#436: (Elizabeth Gilbert’s TED) Your Elusive Creative Genius

Dibaca 83 kali

EG

 

Setiap kali saya ngedengerin Elizabeth Gilbert, saya sukaaa … banget sama suaranya. Sama gimana caranya dia ngomong. Pas pertama saya nonton TED yang ini, saya beneran ngantuk. Abisnya suaranya lembut banget begitu. :D

Saya nonton TED-nya Elizabeth Gilbert ini sekitar beberapa bulan lalu waktu saya lagi nyari gimana caranya melewati fase post-partum depression kalo kamu abis berkarya–karya apa aja–dan kemudian karya itu dilempar ke pasaran atau ke khalayak umum dan karya itu gak diterima dengan baik. Saya mengalami post-partum depression dengan salah satu karya saya? Errr … gak sih. Tapi saya ngeliat salah satu teman penulis saya mengalami hal itu dan saya pengen tahu apakah ada caranya melewati itu selain dengan mengubur diri dalam-dalam dan sembunyi sambil berharap orang-orang lupa?

Elizabeth Gilbert gak ngomongin tentang ini secara khusus, sih. Di pembukaannya dia ngomong gini:

I am a writer. Writing books is my profession but it’s more than that, of course. It is also my great lifelong love and fascination. And I don’t expect that that’s ever going to change. But, that said, something kind of peculiar has happened recently in my life and in my career, which has caused me to have to recalibrate my whole relationship with this work. And the peculiar thing is that I recently wrote this book, this memoir called “Eat, Pray, Love” which, decidedly unlike any of my previous books, went out in the world for some reason, and became this big, mega-sensation, international bestseller thing. The result of which is that everywhere I go now, people treat me like I’m doomed. Seriously — doomed, doomed! Like, they come up to me now, all worried, and they say, “Aren’t you afraid you’re never going to be able to top that? Aren’t you afraid you’re going to keep writing for your whole life and you’re never again going to create a book that anybody in the world cares about at all, ever again?”

Dia ngomongin tentang proses kreatif dan gimana caranya penulis–khususnya–melewati proses itu tanpa menjadi hancur. Gilbert sendiri udah lama menulis sampai akhirnya salah satu bukunya menjadi best-seller dan diterjemahkan ke banyak bahasa. Kamu pasti pernah denger judul bukunya kalaupun belum pernah ngebaca; Eat, Pray, Love. Setelah kesuksesan novel itu (lebih ke memoar sih, sebenernya), dia sering ditanya; “Aren’t you afraid you’re never going to be able to top that? Aren’t you afraid you’re going to keep writing for your whole life and you’re never again going to create a book that anybody in the world cares about at all, ever again?”

Apa kamu gak takut kalo seandainya buku kamu yang berikutnya gak bakalan sesukses itu? Atau bahkan gak ada yang peduli?

Sebelum dia menulis novel sesukses itu, dia juga dapat pertanyaan yang sama depresifnya; “Aren’t you afraid you’re never going to have any success? Aren’t you afraid the humiliation of rejection will kill you? Aren’t you afraid that you’re going to work your whole life at this craft and nothing’s ever going to come of it and you’re going to die on a scrap heap of broken dreams with your mouth filled with bitter ash of failure?”

Apa kamu gak takut gak bakalan sukses? Gak takut sama penolakan yang memalukan? Gak takut nulis seumur hidup tapi gak pernah sukses?

Jawaban untuk semua pertanyaan itu: YA!

Penulis seperti Gilbert pun takut sama hal-hal seperti itu. Berarti itu kan, normal ya? Semua orang bakalan mengalami ketakutan seperti itu. Ini bukan masalah kamu berbakat atau gak, kamu nulis terus apa gak, kamu punya keinginan kuat atau gak. Ini masalah–kalo kata saya–human condition. :D Sangat manusiawi mengalami hal kayak gitu. Kalo kamu penulis pemula kayak saya dan sama sekali gak pernah merasakan ketakutan seperti itu, bukannya itu malah aneh? :D

We writers, we kind of do have that reputation, and not just writers, but creative people across all genres, it seems, have this reputation for being enormously mentally unstable. And all you have to do is look at the very grim death count in the 20th century alone, of really magnificent creative minds who died young and often at their own hands, you know? And even the ones who didn’t literally commit suicide seem to be really undone by their gifts, you know. Norman Mailer, just before he died, last interview, he said, “Every one of my books has killed me a little more.”

Penulis dan juga pekerja kreatif punya reputasi sebagai pekerjaan dengan masalah ketidakstabilan mental. Banyak seniman mati bunuh diri. Club 27 … isinya seniman semua. Ini kan, agak aneh ya. Padahal katanya menulis itu terapi jiwa. Writing is healing. Jadi? :|

Harus ada cara pikir baru yang membuat seniman bisa terhindar dari kecemasan akan karyanya. Dari perasaan bahwa berkarya itu–seperti Norman Mailer–membunuhnya. Bahwa setiap karya membunuh penulisnya sedikit demi sedikit dan ketika dia gak punya lagi sisa jiwa untuk menulis, dia pun mati. Untuk menghentikan hal-hal seperti ini. Untuk melihat kreativitas sebagai hal yang gak menyeramkan. Untuk membuat penulis bisa menulis tanpa tertekan dan pada akhirnya ketika dia melepas karyanya ke khalayak umum, dia gak mengalami post-partum depression.

Pertamanya, Gilbert ngajak kita buat melihat jauh ke belakang, ke zaman Yunani Kuno dan memahami arti kata genius yang sebenernya.

Kita biasa memberikat predikat genius ke orang yang punya kemampuan di atas rata-rata. IQ di atas rata-rata, itu umum disebut genius. Seniman yang bisa menulis di atas rata-rata kemampuan penulis lain, genius. Apalagi kalo umurnya masih muda. Kata genius ini, dulunya gak dipake untuk orang-orang seperti ini karena genius itu berasal dari kata genie–jin atau makhluk astral yang tinggal di tembok kamar seniman dan membantu seniman itu berkarya. Jadi kalo si seniman membuat karya yang bener-bener bagus, dia gak akan sepenuhnya dipuji karena ada genie yang membantunya. Jadi genius itu bisa diartikan semacam orang yang punya genie. Kalo karyanya jelek, yaaa … gak sepenuhnya salah si seniman juga. Si genie juga punya kontribusi di sana yang bikin karyanya jadi jelek. Dengan cara pikir seperti ini, si seniman jadi terhindar dari perasaan narsis, gede kepala, dan ngerasa kalo apa yang dia lakukan itu sepenuhnya karena dia sendiri.

And then the Renaissance came and everything changed, and we had this big idea, and the big idea waslet’s put the individual human being at the center of the universe above all gods and mysteries, and there’s no more room for mystical creatures who take dictation from the divine. And it’s the beginning of rational humanism, and people started to believe that creativity came completely from the self of the individual. And for the first time in history, you start to hear people referring to this or that artist as being a genius rather than having a genius.

Renaissance datang dan membuat konsep ini berubah. Seniman kemudian disebut genius, bukan having a genie–genius. Dari sinilah perasaan depresi ketika berkarya itu datang dan ketika karya itu selesai, seniman pun mengalami post-partum depression. Gilbert lalu menawarkan sebuah cara pikir: bagaimana kalo kita–seniman–mulai menganggap bahwa apapun yang kita buat, itu gak sepenuhnya datang dari kita? Bagaimana kalo kita mengadopsi lagi cara pikir Yunani Kuno yang menganggap bahwa seniman punya genie?

You know, I think that allowing somebody, one mere person to believe that he or she is like, the vessel, you know, like the font and the essence and the source of all divine, creative, unknowable, eternal mystery is just a smidge too much responsibility to put on one fragile, human psyche. It’s like asking somebody to swallow the sun. It just completely warps and distorts egos, and it creates all these unmanageable expectations about performance. And I think the pressure of that has been killing off our artists for the last 500 years.

Untuk cara pikir seperti ini, sebenernya di agama saya udah diajarkan. Bahkan ketika berjanji pun, kita gak bisa sepenuhnya menyerahkan janji itu ke diri kita untuk bisa kita tepati. Kita disuruh untuk menyerahkannya kepada Allah dengan mengatakan insya Allah sebagai pengingat bahwa kita gak berdaya menepatinya kalo Allah gak kasih ijin. Jadi insya Allah itu bukan kata-kata yang dipake buat ngeles ya, Manteman. :D Sayangnya, walopun saya tahu konsep pikir kayak gini, saya masih gak bisa sepenuhnya memahami gimana cara kerjanya dan menghubungkannya dengan proses berkarya. Yang mana, sebenernya malah bikin seniman bisa mengambil jarak antara karya dan dirinya sendiri sehingga kalo ada apa-apa, dia gak depresi. Kalo karya itu disukai dan jadi besar, itu bukan tanggung-jawab dia, ada tangan Allah di sana. :cutesmile:

Gilbert trus nyeritain tentang penyair America, Ruth Stone yang tinggal di pinggiran Virginia. Kalo dia lagi kerja di ladang, dia bakalan ngedenger kata-kata puisi datang kayak tiupan angin dan dia bakalan menangkap angin itu, trus menuliskan kata-kata yang ada di sana ke kertas. Begitulah proses kreatifnya. Kalo misalnya dia salah tangkep, misalnya yang ketangkep buntutnya, maka dia akan menulis puisi itu secara terbalik dari kata terakhir ke kata pertama. Kalo misalnya dia gak sempat atau gak bisa menangkap kata-kata puisi itu, maka dia akan bertiup dan dia percaya kalo angin berisi kata-kata puitis (semacam inspirasi kali, ya) bakalan ngedatengin penyair yang lain. Jadinya itu bukan rezekinya dia, jadi dia gak perlu tertekan.

Dan segelap dan seaneh inilah proses kreatif itu kalo diceritakan. Makanya saya sukaaa … banget ngebaca proses kreatif seniman, tapi bukan tentang gimana dia menuliskan karyanya karena isinya tentu aja tentang gimana cara menulis. Yang saya suka itu tentang gimana cara dia “menulis”. Gimana cara dia menangkap ide lalu memegang ide itu sambil menuliskannya ke atas kertas–terserah dari kepala atau buntutnya. :D

Cerita lain adalah tentang proses kreatif Tom Waits. Dia ini musisi. Dan suatu hari ketika dia lagi nyetir, sepotong musik datang menghampiri kepalanya. Saat itu dia lagi bener-bener gak bisa buat menuliskan note yang dia denger biar dia gak lupa, dan apa yang dia lakukan? Dia turun dari mobil, menengadah ke langit, dan bilang; “Excuse me, can you not see that I’m driving? Do I look like I can write down a song right now? If you really want to exist, come back at a more opportune moment when I can take care of you. Otherwise, go bother somebody else today. Go bother Leonard Cohen.”

Cara kerja seperti ini, membuat Tom Waits menjadi lebih bisa tenang ketika berkarya dan gak terlalu cemas dengan karya yang dia buat ketika karya itu selesai. Melepaskan perasaan bahwa kesempurnaan itu ada di tangan seniman. Bahwa ada sesuatu yang lebih besar yang memberi inspirasi untuk berkarya dan membantu seniman berkarya.

Dan inilah yang dikatakan Gilbert ketika menulis Eat, Pray, Love:

“Listen you, thing, you and I both know that if this book isn’t brilliant that is not entirely my fault, right? Because you can see that I am putting everything I have into this, I don’t have any more than this. So if you want it to be better, then you’ve got to show up and do your part of the deal. O.K. But if you don’t do that, you know what, the hell with it. I’m going to keep writing anyway because that’s my job. And I would please like the record to reflect today that I showed up for my part of the job.”

Karena ribuan tahun yang lalu, di gurun Afrika Utara, para penari berkumpul setiap bulan purnama dan menari sampai matahari terbit. Mereka semua penari yang bagus dan selalu bisa menari dengan sangat indah. Tapi kadang, ada salah satu dari penari itu yang kerasukan dan dia diangkat, dielu-elukan. Penari lain akan berteriak, “Ole!” Dan mungkin kejadian ini hanya terjadi sekali seumur hidup. Tapi setelah pagi datang dan tarian itu selesai, penari yang kerasukan itu kemudian menjadi penari biasa lagi yang gak diangkat, dielu-elukan. Mungkin juga dia gak akan pernah lagi mengalami hal itu. Itu akan jadi kenyataan menyakitkan dan si penari harus menerima itu walopun sulit. Tapi dia harus tetap menari karena dia penari.

Untuk penutup, Gilbert mengatakan; kalo kamu penulis, menulislah sebaik yang kamu bisa. Terus menulis. Kalo seniman, berkaryalah. Lakukanlah apa yang harus kamu lakukan karena mungkin di suatu hari, seperti penari itu, di luar kendalimu, sesuatu yang luar biasa akan terjadi. Kalo kamu meletakkan tanggung-jawab hal yang luar biasa itu terjadi karena usahamu seorang, kamu akan depresi, kecewa, dan terus-menerus cemas. Tapi menarilah. Lakukan apa yang harus kamu kerjakan.

And what I have to, sort of keep telling myself when I get really psyched out about that, is, don’t be afraid. Don’t be daunted. Just do your job. Continue to show up for your piece of it, whatever that might be. If your job is to dance, do your dance. If the divine, cockeyed genius assigned to your case decides to let some sort of wonderment be glimpsed, for just one moment through your efforts, then “Olé!” And if not, do your dance anyhow. And “Olé!” to you, nonetheless. I believe this and I feel that we must teach it.“Olé!” to you, nonetheless, just for having the sheer human love and stubbornness to keep showing up.

Kalopun gak ada hal luar biasa yang terjadi padamu, “Olé!” to you, nonetheless, just for having the sheer human love and stubbornness to keep showing up.

Keep showing up~!

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)