#440: Scent in Podcast and Book

Dibaca 32 kali

wtnk

Odor awareness by itself doesn’t make one an olfactive genius.

What the Nose Knows; the Science of Scent in Everyday Life. Halaman 146.

Awal tahun ini, saya pengeeen banget belajar gimana bikin deskripsi olfaktori yang lumayan gitu. Soalnya buat saya itu susah–selain karena saya juga gak pernah mikirin gimana caranya buat make deskripsi semacam itu. Kebanyakan (termasuk saya juga sih) penulis lebih suka nulis deskripsi visual. Pokoknya ngedeskripsiin apa-apa yang keliatan. Jarang banget saya ngebaca ada deskripsi tentang yang didengar atau yang dirasakan oleh ujung-ujung jari. Trus beberapa novel yang saya baca (ada yang tentang kuliner dan kopi) sama aja kondisinya. Kalo saya baca novel yang nyeritain tentang kafe, rasanya pengen gitu saya baca deskripsi olfaktori tentang gimana aroma itu kafe, kopi, atau apalah. Dengan motong jalan dan nulis; aroma kopi semerbak bla bla bla … itu sama sekali gak ngebikin saya bisa ngebayangin gimana kondisi kafe itu sampe kebawa-bawa ke mimpi. :D

Saya pikir, mungkin penyebabnya adalah kebiasaan manusia buat bergantung terlalu banyak pada indera penglihatan. Trus setelah saya baca buku yang sampulnya saya pajang di atas, saya baru tahu kalo penyebab berikutnya, bisa jadi, karena memang aroma itu sulit diklasifikasikan. Gak seperti warna yang dengan mudahnya bisa diklasifikasikan dan bahkan dibuat kode hex-nya, aroma lebih sulit untuk diperlakukan sama. Sampe sekarang pun, gak ada yang bisa menyebutkan berapa banyak aroma yang sebenernya ada di alam semesta ini. Semua hanya berupa kira-kira.

Ilmuan aroma kemudian mengelompokkan aroma untuk mempermudah menelitinya. Kalo kamu pernah nonton atau baca novel Perfume, pasti tahu kan, kalo parfum itu dibuat dengan aroma dasar dan dicampur dengan beberapa aroma lain. Trus makanya nanti ada aroma yang jadi dasar parfum itu, trus gak berapa lama, parfum itu bisa tercium jadi agak lain karena ada aroma campuran lain, dan seterusnya. Yang mana … menurut perfumery (ahli parfum), cara pembuatan parfum gak sepenuhnya benar seperti itu. Nah lo!

Buku ini juga menceritakan tentang aroma di novel dan puisi penulis Amerika. Nathaniel Hawthorne:

“Hawthorne was keenly aware of smells, he had an empathic sense of how they affected others, and he could express them in a sustained way in the course of wonderful stories. Although he was descended from austere New England Puritans who rejected sensuality, Hawthorne himself was blessed with a joyful nose.”

Emily Dickinson;

Emily Dickinson didn’t inhale fragrance like a normal person—she drank it. In her poems, the scent of flowers is nourishment. Describing the scent of spring, she calls herself “a drinker of Delight.” She gets drunk on fragrance: “Inebriate of Air—am I—/ and Debauchee of Dew.” She and the bee “live by the quaffing,” she on Burgundy, the bee on clover nectar. She raises flowers in order to consume their fragrance, which fuels her creative powers. There’s no denying it: Emily Dickinson was a fragrance vampire.

Faulkner;

Faulkner has been called “the most radical innovator in the annals of American fiction.” He didn’t get this reputation from the precise observations of his “sharper sense” he got it from a highly original use of smell as metaphor.

Dan juga tentang klise yang tertalu biasa ditemukan;

Anyone can drop a smell cliché into a story, yet only a few authors bring a true olfactory sensibility to their work. In a letter to The Nation in 1914, the English professor Helen McAfee mourned the fact that the smells in contemporary American fiction were all clichés: “For example: the complementary smell of a New England spinster story, lavender; of a tale of camp life, pines; of a June romance, roses.” She praised Russian authors like Chekhov and Dostoyevsky, whose smells “are keen and fresh…not dragged in simply for form’s sake.

Selain ngomongin tentang aroma dalam tulisan–yang mana hanya sebagian kecil sih, sebenernya–buku ini banyak menceritakan tentang klasifikasi aroma dan perkembangannya sampe sekarang. Juga tentang pembuatan parfum yang membuat saya lebih menghargai parfum yang ternyata gak sekedar minyak wangi. Itu tuh udah kayak seni kali, ya. :D

wtnk2

Buku ini banyak ngebantu saya buat riset dan berusaha nyari tahu gimana caranya buat menjelaskan, mendeskripsikan, ngasih kesan, atau apalah itu istilahnya … biar tulisan gak cuma sekedar memuaskan imajinasi mata, tapi juga hidung. Karena, saya gak tau ini saya doang apa gimana, tapi saya ngerasa kalo aroma itu sesuatu yang paling cepet buat memanggil kenangan. Lebih cepet bahkan kalo dibanding dengan foto. Pas saya nyium wangi parfum tertentu, saya inget waktu MOS SMP dan kakak kelas saya make parfum itu–baunya kayak gitu. Saya masih inget itu sampe sekarang. Ingatan itu lalu menarik ingatan yang lain; tentang rambutnya yang pendek, matanya yang selalu aja memicing di bawah terik matahari, sepatunya, pacarnya…. Saya pun gak pernah pengen make parfum dengan wangi yang sama, entah kenapa.

Saya pengen mindahin ingatan yang berkait dan ngebawa ingatan lain seperti itu ke tulisan. Itu yang masih saya cari tahu gimana caranya biar gak klise. :D

Trus karena akhir-akhir ini saya lagi demen bener ama podcast, saya nemu podcast yang menarik banget. Isinya cuma wawancara dengan orang-orang dan pertanyaannya selalu sama; tentang aroma apa yang paling kamu ingat. Dan orang-orang itu pun mulai bercerita tentang banyak hal. Lebih banyak dari yang awalnya saya bayangkan. Bukan hanya tentang potongan kisah di satu masa, tapi juga kadang tentang rasa, tentang sebagian kenangan yang masih dibawa-bawa sampai sekarang.

wtnk3

Ini podcast-nya.

Kalo kamu gak punya iTunes, bisa langsung didengerin di website-nya: http://lifeinscents.com

Semua ini menarik banget buat saya. :cutesmile:

Kalo saya ada waktu, mungkin bisa saya ceritain lebih banyak tentang bagian-bagian paling menarik dari bukunya. Gak janji sih, tapinya ya~

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)