#437: Catatan Anniversary ke-8

Dibaca 349 kali

IMG_2863edit

Lagi kangen banget sama Selayar. Hiks.

Tumben banget tahun ini saya lupa dan agak gak peduli sama urusan anniversary ini. Telat satu hari, saya baru nelpon si Tuan Sinung dan bilang, “Hey, happy anniversary! How’s marriage?”

Dan dia jawab, “Such a crazy ride.”

“I can do another eight, at least.”

“Really?”

“Yeah, come again and ask me in eight years.”

Trus kita ngobrolin yang lain. :D

Bukan urusan anniversary ini gak penting, sih. Saya cuma udah agak gak terlalu pengen ngitung lagi aja gitu. Cuma karena nulis tentang pernikahan setahun ke belakang udah kayak semacam kegiatan tahunan, jadilah saya nulis catetan ini. :cutesmile:

Emang delapan tahun belakangan mirip kayak naik roller-coaster. Tegang-tegang happy tapi gimanaaa … gitu. Beberapa pemikiran saya tentang pernikahan juga udah berubah. Misalnya aja, setahun belakangan saya mulai memperhatikan tentang banyaknya cerita perceraian dan perselingkuhan. Dua hal yang gak pernah saya urusin sebelum ini. Tapi karena ada beberapa teman dan juga orang-orang di sekeliling saya yang mengalami dua hal itu, saya pun mulai memikirkannya.

Dari sekian banyak perselingkuhan dan perceraian, yang menarik banget buat saya itu; yang bercerai di usia yang udah gak muda lagi. Kalo misalnya selingkuh dan cerai di usia saya ini, mungkin saya masih mikir karena; masih labil, gak bisa nahan nafsu, beberapa ada yang karena anak (belum punya anak), dan beberapa lagi tentang ekonomi. Tapi, ngeliat pasangan usia matang dengan materi yang berlebihan, karir sukses, dan juga anak-anak yang udah dewasa dan menikah, saya agak-agak heran. Semacam terbersit; nyari apaan lagi, sik?

Beberapa bulan belakangan, saya juga jadi suka baca dan denger podcast tentang kehidupan pernikahan. Bukan yang tips dan trik atau cerita kesuksesan yang manis-manis gitu. Saya suka nyari tentang curhat kehidupan pernikahan yang real gitu–beneran terjadi. Sampai saya menyimpulkan kalo bisa jadi, pasangan matang itu akhirnya memutuskan selingkuh dan bercerai bukan karena kekurangan apapun, tapi karena gak lagi punya proyek bersama. Waktu mereka masih muda, mereka masih ngejar materi, ngejar karir, ngurus anak, dan banyak proyek bersama yang bisa dilakukan. Terutama tentang ngurus anak, sih. Pas semua itu udah didapatkan, akhirnya mereka jadi gak ada kerjaan dan nyari “proyek pribadi” sendiri-sendiri. Dari situlah hubungan pun mulai merenggang.

Saya juga merasa begitu, sih. Hubungan saya dan Tuan Sinung lebih banyak didasarkan bukan karena cinta atau yang romantis-romantis begitu walopun ada saatnya hal itu ada. Lebih banyak hubungan kami jadi baik karena ada beberapa proyek bersama yang dikerjakan. Proyek terbesar tentu aja anak-anak. Ada lagi beberapa yang jadi proyek sampingan yang ngebikin kami jadi punya bahan obrolan–soalnya saya gak tahu gimana caranya talk about nothing atau basa-basi gitu. :|

Kata-kata teman saya juga mengusik pikiran. Tulisnya di salah satu email: 

… makanya kalau katanya filsuf populer Alain de Botton, jaman sekarang itu menyaksikan kematian dua jenis cinta: cinta model feodal (dijodohkan, menikah karena keluarga punya kebutuhan menyatukan kekayaan) dan cinta romantic (hubungan yang hanya didasari oleh perasaan yang menggebu-gebu). Yang dibutuhkan untuk relationship to work adalah sebenernya kecocokan psikologis. Jadi pertanyaan yang harus ditanyakan kepada calon harusnya adalah: “How are you mad?” Seberapa mampu masing-masing menghadapi kegilaan yang lain.

Trus saya juga ngeliat balik ke tahun-tahun pertama pernikahan dan beberapa saat sebelumnya ketika ekspektasi saya tinggi banget sama romantisme pernikahan. Mungkin saya kebanyakan baca buku-buku yang menuliskan bahwa pernikahan itu bukan kerjasama tapi semacam akhir dari perjuangan kisah cinta kita. Walopun–lagi-lagi–sedari awal saya udah meminimalisir itu, tetep ajaaa … saya punya keinginan bahwa menikah itu haruslah romantis, haruslah begini dan begitu. Padahal setiap pernikahan punya caranya sendiri untuk bertahan dan cara seperti ini bukan yang bakalan bisa membuat pernikahan saya bertahan. Delapan tahun ini, ekspektasi saya pada romantisme mulai saya turunkan dan saya mulai melihat sisi lain pernikahan yang jarang dianggap penting; persahabatan.

Tapi saya juga gak bisa mengatakan ini pada pasangan yang baru menikah karena yaaa … mereka harus melewati itu. :D Semacam saya pernah melewati masa-masa di mana cowok-cowok di kelas saya pake bando dan kaos kaki donat dan cewek-ceweknya punya potongan rambut absurd. Masa-masa alay itu sebaiknya ada untuk dikenang. :D

Saya pun lebih memilih untuk mengatakan; bersahabatlah dengan pasangan kalian. Lalu tetap bersahabat dengan beberapa orang lain untuk membuatnya seimbang dan kamu tetap waras. :D

Saya juga udah mulai gak mau terlibat dengan perdebatan tiada akhir tentang perempuan. Kesetaraan itu sesuatu yang agak aneh menurut saya. Laki-laki dan perempuan itu gak sama, karena itu sulit disetarakan. Hal yang paling mungkin ya, memang membuka akses pendidikan dan pekerjaan. Itu aja. Perempuan gak bisa menyaingi dan meminta posisinya disamakan dengan laki-laki. Perempuan dan laki-laki itu bukan kayak iPhone item dan putih yang beda casing doang. Mereka beda dan harus beda karena ada satu tugas besar (atau yang saya bilang di atas sebagai proyek bersama) yang harus dituntaskan. Mereka lebih mirip sendok dan garpu; punya kemampuan dan kelemahan masing-masing yang ngebikin makan bakso jadi mungkin. Bisa sih, makan bakso cuma pake sendok doang, tapi susah kan? Apalagi pake garpu doang. Tapi kalo pake keduanya, semau jadi lebih mudah. Karena itu si garpu sebaiknya gak nyerobot pekerjaan di sendok begitu pula sebaliknya.

Tapi ini gak kemudian membuat saya setuju dengan perempuan gak perlu pinter atau gak perlu sekolah. Ampun deh, mau ngapain di dunia sekompetitif ini kalo mau males-malesan dan gak mengembangkan diri? Saya juga gak bisa bilang kalo perempuan gak perlu bekerja karena mereka juga pribadi yang perlu melakukan hal-hal yang perlu dan memungkinkan mereka bahagia. Mengurus keluarga dan anak-anak menurut saya itu naluri dan gak semua perempuan punya naluri yang sama. Seperti halnya, gak semua laki-laki luwes dan bisa ngurus keluarga–apalagi ngurus anak. Saya cuma bisa bilang; lakukanlah yang membuat kalian lebih menenangkan dan membahagiakan. Pilih mau berkomitmen di mana karena setiap komitmen perlu waktu. Begitu juga dengan komitmen pernikahan, keluarga, pendidikan, dan pekerjaan. Bisa pilih dua, tapi sulit untuk pilih tiga–yang saya amati sih, begitu. Lebih memungkinkan untuk membagi umur dibanding membagi waktu. Maksud saya, misalnya di umur sekian, saya mau sekolah. Kalo anak-anak udah pada besar, saya mau kerja. Itu lebih mungkin dibanding ngebagi waktu sehari untuk melakukan semuanya.

Ngomong-ngomong masalah komitmen pernikahan, saya juga mulai belajar untuk memisahkan antara anak-anak dan pernikahan. Sangat mudah buat anak-anak untuk mengambil alih pernikahan. Maksud saya, untuk mengambil hampir keseluruhan waktu yang harusnya saya investasikan untuk merawat pernikahan saya (entah itu dengan melayani atau dilayani suami) dan dihabiskan untuk mengurus mereka. Karena itu, saya pun membedakan kedua hal itu dan menyisihkan waktu walaupun gak banyak untuk mengurus si Tuan Sinung–dia pun sebaliknya.

Terakhir, saya percaya gak ada yang gratis. Begitu juga dengan suami atau istri kita. Benar kata orangtua kalo istri itu gimana suami dan sebaliknya. Karena itu, jangan mentang-mentang udah nikah, udah sah, akhirnya gak dirawat. Sementara semakin tua, semakin banyak cobaan di pernikahan.

Ini pernikahan, perlu dua orang yang berjuang to make it works. :cutesmile:

Sejauh delapan tahun terakhir, ini yang saya pelajari. Yang jelas, di tahun pertama pernikahan, saya gak kepikiran kayak begini. Entah tahun depan pikiran saya kayak gimana lagi. :D

Happy anniversary, Hon! :cutesmile:

4 Comments

  1. retno mulyandari
    Dec 30, 2014

    met anniversary :) dan suka banget ama tulisan ini…ak baru 3 tahun menikah dan kayaknya harus banyak belajar dari tulisan ini deh….apalagi tentang sendok garpu di bakso hahaha ##GagalFokusMupengBaksonya hahaa

    menikah memang menyatukan dua perbedaan bukan menyamakan perbedaan menjadi satu :)hehehe

    • octanh
      Jan 2, 2015

      Oh, bakso…. Udah lama ini aku gak makan bakso yang beneran enak, Mbak Retno. *lalu galau* Makin lama, makin banyak belajar kita, Mbak Retno. Entah ini tahun depan aku punya catetan apa lagi. :D Semoga bukan catetan yang aneh-aneh. :D

  2. etty
    Dec 8, 2014

    selamat delapan tahunan ya ta, dan gw masih sibuk manggut-manggut baca postingan ini. Mudah-mudahan pernikahan kita dengan suami masing-masing bisa awet dan bahagia walau penuh kerja keras ya. :lol:

    • octanh
      Dec 10, 2014

      Makasih, Ty. :D Mudah-mudahan aweeet~ Gak tau lagi soalnya gue, di mana bisa nemu yang kayak doi. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)