#430: I’m Terrified

Dibaca 204 kali

IMG_7163

Post ini aku tulis khusus buatmu, Hon.

I’m terrified.

Semalam, waktu kita ngobrol di telepon sampai tengah malam–di sini, dan tengah hari di sana–kamu bilang, “Sejak kapan sih, hidup kita mudah?”

Memang gak sering. Tapi pernah. Ya, kan?

Tapi bukan itu masalahnya, Hon. Aku ketakutan. Itu masalahnya.

Aku selalu ketakutan mendengar apa kata orang tentangku. Orang-orang itu memastikan aku mendengar apa yang mereka katakan. Memastikan bahwa aku memahami apa yang mereka inginkan tanpa terlebih dahulu memahami apa yang sebenarnya aku rasakan. Mereka bicara seolah aku ingin manusia rusak yang perlu diperbaiki.

Aku gak tau apa aku ini rusak atau gak, Hon. Aku sempat percaya bahwa aku ini sebaik yang kamu katakan. Aku ini istri yang baik, ibu yang baik, partner paling baik yang mungkin kamu dapatkan. Tapi itu semua gak jadi pertimbangan mereka, Hon. Pernikahan kita, itu urusan mereka. Kamu membuatkan kopi buatku di pagi hari, itu urusan mereka. Mereka gak senang. Mereka sibuk “ngebenerin” pernikahan dan hubungan kita–yang kita anggap baik-baik saja itu–jadi seperti yang mereka inginkan: aku harus berhenti dibuatkan kopi. Aku harus membuatkan kopi. Bukan kamu. Walaupun itu gak masalah buat kita.

Yang gak masalah buat kita, itu masalah buat mereka.

Hon. I’m terrified.

Aku ketakutan dengan apa yang orang ributkan; tentang pekerjaanku, tentang bagaimana hubunganku dengan anak-anak.

Kamu laki-laki, Hon. Kamu gak apa-apa keluar rumah dari pagi dan pulang malam untuk mencari nafkah. Aku perempuan, Hon. Bahkan ketika aku harus mengetik lebih dari empat jam dan duduk di depan komputer sepanjang waktu itu, aku dibilang gak mengurus keluarga. Anak-anak kita selalu dijadikan bahan untuk dikasihani. Kasihan anak-anaknya gak keurus. Aku gak tau caranya mengurus anak sebaik yang mereka inginkan itu, Hon. Apa harus digendong sepanjang hari atau bagaimana?

Hon. Aku sudah lelah ditimbang berhasil atau tidaknya jadi perempuan dengan seberapa baik aku mengurus rumah. Seberapa banyak cucian yang bisa aku cuci, berapa banyak masakan yang bisa aku buat, berapa kali aku menyapu rumah seharian ini. Kamu bilang, “Kerjakan hal yang bisa memberi manfaat lebih besar dan biarkan hal-hal kecil–seperti menyapu rumah itu–dimandatkan ke orang lain.” Tapi itu gak boleh menurut mereka, Hon. Karena hargaku sebagai istri, ada di sana. Hargaku bukan di seberapa bisa aku mengurusmu dan anak-anak sebaik yang aku bisa dengan caraku sendiri, tapi sebaik apa aku pontang-panting di rumah. Semakin banyak yang dikerjakan, semakin bagus. Semakin rapi rumah, semakin bagus. Semakin aku ada nilainya. Karena itu mereka selalu mempertanyakan kenapa kita meminta bantuan pembantu.

Hon. I’m terrified.

Gak ada yang peduli seberapa banyak kebaikan dan manfaat yang aku buat hari ini. Yang paling penting; seberapa banyak cucian aku selesaikan. Yang mereka bicarakan hanya tentang aku pemalas. Aku bekerja–aku merasa bekerja–keras setiap hari. Membaca lebih banyak dari yang bisa dilakukan orang lain. Mencari jawab dari pertanyaan anak-anak sebaik yang aku bisa. Hari ini Isha bertanya kenapa ular gak ada yang warna pink dan aku mencari tahu kenapa begitu sampai sesiang ini demi menjawab pertanyaan itu. Tapi aku bukan ibu yang baik. Aku ibu yang pemalas. Yang dibicarakan terus tentang kemalasannya di belakang punggungnya. Harusnya aku bilang saja ada ular berwarna pink dan selesai urusan. Setelah itu aku bisa menyapu. Tapi aku berkeras mencari tahu. Dan itu membuatku jadi pemalas.

(Kalau kamu mau tau, ada ular berwarna pink dan aku bisa menjelaskan dengan baik species, di mana hidupnya, apa makanannya sama anak-anak. Aku tahu kamu bakalan lebih suka aku bisa menjawab sedetail ini dibanding hanya menjawab sekali lalu agar pertanyaan berhenti. Karena itu aku melakukannya.)

Hon. I’m terrifed.

Aku selalu dicap sebagai ibu yang gak becus. Sampai-sampai semalam aku sempat bertanya; apa perlu aku pasang cap itu–ditatto, misalnya–di jidatku biar mereka tahu kalau aku juga tahu aku dicap begitu?

Aku dicap istri kurang ajar.

Aku dicap manusia gagal.

Hon. Kalau misalnya aku lari dari sini dan pergi ke tempatmu di sana dengan alasan untuk menghindari omongan seperti ini, apa itu boleh? Apa aku bisa punya alasan sebodoh itu?

Kalau kita tidak pernah ingin kembali lagi ke sini, apa bisa?

Hon. I’m terrifed.

Selama ini aku gak peduli. Karena aku gak dengar. Sekarang aku dipaksa dengar. Dipaksa duduk di sana dan mendengarkan. Sementara kamu gak ada. Mengadukan ini padamu pun, gak boleh. Istri harus menahan rasa agar suaminya tenang, katanya. Lalu, aku harus cerita pada siapa? Aku harus membicarakan ini dengan siapa?

Hon, apa kamu juga tahu kalau keberhasilan suami itu menurut mereka diukur dari seberapa banyak materi yang bisa disediakan untuk keluarganya–anak dan istrinya? Bukan dari seberapa kuat dan tangguh dia membahagiaan mereka? Seberapa kokoh dia dijadikan tempat bersandar?

Hon. Aku ingin menghilang dan tidak pernah ditemukan lagi.

10 Comments

  1. andriani
    Jan 6, 2015

    Mbaakkk.. Kangen nggak pernah nongol di fesbuk. Knp mbaakk? Semangat mbak Octaa. Aku padamuuu hehehe *fansgelap

    • octanh
      Jan 7, 2015

      Facebook-nya udah di-delete dari pertengahan tahun lalu, Mbak Adriani. Udah kagak maenan FB lagi deh. :D Nongolnya cuma di blog sama twitter doang sekarang. :D

  2. Milo
    Nov 19, 2014

    Kenapa Mbak?

    Semangat! Semangat! Semangat!

    Orang lain bisa komentar apa aja, tapi tetep yang menjalani Mbak Octa.

    • octanh
      Dec 3, 2014

      Biasalah, Milo…. Kebanyakan denger komentar jelek yang disemburin di depan muka jadi begini deh. :mewek: Sekarang udah mendingan, kok. *hugs*

  3. @nurulrahma
    Nov 17, 2014

    Duh, mbaa… campur aduk rasanya baca tulisan indah ini… :)

    • octanh
      Nov 18, 2014

      Saya juga campu aduk ini, Mbak Nurul. Duh…. :mewek:

  4. Nurin Ainistikmalia
    Nov 17, 2014

    Mbak…

  5. etty
    Nov 17, 2014

    Taaa, gw ketinggalan banyak cerita di blog ini dan langsung postingan yang ini tuh rasanya nyoss..
    Udahlah, walaupun susah dipraktekin kadang gw memberlakukan hukum “i only please one person a day and today i choose me”
    being insentive bit*h helps me a lot through hard day. :evil:

    • octanh
      Nov 18, 2014

      Gue pengen banget kayak gitu, Ty. Thanks for the nice comment and suggestion. Patut dicoba. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)