#509: [Travel Journal] Dari Selayar ke Makassar; Pantai, Laut, dan Awan

Dibaca 261 kali

IMG_3318edit

Setiap kali saya disuruh memilih; mau ke pantai atau ke gunung, saya akan pilih pantai. Saya orang pantai. Saya suka air, matahari, angin, dan kaki telanjang. Hal-hal ini gak bisa dilakukan kalo saya jalan-jalan ke gunung. Pantai selalu lebih menyenangkan buat saya. Dilalah, di Indonesia ini banyak sekali pantai yang indah–dan juga gunung-gunung yang meminta untuk ditaklukkan.

Musim liburan, saya mengajak anak-anak untuk ke pantai dan bersenang-senang di sana. Membawa anak-anak jalan-jalan itu memang lebih repot. Kadang saya membantin, “Vacation with children is not a real vacation. It just another busy day, with more mess.” :D

Tapi hidup harus dinikmati. Perjalanan yang penuh kerepotan itu juga nikmat karena mungkin sepuluh atau lima belas tahun lagi, saya akan mengenangnya sebagai hal yang sangat berharga. Sebagai bagian dari kebersamaan dengan anak-anak ketika mereka masih kecil.

Day 1

Bangun di pagi hari dan sudah diniatkan untuk tidak mandi itu membuat matahari rasanya bersinar lebih indah. Hahahaaa….

Hari ini, saya, Tuan Sinung, dan anak-anak ke pantai Baloiya Resort yang jaraknya hanya lima belas menit dari rumah. Memulai liburan dengan main di pantai paling dekat yang bisa dijangkau. Sebelum jam enam pagi, Baloiya Resort sepertinya belum dibuka, karena itu saya selalu datang setelah jam tujuh. Ketika itu air masih tinggi, bersih, dan matahari sudah hangat. Suasana yang pas untuk main air dan berenang.

IMG_2511edit

Pantai Baloiya Resort sangat bersih. Pasirnya kekuningan dan airnya tidak terlalu tinggi. Ada beberapa pulai kecil yang menghalangi arus besar masuk ke bagian pantai ini sehingga nyaris tidak ada ombak di sini. Ada beberapa rumah kecil yang disewakan untuk pengunjung yang ingin menikmati suasana pantai di waktu malam.

IMG_3152edit

Pantai Baloiya Resort ini letaknya agak ke luar dari Kota Benteng sehingga suasananya cukup sepi, tidak ada lampu-lampu yang akan mengganggu pemandangan langit malam. Kamu akan bisa melihat jalur Milky Way di langit kalo kamu ke sini di musim panas. Itu adalah hal yang nyaris tidak mungkin dilakukan di pantai yang ada di dekat kota besar dengan udara yang sudah kena polusi.

IMG_3186edit

Untuk anak-anak, main air itu sangat menyenangkan–tapi tidak buat saya. Saya harus mengawasi mereka sepanjang waktu, jadi tidak mungkin rasanya saya jauh-jauh dari mereka. Kebanyakan waktu saya dihabiskan untuk mengambil foto dan berjalan-jalan di sekeliling resort yang punya taman bunga di bagian depannya.

IMG_3227edit

Semakin matahari meninggi, semakin air surut. Matahari juga semakin panas. Perut pun semakin lapar. Saya membawa sarapan ke sana tapi itu kan, sarapan. Menjelang siang, tentu sudah lapar lagi. :D

IMG_3244edit

Kami pun bersiap pulang.

IMG_5033edit

Di perjalanan pulang, saya mampir ke pasar di dekat pantai. Di bagian belakang pasar yang langsung menyambungd engan laut dan dermaga kecil untuk nelayan, tampak pemandangan ikan-ikan yang sedang dijemur untuk dibuat ikan kering. Saya berbelanja untuk makan malam sebelum pulang.

Day 2

Pantai tidak melulu tentang berjalan di pasir dan berenang; pantai juga cerita tentang dermaga dan kapal-kapal yang tertambat di sana.

IMG_3081edit

Dermaga Benteng memang tidak besar. Tapi merupakan satu-satunya dermaga yang ada di kota ini, tempat kapal-kapal barang bongkar-muat. Kalo kamu ingin ke pulau-pulau kecil di sekitar pulau utama–Pulau Selayar–bisa naik kapal kayu dari dermaga ini. Kapal Pelni hanya mampir sekali dalam dua minggu.

IMG_3134edit

Kapal-kapal tua yang dibiarkan karam, kapal berkarat yang ditambatkan di tepian pantai, dan matahari sore yang menyinari dari arah belakang adalah pemandangan yang saya lihat sore itu. Indah.

Angin pantai di sore hari terasa lebih kencang dan bertiup membawa dingin udara laut. Ketika matahari terbenam, sudah saatnya pulang.

IMG_3142edit

Day 3

Kami bangun dini hari, beberapa jam setelah tengah malam. Hari ini, saya, Tuan Sinung, dan anak-anak akan ke Makassar. Kemi mengajar ferry pagi yang berlabuh tidak lama setelah subuh. Ketika ombang tenang dan angin belum kencang. Kami sampai di Pelabuhan Pamatata setelah jam lima pagi. Pemandangan si sana sungguh luar biasa.

IMG_5115edit

Ada masjid di dekat pelabuhan dan penjaga dermaga sholat subuh di sana. Saya melihat salah satu petugas yang membuka tambat tali kapal masih memakai sarung dan peci yang dia pakai ketika sholat tadi.

IMG_5116

Kami menyeberang ke Pelabuhan Bira sekitar jam delapan pagi. Sisa perjalanan ditembuh lewat darat di di sepanjang garis pantai. Kami sampai di Makassar menjelang sore dan beristirahat untuk kembali ke pantai, besok.

Day 4

Makassar adalah kota yang baru saja berkembang. Banyak mall, tempat makan dari kaki lima sampai restoran mewah. Tapi, tetap saja tempat yang paling berkesan buat saya adalah pantainya. Ada beberapa pantai di Makassar yang bisa dikunjungi untuk melakukan banyak kegiatan. Misalnya Pantai Akkarena yang ada fasilitas outbound-nya. Tapi … kalo kamu mau melihat senja, datanglah ke pantai Losari setengah jam sebelum maghrib.

IMG_5549edit

Walaupun namanya ‘Pantai Losari’, tidak ada pasir dan jangan berharap bisa berenang atau melakukan hal-hal yang lazim dilakukan di pantai. Patai Losari adalah landmark yang sebagian besar bentuknya plaza. Jadi kamu hanya akan bisa jalan-jalan di sana. Dan memang itulah kegiatan yang saya lakukan di sana; jalan-jalan, makan, duduk-duduk, sambil menanti senja karena senja di Pantai Losari adalah senja yang kabarnya paling indah di dunia.

Letak geografis pantai ini membuatnya sebagai lokasi paling indah untuk melihat senja. Saya sudah membuktikannya. Ini:

IMG_5467edit

… dan ini:

IMG_5633edit

Saya sudah melihat banyak senja–karena saya sangat suka–dan saya bisa bilang, senja di Pantai Losari adalah yang paling indah yang pernah saya lihat.

IMG_5357

Dan kalo maghrib tiba, ada sebuah mesjid dengan arsitektur unik di sana. Masjid itu dibangun di atas pantai sehingga tampak seolah terapung.

Losari-01

Day 5

Makassar tidak saja punya senja yang indah di darat, tapi juga bila diamati dari udara. Penerbangan Makassar-Jakarta yang saya tumpangi di hari berikutnya adalah penerbangan senja. Saya sengaja memilih waktu itu karena saya ingin melihat hal yang luar biasa dari jendela pesawat.

Pertama adalah ini:

IMG_6154edit

Lalu ini:

IMG_6210edit

Awan-awan yang berbentuk seperti gumpalan kapas itu mulai memerah karena matahari mulai turun. Ini adalah pemadangan yang sangat jarang saya lihat karena itu saya sangat senang bisa mengabadikannya.

Terakhir, ini:

IMG_6182edit

Sulawesi Selatan adalah tempat untuk pantai dan senja, juga awan-awan yang gugusannya membuat senja seolah turun di surga, bukan di bumi. Menikmati hidup juga tentang senja yang bisa dilihat dengan penuh syukur. Tentang pantai yang lapangnya mengingatkan akan luasnya rejeki yang Allah berikan untuk kita. Dan tentang pantai dan senja, yang perpaduannya seolah membuat bumi seolah jadi sepotong taman surga.

* * *

Jurnal ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Jurnal Perjalanan dari Tiket.com dan nulisbuku.com# #MenikmatiHidup  #TiketBaliGratis

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)