#523: Kesan Pertama Apple Music

Dibaca 152 kali

apple-musiccredit

Setelah semingguan saya mencoba Apple Music–gratisan, karena Apple mengratiskan penggunaannya selama tiga bulan–sepertinya saya merasa perlu untuk menuliskan review kesan pertamanya. Alasannya sih karena; ini pengalaman pertama saya menggunakan streaming music online. Jadi pengalamannya cukup berkesan. :D

Eh, tapi sebelumnya saya pernah pake Microsoft MixRadio, sih. Yang mana saya pakai kalo kepepet aja. :D Misalnya kalo lagi bosen sama playlist di ponsel Microsoft saya. (Iya, saya pake ponsel Microsoft dan saya cinta padanyaaa~)

Selain itu, kayaknya akhir-akhir ini saya males banget ngeblog, entah kenapa. Yang mau ditulis sih, banyak. Tapi gak ada yang selesai dan bisa di-publish. :mewek:

Kesan Pertama #1: Update

Beberapa waktu yang lalu, saya di-message sama Tuan Sinung, bilang, “Update iTunes, gih!”

Sesungguhnya, saya males sama urusan update-update-an begini. Apalagi yang gak penting-penting amat. Update Yosemite aja baru saya kerjain setelah … beberapa bulan setelah rilis. Itu juga sambil ngedumel karena saya gak suka flat icon (di Yosemite ikonnya berubah gepeng semua). Tapi karena perintah update si Tuan diikuti oleh kalimat semacam ini, “Di versi iTunes yang baru ada Apple Music-nya, cuy!” Jadilah saya update juga–iTunes-nya aja. Yang lain, gak. :D

Saya pertama kali dengar tentang Apple Music ini waktu Taylor Swift menuntut Apple untuk membayar royalti di masa percobaan selama tiga bulan. Akhir cerita ini sih, lumayan bahagia. Apple setuju dan album Taylor pun ada di Apple Music. Kalo Manteman masih ingat, beberapa waktu yang lalu, Taylor Swift menarik lagu-lagunya dari Spotify karena masalah royalti. Balik nyeritain Apple Music, saya gak terlalu tahu kapan Apple Music ini bakalan jalan, kayak apa, gimana, dan sebagainya karena saya juga gak terlalu peduli. Playlist saya jarang update. Saya masih suka album yang sama yang juga saya suka dari SMA. Saya ini kuper kalo urusan musik begini. Giliran saya suka band tertentu, kalo saya ngomong ke orang-orang, banyakan yang gak tahu. (Manteman ada yang suka Tanlines? Whitest Boys Alive? Gak ada? Tuh, kan….) Jadi, Apple Music ini gak saya nanti-nantikan juga. Berhubung masih gratisan, berhubung saya punya akses ke sana, ya saya coba aja gitu. :D

Dan setelah iTunes selesai di-update, penampakannya berusah sedikit. Di bagian atasnya sekarang ada empat tab baru; “New”, “For You”, “Radio”, dan “Connect”.

Kesan Pertama #2: Milih-Milih Lagu

Saya gak screen-capture proses ini karena saya pikir saya gak akan pernah menulis tentang Apple Music ini. :mewek:

Jadi setelah di-update, waktu pertama kali menggunakan Apple Music–dengan mengklik tab “For You” atau “New”–kamu bakalan ngeset musik apa aja yang kamu suka, pemusik siapa yang kamu cinta, dan sebagainya pakai bubble-bubble gitu.

Saya minjem gambarnya dari sini;

apple-music-inline

Ini prosesnya dilakukan di iPhone, sepertinya. 

Jadi yaaah … saya pilihlah itu jenis musik dan pemusik sesuai dengan selera pas-pasan saya. :D

Setelah itu, barulah Apple Music bisa diakses.

Kesan Pertama #3: Interface

Satu hal yang saya keluhkan selama ini tentang iTunes–> ribet dan lelet. Nyebelin kayak Internet Explorer (yang udah ganti nama jadi Edge, mungkin karena nama “Internet Explorer” itu kadung gak bawa hoki. :D #ItsFunnyBecauseItsTrue) Buat yang pertama kali pakai iTunes, bakalan ngerasa kalo iTunes ini entah kenapa gengges banget gitu. Gak kayak winamp yang simpel dan to the point, gak menye-menye. Setelah menyesuaikan diri beberapa lama dengan iTunes ini, saya baru benar-benar merasa terbiasa mungkin setelah sebulan lebih. Yah, daripada gak dengerin musik sama sekali jadi saya pakai juga, deh. :D

Apple Music 1

Tab “For You” ini ganti-ganti tiap hari. 

Tapi setelah semingguan ini, yah, akhirnya saya terbiasa juga sih. Kalo saya ngebuka Apple Music, saya kayak ngerasa masuk ke toko kaset/CD gitu. Jadi saya harus browsing dan nyari-nyari mana yang sekiranya bakalan saya suka dan mana yang gak. Karena waktu di awal-awal saya udah ngasih tahu jenis musik apa dan penyanyi siapa yang saya suka, yang direkomendasikan Apple Music untuk saya juga jenis musik dan penyanyi di aliran yang sama.

Apple Music 2

Dan sepertinya cukup bisa dipercaya rekomendasinya karena belum pernah muncul rekomendasi untuk dengerin Nirvana atau death metal. :D

Hal ini dipermudah karena ….

Kesan Pertama #4: Kurasi

Bahasan ini bakalan cukup panjang karena saya bakalan ngomongin masalah metode kurasi yang dilakukan Apple Music dan gak dilakukan oleh streaming music online sejenis.

Masalah pertama yang saya rasakan waktu saya masuk ke Apple Music ini adalah; pilihan. Terlalu banyak pilihan. Apalagi katanya Apple Music punya koleksi tiga puluh juta lagu? Waktu saya tahu itu, saya mikir; itu lagu tiga puluh jutaan mau buat apaan?

Trus pula, karena pengguna Apple Music bisa mengakses tiga puluh juta lagu itu, pertanyaan saya selanjutnya; bagaimana mencari lagu atau penyanyi atau band yang memang bakalan disukai tanpa menghabiskan waktu? Soalnya, betapa mubazirnya layanan Apple Music ini–dengan koleksi lagunya yang banyak banget itu–kalo saya dengerin lagu yang itu lagi itu lagi atau penyanyi/band yang itu-itu juga. Lumrah soalnya waktu kita masuk ke tempat yang rame banget kayak begitu, yang kita cari pertama adalah hal yang kita tahu dan kita kenal. Seperti waktu pertama kali masuk ke Apple Music, yah, saya nyari Keane (lengkap gak koleksi albumnya?) trus nyari beberapa album dari penyanyi/band kesukaan saya yang saya belum punya. Setelah itu … bingung. Mau ngapain lagi soalnya? Mau nyoba-nyoba lagu baru, saya gak yakin bakalan suka. Saya pernah mengalami masa-masa nyebelin di mana semua orang dengerin Katy Perry dan saya gak (bisa) suka. Padahal saya suka Taylor Swift dan setiap kali saya dengerin Taylor Swift di Youtube, misalnya, video yang direkomendasikan sama si Youtube biasanya Katy Perry. Mungkin karena jenis musiknya hampir sama atau gimana ya? Saya juga gak ngerti. Itu membuat saya ngerasa sangat tidak kekinian. :mewek:

Hal yang sama juga saya temukan di Apple Music, sih. Tapi … setidaknya, saya diberikan rekomendasi dengan cara lain; Apple Music membuat kompilasi lagu-lagu dari penyanyi/band tertentu yang dinamakan “Intro To”. Jadi untuk pendengar pertama band/penyanyi ini, playlist ini setidaknya diharapkan bakalan ngebikin mereka suka. Apalagi untuk pendengar pertama kayak saya yang kadang suka gak paham kalo ada penyanyi/band baru, saya harus denger lagu yang mana dulu. Saya tipe orang yang menikmati album soalnya–saya masih percaya satu album yang bagus itu punya naratifnya sendiri. Misalnya aja album “Ghost Stories”-nya Coldplay yang kalo ditelusuri lagunya dari pertama sampai terakhir, bakalan keliatan penceritaannya; dari seseorang yang jatuh cinta, trus ngerasa bahagia, trus ada masalah, trus putus, tapi akhirnya dia bisa move on.

Buat yang gak tahu Sheila on 7, “Intro to Sheila on 7″ isinya adalah semua lagu terbaik mereka.

Apple Music 3

Atau kalo kamu pengen nyari penyanyi/band yang bakalan memperkenalkan kamu sama aliran musik tertentu, ada juga playlist-nya. Misalnya ini:

Apple Music 4

Ini adalah playlist penyanyi/band aliran alternative yang dipengaruhi oleh musiknya The Stone Roses.

Berbeda dengan layanan sejenis, Apple Music menyusun playlist ini bukan dengan bantuan algoritma. Mereka mempekerjakan orang beneran (para jurnalis musik dan pengamat musik) untuk menyusun playlist ini.  Selera, pengetahuan, dan juga pengalaman para kurator ini membuat playlist yang ada di Apple Music jadi terasa lain. Kalo hanya menggunakan algoritma, maka yang direkomendasikan hanya musik sejenis (berdasarkan genre atau penyanyinya). Saya suka cara ini. Saya suka sentuhan manusia di playlist ini karena rasa dan selera gak bisa dialgoritmakan. Ya gak, sih?

Apple Music 6

Playlist berdasarkan jenis musik.

Hal ini juga yang digadang-gadang oleh si Apple Music ini.

Ada pengaruhnya gak, sih?

Kalo menurut saya, ada. Setelah kamu masuk ke hamparan tiga puluh juta lagu yang saya sebutkan di atas, kamu bakalan perlu panduan untuk mencari lagu dan penyanyi berikutnya yang bakalan kamu suka. Kalo kamu cuma mau dengerin lagu yang itu-itu aja dari penyanyi yang itu-itu aja, layanan seperti Apple Music ini gak akan ada gunanya. Mending beli satu album yang beneran kamu suka dan didengerin sampe bosan, kan? Dan kamu gak akan diminta untuk membayar langganan, cukup sekali beli aja.

Jadi playlist dan metode kurasi ini membuat pengguna lebih mudah menemukan apa yang akan mereka suka berdasarkan rekomendasi kurator–yang terpercaya. Kalo kamu mau ngedenger playlist yang dibuat oleh majalah musik terkenal juga bisa.

Apple Music 8

Ini adalah daftar kurator yang membuat playlist. Selain mereka, sepertinya ada banyak kurator perorangan lain–nanti saya cari tahu lebih lanjut. #procrast

Berikut saya kasih liat segelintir playlist yang dibuat oleh Rolling Stone US (yang ke-screen capture aja).

Apple Music 9

Karena saya suka Morrissey, saya pun tertarik untuk ngeliat isi playlist-nya. Ini dia:

Apple Music 11

Errr … ini sih, semua lagu Morrissey yang saya suka. Sesuai namanya, lagu-lagunya pun bukan lagu Morrissey yang menye-menye kayak “The More You Ignore Me The Closer I Get”. :D

Kalo Manteman suka, bisa ngasih tanda “love” di lagunya biar nanti Apple Music bisa merekomendasikan lagu, penyanyi, atau band sejenis. Sampai di sini, sepertinya Apple Music juga pakai algoritma sih, ya. Metode kurasinya dipakai untuk mengisi hal yang gak bisa dilakukan oleh algoritma. Ya gak, sih? *balik nanya*

Kesan Pertama #5: Offline Streaming 

Ini juga jadi pertanyaan saya sewaktu pertama kali saya mencoba Apple Music ini; kalo misalnya saya gak lagi terkoneksi sama internet, bisa gak lagu-lagu yang saya gak beli dan gak ada di library iTunes saya, didengerin?

Jawabannya; bisa.

Tapi, harus diunduh dulu. :D

Jadi, selain ngasih akses untuk ngedengerin semua lagu yang ada di library-nya Apple Music, dia juga ngasih ijin kita buat mengunduh selama kita langganan layanannya.

Trus kalo misalnya Manteman cuma mau pake Apple Music selama tiga bulan (pas masa gratisannya), trus ngeunduh banyak banget lagu (iya dong, gak mau rugi), trus setelah masa tiga bulan itu habis (kabur di hari terakhir, pastinya), bisa gak lagu-lagu itu tetep didengerin?

Jawabannya: tidak bisa. Klo udah gak berlangganan, semua lagu yg diunduh dari Apple Music gak bisa di-play lagi. Manteman harus ingat juga kalo Apple Music ini punya yang namanya DRM (Digital Rights Management). Jadi Apple akan ngasih tanda tertentu (code gitu lah, ya) di lagu yang kamu unduh dari Apple Music jadinya kamu cuma akan bisa ngedengerin di perangkat kamu dan gak akan bisa memperbanyak–baik dengan meng-copy ke CD trus dimainin di player lain. Yaudah aja gitu selamanya cuma bisa didengerin pake iTunes. Tapi Manteman juga harus ingat (lagi) kalo lagu-lagu yang diunduh dari Apple Music ini kualitasnya gak sebagus kalo beli (trus diunduh) dari iTunes Store. Kalo Manteman gak masalah dengan hal ini, ya gak apa-apa. Tapi kalo Manteman suka banget sama artis/album tertentu,  mending tetep beli di iTunes Store sih, kata saya mah. Biar bisa didengerin pake perangkat yang emang buat pecinta musik dan pengen dengerin musik dengan kualitas bagus. Soalnya di kuping yang sensitif, bakalan berasa banget bedanya. Karena lagu yang dibeli dari iTunes Store kualitasnya benar-benar lossless dan tidak ada DRM-nya (alias bisa di-kopi ke player apapun yang kamu punya).

Caranya mengunduhnya:

(Betewe, saya suka nyengir sendiri waktu nulis kata “unduh”, soalnya yang keingetan selalu aja “ngunduh mantu”. Yang mana kalo gitu kan, di-Inggris-in jadinya “download daughter-in-law”.) :D

Pertama, kamu tambahin dulu lagu, playlist, atau album yang kamu mau ke library kamu. Klik “Add to My Music”. Saya nyontohin pake playlist “The Rise of Tulus”.

Apple Music 12

Trus itu playlist bakalan muncul di My Music iTunes kamu:

Apple Music 13

Buka playlist-nya, lalu klik tanda awan.

Apple Music 14

Udah, gitu aja. :D

Kalo untuk album, nanti dia bakalan nyampur sama koleksi album kamu di library.

Trus pertanyaan lain; cuma bisa didengerin di perangkat Apple (MacBook, iPad, iPod, iPhone, Apple Watch), nih?

Jawabannya; gak dong. Bisa juga didengerin lewat iTunes di Windows. Beats kan udah dibeli sama Apple dan Beats Music ada di Android. Beats Music bakalan migrasi jadi Apple Music dalam beberapa bulan ke depan. Apple Music pun akan menyambangi Android sekitar bulan September mendatang (musim Fall).

Kesan Pertama #6: Harga

Lumayaaan…. Hahahaaa. :D

Untuk berlangganan di wilayang Indonesia, harganya 69 ribu rupiah perbulan untuk individu dan 109 ribu rupiah untuk paket keluarga (jadi kamu bisa masukin sampai 6 Apple ID–bukan perangkat loh ya, tapi ID karena bisa jadi kamu punya beberapa perangkat (maksimal 10) dengan Apple ID yang sama). Tapi harga berlangganan ini berbeda-beda tiap negara.

Jadi kalo kamu punya lima temen, yah, bisa gotong-royong ikutan Family 100, eh, family plan. :D

Kesan Pertama #7: Lain-lain

Apple Music ini datang dengan hal-hal menarik lain, ternyata. Pertama radio.

Apple Music 15

Dan satu lagi, sosial media.

Apple Music 16

Jadi kamu bisa ngikutin perkembangan penyanyi/band yang kamu suka di sini. Kalo gak salah, Apple pake Ping untuk sosial media ini dan setelah saya cari tahu, Ping ini termasuk produk gagal. Tapi lucu juga sih, liat-liat perkembangan penyanyi/band yang saya suka di sini. Bisa komen juga. Saya belum tahu apa manusia biasa kayak saya bisa punya akun Ping dan muncul di sini atau saya bisa gak nge-follow manusia lain yang bukan penyanyi/band yang lagu atau albumnya ada di Apple Music–nanti saya cari tahu. #procrast.

Yah, begitulah. Sekian kesan-kesan pertama saya. Ovel all, saya suka sih sama Apple Music ini. Tapi ya itu tadi, kalo saya mau dengerin lagu yang bener-bener bagus suaranya, saya mendingan beli aja di iTunes Store. Ke depannya saya gak tahu mau langganan apa gak. Tergantung Tuan Sinung (loh?). Pan dese yang mau bayar. :D

Trus saya bukan Apple fangirls karena perangkat Apple hanya alat, cieee…. Dan alat itu harusnya jadi sesuatu yang menunjang kita buat berkarya. Bagus kalo punya alat yang oke dan ketjeh, kalo gak ada, apapun harusnya bisa. :D Dan karena masih dalam masa percobaan, saya pikir, gak ada salahnya dicoba ini Apple Music.

Segitu dulu ya, Manteman.

Saya gak mudik, nih. *curcol*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)