#398: Pakailah Headphone

Dibaca 47 kali

IMG_6941

Hal menyebalkan yang sering terjadi pada orang suka menguping pembicaraan orang lain—seperti saya—adalah ketika dia tidak sengaja mendengar omongan tidak penting tapi membuat gatal.

… dan gatal itu harus digaruk.

Terserah mau pakai apa; kuku, pisau, silet, parutan kelapa.

Beberapa kali saya bertemu dengan teman-teman saya dan mereka bilang kadang saya kelihatan seperti orang linglung. Mata melayang ke mana-mana, ekspresi kosong, bengong. Saya gak linglung. Saya cuma lagi nguping obrolan orang, atau sengaja nyari-nyari suara yang bisa didengar—syukur-syukur kalau itu ternyata pembicaraan yang menarik.

Masalahnya, pembicaraan menarik yang bisa dicuri-dengar di tempat umum itu sangatlah jarang.

Pernah suatu kali saya naik angkot dan nguping pembicaraan anak SMA di sebelah saya. Gak ada yang beres dari pembicaraan mereka. Dari mulai ngomongin guru yang galak sampai cowok yang jadi rebutan di sekolah. Saya juga pernah SMA dan dua topik ini gak masuk daftar pembicaraan favorit saya. Karena itulah saya kesepian di sekolah; saya gak bisa menemukan orang yang mau membicarakan hal lain selain pelajaran, guru, dan cowok … atau Backstreet Boys dan Westlife.

Jadi, kalau saya sedang di tempat umum, sendirian, bosan, saya pun nguping obrolan lain di sekitar saya. Dan ini adalah kebiasaan yang ingin saya hentikan!

Sama seperti halnya tubuh yang punya hak untuk mendapatkan makanan sehat dan baik, telinga, hati, dan pikiran saya juga punya hak untuk mendapatkan hal yang baik pula dari suara dan obrolan. Saya harus berhenti mendengar apa yang gak penting. Apalagi yang bikin gatal.

Yang bikin gatal itu contohnya, misalnya di suatu ketika saya pernah menguping pembicaraan cowok yang lagi memamerkan kemampuan menulisnya pada seorang cewek di ferry Pamatata-Bira. Itu benar-benar gatal yang gak tertahankan waktu dia bilang kalau dia bisa sudah menulis ratusan novel dan gak ada yang dia kirim ke penerbit karena dia ingin menyimpannya sendiri. Kata-katanya semacam, “Jaman sekarang banyak plagiat, kita harus hati-hati dengan karya kita. Makanya saya gak mau karya saya diterbitkan.”

Trus, di mana dia menyimpan ratusan novel dia itu?

Dia. Post. Di. Blog.

*brb ambil parutan kelapa*

Pernah lagi suatu ketika saya ngedenger obrolan pasangan muda anak kuliahan yang masih pacaran dan ber-papi-mami ngomongin rencana mereka membeli rumah. Obrolannya semacam, “Kita harus beli rumah segera karena kita harus membangun surga kita, Mi.”

Kapan yaaa … gue kebeli rumah? Pasangan baru pacaran aja udah mau beli rumah. Ya tapi gak apa-apa sih, siapa tahu emang tajir-keplintir itu orangnya. *positive thinking*

Atau suatu ketika waktu saya di ferry dan Kalinda muntah-muntah terus karena ombaknya kencang dan seorang ibu-ibu di bangku belakang saya sibuk menceramahi saya tentang bahaya muntah yang bisa menyebabkan dehidrasi, jadi abis muntah, itu anak harus dicocolin nasi sama dicekokin minum yang banyak. Saya udah bilang kalau Kalinda gak mau makan karena mual. Tapi dia mau minum. Tapi ibu-ibu itu terus ngomong masalah menantunya yang dokter dan sangat concern masalah dehidrasi (???) dan sebagainya-sebagainya sementara saya sedang sibuk membersihkan bekas muntah, memijit Kalinda sambil ngebalurin minyak kayu putih, rasanya … pengen banget waktu itu saya nyetel Nirvana kenceng-kenceng.

Atau suatu ketika saya denger pertanyaan aneh tentang kenapa si Tuan Sinung kuliah komputer kok sampe ke luar negeri segala. Apa gak rugi? Mending kuliah aja di dalam negeri, di mana kek gitu. Di deket rumah ibu saya ini juga ada kursus komputer kalau dia mau. Murah pulak. Gak usah lah, pergi jauh-jauh…. :mewek: Waktu saya denger pertanyaan dan dilanjutkan dengan nasehat tentang kerugian kuliah komputer di jaman sekarang ini (orang ini mengira si Tuan Sinung kuliahnya itu belajar words, excel, gitu-gitu), saya inget kalau headphone bawaan iPhone saya bagus. Suaranya jernih dan kalau dipake lama-lama gak bikin sakit kuping.

Jadi sekarang saya kalau ke mana-mana bawa headphone.

Dan kalau saya lagi ada di keadaan di mana saya pengen nguping hal-hal yang gak penting, atau saya terjebak di obrolan (bukan saya yang ngobrol, tapi orang lain dan suara obrolannya kenceng banget), atau saya terpaksa harus ngobrol yang aneh-aneh dan bikin gatel, saya ambil headphone dan ngedengerin suara Tom Chaplin.

Serius deh, kita harus menyaring apa yang didengar kuping kita sama kayak kita harus menyeleksi makanan yang mau masuk ke badan kita.

Sampai sekarang saya sama Tuan Sinung masih suka nge-jokes tentang kenapa dia gak kursus komputer aja di sebelah rumah Ibu saya. Hahahaaa…. Atau tentang ratusan novel di blog. :D

Dan sekarang saya kepikiran kenapa headphone-nya Apple itu namanya Beats. Mungkin bisa jadi subteks kalau itu headphone bisa nge-beats unnecessary sounds yang cuma bikin gatel. :D Saya pengen banget beli satu biar usaha mensterilkan pendengaran saya bisa terlaksana dengan baik.

Jadi, nasehatnya; pakelah headphone~

Terlalu banyak kata-kata yang berseliweran bak radikal bebas di luaran sana. *plaaak*

Ah, sudahlah.

Waktu nulis blog post ini saya juga pake headphone. Tapi ini karena saya pengen dengerin lagu yang bagus aja sih. Kayak lagu ini:

Yak, segitu aja curhat hari ini.

*lalu browsing Beats*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)