#505: [Review Novel] Warna Hati

Dibaca 88 kali

IMG_9791

Sebelumnya, saya merasa agak bersalah karena baru bisa menyelesaikan membaca novel ini beberapa hari yang lalu dan menulis reviewnya malam ini. Hiks. :mewek:

Novel ini dikirim ke alamat saya di Riau bulan lalu dan baru sampai ketika saya sudah pindah dari sana. Saya pun meminta adik saya untuk mengirimkannya ulang ke alamat baru saya di Jakarta. Jadi novelnya udah berkeliaran ke mana-mana ini…. :D

Baiklah. Mari kita mulai.

Buat yang baru sekali ini membaca review saya, saya peringatkan kalau review saya–biasanya–rada pedes. Tapi itu bukan tanpa alasan. Karena gak mungkin kan, kalo ada hal yang bagus trus saya tetep cabein juga. Di tiap cabe yang saya ulekin *halah* ada alasannya kok. Dan kalau saya bisa ngasih saran gimana cara memperbaiki hal-hal yang gak optimal atau gak bagus, saya akan tulis–walaupun kadang saya juga gak tahu gimana caranya. Heheheee~

IMG_9804

Blurb-nya ….

Kadang, nyabein novel yang bentuknya udah jadi buku begini, agak-agak ngebikin saya mikir juga sih; kira-kira ngebikin penulisnya sebel, gak sih? Atau ngebikin penjualannnya jadi gak bagus, gak sih? Tapi seperti karya apapun, penikmat boleh mengapresiasi sesuai dengan kapasitasnya masing-masing dan saya juga punya aturan untuk gak nge-troll; ngasih kritik atau cabe yang gak jelas juntrungannya. Jadi, Mbak Sienta, maapkan saya kalau ketemu cabe di mana-mana nanti, ya. :cutesmile:

IMG_9798

Novel ini dikirimkan oleh Mbak Sienta–penulisnya–langsung. Saya dapet tandatangannya juga. *pamer*

Pertama, sampul.

Sederhana. Nyaris biasa aja. Sebelum ini, rasanya, saya gak banyak ngebaca novel terbitan Grasindo, jadi saya juga gak paham apa memang desain sampul yang sederhana ini memang udah jadi trademark-nya Grasindo atau gimana. Karena saya perhatikan, ada kecenderungan penerbit tertentu menerbitkan novel dengan desain sampul yang gayanya hampir mirip. Gaya loh ya, bukan desain jadinya. Walaupun banyak yang bilang ‘jangan liat buku dari sampulnya’ tapi saya bener-bener gak nolak sampul yang ketjeh. :D

Tiga bintang buat sampul.

Berikutnya, naratif dan struktur naratif.

Ini menarik karena setelah saya membaca sampai ke bagian tengah novelnya, saya baru sadar kalau ada dua cerita yang dijadikan satu. Ada dua kemungkinan yang dituliskan. Sampai di akhir, saya baru sadar kalau pembukaan novel yang seperti itu (adegan ngobrol-ngobrol di kafe yang lumayan panjang dan agak melelahkan untuk diikuti itu) ada alasannya; untuk mengembalikan semuanya ke premis awal. Masalahnya; cara ini akan membuat cerita bukan hanya membingungkan kalau tidak dieksekusi dengan baik, tapi juga sia-sia.

Untuk apa ada dua cerita di dalam satu novel kalau itu kemudian–dia akhirnya jadi; nothing.

Dua cerita ini jadi kayak parallel universe.

Saya jadi ingat film Mr. Nobody. Udah ada yang nonton belum? Ayo dong, nonton. Mr. Jared Leto itu loh yang maen. :D

Kalau di Mr. Nobody, jelas naratifnya dibuat dalam parallel universe untuk mempertanyakan arti keberadaan, kenyataan, dan juga takdir tokoh-tokohnya. Makanya judulnya Mr. Nobody. Karena akhirnya, yaaa … si Nemo (Jared Leto) itu jadi bukan siapa-siapa dan apa yang udah dia alami di beberapa parallel universe (dengan akhir yang berbeda-beda), gak ada artinya. He’s a nobody. Akhirnya ya ketiadaan.

Nah, balik lagi ke novel Warna Hati ini, dua jalan cerita ini gunanya apa? Karena keduanya berakhir sama. Jadi jalan manapun yang dipilih oleh tokohnya (Tavita), hasilnya akan sama aja. Setelah itu, semua diakhiri dengan … duh, gak tahan mau nulis sop iler tapi gimana yaaa…. Ya gitu, deh. Jadi?

Eh, saya belum nulis sinopsisnya, ya?

Jadi ceritanya tentang Tavita yang menikah dengan seniman (pemain gitar) dan hidupnya pas-pasan. Dia lalu mulai mendapatkan tekanan dari ibunya karena ibunya merasa kalau suaminya ini gak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk Tavita. Masalah muncul setelah Tavita yang rajin dan pintar merasa kehidupannya gak lebih baik dari sepupunya yang hanya lulusan D3. Masalah jadi lebih rumit setelah mantan pacarnya yang kaya dan mapan masuk ke kehidupannya. Padahal si mantan ini juga udah nikah. Tavita mulai mikir; coba kalau dia dulu nikah sama si mantan itu dan bukannya suaminya sekarang. Tapi, sesuai dengan judulnya, tiap pilihan itu ada konsekuensinya.

Jadi gimana pilihan Tavita? Ish, baca dong! :D

IMG_9796

Dan ini sungguh mengganjal banget buat saya. *nangis*

Ini juga yang ngebikin saya kadang males ngebaca kutipan novel yang lagi dipromosikan karena gak menggambarkan apapun yang bisa saya dapatkan dari novel itu. Karena menurut saya, yang paling penting dari sebuah novel itu yaaa … ceritanya dan gimana penulisnya menceritakan cerita itu. Story dan storytelling. Bukan hanya dialog yang puitis dan narasi yang quotable. Kalaupun ceritanya luar biasa menarik, tapi diceritakan dengan cara yang gak oke, males juga ngebacanya. Tapi banyak novel yang ceritanya biasa aja dan diceritakan dengan luar biasa oleh penulisnya dan jadinya sungguh sangat menarik.

Ngomong-ngomong masalah narasi atau dialog yang quotable, ada satu hal yang kadang penulis–saya juga kalau nulis sama aja penyakitnya, hahahaaa–lupakan; sesuatu yang quotable itu bakalan jadi lebih nampar kalau konteksnya jelas. Kalau dalam novel, tentu saya konteksnya yaaa … cerita novelnya. :cutesmile:

IMG_9792

Jadi, cerita gak masalah buat saya walaupun beberapa hal ada yang mengganjal. Misalnya tentang kebingungan Tavita dengan biaya persalinan yang sampai enam juta rupiah. Tavita kan, kerja ya? Pasti ada asuransi dari kantor dong? Atau kalau gak ada, ikutan BPJS dong. *plak* :D

Berikutnya, konflik.

Konflik itu ada karena protag punya tujuan tapi antag (dalam bentuk apapun, gak cuma orang) menghalanginya. Konflik bisa internal, bisa eksternal. Dalam novel ini, menurut saya konfliknya udah multidimensional. Tavita gak hanya bermasalah dengan dirinya, tapi juga orang di sekitarnya. Bisa dibilang, konfliknya berlapis dan itu ngebikin karakter Tavita ini hidup. Ini hal yang saya suka dari Tavita dan novel ini secara keseluruhan.

Misalnya aja adegan Tavita bertemu dengan sepupunya dan kelihatan lah kalau mereka berdua berbeda gaya hidup–dan diam-diam saling iri sama kehidupan satu sama lain. Itu normal dan sering banget saya liat. Jadinya berasa gak dibuat-buat. Apalagi ketika masuk pula kehidupan suaminya Tavita yang biasa aja, pas-pasan, semuanya tambah deep. Apalagi (lagi) ketika masuk mantannya Tavita dan tambah rumit lah masalah hidup mereka. Mumet banget, pokoknya. Dan hal ini seru banget. Ibarat bola ngambang, penulis tinggal mutusin mau nge-smash apa gak. Sayangnya, penulis malah ngambil bola satu lagi. Hiks. *nangis gelindingan* Dan dua bola itu pun, imaginary balls. *gak tahaaan buat gak nge-sop iler*

Padahal, kalau misalnya difokuskan di satu cerita saja, bisa jadi keseruannya akan berlipat. :mewek:

Masalah ejaan, ada beberapa yang masih agak gimana gitu. Saya gak ngerti apa emang perlu untuk menulis dua tanda baca beriringan kayak gini –> ?!

Karena banyak banget saya nemu yang model begitu.

Trus di bagian prolog, di paragraf pertama, saya ngeliat ada yang ganjel tapi saya sendiri juga bingung kalau mau ngebenerinnya. Jadi ini saya juga bingung apa itu gaya penulisnya atau gimana. :mewek:

IMG_9800

Kalimat pertama itu, menurut saya, agak gak enak dibaca. Entah kenapa saya merasa kalau tanda pisahnya gengges gitu. Kalimat itu bisa ditulis langsung aja, kayak gini;

Tavita duduk manis di teras kafe langganannya bersama sahabatnya. Ia sedang menunggu seseorang.

Karena pisah itu digunakan untuk memasukkan bagian gak agak gak relevan tapi bisa ngasih keterangan, jadinya tanpa elipsis di kalimat itu agak gak pas. Harusnya kalau tanda pisah itu dihilangkan beserta dengan kalimat di dalam tanda itu, kalimat yang tertinggal masih bisa dibaca dan punya arti yang benar. Untuk kalimat di atas, jadinya;

Tavita duduk di teras kafe, ia sedang menunggu seseorang datang.

Arti dan kalimatnya masih benar. Jadi gak masalah. Tapi keteranga di dalam tanda pisah itu–menurut saya–penting, jadinya kenapa hanya dimasukkan ke dalam tanda pisah? Gak dibuatkan kalimat sendiri?

Keseluruhan, saya ngasih tiga dari lima bintang untuk novel ini. :cutesmile:

Untuk Manteman yang pengen ngebaca cerita yang agak gak ringan (karena menurut saya cerita rumah tangga Tavita ini cukup rumit dan deep) tapi pengen ceritanya disampaikan dengan ringan, bisa baca novel ini. Cukup menghibur dan bisa jadi teman menghabiskan waktu yang menyenangkan. :cutesmile:

2 Comments

  1. Fardelyn Hacky
    Mar 19, 2015

    Widihhh…kalimat pertama prolognya gak enak banget dibaca. Sorry, jadi ikut-ikutan nge-‘cabein’, bhuahahaaa… *dikeplak mb Octa :v :p *

    • octanh
      Mar 21, 2015

      Ish, ngerujak yuuuks! :D

      Iya, emang agak patah tapi aku juga gak bisa ngebenerinnya karena … gak tau caranya. Sayang banget kan, ya. Soalnya ini paragraf pertama yang harusnya cetar membahana badai geledek petir. :mewek:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)