#396: [Cerpen] Dua Puluh

Dibaca 156 kali

IMG_3201

Yak, ini cerpen pertama saya yang dimuat di Femina. Saya udah pernah ceritain di sini. Daripada gak ngeblog, saya post aja cerpen ini. Dulunya, saya mau bacain ini cerpen trus rekamannya dimasukin ke SoundCloud. Baru selesai setengah, saya udah kudu pindahan dan terbengkalailah rekaman entuh. :mewek: Ini versi editan terakhir yang dimuat.

Temen saya, Mbak Nona Syam, sampe bela-belain jalan ke Semarang dari rumahnya yang jaraknya satu jam buat beli majalah Femina dan baca cerpen ini. Saya dapet foto cerpen yang ada di majalahnya. Tapi pas mau dipindahin ke laptop, kok ya gak bisa-bisa. Nyoba nge-email dari hape, gagal terus. Nasib…. Padahal saya mau mamerin gambarnya. :mewek:

Dan, makasih ya, Mbak Non udah beli majalahnya dan kirim gambar cerpennya. Jadi terharu…. :mewek:

Ini panjang loh. Hampir 3.000-an kata. Saya mau nulis cerpen lagi tapi kok susah ini, yaaa …. *plaaak*

Selamat membaca. :cutesmile:

_____________________________________________________

DUA PULUH

Aku menunggunya di kafe itu hampir lewat sepuluh menit ketika akhirnya dia datang dengan senyum yang cerah. Hari ini adalah hari terakhir di tahun ini. Tanggal 31 Desember 2013. Kalau ada sesuatu yang terjadi setelah pertemuan ini, aku akan dengan sangat mudah mengingat waktunya. Bukan kebetulan kami akan bertemu hari ini. Aku yang mengaturnya demikian setelah cukup lama menimbang. Pertimbangan terakhir karena aku ingin melewati tahun depan dengan terbebas dari perasaan ini. Aku ingin selesai dengan diriku sendiri … dan juga masa lalu itu.

Wajahnya masih seperti dulu, aku masih mengenalinya. Awalnya, aku sempat berpikir kalau mungkin saja dia sudah jauh berubah sehingga tidak kelihatan seperti dulu. Tapi dia tidak banyak berubah. Gaya berpakaiannya saja yang berubah. Lagi pula, siapa yang tidak berpakaian aneh belasan tahun yang lalu kalau dilihat dari cara berpakaian orang jaman sekarang? Dia memakai tas selempang yang disangkutkan di pundak kanannya. Terbuat dari bahan kulit berwarna coklat. Terlihat mahal dan elegan. Sejak dulu dia memang suka memakai tas selempang yang selalu dipakai dengan cara yang sama. Hanya saja, dulu tasnya tidak kelihatan mahal dan bagus seperti sekarang ini.

Aku berdiri dengan agak canggung. Berusaha menyambutnya dengan senyum yang ramah dan menyenangkan, seramah senyum yang dia lemparkan padaku.

“Sudah lama?” tanyanya. Aku menggeleng sambil menunjuk bangku di depannya agar dia segera duduk. Tapi dia dengan sigap mengulurkan tangannya. Mau tidak mau, aku pun menyalaminya. Tangan itu pun masih terasa sama. Waktu hanya merubah kulitnya yang sekarang tampak lebih gelap.

Aku masih bisa merasakan sisa kenangan ketika tangan kami bersalaman untuk pertama kalinya. Ketika itu, kami masih di kelas satu SMA. Bersalaman dengan lawan jenis menjadi hal yang sangat mendebarkan. Apalagi kalau dia adalah orang yang sudah kamu lihat sepanjang hari dari kejauhan. Ketika dia datang dan mengajakku berkenalan waktu itu, ingin rasanya aku lari dan sembunyi. Tapi aku menantang diriku sendiri dengan mengulurkan tangan dan menyebutkan namaku.

“Belum,” jawabku.

Dia meletakkan tasnya di bangku kosong di sebelahnya. Lalu mengalihkan pandangan ke arahku. Sesaat hening. Aku bingung harus berkata apa sementara dia hanya diam sambil memandang ke arahku.

“19 tahun? Atau 20 tahun?” tanyanya di sela senyumnya.

“Hampir 20 tahun kita nggak pernah ketemu,” jawabku.

Ketika mengatakan itu, aku baru menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat. Seharusnya waktu mengubah banyak hal. Tapi dia masih saja terlihat seperti dulu. Ada bagian dari dirinya yang masih sama seperti dulu. Persis. Mungkin ada banyak juga yang berubah. Misalnya saja kebiasaannya itu bicara sambil tersenyum. Dia tidak menyelesaikan senyumnya dan kemudian bicara—dia bicara dengan bibir yang masih tersenyum. Aku pernah mencoba melakukan hal yang sama tapi tidak bisa. Itu sulit dan dia bisa dengan mudah melakukannya dengan sempurna; kata-katanya jelas dan senyumnya pun tiada cela.

“Mau pesan apa?” tanyaku sambil menyodorkan daftar menu. Dia menerimanya dan membukanya sebentar. Lalu memanggil seorang pelayan yang sedang membersihkan meja tidak jauh dari tempat kami duduk. Pelayan itu datang beberapa saat kemudian. Berdiri di samping meja kami dengan notes kecil dan pensil, siap mencatat.

Cappuccino satu. Opera cake satu potong,” katanya sambil menyerahkan buku menu itu ke pelayan tadi. “Kamu?”

Aku tergagap ketika dia mengalihkan pandangannya ke arahku sambil bertanya.

Lemon tea,” jawabku singkat.

“Nggak mau mesen kue?” tanyanya lagi.

Aku terdiam. Bingung.

Opera cake-nya dua kalau begitu,” katanya lagi ke arah pelayan tanpa menunggu lebih lama lagi.

Lalu kembali hening. Aku tidak tahu bagaimana harus membuka percakapan. Dia meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah tablet, menyalakannya, dan beberapa saat kemudian meletakkannya di hadapanku. Aku melihat foto seorang balita yang sangat cantik berbaju merah muda. Rambutnya panjang dan kelihatan lebat.

“Namanya, Tiara.” Dia menyentuhkan tangannya ke layar dan melakukan sedikit gerakan mengusap sehingga muncul foto yang lain. Masih anak yang sama.

“Namanya seperti namaku.”

Dia tersenyum. “Iya. Aku sangat suka namamu. Kamu tahu itu.”

Tapi sepanjang masa SMP dan SMA ketika kami sangat dekat, dia tidak pernah memanggilku dengan benar. Dia tidak pernah memanggilku Tiara atau Ara seperti teman-teman yang lain.

“Tapi kamu dulu memanggilku dengan sebutan ulet bulu,” kataku. Terbayang bagaimana dia mengejekku sepanjang perjalanan pulang sekolah ketika SMP dengan sebutan itu hanya karena menurutnya aku tidak bisa diam. Gatal seperti ulat bulu. Tapi ketika masuk masa SMA, aku sudah terbiasa dan menerima panggilan itu sebagai nama khusus yang hanya dia yang boleh menggunakannya.

“Dia juga nggak bisa diem. Gatel. Kayak ulet bulu.”

“Cantik.” Aku mulai menyentuhkan jariku ke layar untuk melihat foto-foto yang lain.

“Mirip ibunya,” jawabnya pelan. Aku tidak berhasil menangkap kesedihan di nada suaranya. Suara itu terdengar sendu, tapi tidak sedih. Sama sekali tidak.

Lalu hening lagi.

Pesanan kami datang di saat yang tepat. Memecahkan keheningan dengan pembicaraan tentang lemon tea yang terlalu masam dan opera cake yang sangat enak. Tapi itu tidak berlangsung lama.

“Ibunya meninggal beberapa bulan yang lalu. Setelah lebaran.”

Aku menelan segigit opera cake dengan usaha lebih. Kerongkonganku terasa tercekat. Berita tentang kematian bukanlah hal pertama yang ingin aku dengar.

“Kecelakaan.” Dia meminum cappuccino-nya beberapa teguk. “Dia menyetir sambil mengantuk. Terlalu lelah dan banyak pikiran sepertinya. Dia memang agak tertekan.”

“Karena kematian Tiara?” tanyaku pelan. Pertanyaan ini sangat sulit aku ucapkan tapi aku tidak mampu menahannya. Terlalu banyak hal yang harus aku kunyah dalam setiap kalimatnya. Dia menambah satu berita kematian lagi. Tapi kematian yang ini tidak terlalu mengagetkanku. Aku sudah mengetahuinya dari salah seorang teman yang satu SMA dengan kami dulu. Aku tidak bisa menanyakan detailnya karena beritanya pun tidak terlalu jelas. Air mukanya tidak berubah. Tampak tenang dan sama sekali tidak menyiratkan kesedihan. Itu membuatku tidak merasa bersalah sudah menanyakan hal itu.

“Sebagian besar, iya. Tapi dia juga sudah sangat lelah dengan semua usaha kami untuk mempunyai anak lagi setelah Tiara meninggal,” jawabnya. “Untuk bisa hamil Tiara, kami menunggu beberapa tahun dan mencoba beberapa pengobatan.”

“Maaf aku tidak datang ke pemakamannya karena aku nggak tahu.”

“Dia dimakamkan di Jogya. Kamu juga nggak akan bisa nyelawat. Jauh kan dari Jakarta.”

Dia lalu tersenyum. Aku mengembalikan komputer tablet itu padanya. Lalu beberapa saat kami terdiam. Aku memakan sisa opera cake-ku, sementara dia mematikan tablet-nya dan menyimpannya di dalam tas.

“Sampai di sini, hidup itu jadinya lucu,” ujarnya kemudian.

“Kenapa begitu?” tanyaku. Aku tertarik pada kata ‘lucu’ yang dia gunakan dalam kalimatnya.

“Dari dulu, waktu kita masih remaja, aku selalu membayangkan akan menikah denganmu. Punya banyak anak, pekerjaan bagus, rumah besar dengan banyak kamar. Tapi hidup nggak pernah membawaku sampai ke situ. Padahal, kamu punya kesempatan untuk menyeretku masuk dalam mimpi konyol itu.”

Aku terdiam. Aku sudah membayangkan bahwa kami akan membicarakan masa lalu. Tapi aku tidak siap kalau harus membahas tentang hal itu. Apalagi setelah aku melihat jari manis tangan kanannya. Masih ada cincin emas putih melingkar di sana.

“Kita memutuskan untuk memilih jalan yang lain,” kataku mencoba mengatakannya dengan dingin dan tenang.

“Bukan kita. Kamu.” Dia berkata lagi-lagi sambil tersenyum.

“Mungkin aku,” ujarku pelan.

Ya, itu adalah aku. Ketika kami tamat SMA, kami kuliah di kota yang berbeda. Aku di Jakarta sementara dia di Bandung. Sebelum berpisah, kami berjanji untuk sering bertemu. Aku tidak tahu bagaimana harus mendefinisikan hubungan kami ketika SMA. Mungkin cinta monyet. Mungkin juga aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dia cinta pertamaku. Aku juga tidak bisa menjawabnya dengan pasti.

Kami bertemu setiap akhir pekan selama setahun sebelum akhirnya kamu mulai sibuk dan mulai jarang untuk saling berkunjung. Sampai pada akhirnya tidak ada kunjungan sama sekali di tahun ketiga. Aku tidak pernah lagi datang ke Bandung untuk menemuinya, begitu pun dengannya. Ketika liburan tiba, aku juga tidak kembali ke rumah sementara dia berlibur ke tempat neneknya di Amsterdam sehingga kami benar-benar tidak bertemu sepanjang tahun itu. Hal yang sama terjadi di tahun-tahun berikutnya.

Jaman itu tidaklah semudah jaman sekarang ketika komunikasi bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja dengan bantuan internet dan smartphone. Kami harus berkirim surat atau menelepon ke rumah kost masing-masing. Belakangan, itu pun sudah tidak pernah kami lakukan lagi. Banyak surat yang aku tulis untuknya dan tidak pernah terkirim. Ketika tamat kuliah, kami bertemu lagi. Ketika itu, keadaan sudah berbeda. Aku punya pacar dan dia tampaknya sangat sibuk dengan pekerjaan barunya.

“Aku memintamu untuk menikah denganku waktu itu,” katanya sambil menatapku tajam. “Tapi kamu ragu-ragu. Padahal …,” dia tidak melanjutkannya.

“Padahal?” tanyaku.

Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku mengikuti gerak matanya.

“Padahal kamu bisa memutuskan untuk berpisah dengan pacarmu itu dan menikah denganku. Tapi kamu tidak melakukannya dan sampai sekarang aku tidak tahu alasannya.”

Aku terdiam.

Itu benar. Ketika dia memintaku untuk menikahinya, aku butuh waktu lama untuk berpikir dan kemudian memutuskan untuk menolaknya. Bukan karena aku tidak menyukainya. Dia sangat mudah untuk disukai dan disayangi. Hanya saja, aku sudah menemukan seseorang yang sangat menyenangkan. Yang memberikanku kenyamanan dan keamanan dengan cara yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Aku memilih untuk menikah dengan seseorang yang aku yakini akan membuatku bahagia. Sampai sekarang aku tidak pernah menyesali keputusan itu.

“Aku merasa berhak untuk memilih orang yang lebih cocok,” kataku. Aku mencoba tersenyum.

“Dan lebih baik?” tanyanya kemudian.

Aku kembali tersenyum.

“Kamu juga mendapatkan orang yang lebih baik.”

Lalu kami kembali terdiam. Hawa canggung masih menyelimuti obrolan kami walaupun aku mulai merasakan kehadirannya seperti dulu. Aku mulai merasa duduk dan berbicara dengan orang yang sama yang dua puluh tahun yang lalu sempat aku bayangkan akan hidup bersamaku sampai waktu yang panjang.

Tidak lama setelah aku menolaknya, aku pun menikah. Dia tidak datang ke pernikahanku. Aku tidak mendengar kabarnya untuk waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya ketika aku hamil anak pertama, aku mendengar dia menikah dengan orang lain. Sebuah undangan dikirimkan ke rumahku. Ada foto calon pengantin di undangan itu. Calon istrinya kelihatan sangat cantik. Jauh lebih cantik dibandingkan aku. Mereka pun kelihatan sangat serasi.

Hari pernikahannya bertepatan dengan hari perkiraan lahir bayiku. Walaupun perkiraan lahir itu meleset dan aku baru melahirkan seminggu kemudian, aku tidak datang ke pesta pernikahannya. Aku hanya menyampaikan salam dan sebuah kado kepada seorang teman lama kami yang datang ke sana. Setelah itu kami sama sekali tidak pernah bertemu, tidak ada kabar, dan kehidupan pun berjalan seperti biasa.

Sepuluh tahun kemudian, aku mendengar dia sudah memiliki seorang anak yang aku tidak tahu namanya sampai hari ini—namanya sama dengan namaku. Kabar dia sudah memiliki anak itu dibarengi dengan kabar bahwa anaknya sakit parah dan meninggal tidak lama kemudian.

“Tiara meninggal karena kelainan jantung,” jawabnya ketika aku menanyakan tentang penyebab kematian Tiara. “Istriku seperti ikut mati bersamanya.”

Aku mengalihkan pembicaraan tentang Tiara dan itu berhasil membuatnya berhenti bercerita tentang masa lalu kami. Tapi ada sakit yang aku rasakan di cerita itu. Matanya berkaca-kaca. Tapi dia tetap berusaha tenang dan sesekali aku melihat tarikan sudut bibirnya yang memperlihatkan kalau dia sedang berusaha tersenyum.

Aku menyukai mata yang berwarna hijau itu. Dia peranakan Belanda-Jogyakarta. Penampilannya secara keseluruhan nyaris seperti orang Jawa pada umumnya. Memang dia tinggi, tapi tidak lebih tinggi dari laki-laki Jawa paling tinggi yang aku pernah temui. Hanya matanya saja yang memberikan tanda kalau ada darah Belanda ibunya yang tertutupi kuat gen ayahnya. Mata itu berwarna hijau.

Mata itu yang dulu sempat membuatku tergila-gila dan selalu ingin mendatanginya di tempat kostnya setiap akhir pekan. Mata yang selalu aku tatap ketika aku bicara dengannya ketika SMA, menceritakan segala keluh-kesahku tentang sekolah dan banyak hal lainnya.

“Sekarang aku sendirian….”

Aku terdiam. Itu adalah kenyataan yang baru aku sadari. Sekarang dia sendirian. Tanpa anak tanpa istri. Ibunya meninggal ketika dia SMA. Ayahnya sudah lama sekali meninggal, mungkin ketika dia TK atau SD, aku sudah tidak ingat lagi. Dia anak tunggal.

“Aku akan ke Amsterdam minggu depan,” katanya melanjutkan. Kali ini dengan nada suara yang terdengar datar. “Rumah mendiang Opa dan Oma kosong. Aku bisa pindah ke sana dan memulai hidup baru. Mungkin mencari bule cantik yang bisa diperistri.” Dia tertawa ringan. Aku tersenyum.

“Itu ide bagus,” komentarku.

“Seandainya kamu juga sendiri sepertiku, mungkin akan lebih bagus lagi. Aku akan mengajakmu ke sana dan kita bisa memulai hidup baru.”

Lalu kami kembali terdiam. Aku tidak tahu harus menanggapi apa dan harus bereaksi bagaimana. Kemungkinan itu terlintas di kepalaku jauh sebelum dia mengatakannya hari ini. Ketika aku menerima telepon darinya beberapa hari yang lalu dan memintaku untuk bertemu. Ketika itu sempat terpikir seandainya aku masih sendiri. Seandainya aku belum menikah dan tidak mempunyai anak, mungkin aku akan memintanya untuk membawaku pergi bersamanya sehingga kami bisa mendapatkan kembali apa yang dulu hilang. Mengambil kembali keputusan yang dulu tidak pernah berani aku ambil. Mungkin aku akan bahagia.

Tapi itu tidak mungkin. Aku juga belum bisa menghilangkan sepenuhnya bayangan dan sisa kenangan tentang dia dari kepalaku. Dia akan terus ada di sana karena dia memang sudah ada di sana sejak lama. Aku tidak ingin menghapusnya.

“Mungkin aku tidak akan kembali lagi. Makanya aku pengen ketemu kamu untuk terakhir kalinya.”

Kali ini aku yang tidak bisa menahan mataku yang mulai terasa panas. Sekuat mungkin aku berusaha agar mata itu tidak basah. Aku tidak ingin menangis. Apalagi di hadapannya. Selama ini, aku memang tidak pernah bertemu dengannya. Tapi aku tahu dia ada. Entah di mana. Mungkin di sebuah kota besar yang sama denganku. Sedang berusaha hidup dan juga tidak pernah memilih untuk melupakanku. Aku pun melakukan hal yang sama. Kali ini, ketika mendengar bahwa dia akan pergi dan tidak akan kembali ke sini, membuatku merasa bahwa dia akan meninggalkanku. Dia sengaja meninggalkan banyak hal yang kami miliki sejak dulu. Hal itu menyakitkanku.

Masih ada setengah potong opera cake di hadapanku. Aku hanya memandanginya dalam diam.

“Apa yang pernah terjadi di antara kita, itu adalah kenangan yang manis. Aku tidak bisa menemukan bagian yang tidak manis. Kalau hidup memang memisahkan kita dan membuat kita mengambil jalan masing-masing, itu juga kenangan yang manis. Setidaknya, kita bisa melihatnya seperti itu,” katanya sambil tersenyum.

Aku menatapnya lama. Melihat dalam melalui mata hijaunya. “Ya.” Aku menguatkan diriku untuk mengatakannya. “Kita punya semua kenangan manis itu.”

“Aku juga tahu kalau kamu dulu benar-benar mencintaiku. Aku kadang merasa terlalu ceroboh karena keyakinan itu. Karena aku tahu kamu mencintaiku, aku tidak pernah berusaha sekuat tenaga untuk menjagamu tetap dekat denganku. Itu kesalahanku.”

Aku terdiam lagi. Mungkin benar apa yang dikatakannya. Kami memang sepertinya tidak berusaha sekuat tenaga untuk menjaga apa yang sudah ada karena kami yakin bahwa itu tidak akan pergi kemana-mana. Walaupun pada akhirnya, semua itu hancur berantakan dan kami pun memilih untuk meninggalkan puing-puingnya. Sampai hari ini, ketika kami bertatap muka dan menyetujui hal yang sama bahwa cinta perlu dirawat dan diperjuangkan. Kami tidak merawat dan tidak memperjuangkannya ketika itu.

“Iya. Aku sangat mencintaimu, dulu.”

Aku mengatakan kata-kata itu dengan rasa bersalah. Walaupun itu adalah masa lalu, aku merasa tidak pantas mengatakannya karena aku punya seseorang yang menungguku di rumah. Dia juga mencintaiku dan memberiku ijin untuk pergi ke kafe ini.

“Tapi kemudian, aku menemukan cinta yang lain.” Akhirnya aku mengatakan itu. “Yang membuatku yakin bahwa aku benar-benar ingin hidup dengannya. Sampai hari ini perasaan itu tidak pernah berubah.”

Dia terdiam mendengar kata-kataku. Tapi tidak lama. Beberapa saat kemudian, kami kembali bercerita tentang masa lalu. Kali ini bukan lagi tentang cinta. Dia menceritakan tentang bagaimana tingkah konyolku ketika SMA yang membuatnya menganggapku sebagai cewek gatel dan memberiku nama panggilan ulat bulu. Dia juga bercerita tentang betapa dia kesepian dia tahun-tahun awal kuliahnya dan dia sangat senang ketika aku datang menemuinya di akhir pekan. Aku sudah mengetahui itu semua. Aku pun menceritakan tentang apa yang aku lakukan ketika kuliah dan pertemuanku dengan suamiku. Dia lalu menambahkan cerita tentang pertemuannya dengan suamiku secara tidak sengaja di sebuah acara alumni kampus. Mereka kuliah di kampus yang sama namun di tahun yang beda. Suamiku lebih senior. Pertemuan itu lalu membawa ke pertemuan ini. Dia meneleponku di suatu siang, mengajakku bertemu. Tanpa dia menyebutkan namanya di telepon pun, aku sudah tahu siapa yang bicara. Seketika kenangan tentangnya muncul. Menghantuiku sampai hari ini. Tapi setelah bicara dengannya beberapa lama, aku merasa kenangan itu pun perlahan berubah bentuk. Menjadi lebih manis, lebih mudah untuk dikenang.

Percakapan itu kami hentikan ketika menjelang sore. Aku harus segera pulang karena berjanji akan memasak makan malam hari ini. Aku tahu bahwa aku tidak akan menemuinya setelah ini. Dia akan pergi, menghilang. Meninggalkanku. Seperti dulu aku pernah meninggalkannya untuk menikah dengan orang lain. Di malam tahun baru, di Jakarta, dua puluh tahun yang lalu.

* * *

“Gimana keadaan Rommy?” tanya suamiku ketika aku sedang memasak di dapur. Sepulang dari kafe, aku langsung berganti pakaian dan menyiapkan makan malam. Anak-anak tidak di rumah. Mereka pergi ke acara tahun baru yang diadakan oleh teman-temannya di sekolah.

“Baik. Dia keliatan baik-baik aja,” jawabku.

“Fisiknya sepertinya memang kuat. Tapi penyakit seperti itu akan cepat membuat kondisi fisik menurun.” Suamiku berkomentar sambil membantuku mencuci sayuran.

“Penyakit?” aku bertanya dengan nada heran. Aku sama sekali tidak mendengar Rommy menceritakan tentang penyakit apapun tadi siang.

“Dia nggak cerita?” tanya suamiku heran. Dia menoleh sambil menatapku. Terdiam beberapa saat menunggu jawabanku. Air mengucur dari keran di kitchen sink. Aku mematikan keran itu cepat-cepat.

“Nggak,” jawabku pelan.

“Dia minta ijin buat ngajak kamu ketemuan sama aku sebelum dia telepon kamu. Dia bilang kondisi liver-nya sudah sangat parah sehingga dia akan pindah ke Amsterdam dan berobat di sana.”

Aku mengaduk kaldu ayam dengan perasaan bercampur-aduk.

“Dia bilang, dia ingin bertemu kamu untuk terakhir kalinya. Sepertinya dia yakin sekali umurnya tidak akan panjang.”

Aku menyadari ada air mata yang mulai keluar di sudut mataku. Aku menghapusnya dengan ujung jariku sebelum suamiku melihatnya. Tapi sepertinya dia tahu. Aku pun menangis pelan.

“Hidup itu lucu,” kataku sambil menghapus air mata dengan lengan kemejanya. “Sedih juga bisa ditunda.”

“Ditunda?” tanya suamiku bingung.

Aku menatapnya dan menjawab pelan, “Ya.”

Aku tahu kalau aku dan Rommy sama-sama patah hati. Hanya saja, tidak pernah ada satu kata pun yang terucap tentang itu sampai hari ini.

“…sampai hari ini.”

“Hanya hari ini saja, ya,” ujarnya. Dia lalu memelukku lebih erat dari biasanya.

* * *

2 Comments

  1. Nona Syam
    Sep 11, 2014

    itu majalah feminanya mo kukasi ke Octa sebenernya pas Octa ke Salatiga…tapi waktunya yang ga pas…pas Octanya di Salatiga pas akunya lagi gabisa kemana-mana :mewek:

    • octanh
      Sep 23, 2014

      Susah banget kayaknya buat kita berjodoh ya, Mbak Non. :mewek:

Trackbacks/Pingbacks

  1. #400: [Review] Strangeland by Keane|Octaviani Nurhasanah - […] easy-listening, coba Sovereign Light Cafe. Beberapa post yang lalu, ada cerpen saya yang judulnya Dua Puluh, ini saya tulis sambil …

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)