#393: I’m not in Haste

Dibaca 139 kali

rak Buku

 

Kalo kepala saya udah penuh dan rasanya pengen ngebakar semua print-an draft atau ngerobek dan ngebuang ke tong sampah, saya inget kata-kata Tuan Sinung; you’re not in haste.

I’m not in haste.

Saya tahu bahwa semua ini proses. Saya tahu bahwa gak nambah halaman bukan berarti gak ada progress. Ini bukan mau membenarkan keleletan saya menulis, sih. Hanya aja saya udah menemukan banyaaak banget tulisan dan novel half-baked. Yang kadang saya mikir; ini dibuat sekali jalan dan ditulis sambil ngantuk-ngantuk apa gimana, sih?

Dan saya tahu, kebanyakan dari yang saya tulis emang half-baked; ditulis sekali jalan sambil ngantuk-ngantuk. :D

Obrolan lama saya dengan Tuan Sinung tentang riset, thesis, dan sebagainya di sekitar itu, akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa karya yang bagus itu butuh waktu, tenaga, jiwa, dan raga (khusus untuk raga ini, kalo saya udah mulai tenggalam dalam tulisan saya, biasanya mulai muncul banyak jerawat). Kalo seseorang meneliti sesuatu, dia duduk ngopi-ngopi pagi hari sambil ngelamun pun, bisa dibilang riset dan tetap dibiayai karena bisa jadi saat itu muncul ide dan hal baru yang bisa memperkaya penelitiannya. Begitu juga dengan apa yang saya lakukan. Mungkin yang dimaksud dengan menulis itu, 25%-nya lah yang benar-benar literaly menulis; alias duduk ngetik dan menghasilkan halaman demi halaman. 75% sisanya bisa riset, pendalaman, pengembangan, eksperimen, atau bahkan mengambil jeda.

Saya stress beberapa hari belakangan ini. Pertama karena saya belum bisa beradaptasi dengan suara bising kendaraan dari jalan besar di depan rumah dan itu ngebikin saya suka kaget kalo lagi tidur. Kalo lagi nulis–kayak sekarang–saya pake headphone biar gak keganggu. Saya juga masih beradaptasi dengan sekolah anak-anak yang sampe siang dan sore. Isha sekolah sampai setelah Ashar dan Inda pulang setelah Dzuhur. Walaupun di jam sekolahnya Isha (dia kelas 1 SD) lebih banyak diisi dengan pelajaran yang happy kayak nyanyi, main dan makan bersama, belajar mengantri, wudhu, dan gurunya mendongeng atau mengajarkan hal-hal baik lainnya–bukan yang belajar menulis, membaca, dan berhitung yang kaku dan nyebelin gitu–tapi tetep aja saya harus memastikan semua kebutuhan dia di sekolah terpenuhi. Misalnya makan, minum, dan juga cemilan. Dan saya masih belum terbiasa dengan sekolah yang modelnya kayak gini.

Oh, Isha itu saya masukkan ke sekolah yang menurut Kepala Sekolahnya sih, sistemnya semi-pesantren. SDIT tapi gak ketat. Untuk anak-anak kelas 1-3 SD, pelajarannya lebih ditekankan pada budi-pekerti dan kehidupan sosial. Ada juga pelajaran calistungnya, tapi gak lama. Maksimal sehari itu hanya tiga jam dan dipecah dengan selingan kegiatan lain. Sisanya, mereka diajarkan bagaimana berteman, berbuat baik, makan yang benar, dan lainnya. Setelah Dzuhur, pelajarannya lebih banyak ke agama gitu; belajar wudhu pas jam sholat, belajar sholat dan bacaannya, belajar berdo’a, dan juga ada dongeng tentang Nabi dan Rosul. Beberapa hari ini, pas jam makan siang, saya datang ke sekolah dan ngobrol dengan guru-gurunya dan perkembangan Isha memang agak tertinggal dibanding anak-anak lain untuk kemampuan calistungnya. Tapi gurunya banyak memuji tentang kedisiplinan, kerajinan, dan kebiasan Isha untuk berbagi dengan teman-temannya walaupun dia pendiam. Guru kelasnya pun berkali-kali bilang kalo Isha anak yang sangat baik. Jadi gak ada yang perlu dikuatirkan. Kebaikan itu yang akan ditanamkan dan dipupuk walaupun mereka akan terus berusaha mencari cara untuk mengajarinya calistung dengan lebih baik–tapi gak maksa.

Tangannya Isha, menurut gurunya, sangat steady. Saya ditanya apa Isha suka melukis. Saya bilang, Isha sepertinya punya ketahanan melakukan sesuatu dalam waktu panjang. Konsentrasinya gak mudah terpecah. Dia bisa main lego selama berjam-jam tanpa istirahat cuma untuk ngebikin bentuk yang dia mau. Gagal, diulang lagi. Gagal lagi, diulang lagi. Kalo bahasanya saya sih, dia itu persisten dan konsisten.

Berkali-kali gurunya membesarkan hati saya dengan bilang; kebaikan itu penting. Moral itu sangat penting. Tauhid itu diajarkan 12 tahun sebelum perintah sholat turun. Makanya ketika tauhid udah terpatri, sholat dan ibadah lain akan ikut jadi baik karena dasarnya kuat. Tapi bukan berarti belajar tauhidnya sambil gak sholat. Semua bisa berjalan beriringan.

Seneng dengernya…. :cutesmile:

Setidaknya saya dan guru-guru Isha punya kesamaan perspektif tentang pendidikan Isha dan itu awal yang bagus banget.

Saya juga sering bilang sama Isha; kamu bisa jadi apa aja. Apapun yang kamu mau. Mau jadi koki, boleh. Mau melukis, boleh banget. Bahkan kalau dia mau belajar kaligrafi, (kayak Mandanya–adik saya) itu juga boleh banget, bahkan kalo dia mau ngebersihin sungai di Riau sini, saya dukung (saya dukung banget!). Karena saya ini orangtuanya, saya gak berhak memaksa. Kalau Tuhan aja membebaskan kita memilih tapi tetap dibimbing, apalagi saya; harusnya saya juga gak maksa. Karena ilmu itu beda sama ijazah. Kamu bisa punya ijazah setumpuk dan gelar yang menuhin kartu nama, tapi ada loh, ilmu-ilmu yang gak ada ijazahnya. Ilmu Allah itu bukan ijazah, bukan gelar, bukan kuliah di mana, bukan lulusan kampus mana, dapet beasiswa apa, dan apapun yang semacam itu. Itu penting juga sih, tapi ada yang lebih penting; jadi orang baik. Jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Saya pun mengurangi banyak keinginan (ego saya sih, sebenernya) untuk lebih punya banyak waktu nulis dan sebagainya. Anak-anak ini dulu, deh. Yang lain bisa nyusul nanti. :cutesmile:

Saya gak memaksa Isha bisa membaca, menulis, dan berhitung secepatnya. She’s not in haste. Saya juga gak memaksa diri saya untuk menghasilkan karya secepatnya. I’m not in haste. 

Let’s take our time. Seperti membesarkan anak, berkarya pun perlu waktu. Persisten dan konsisten.

We’re not in haste. :cutesmile:

__________________________________________________________

PS: Saya lupa nulis di atas. Isha ini saya dan Tuan Sinung curigai disleksia. Tuan Sinung juga mencurigai saya disleksia karena saya gak bisa mengeja (saya belajar membaca dengan mengingat bentuk satu kata, bukan dengan mengeja–makanya sekarang saya jadi pembaca yang sangat cepat dan kalo nulis suka typo tapi gak sadar kalo itu typo), sulit membedakan kanan-kiri, susah menghapal nama dan wajah. Tapi, saya bisa merasakan makna kata lebih dalam dan punya perbendaharaan diksi yang cukup banyak (dan ini sepertinya karena saya memaksa diri saya untuk banyak membaca waktu kecil). Waktu saya ngerjain salah satu film untuk tugas kuliah, saya punya astrada yang bakalan ngasih tahu mana kanan mana kiri (ini kamera mau di-pan kanan atau kiri) tapi saya bisa dengan cepat membayangkan ruang. Dan dulu, saya kira itu biasa aja. Mungkin karena saya lagi puyeng atau apa, gitu. :mewek:

Karena disleksia baru bisa dites setelah Isha berumur 9 tahun (atau kelas 3 SD) dan gak ada gunanya juga buat ngetes saya ini disleksianya kayak apa–toh sekarang saya baik-baik aja, jadi sekarang kami menunggu sambil mencoba mencari tau apa yang bisa kami lakukan agar Isha bisa memaksimalkan kemampuannya. Itu kan, yang paling penting? :cutesmile:

4 Comments

  1. Pakde Cholik
    Aug 27, 2014

    Menulis memang memerlukan tekad yang kuat dan istiqomah dalam pelaksanaannya Jeng.
    Sayapun kadang nggak konsisiten, kadang menggebu-gebu, kadang letoy. Alhamdulillah tahun ini sudah menerbitkan 4 buah secara india dan satu buku yang akan diterbitkan oleh major publisher.
    Keep writing
    Salam hangat dari Surabaya

    • octanh
      Sep 4, 2014

      Iya, bener Pakde. Bener-bener butuh tekad. :mewek: Kadang tekad sama ketekunan ini saya yang gak ada. Jadinya apa yang udah direncanain mau ditulis, malah entah gimana ceritanya; gak selesai-selesai. :D

  2. Pamelia Yulianto
    Aug 19, 2014

    Like :)

    Wellwritten

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)