#414: The Art of Asking; Crowd Funding Ketika Mas Gagah Pergi (Bagian 1)

Dibaca 188 kali

IMG_2531edit

Sekitar tahun 2002, ketika saya masih kelas dua SMA, saya mulai membaca novel-novel Islami dan langganan (atau lebih sering minjem kalo lagi gak punya uang) Majalah Annida. Ada sesuatu yang baru yang saya temukan di dua hal itu (novel Islami dan Majalah Annida), yaitu semangat untuk menyebarkan pemahaman Islam dengan cara yang elegan; dengan bercerita.

Saya lupa kapan tepatnya saya membaca Ketika Mas Gagah Pergi. Mungkin menjelang saya lulus SMA dan itu sudah lebih sepuluh tahun yang lalu. Yang saya ingat; saya meminjam novelnya dari seorang teman—yang saya lupa siapa. Ceritanya sederhana saja, menurut saya. Tentang hubungan adik-kakak, tentang perubahan ke arah yang lebih baik, tentang kedekatan, dan perasaan kehilangan. Saya masih ingat betapa salah seorang teman saya—yang ini saya ingat namanya—ingin punya kakak laki-laki setelah membaca KMGP. Ada beberapa teman yang lain, yang kemudian jadi ingin berjilbab. Saya salah satu dari mereka. Cerita punya kekuatan lebih dari sekedar penghibur dan teman menghabiskan waktu di kala senggang. Dia punya sesuatu yang bisa menggerakkan. Dia menyusup dan tertinggal di pikiranmu. KMGP melakukan itu.

slide1

Gambar dipinjam dari sini.

Saya teringat lagi dengan KMGP ini ketika, mungkin bulan lalu, saya membaca timeline twitter saya dan melihat twit dari Mbak Helvi Tiana Rosa kalau  KMGP ini akan difilmkan. Bukan dengan cara biasa; tapi dengan crowd funding.

* * *

Tahun 2012, setelah Amanda Palmer keluar dari label yang menaunginya (di satu wawancara saya membaca … because she hate it!) dan kemudian membuat album dengan crowd funding di Kickstarter, saya jadi tertarik buat mengikuti gimana akhir ceritanya. Waktu itu, crowd funding dengan cara seperti ini adalah hal yang baru. Walaupun ketika dia jadi pembicara di TEDx, dia mengatakan bahwa itu sama sekali bukan hal yang baru. Ketika dia selesai kuliah dan mulai bermain musik dengan band-nya, Dresden Doll, di malam hari, di siang hari dia berdiri di tepi jalan dan berpakaian seperti pengantin dengan muka yang di-makeup putih, dan berdiri di atas boks sambil memegang bunga daisy. Dia menamakan dirinya Eight Foot Bride. Dia meletakkan kaleng atau topi di depannya sehingga orang yang lewat bisa memberikan uang dan sebagai gantinya, dia akan memberikan orang itu tatapan dalam yang penuh makna dan setangkai bunga. Tatapan itu, menurut Amanda Palmer, kadang membuat dia dan si pemberi uang itu beradu pandang beberapa lama dan ketika itu, dia bisa melihat orang itu kesepian. Kadang dia melihat kalau orang itu seperti udah gak ngomong sama manusia lain selama beberapa hari.

Pertukaran antara uang dan komunikasi melalui tatapan itulah yang disamakan Amanda dengan crowd funding. Bukan prosesnya, tapi perasaannya. Dia menjadi Eight Foot Bride dan meminta agar diberikan uang (walaupun penghasilannya dari bermain musik sangat cukup untuk menghidupi dia) dan si pemberi uang mendapatkan semacam perasaan bahwa dia tidak sendirian walaupun itu hanya beberapa saat.

Warning: this video is graphic.

Amanda juga menceritakan betapa sering dia menemukan penggemarnya mendatanginya dan mengatakan kalau mereka tidak membeli CD musiknya—tapi menyalinnya dari CD orang lain atau mengunduhnya di internet—dan kemudian penggemar ini memberikan uang kepadanya sebagai ganti. Kemudian dia berpikir untuk mengratiskan saja semua musiknya dan memberikan akses kepada penggemarnya untuk mendapatkannya dengan mudah dan gratis, tapi sebagai gantinya, para penggemar itu dia biarkan (ini bahasa yang dia gunakan “let them”) membantunya untuk berkarya. Dia pun keluar dari labelnya membuat album selanjutnya dengan crowd funding.

Amanda_Palmer__The_new_RECORD__ART_BOOK__and_TOUR_by_Amanda_Palmer_—_Kickstarter

Sampai hari ini, crowd funding yang dilakukan Amanda Palmer masih yang terbesar. Dia berhasil mengumpulkan hampir 1,2 juta USD dari sekitar 25.000 penggemar. Jumlah ini hampir dua kali lipat yang dia minta untuk pembuatan albumnya, sekitar 500.000 USD.

* * *

Industri membuat barang yang dibutuhkan manusia dan kemudian memasarkannya. Kedua pihak mendapatkan keuntungan; antara produsen dan konsumen. Juga pihak ketiga di antaranya; distributor. Film, musik, dan buku sudah menjadi industri. Betapa banyak yang dihasilkan dan tentu saja karena ini bukan barang kebutuhan pokok manusia yang harus selalu ada untuk menopang hidup, gak semua orang membutuhkannya. Tapi satu hal yang perlu dicatat adalah; semua hal itu diproduksi untuk memberikan keuntungan kepada produsen—dan seniman juga akhirnya menjadi seperti produsen yang memikirkan keuntungan.

Ketika kamu membuat sesuatu hal berulang-ulang dengan cara yang sama karena sudah terbukti sebelumnya bahwa hal itu menguntungkan (atau terjual dengan baik) maka sebenarnya kamu gak sedang berkarya, you’re manufacturing your arts. Sebagai penulis, ini yang kadang saya percaya sebagai hal yang membuat banyak novel yang ada di pasaran sekarang kualitasnya ya begitu-begitu aja, mengikuti trend, dan jarang ada yang benar-benar bagus—walaupun saya tahu “bagus” itu juga masalah selera dan cara pandang pembaca terhadap novel itu, dan ini rumit. Saya gak mau membahas sampai jauh ke sana.

Betapa banyak juga film yang dibuat dengan me-manufacturing ide, novel, atau cerita yang sudah terbukti sebelumnya mendatangkan keuntungan. Kita juga gak bisa mengesampingkan kalau keuntungan itu penting karena ada banyak orang yang bekerja untuk membuat sebuah film dan mereka harus hidup, ada penulis yang bekerja menulis sebuah novel dan dia harus hidup, dan ini selalu saja urusannya adalah uang.

Seniman bukankah rockstar yang ada di panggung, dikelilingi ribuan orang yang mengelukan namanya. Mereka ada di panggung yang sama tinggi dengan tempat penonton berdiri, menyampaikan sesuatu yang membuat penonton menjadi lebih menyadari dirinya, memahami dirinya. Seniman menyambungkan seseorang dengan dirinya karena dia juga melakukan hal yang sama dengan karyanya. Karya itu adalah usaha untuk memahami dirinya. Karenanya, selalu personal.

Pertanyaan sekarang; bisakah sebuah karya dibuat sesuai dengan keinginan seniman dan disukai penikmatnya tanpa harus melewati proses yang mirip dengan pembuatan barang, dengan me-manufacturing-nya?

* * *

Pandji Pragiwakso sudah membuktikan kalau itu bisa. Sangat bisa. Dengan modal yang dipunyai oleh seniman itu sendiri. Pandji dan istrinya, Gemala, membuat lagu dan kita bisa mengunduhnya secara gratis. Dia juga menulis buku, dan lagi-lagi, kita bisa mengunduhnya secara gratis. Jed Revolutia, membuat ebook dengan menyertakan iklan di dalamnya dan kita bisa mengunduhnya secara gratis (ebook ini diunduh lebih dari 10.000 kali). Seniman sangat bisa idealis. Sangat bisa menciptakan karya dan gak mempertimbangkan pasar. Sangat bisa untuk membuat karya khusus ditujukan kepada penikmat yang sepikiran, seselera, sependangan dengan dia. Sangat bisa.

Di sinilah ada beda antara seniman membiayai karyanya sendiri dengan penggemar membiayai senimannya untuk berkarya.

Menurut Amanda Palmer, crowd funding itu mirip dengan crowd surfer. Kalau kamu liat konser, kadang ada penyanyi yang suka melemparkan badannya ke penonton dan penonton akan memeganginya agar gak jatuh. Itu adalah hal yang dasarnya sama; kepercayaan. Penyanyi itu mempercayai penontonnya gak akan ngebiarin dia mendarat di tanah dan patah tulang, penontonnya juga memberikan dukungan untuk penyanyi itu. Kedua belah pihak saling percaya.

Crowd funding bukan hanya tentang bagaimana seniman bisa menghasilkan karya sesuai dengan ideologinya, tapi juga tentang bagaimana hubungan antara seniman dengan penggemarnya—dengan orang-orang yang mendukung karyanya. Karena hal pertama yang menjadi dasar dari crowd funding ini adalah; ask. Seniman harus meminta … dan meminta itu akan membuat seseorang kelihatan lemah (vunerable). Gak semua orang bersedia berada dalam kondisi seperti itu.

Don’t see these things as risks — I see them as trust. … But the perfect tools can’t help us if we can’t face each other, and give and receive fearlessly — but, more importantly, to ask without shame. … When we really see each other, we want to help each other. I think people have been obsessed with the wrong question, which is, ‘How do we make people pay for music?’ What if we started asking, ‘How do we let people pay for music?’–Amanda Palmer

Hal ini sama dengan yang terjadi dengan Eight Foot Bride, di tepi jalan, dengan kaleng atau topi di hadapannya; dia dan orang yang lalu-lalang saling melihat, lalu mereka merasa terkoneksi, perasaan itu lah yang membuat ada pertukaran yang saling menguntungkan di antara mereka.

Yang menjadi dasar dari dikabulkannya permintaan itu—selain karena adanya kemampuan dari yang diminta—adalah perasaan peduli, terkoneksi, dan pada level selanjutnya; cinta.

* * *

Bersambung ke bagian 2. :cutesmile:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)