#376: Kedai Kopi, Pagi Hari

Dibaca 98 kali

IMG_3081edit

Hal yang paling menyenangkan di pagi hari setelah saya bangun tidur dan melakukan kewajiban pagi adalah; membawa laptop keluar kamar┬ádan kemudian membuat kopi–dibuatin kopi sama Tuan Sinung lebih tepatnya. Saya duduk di depan latop yang sengaja dihadapkan ke pekarangan depan rumah dan mulai memikirkan apa yang akan saya tulis untuk pemanasan. Saya harus menulis beberapa ratus kata kalau di pagi hari itu tidak diburu pekerjaan. Tulisan itu saya satukan di satu kategori “Ceracau Pagi”. Setidaknya, kalau di siang hari saya terlalu lelah untuk menulis atau ada satu-dua hal yang membuat saya tidak bisa menulis, saya bisa menghibur diri saya sendiri dengan berkata, “Yah, tadi pagi lumayan lah. Udah nulis dikit.”

Karena semakin siang, saya akan semakin repot. Menjelang sore, lebih longgar waktunya tapi saya sudah lelah. Malam hari, kadang saya lebih suka bersantai dibanding harus menulis. Pagi hari adalah waktu yang paling pas untuk menulis, menurut saya. Hawanya masih enak, pikiran masih enteng, dan badan masih segar.

Pagi ini, saya melakukan hal itu juga. Tapi saya sedikit tidak enak badan. Mungkin karena sudah dua hari tidur lewat tengah malam.

Ketika menulis ini, sambil mencium aroma kopi dan mendengarkan Sovereign Light Cafe-nya Keane, saya teringat warung kopi Datuk saya di Payakumbuh. Waktu kecil, saya sempat tinggal di sana. Saya lupa umur berapa tepatnya. Mungkin sekitar 4-5 tahun, sebelum akhirnya saya dibawa ke Jakarta dan sekolah SD di sana.

Setiap hari, setelah subuh, Datuk saya akan membuka warung dan Uwa (nenek saya) akan mulai menggoreng pisang dan ubi untuk dihidangkan bersama kopi dengan tungku kayu. Hawa pagi di Payakumbuh tidak main-main dinginnya. Menjelang jam delapan–padahal matahari sudah mulai meninggi–napasmu masih terlihat memutih di udara, seolah kamu mengeluarkan asap dari tenggorokan. Saya biasa duduk di dekat penggorengan dan berusaha menangkap panas dari tungku. Orang-orang mulai datang. Memesan kopi hitam, kopi telur, kopi susu, teh, teh telur, teh saring. Saya tidak ingat lagi minuman apa yang dihidangkan di sana. Lalu mereka makan gorengan sambil mengobrol. Biasanya obrolan politik dan situasi negara. Waktu itu saya masih kecil dan saya sangat kagum dengan betapa luasnya pengetahuan bapak-bapak itu.

Setelah saya SMA dan saya kembali duduk di dekat tungku di pagi hari, saya tahu kalau obrolan itu kebanyakan sangat lugu. Tentang bagaimana orang-orang desa memandang politik, tentang bagaimana mereka memandang hubungan luar negeri. Kadang saya berharap apa yang dibicarakan mereka memang benar adanya karena itu akan lebih baik.

Hal itu terbawa sampai sekarang. Di pagi hari, saya membuat kopi dan mencari obrolan politik di sosial media–Twitter. Kebanyakan obrolannya tidak begitu membuat saya tertarik. Selalu begitu-begitu saja. Twitwar penuh emosi dan saling tuding, saling tuduh, saling sindir. Padahal pengguna twitter–katanya–kebanyakan adalah kelas menengah.

Lalu pagi ini, saya merindukan kembali warung kopi itu. Suasana akrab, obrolan yang keras dan kencang tapi tetap bersahaja. Beberapa suara terdengar mencemooh tapi ditanggapi dengan cemoohan lain dan lalu dengan tawa. Dari jendela warung kopi itu, akan terlihat sapi-sapi yang digiring menuju ke padang rumput atau sawah, anak-anak berangkat sekolah, para perempuan membawa cucian piring dengan baskom di atas kepala untuk di cuci di pancuran umum di masjid. Yang paling saya rindukan; wangi gorengan yang dimasak dengan tungku kayu.

Setelah Datuk saya meninggal, warung kopi itu tidak lagi sama. Saya baru memahami itu setelah beberapa tahun kemudian. Ternyata yang paling sok tahu di situ, yang suaranya paling kencang, pendapatnya paling keras, yang menanggapi obrolan para bapak-bapak itu sambil menghidangkan kopi dan gorengan, adalah Datuk saya.

Ketika dia meninggal, warung kopi itu berubah senyap.

Sekarang saya benar-benar merindukan suasana itu. Seandainya pagi seperti itu ada lagi, saya ingin di sana. Apalagi menjelang pemilu begini. Duduk di dekat tunggu sambil membuka laptop, dan merekam semua yang mereka bicarakan. Tidak seperti sekarang ini. Saya jauh dari sana, sendirian, dan merasa aroma kopi yang saya minum pagi ini tidak harum sama sekali.

Well, you got nothing to hide, you can’t change who you really are,
You can get a big house and a faster car
You can run away, boy, but you won’t go far.

(Sovereign Light Cafe-Keane)

2 Comments

  1. Milo
    Jun 27, 2014

    tulisan kali ini kok berasa romantis banget ya?

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)