#503: [Nulis Kamisan] Hi!

Dibaca 78 kali

a-silhouette_in_the_rain-1191542Credit

Dinda terkejut ketika cambuk kilat keemasan melecut di langit abu-abu yang menutupi kota ini seharian. Dia memegangi payung hitamnya dengan lebih erat. Setelah itu, beberapa detik kemudian, gemuruh terdengar di langit. Gemuruh yang selalu saja datang terlambat karena dia kalah cepat. Lampu-lampu jalan sudah menyala padahal sekarang baru saja jam lima sore. Jalanan yang basah memantulkannya sehingga seolah ada lebih banyak sumber cahaya daripada yang sebenarnya. Sesekali mobil lewat di depannya, pelan. Lampu depan mobil itu menembus hujan yang membuat tetesannya tampak lebih jelas; seperti jarum-jarum panjang yang menghujam ke tanah lalu pecah.

Seorang laki-laki yang juga memakai payung hitam berjalan pelan dan berhenti di sampingnya. Dinda menoleh ketika laki-laki itu menyapanya.

“Rhino,” panggilnya sambil tersenyum.

“Kenapa menunggu di luar?” tanya Rhino. Dinda tidak menjawab. Rhino kemudian menunjuk ke arah kafe di seberang jalan dengan dagunya. Terlihat nama kafe itu tergantung di depan pintunya; Magnolia.

“Ke sana aja, yuk. Teh hangat atau kopi, mungkin?”

Rhino kemudian menutup payungnya dan membawanya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya meraih pegangan payung yang sedang dibawa Dinda. “Biar aku,” ujarnya.

Dinda membiarkan Rhino melakukan itu. Dia lalu mengambil plastik besar dengan kotak berwarna coklat di dalamnya. Mereka lalu menyeberang jalan dan masuk ke kafe dengan kanopi merah hati itu. Terdengar suara lonceng di atas pintu kafe berdenting menyambut kedatangan mereka. Diikuti aroma kopi dan coklat—mungkin juga wangi kopi dan kue. Seorang pelayan mendekati mereka dan menunjuk ke arah beberapa meja kosong di dekat jendela. Dia juga membantu meletakkan payung yang mereka bawa di keranjang rotan di dekat pintu. Dinda berjalan ke salah satu meja diikuti oleh Rhino. Di belakang mereka, pelayan tadi masih mengikuti sambil memegangi buku catatan kecil dan pensil.

“Teh hangat,” kata Dinda setelah dia duduk di hadapan Rhino.

“Caffe latte,” pesan Rhino sambil melihat sekilas buku menu di hadapan mereka. “Sama … blueberry scone. Dua.”

Pelayan itu lalu pergi setelah mencatat pesanan mereka. Rhino melirik ke arah plastik besar yang diletakkan Dinda di dekat kakinya. Dinda mengetahui itu dan menjelaskannya sebelum Rhino sempat bertanya.

“Tadi gue abis ketemu Dion.”

Alis mata Rhino terangkat.

“Dia ngajak ketemuan buat ngembaliin itu. Sepertinya isinya barang-barang yang pernah gue kasih ke dia.” Dinda tersenyum kecil. “Gue juga udah nggak inget pernah ngasih apa aja karena kami udah lama banget pacaran.”

“Mau dibawa pulang?” tanya Rhino.

Dinda terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Entahlah.”

Dinda tersenyum lagi dan Rhino jadi semakin kuatir. Siang ini, dia menerima pesan singkat dari Dinda yang mengajaknya bertemu di tepi jalan tadi jam lima sore. Rhino langsung menyetujuinya karena dia sudah selesai kuliah dan tidak ada rencana untuk melakukan apapun. Sebelum ini, Dinda tidak pernah mengajaknya bertemu berdua saja walaupun mereka sudah berteman lama sekali. Tapi Rhino tahu apa yang terjadi. Beberapa minggu belakangan, Dion bercerita tentang rencananya untuk putus dengan Dinda. Tidak ada alasan jelas yang diberikan Dion. Dia juga tidak terpikir untuk menanyakannya lebih lanjut karena ketika Dion menceritakan itu, yang langsung terlintas di pikirannya hanya Dinda. Lalu, bagaimana dengan Dinda?

Setelah itu, dia beberapa kali menemukan Dinda dan Dion yang sedang bertengkar. Sebelum ini, mereka selalu berusaha mencari jalan keluar untuk masalah apapun, tapi kali ini, Rhino melihat Dion sangat pasif dan Dinda yang semakin tersiksa dengan hubungan mereka.

“Lo nggak ngerasa Dion bakalan mutusin lo, ya?” tanya Rhino. Hujan di luar menderas. Langit jadi makin hitam dan lampu-lampu jalan terlihat makin jelas.

Dinda menggeleng.

“Lo udah tahu semua bakalan berantakan kayak gini, ya?” Dinda balik bertanya.

Rhino mengangguk.

“Kok lo nggak cerita?”

“Gue kira lo udah tahu.”

Mereka lalu bertatapan. Beberapa saat kemudian pelayan datang membawakan pesanan mereka dan dengan cepat Dinda mengalihkan pandangannya dari mata coklat muda Rhino yang menatapnya lekat-lekat ke cangkir teh panas yang sekarang ada di hadapannya. Permukaan teh itu mengeluarkan asap tipis. Dinda merobek dua kemasan gula dan memasukkannya ke dalam cangkir itu lalu mengaduknya pelan.

“Gue nggak tahu …,” ujar Dinda. Dia tersenyum lagi. Untuk ukuran perempuan yang baru saja putus beberapa jam yang lalu, menurut Rhino, Dinda terlalu banyak tersenyum. Dia bahkan tidak yakin apakah Dinda sudah menangis karena matanya tidak menunjukkan tanda-tanda itu; tidak merah dan juga tidak sembab.

Dinda dan Rhino berteman sejak sekolah menengah. Mereka lalu kuliah di kampus yang sama dan tidak lama kemudian Dinda bertemu dengan Dion dan mereka pun saling jatuh cinta. Tidak lama kemudian mereka pun pacaran dan Rhino seperti kehilangan Dinda. Mereka tidak pernah lagi jalan bersama atau bertemu berdua saja. Dinda selalu bersama Dion.

“Ini pertama kali ketemu berdua aja, ya,” kata Rhino. “Like the old times.”

“Abisnya gue nggak tahu mau menghubungi siapa lagi. Yang keingetan cuma lo doang.”

“Buat bantuin lo pindahan, ya?”

Dinda mengerenyitkan dahinya. “Pindahan?”

“Putus itu kayak pindahan,” Dion menjelaskan. “Kalau lo ngerasa berat banget sekarang, itu karena lo baru aja mindahin boks pertama lo sementara dia udah nyicil mindahin boks barang-barangnya sejak beberapa waktu yang lalu.”

Dinda menyeruput tehnya. Rhino lebih memilih menggunakan kata ganti ‘dia’ dibanding langsung menyebutkan nama Dion. Tiba-tiba saja dia merasa berat untuk mengatakan nama itu di hadapan Dinda.

“Kalau putus itu kayak pindahan, berarti pacaran itu kayak rumah?” tanya Dinda. Dia terlihat tertarik dengan penjelasn Rhino.

“Ya. Seperti itu. Relationship itu kayak kesepakatan tinggal di satu ‘rumah’ yang sama.”

“Sekarang Dion udah pergi dan tinggal gue di ‘rumah’ itu sendirian.”

Rhino tersenyum. “Gue bantuin lo pindahan. Tapi gue bukan pelarian lo, ya.”

Dinda tertawa. Rhino menatap gadis itu lekat-lekat. Seandainya gadis itu tahu bahwa dia juga berusaha menyingkir dari perasaannya sendiri ketika dia dan Dion jadian, mungkin sore ini mereka tidak akan duduk di sini sambil makan blueberry scone. Sayangnya, dia tidak pernah bisa mengatur hatinya yang masih saja berbentuk sama seperti dulu.

“Gimana cara lo bantuin gue pindahan?” tanya Dinda.

“Pertama, dengan nemenin lo di sini. Kedua, gue akan menghibur lo. Ngasih nasehat, mungkin.”

“Like the old times.”

Rhino menghirup aroma caffe latte-nya dan tersenyum, “Like the old times.”

Mereka terdiam beberapa saat sampai akhirnya Dinda berkata pelan.

“Gue nggak tahu habis ini harus gimana, No.”

“Maksudnya?”

“Selama ini gue udah deket banget sama Dion. Gue ke mana-mana sama dia. Ngelakuin apa-apa berdua. Gue kayak nggak punya dunia lain di luar dia. Tadi pas nungguin lo di tepi jalan itu, gue baru sadar kalau kota ini gede banget. Orang-orangnya banyak banget. Gue harus mulai semuanya dari awal. Gue harus ketemu orang baru, kenalan, berteman. Sesuatu yang gue nggak pernah pikir bakalan gue lakuin karena selama ini … dunia gue cuma Dion.”

Hujan berhenti. Menyisakan genangan air di tepi jalan. Tapi hujan di tepi mata Dinda baru saja mulai. Dia menyapunya dengan ujung telunjuknya dengan cepat.

“Pindahin dulu semua barang-barang lo. Pindah ke tempat baru. Lupakan yang menyakitkan. Terserah lo bagaimana caranya. Mungkin lo perlu nangis?” tanya Rhino.

Dinda mengangguk. “Nanti aja nangisnya, di rumah.”

Rhino tersenyum.

“Setelah itu semua selesai baru lo keluar dan jelajahi kota ini. Bertemu orang baru, ngelakuin hal baru. Lo nggak bisa terus jalan sementara hati lo sendiri masih sakit begitu. Sembuhin dulu luka lo. It will take time.

“Setelah itu?” tanya Dinda.

“Just say hi!”

“Say hi?”

“Itu bukan nasehat gue, sih. Gue lagi baca novelnya Augusten Burroughs, Dry.” Rhino mengeluarkan sebuah buku dari tasnya. Dia meletakkan buku itu di atas meja dan kemudian membuka halaman yang ditandai dengan post-it berwarna oranye.

Dia lalu membacakannya, “I used to feel so alone in the city. All those gazillions of people and then me, on the outside. Because how do you meet a new person? I was very stunned by this for many years. And then I realized, you just say, ‘Hi.’ They may ignore you. Or you may marry them. And that possibility is worth that one word.”

“Boleh pinjam?”

Rhino lalu menutup novel itu dan meletakkannya di samping cangkir teh Dinda yang sudah kosong. Dinda melihat-lihat beberapa halamannya sekilas dan kembali meletakkannya di hadapannya.

“It will take time,” ujar Dinda.

Di luar langit sudah sempurna menghitam. Mereka keluar dari kafe itu beberapa menit kemudian. Rhino menemani Dinda menunggu taksi dan ketika taksi itu datang, dia membukakan pintunya untuk Dinda. Dia juga membantu Dinda membawakan plastik besar yang kemudian menolak dia masukkan ke taksi.

“Gue bantuin buang, ya?”

Dinda mengangguk. “Makasih.”

* * *

Tidak ada kabar dari Dinda sampai beberapa bulan kemudian. Rhino juga tidak berusaha menghubunginya walaupun dia sangat ingin. Beberapa kali Rhino melihat Dinda kampus tapi dia menahan dirinya untuk mendekat dan menyapanya. Tapi Rhino juga tidak bisa membohongi hatinya sendiri kalau perasaannya tidak juga berubah—bahkan kini bertambah.

Dia menahannya.

Sampai suatu hari, ketika hujan turun lebat dan dia berdiri di depan Kafe Magnolia dengan sebuah payung hitam, seorang perempuan mendekatinya. Dia juga memakai payung hitam. Dia mengangkat payungnya sedikit sehingga Rhino bisa melihat senyumnya yang lebar.

“Hi,” sapanya. “Teh hangat atau kopi, mungkin?”

Dinda lalu berjalan ke arah pintu kafe. Rhino bisa melihat dia memegang sebuah novel yang beberapa bulan lalu—di kafe ini dan di saat hujan seperti ini—dia pinjamkan padanya. Dia lalu teringat kutipan dalam novel itu; And then I realized, you just say, “Hi.” They may ignore you. Or you may marry them. And that possibility is worth that one word.

Dinda berhenti sebentar sebelum membuka pintu dan menoleh ke arah Rhino. Rhino lalu menyahut dengan sedikit gugup, “Oh, hi!”

Lonceng di atas pintu kafe pun berbunyi ketika pintu terbuka dan mereka masuk ke dalamnya.

* * *

Note: Sekali tulis, belum diedit dan … gak bisa posting di blog khusus fiksi karena lupa password. Jadi di-post di sini dulu dan ending-nya yang kurang greget itu, diedit lagi nanti. Judul juga gak banget begitu, ya? :mewek: Semoga ada yang komen dan ngasih saran. Bingung, euy~

3 Comments

  1. Ahmad efrian
    Jul 4, 2015

    Blog yang khusus fiksi apa mbak? suka bacanya. :D soalnya nulis fiksi itu lebih sulit. :cutesmile:
    kemarin mbak ngirim ke email lagi ga?? email yang kemarin di hack orang. :T.T:

  2. wih bagus banget tulisannya..kayak sudah biasa banget buat nulis ya mbak

    tetap semangat dan salam kenal saja

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)