#383: Some Stories are Better Left Unwritten, Some Moments are Better Left Uncaptured

Dibaca 124 kali

IMG_4554edit

Kadang, ada saat-saat tertentu saya gak tau mesti nulis apa atau mesti moto apa.

Misalnya sekarang-sekarang ini, waktu anak-anak udah mulai gede dan seharusnya–iya, seharusnya–saya nulis banyak hal tentang mereka biar saya bisa inget nanti. Atau biar mereka bisa inget nanti. Tapi entahlah, saya malah membiarkan banyak hari belakangan ini berlalu tanpa tulisan, tanpa foto. Kamera saya nganggur. Hal yang cukup aneh sebenernya karena saya ini setan kamera. Saya ngambil gambar apapun. Tapi belakangan … saya ngerasa capek dan bosan ada di belakang lensa. Saya mau merasakan semuanya tanpa harus terganggu dan terhalangi oleh hal lain. Misalnya aja, seperti yang udah saya tulis tadi–terhalangi lensa. Atau terganggu oleh tekad bahwa saya harus bisa menuliskan momen ini secepatnya setelah saya punya waktu duduk di depan laptop.

Ini aneh.

Belakangan, saya sibuk ngepak barang dan merasa sedih harus pindahan. Tapi itu sepertinya itu ngebikin saya sadar akan hal-hal lain; betapa saya lebih banyak mengenal tempat ini dari balik lensa saya, bukan dengan merasakannya dengan hati saya. Bahwa saya lebih banyak mengejar foto yang bagus, cerita yang indah, bukan membiarkannya meresap ke dalam dada saya.

Saya pengeeen banget moto rumah kontrakan ini. Jalan-jalan ke pantai untuk terakhir kali dan ngambil banyak foto di sana untuk kenang-kenangan, hanya saja … entah kenapa saya merasa semua foto itu gak ada hubungannya dengan bagaimana saya mengenang dan mengenal tempat ini.

Saya ingat kakek saya. Dia sudah meninggal lama sekali. Sekitar tahun 1996 dan ketika itu saya masih kelas 6 SD. Saya belum punya kamera ketika itu. Saya belum bisa menulis cerita panjang tentang bagaimana saya akan mengenangnya. Dia juga gak banyak difoto jadi saya jarang banget ngeliat fotonya. Tapi sampai sekarang saya masih bisa mengingat dengan jelas jari-jarinya yang panjang dan keriput. Bau parfumnya, cara bicaranya, cara berjalannya. Saya melihat itu lebih jelas dibanding adegan di sebuah film. Saya juga masih mengingat dengan sangat jelas wajah Isha ketika dia baru aja lahir. Kulitnya yang kemerahan, rambutnya yang tipis, dan baunya yang seperti susu. Walaupun saya punya banyak foto dia waktu bayi sampai sekarang, tapi gak ada satu foto pun yang bisa menggambarkan apa yang sebenarnya saya lihat waktu itu. Gak ada satu foto pun yang bisa meng-capture momen itu, saat itu….

Semua foto yang saya punya itu seolah hanya sebagian kecilnya saja; gambaran bias segiempat yang hanya bisa merekam 1/400 detik momen saat itu.

Semua cerita yang saya tuliskan tentang anak-anak pun seolah hanya sebagian dari yang saya mampu tulis. Banyak yang gak bisa saya tuliskan karena sepertinya gak ada kata yang mampu menampung emosi yang saya rasakan. Kalaupun saya memaksa, kata itu akan kewalahan dengan muatan makna.

Aaaah, entahlah.

Saya menyimpan kembali kamera saya. Membiarkan semua gak dituliskan. Sekarang saya hanya ingin merasakan momen untuk disimpan sendiri.

Mungkin memang benar, seperti judul tulisan ini: some stories are better left unwritten, some pictures are better left uncaptured.

4 Comments

  1. Agus Setiawan
    Aug 3, 2014

    Membaca judul diatas “..Some moments are better left uncaptured” saya langsung ingat adegan dalam film “Secret Life of Walter Mitty” dimana ada adegan seorang Pendaki dan temannya yang sudah berada di puncak Himalaya untuk memoto seekor macan, namun setelah macan itu keluar.

    Si Pendaki yang sudah dari tadi membidik menggunakan kameranya, mengurungkan niat untuk memoto. “Untuk momen yang indah, aku ingin menikmatinya sendiri”. katanya.

    Kadangkala memang untuk sebagian momen lebih indah jika dikenang sendiri dalam ingatan. :)

    Nice post! Salam blogger.

    kokilistrik.com

    • octanh
      Aug 7, 2014

      Saya nonton juga itu Walter Mitty, Bang Agus. Tapi waktu itu nontonnya pas ngantuk-ngantuk. Gak ulang nonton lagi jadinya pas ending saya gak jelas gitu. Tau-tau kayaknya dia jalan sama cewek yang dia suka itu. Entah jadian, entah gak. :|

      Yang pas adegan pendaki (itu kan, pendaki yang dicari sama Walter Mitty kan, ya?) aku gak liat. :mewek:

      Iya, Bang Agus. Beberapa momen emang lebih indah kalo disimpan dalam ingatan. Kayaknya lebih vivid dibanding foto atau tulisan.

      Makasih udah mampir (lagi), Bang Agus. Salam. :cutesmile:

  2. Menik
    Jul 5, 2014

    Membaca postingan ini bikin nangis :cry: betapa jaman kecil dulu *eh* lebih banyak momen yang tersimpan di memori otak dan hati, dan betapa berkaca-kaca rasanya tiap bapak atau ibu menceritakan momen-momen lawas tersebut :twisted:
    Saya kadang malah merasa sebelum ada kamera dll, keluarga saya justru lebih teringat dengan momen2 tersebut

    • octanh
      Jul 30, 2014

      Saya sukaaa … banget denger cerita-cerita lawas gitu, Mbak Menik. Kadang-kadang yang gak penting juga saya dengerin. Misalnya tentang acara jalan-jalan Ibu saya waktu kecil tuh kemana aja. Atau cerita tentang kondisi sawah, dll. Gak ada yang seru buat dijadiin cerita sih, sayangnya. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)