancur.

Beberapa waktu sebelumnya, saya mencoba mencari tahu seperti apa rasanya patah hati itu. Tapi saya sungguh tidak bisa. Akhirnya saya pun meminjam. Saya pun memilih meminjam dari patah hati yang coba dinyanyikan Chris Martin di lagu Sky Full of Stars.

Itu kan, lagu cinta….

Entahlah ya. Buat saya rasanya itu seperti lagu patah hati.

Saya pernah menonton film dokumenter yang memperlihatkan seorang perempuan yang anaknya meninggal ketika dilahirkan. Dia sedih tapi gak bisa nangis. Jadi dia meraung. Kayak apa ya…. Dia berteriak kencang dengan nada yang sedih. Berteriak “uuu …” gitu. Dan itu sungguh membuat hati saya ikutan sedih. Seperti kesedihannya disumpalkan ke teriakan-teriakan itu dan dilepaskan ke udara agar pergi semua beban rasa yang memberat hatinya. Karena saya mendengarkan teriakannya, saya jadi seolah seperti radio yang menerima sinyal dari pemancar; saya jadi ikut merasakan apa yang dia teriakkan dan apa yang dia sedihkan.

Ternyata sedih itu berbeda-beda. Patah hati itu bisa ratusan macam bentuk patahannya. Dan saya meminjam bentuk patahan yang seperti di lagu Sky Full of Stars itu. Chris Martin menyanyikannya sambil meraung, mirip seperti ibu yang saya ceritakan di atas. Di beberapa bagian, terasa sekali sedihnya. Apalagi ketika dia menyanyikan bagian yang ini: “I think I see youuu … uuu ….”

Musiknya sendiri–entahlah, saya juga gak ngerti musik–bukan musik yang ceria rasanya. Tapi lebih ke ketukan-ketukan kencang yang pahit. Rasanya nge-beat kan, ya? Tapi itu seperti detak jantung yang ketakutan buat saya.

Ketukan-ketukan ini yang kemudian saya sesuaikan dengan panjang-pendek kalimat yang saya buat. Kalau membuat adegan yang menegangkan, kalimat pendek, kata-kata yang to the point dan tidak bersayap, membuat adegannya terasa lebih padat. Ketukan pada lagu yang saya dengar akan mengingatkan saya tentang itu.

Beberapa lagu lain yang saya dengar, kadang membuat saya bertanya; “Ini lagu diciptain pas lagi giting, ya?” Soalnya saya juga pas ngedengerin berasa kayak lagi giting gitu. :D Beberapa yang lain sepertinya dibuat sambil jatuh cinta. Yang lain lagi, entahlah, mungkin dibuat ketika ketakutan dikejar deadline rilis album.

* * *

Mungkin sebenarnya kita selalu meminjam. Tidak pernah membuat sendiri.

Saya meminjam emosi dari lagu, meminjam karakter dari orang yang pernah saya temui, meminjam setting, meminjam atmosfer. Saya peminjam yang rakus karena takut tidak dapat pinjaman.

Ketika menulis saya mendengarkan musik yang sesuai emosinya dengan apa yang sedang saya baca. Ketika membaca, saya mencari musik yang sekiranya sesuai dengan apa yang sedang saya baca. Ketika membaca Norwegian Woods beberapa hari yang lalu, saya gak mendengarkan Norwegian Woods–The Beatles. Saya malah merasa beberapa bagian novel ini cocok dengan Samson-nya Regina Spector. Beberapa bagian yang lain, saya selesaikan sambil mendengarkan Yiruma.

Kita meminjam dari orang lain, membuat ulang, agar ada orang yang kemudian meminjamnya kembali. Begitu seterusnya.

Karena saya gak minum alkohol, gak menghisap ganja … kadang saya menjadikan kegiatan menulis dan membaca ini untuk jadi mabuk–in a good way. Jadi trance. Mungkin orang-orang yang tidak tahu bagaimana cara lain untuk mabuk dan nge-fly akhirnya memilih untuk menggunakan alat bantu. Tapi percayalah, menulis saja sudah cukup untuk membuat menggila, lalu kemudian menjadi lega.

* * *

Balik lagi ke cerita meminjam itu tadi, saya juga meminjam lagu The Handsome Family–Far from Any Road (yang juga dijadikan soundtrack True Detective) untuk menulis bagian yang menceritakan perjalanan. Lagu ini terdengar seperti irama kereta, riuh bandara.

Entahlah.

Saya memang peminjam yang rakus.

* * *

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)