#408: Obrol-obrol Tentang Tanah dan Air

Dibaca 52 kali

IMG_6954

Beberapa waktu yang lalu, saya sempet ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang tentang cerita tanah dan air di sekitar sini. Tentang kemarau, mata air yang kering, banjir, yang gitu-gitu deh. Trus gak lama, cerita itu khusus ngomongin tentang sengketa tanah.

Saya bukan orang yang pinter ngobrol. Gak tahan juga lama-lama ngobrol karena saya lebih suka menghabiskan waktu dengan diri saya sendiri–kecuali kalo ngobrol sama orang yang emang nyambung banget sama saya. Jadi obrol-obrol ini gak saya perhatikan seluruhnya. :mewek:

Banyak sengketa tanah di sekitar sini, mungkin juga di mana-mana. Tapi–menurut obrolan itu–tanah itu bukan seperti barang yang kita beli dan jadi punya kita; kita gak pernah benar-benar memiliki tanah yang kita beli. Karena tanah itu benda keramat (sepertinya istilah ini gak tepat tapi saya gak nemu padanan kata lainnya). Ribuan tahun manusia tinggal di atas tanah yang menghampar seluas bumi, bergantian lahir dan mati lalu dikubur di dalamnya, mereka menandai ini tanah mereka, ini bukan tanah mereka, tapi tetap saja tanah yang segitu-gitu aja luasnya, dipakai bergantian dan gak pernah jadi milik mereka. Jauh sebelum saya tinggal di tanah yang katanya punya orangtua saya ini, mungkin entah ada banyak orang yang menandai ini tanah punya mereka lalu diperjual-belikan, tapi gak satu pun dari kami yang benar-benar memilikinya.

Saya duluuu … sekali pernah denger cerita bahwa bumi ini juga punya energi yang kuat; dari doa orang-orang yang tinggal di atasnya, dikubur di dalamnya, dan juga makhluk lain yang berjalan di sana. Karena itu, kita gak boleh seolah-olah memilikinya. Misalnya dengan memagari tanah trus membuat orang yang biasa memanfaatkan tanah itu untuk jalan setapak jadi harus muter jauh. Rasanya juga ada hadist tentang ini. Makanya lagi, sengketa tanah gak akan pernah berakhir dengan berkah. Walaupun saya juga mikir sih; kalo tanah yang–katanya–milik saya dan bisa dibuktikan dengan surat kepemilikan, seharusnya bisa saya sengketakan kan, kalo ada orang lain yang ngaku-ngaku…. Mungkin maksudnya permusuhan dari sengketa itu yang bikin gak berkah.

Ayah saya punya sebidang tanah yang sekarang diakui milik orang lain. Gak besar tapi lumayan nyesek sih. Tapi ya gitu, Ayah saya memilih untuk gak menyengketakannya. Soalnya tanah itu sendiri udah lama banget dibeli dan gak pernah digunakan, gak dirawat juga. Jadi pas ada orang yang make buat kebun, trus lama-lama diaku tanah dia dan entah gimana ceritanya dia juga akhirnya punya sertifikat dan segala macam buat membuktikannya, Ayah saya gak mempermasalahkannya lagi. Gak boleh ngeributin tanah, katanya, gak ada yang bisa memiliki tanah. Saya dan adik-adik saya udah lama banget dinasehatin buat gak memperebutkan warisan tanah. Gak boleh. Dan tanah-tanah itu juga gak akan dibagi dengan ditulis di surat warisan karena entahlah, menurut Ayah dan Ibu saya, kami harusnya nyari penghidupan sendiri dan gak ngarepin warisan. Tanah-tanah itu akan jadi harta titipan, dipakai bergantian, nanti dititipkan lagi ke anak-cucu. Saya gak tahu apa bakalan mulus aja urusan ini nanti….

Kadang, kalo saya dengar ada teman-teman suami saya yang penempatan (karena ikatan dinas) di tempat yang jauh dan belum apa-apa udah ngomong jelek tentang tanah yang mau dia datangi itu, saya dengernya agak gimanaaa … gitu. Saya juga dulu begitu, sih. Waktu awal-awal pindah ke Selayar. Tapi kemudian saya memutuskan buat mencintai tanah tempat saya tinggal biar saya dicintai balik. Kalo saya udah gak suka tinggal di sana, bagaimana tempat saya tinggal itu mau menerima saya dan ngebikin saya bahagia? Kata Ibu saya sih, tinggal di mana-mana itu sama aja. Hidup ya hidup. Mungkin akan ada beda fasilitas, lingkungan, dan sebagainya. Kita boleh berusaha mencari tempat baru yang lebih baik, tapi gak boleh membenci tanah tempat kita menumpang hidup.

Begitu juga dengan air.

Ada sumber mata air di belakang rumah saya ini, jernih dan airnya bagus. Dulu, sebelum mata air yang orangtua saya gunakan kering, mata air itu dipakai satu keluarga. Trus mata air di sekitarnya ikutan kering atau kondisi airnya jelek, orang-orang pun mulai minta air ke mata air itu. Tapi yang punya, gak suka, jadi suka gak dikasih. Trus lama-lama mata air itu pun ikutan kering. Waktu keluarga itu pindah dan tanah itu berpindah kepemilikan, keluarga baru yang tinggal di sana ngasih pompa listrik dan beberapa keluarga di sekitar mata air itu semuanya ngambil air ke sana. Air yang kering itu pun mulai banyak airnya, makin jernih, dan setelah beberapa tahun, gak ada tanda-tanda bakalan kering kalopun kemarau datang.

Mata air gak pernah akan jadi milik kita.

Dan air di lautan itu juga istimewa, kan? Semua binatang yang hidup di dalamnya halal dimakan.

Trus obrolan itu pun diakhiri dengan kalimat; kita ini khalifah–harusnya kita menjaga tanah dan air karena udah dikasih pinjam. Bukannya memaki dan merusak karena yang punya nanti marah.

Benar kalo kita hidup untuk mengumpulkan bekal, tapi juga benar kalo kita mengumpulkan hal lain untuk ditinggalkan. Ibarat lagi jalan, jangan sampe ninggalin hal gak baik di sepanjang jalan yang udah dilewatin. Kalo mau ngebuka jalan dengan menebang pohon dan membabat rumput, setidaknya jalan itu nanti bisa dipake sama yang mau melewati jalan ini juga di belakang kita.

Entahlah….

Kepala saya penuh banget rasanya. Satu-satunya cara biar agak lowong; saya harus menuliskan apa yang menuh-menuhin itu. Kayak make pensieve, keluarin yang gak penting untuk saat ini, simpen di sana, lalu urus yang lain. Ini yang lagi saya kerjakan sekarang.

Cerita-cerita tentang tanah dan air itu gak sepenuhnya saya mengerti. Saya nulis ini juga, gak seluruhnya saya pahami. Tapi saya harus tulis, biar saya bisa ngelonggarin pikiran buat hal lain. :D

2 Comments

  1. harijomk
    Oct 3, 2014

    Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

    • octanh
      Oct 9, 2014

      Iya, Bang Hari. Itu ungkapan yang pas banget sama cerita ini. :cutesmile:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)