#373: Mempertaruhkan Jantung dan Hati

Dibaca 57 kali

IMG_5301edit

Pertamanya saya kira ini replika tardis. Ternyata cuma box telepon biasa. Hiks. :mewek:

Satu hal yang saya baru sadar akhir-akhir ini–dulu mah, belom sadar–kalau saya gak banyak tau tentang emosi. Mungkin emang karena hidup saya sedatar talenan. :mewek: Tapi setelah saya pikir-pikir dan ingat-ingat lagi, sebenernya gak sedatar itu juga. Saya punya banyak waktu sedih, banyak waktu gembira, banyak waktu dengan kupu-kupu di dalam perut. Hanya aja, saya gak pernah berusaha mendalami perasaan itu. Saya jarang ada di keadaan emosi di ujung-ujung; sedih banget atau seneng banget. Saya sedih, tapi saya tahan. Saya senang, saya juga berusaha menahannya. Dan inilah sekarang akibatnya; saya gak bisa memahami dengan sempurna gimana rasanya emosi-emosi tertentu.

Buat apaan emangnya emosi begituan? :D

Buat memahami tokoh yang saya buat. Selama ini saya membuat karakter dan akhirnya dia jadi karikatur, bukan seperti manusia yang bernyawa. Terlihat plastik karena kelihatan sekali “dibuatnya”. Beberapa perilaku mereka bahkan kadang berseberangan dengan manusia biasa. Saya suka tokoh unik, gak biasa, menarik, tapi saya lebih suka lagi tokoh yang sangat manusia. Dan ini sesuatu yang susah dibuat.

Sambil ngeberesin barang-barang kemaren, saya ngeliat salah satu piagam yang saya dapat waktu memenangkan Festifal Film Penyutradaan di kampus. Iya, saya dulunya sutradara. *tolong jangan pada ngakak* Ceritanya, saya mau jadi sutradara. Tapi karena satu, dua, tiga, dan lain hal, belakangan saya merasa lebih cocok jadi ibu rumah tangga. Hahahaaa…. Jangan dikira saya berkorban untuk jadi IRT, gak ada yang dikorbankan di sini. Saya memilih dan saya memilih yang paling bisa membuat saya bahagia. Lain kali saya cerita lebih banyak deh, tentang ini. :cutesmile:

Film pendek saya dapet penghargaan film pendek terbaik kedua di festival itu. Yang saya ingat tentang film ini (filmnya udah gak tau ke mana dan saya gak punya kopiannya), adalah betapa banyaknya emosi yang saya investasikan. Rasanya kayak ngeluarin jantung sendiri dan naroh di atas piring buat jadi pertaruhan. Betapa membuatnya ngebikin saya frustasi, saya sedih, saya terguncang, saya bahkan menangis. Tapi … itu semua ngebikin filmnya jadi “kaya”. Jadi deep karena seluruh jiwa saya diberikan untuk itu. Saya membuat film pendek lain setelah itu dengan budget jauh lebih besar tapi entah mengapa saya gak bisa terkoneksi sama apa yang saya buat dan akhirnya, seperti yang sudah saya kira, film pendek itu gak bagus. Padahal saya dibantu oleh tim yang jauh lebih baik, jauh lebih berpengalaman.

Beberapa waktu lalu, salah satu cerpen saya dimuat di Femina. Yang saya ingat tentang cerpen ini; saya membuatnya gak sekali jadi. Saya membuat konsepnya di sepanjang bulan Juli dan udah ditulis sebagian di bulan itu tapi akhirnya saya endapkan karena emosinya gak dapet. Awal Agustus, saya kembali menulisnya dengan emosi penuh sambil mendengarkan Bruno Mars. Salah satu lagunya, yang When I was Your Man, rasanya benar-benar mewakili emosi saya waktu itu. Saya ngedengerin lagu itu lebih dari lima puluh kali sepanjang hari. Cuma untuk mendapatkan emosi yang pas–yang bisa saya pinjam untuk saya tuliskan ulang. Agustus, cerpen itu jadi. Saya kirim ke Kartini dan ditolak.

Saya endapkan lagi sampai ada event kepenulisan di akhir tahun untuk menulis cerpen sepanjang tanggal 31 Desember dan saya menulis ulang cerpen itu. Bukan diedit, tapi ditulis ulang kata per kata. Tapi saya kalah dan ketika saya baca ulang, saya pun memutuskan untuk membuat beberapa perubahan agar ceritanya lebih halus dan deep. Setelah itu, saya kirim ke Femina. Cerpen itu udah beberapa kali mengalami perubahan. Bahkan bentuk awalnya sendiri udah jauh berbeda dibanding bentuk akhirnya sekarang–yang mana terakhir saya baca, saya masih ngedit juga bagian yang saya rasa kurang pas. *plaaak*

Tapi ada dua hal yang sama dari film pendek dan cerpen yang saya ceritakan itu; saya membuatnya gak main-main. Saya mempertaruhkan segenap jantung dan hati saya–dan mereka jadinya juga gak main-main. :D

Sekarang saya sedang menulis novel yang saya juga gak mau menulisnya dengan main-main. Saya memulai proyek ini sejak sekitar tahun lalu dan selalu aja mandek karena saya gak pernah mendapatkan emosi yang pas. Saya juga tertarik pada proyek lain dan itu membuat perhatian saya terbelah. Lebih parah lagi, bahkan sampai beberapa hari kemarin, saya masih gak peduli dengan tokoh yang saya buat. Saya membuat mereka dan saya gak pernah mencintai mereka. Saya terus menulis tanpa pernah merasa bahwa saya–kali ini–juga harus mempertaruhkan seluruh jantung dan hati saya. Saya ingin memberikan emosi lebih dalam. Agar saya bisa membuat yang baca nanti merasakannya juga, merasakan apa yang saya rasakan.

Karena saya tahu, ada manusia yang sedih tapi tak sanggup menangis. Emosi mereka gak pernah sampai ke mana-mana bukan karena gak ada, tapi karena saya gak pernah ingin mengerti. Gak pernah ingin mengerti. Karena saya tahu, cerita yang menghancurkan hati itu bukan yang banyak kucuran darahnya. Tapi yang pelan-pelan menelusupkan silet ke hatimu sampai akhirnya menyayatmu perlahan. Dan itu gak harus mengeluarkan darah.

Saya mau mengerti itu. Saya mau sampai ke sana.

Akhirnya … saya memutuskan; kalau saya gak bisa merasakan emosi itu dari dalam diri saya–karena emang saya gak punya–saya akan meminjam. Saya akan mencuri kalau perlu!

Dan yang paling mudah adalah meminjamnya dari lagu karena musik itu adalah hal kedua yang paling bisa nyambung di saya setelah tulisan. Atau mungkin saya lebih bisa nyambung dengan musik dibanding tulisan. Entahlah. Jadi saya memutuskan untuk mencari lagu–saya benar-benar mencari–yang saya bisa nyambung dan emosinya sesuai dengan yang saya ingin pahami. Jadinya lagi, bukan satu lagu untuk satu novel, tapi satu lagu untuk satu emosi yang saya inginkan.

Di kuliah Musik dan Film dulu, diajarkan untuk membuat sebuah adegan menjadi kaya dengan menambahkan musik. Musik ini diputuskan untuk siapa. Jadi gak main dikasih-kasih aja gitu. Sekarang saya balik prosesnya; saya mencari emosi dalam musik untuk sebuah adegan. Ternyata ini gak mudah juga. Selain karena saya gak banyak tahu tentang musik, saya juga kadang kesulitan buat memahami apa yang disampaikan oleh penyanyi atau pemusik. Banyak lagu yang saya dengar dan emosinya gak pernah sampe ke saya. :mewek:

Dan di post sebelum ini, saya majang foto Tom Chaplin. :D

Itu bukan tanpa tujuan. Hahahaaa…. Dia adalah salah satu penyanyi yang saya suka dan saya tahu menyanyi dengan sepenuh jiwa. Lagu yang dia nyanyikan emosional dan selalu bisa nyampe ke saya. Dia salah satu penyanyi yang saya bisa nyambung dengan lagu-lagunya. Errr … karena dia vokalis band, jadinya yaaa, band dia itu salah satu band yang saya suka. :D

Jadi beberapa hari belakangan saya moody sekali. Saya nyebelin banget pokoknya!

Tuan Sinung, aku gak lagi PMS. Tuh, aku ceritain di atas alasannya. Jadi yang sabar yaaaa…. :D Ini akan berlalu. Kita masih harus ngurus ini-itu, but you know, I have to write so I feel alive. Kayak katanya Walter White, “I love it. I’m good at it. And it makes me feel alive.” 

Karena … cerita apa sih, yang belum pernah ditulis orang? Semua udah. Jadi saya harus nulis dengan perspektif baru. Dengan memasukkan kombinasi antara cerita, emosi, perspektif, dan juga pertaruhan perasaan saya sendiri.

Sengaja ngasih link yang live performance karena mereka selalu lebih bagus kalo live.

Dan ini lagu-lagu yang saya dengerin udah lebih dari … *bentar, liat playlist dulu* … keduanya udah saya dengerin lebih dari tiga puluh kali dari pagi. Pas saya nulis ini, itu udah yang ke-34 kali. :D

Karena menulis juga keberanian. Keberanian untuk menjadi dirimu, menuliskan yang kamu percayai, yang kamu rasakan. Kalau menulis hanya akhirnya untuk diterbitkan, percayalah, bukumu hanya akan berakhir jadi pengisi rak buku, seperti kebanyakan buku di rak saya. Hanya beberapa buku yang saya bawa ke mana-mana, saya letakkan di bawah bantal, saya baca ulang ketika saya membutuhkan teman untuk memahami saya. Tidakkah kamu ingin menulis sesuatu yang seperti itu? :cutesmile:

Tidakkah kamu ingin menulis sampai katarsis?

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)