#520: Paper Town; Cerita Tentang Kota Fiktif yang Menjadi Nyata

Dibaca 1,398 kali

Agloe2

Judul di atas itu kayaknya judul paling panjang yang pernah saya tulis. :D

Seminggu belakangan, di antara kerjaan serabutan dan hal-hal lain yang membuat pikiran saya susah fokus (kayaknya saya perlu Aqua, hahahaaa~), saya membaca novel YA (Young Adult) John Green, Paper Town. Saya baca yang versi bahasa Inggrisnya karena, entah kenapa, waktu saya baca The Fault in Our Stars beberapa halaman depannya di toko buku, saya ngerasa terjemahannya gak pas. Trus waktu saya ada di Bandara Adisucipto tahun lalu, saya sempet liat buku yang belum diterjemahkan, bentuknya lebih kecil dan halamannya lebih tipis, sayang … harganya lebih banyak. Trus saya gak jadi beli. Tapi karena kadung udah terlalu penasaran, saya beli ibook-nya juga akhirnya. :D

PaperTowns2009_6A

Saya gak mau nge-review novel ini. Serius, deh.

Saya lagi nyiapin Aksarayana dan kalau saya mau nge-review, saya akan niatkan untuk ditaroh di sana, pake bahasa Indonesia yang EYD-nya baik. Gak kayak blog ini yang bahasa sesuka hati saya.

Saya mau cerita tentang kenapa judul novel ini Paper Town dan apa yang ada di baliknya. Soalnya menarik banget.

Oh, dan lagi, saya suka judul novel yang gak biasa tapi juga bukan mengada-ngada dan dibuat atas dasar kata-kata itu indah aja, gitu. Misalnya The Fault in Our Stars. Itu artinya bukan peti harta (fault) karun di bintang-bintang milik kita. :D Kamu tahu Romeo dan Juliet, kan? Cerita mereka namanya star crossed lover. 

star_crossed_lovers_-_Google_Search

Kata “star”-nya itu merujuk ke nasib atau peruntungan. Jadi kalau nasibnya bersilangan, gak ketemu dong jodohnya. Karena kalimatnya ini lebih ke idiom, nerjemahin  idiom itu sulit luar biasa. Nerjemahin “The Fault in Our Stars” juga bakalan susah banget. Jadi apa, dong? Kesalahan di Nasib Kita?

… atau, malah lebih cocok kalau diterjemahkan jadi; Kalau Tak Untung?

Kalau Tak Untung ini novelnya Selasih yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1987. Ada yang pernah baca?

Jadi balik lagi ke urusan Paper Town, kata “paper town” pun gak bisa diterjemahkan begitu aja karena cerita di baliknya dan dia juga idiom. Bakalan sangat maksa kalau diterjemahkan jadi kota kertas. Kalau misalnya jadi “kota di atas kertas”, mungkin masih lebih masuk akal, sih. Cerita tentang kota ini yang bakalan saya ceritain.

idiom_-_Google_Search

Paper Town; Kota Fiktif di Peta

Awal tahun 1900-an, orang-orang masih membuat peta dengan cara lama; digambar. Gak kayak sekarang yang kayaknya peta udah ada begitu aja di ponsel atau laptop kamu selama kamu bisa terhubung ke Google Maps. Para pembuat peta ini, atau nama lainnya kartografer, biasanya menambahkan satu tempat di peta mereka, yang hanya mereka yang tahu. Gunanya sebagai jebakan hak cipta. Jadi kalau misalnya ada peta lain yang boleh nyontek peta mereka–dan bukannya menjelajahi daerah itu dan digambar sendiri–pasti kota fiktif yang dibuat kartografer ini bakalan masuk dan bisa dijadikan bukti.

Tahun 1920-an, Otto G. Lindberg dan Ernest Alpers membuat peta daerah Sullivan County dan memasukkan satu kota fiktif yang dinamain Agloe Itu tuh singkatan nama mereka berdua: OGL dan EA. Kota ini diletakkan di pertemuan dua jalan di bagian utara New York. Daerah yang ditandai Agloe ini juga bukan daerah rame. Bahkan aslinya, gak ada orang tinggal di situ. Di mana letak Agloe, bisa kamu liat di peta yang ada di atas banget itu, ya.

Beberapa tahun kemudian, sebuah perusahaan pembuat peta bernama Rand McNally, mengeluarkan peta New York buatan mereka dan pas Lindberg ngeliat itu peta, dia menemukan kota fiktif Agloe ada di tempat yang dia buat dengan ejaan yang benar pula. Bukti ini dia ajukan untuk menuntuk Rand McNally. Tapi waktu itu, pengacara Rand McNally bisa keluar dari tuntutan karena kota fiktif bernama Agloe itu benar-benar ada. Itu tuh bukan lagi kawasan kosong yang ada di persimpangan dua jalan. bahkan ada toko di sana yang dinamai Agloe General Store.

Agloe

Lucunya lagi, waktu penyelidikan, mereka datang ke toko itu dan nanya sama yang punya; kenapa tokonya bisa dinamain Agloe General Store? Soalnya–harusnya–cuma Lindberg dan Alpers yang bakalan tahu nama daerah itu, kan. Si pemilik toko cerita kalau dia pernah ngeliat peta–yang ternyata adalah peta yang dibuat sama Lindberg dan Alpers–dan melihat kalau daerah di mana dia mau buka toko itu, namanya Algoe. Jadilah dia kasih tokonya mana Algoe General Store. Selain itu, waktu itu di sana juga udah ada rumah dan pom bensin segala.

Jadi cerita ini kayak twist yang aneh, kan ya? :D

Kalau sekarang kamu buka Google Maps dan nge-search Agloe, kota itu masih di sana.

agloegmaps

Mungkin juga ada kota-kota lain yang “paper town” seperti Agloe ini. Tapi kota ini menjadi terkenal lagi karena novelnya John Green. Karena itu pula, saya akhirnya tahu dan menulis post ini. :D

John Green, di salah satu acara Tedx di Indianapolis, menceritakan tentang Agloe. Saya udah ngeliat beberapa kali wawancaranya John Green dan selalu aja bikin saya senyum-senyum karena dia kikuk banget. Gayanya canggung dan di Tedx ini dia terlalu banyak gerak–kayak orang kebelet pipis–and it’s okay, it’s adorable~

John Green menjelaskan lebih jauh kalau kota itu memberikan inspirasi buat dia karena memang seperti itulah yang sedang berusaha dia kerjakan; membuat fake place, fake story, fake people. Meletakkan itu semua di tengah-tengah kehidupan kalian–para pembaca, dan membuat kalian percaya kalau itu benar-benar ada dan terjadi. Penulis juga melakukan dengan cara yang sama dengan para kartografer itu; menuliskannya di atas kertas.

Just like Agloe’s story. 

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)