#525: Jalan Setapak di Atas Meja

Dibaca 39 kali

IMG_9536Jalan ini penuh cerita buat saya

Saya sudah kembali dari liburan, kemalasan, dan leyeh-leyeh. Horeee~

Mulai hari ini, saya udah menjadwal kalo saya harus mulai nulis lagi. Masih dengan target 500 kata perhari. Tapi sebenarnya, saya udah nulis sejak beberapa hari yang lalu. Karena udah jadi kebiasaan, saya gak tahan untuk gak nulis ternyata. :mewek:

Suatu ketika–saya lupa tepatnya–saya pernah bermimpi duduk di meja bulat, mungkin meja kafe, dan mengobrol dengan seseorang. (Satu-satunya tempat dengan meja bulat yang pernah saya kunjungi adalah kafe yang menyatu dengan Breadtalk dan J.Co di Tamini Square.) Saya bicara tentang jalan, tentang rumput, tentang pohon-pohon. Trus sambil mengobrol saya dan teman mengobrol saya yang entah siapa itu (maap Tuan Sinung, itu orang bukan dikau, sayangnya), kami mulai membuat jalan, rumput, dan pepohonan dengan gula, teh, dan sobekan roti. Membuat meja bulat itu jadi berantakan.

Mimpi biasa aja sebenarnya, tapi terlalu terasa nyaris nyata untuk dibiarkan lewat begitu saja. :D

Semalem, saya menuliskan ulang mimpi saya dan menjadikannya salah satu scene di proyek yang lagi saya kerjain. Nama proyeknya sih, The Other Half. Saya gak tahu apa nanti mau diganti atau gak.

Mungkin benar kata Bang Eka Kurniawan di tulisannya yang baru saya baca pagi ini sambil ngopi-ngopi ngantuk (karena saya belum berhasil tidur dari semalam); Kita Ingin Menceritakan Kisah Orang Lain, Pada Akhirnya Kita Menceritakan Diri Sendiri.

Pada akhirnya, cerita-cerita yang saya buat, mungkin, hanya sejauh harapan, keinginan, dan impian saya saja. Setengahnya curhat colongan, setengahnya lagi … curhat beneran. :D

Saya kutip draft mentah versi belom diedit dan berantakannya di sini, deh.

Semoga saya istiqomah nyelesein proyek ini karena … saya suka banget rasanya ngeliat naskah yang sudah selesai. Saya pengen ngerasain itu lagi. :cutesmile:

* * *

Gya melirik ke arah Ale. Menarik napas dalam-dalam sehingga dia bisa mencium wangi parfum yang dipakai cowok itu. Mereka lalu bicara tentang banyak hal; buku, cuaca, kereta, keadaan jalan. Gya menyukai apapun topik yang dibicarakan Ale karena seserius apapun itu, mereka bisa tertawa di sela membicarakannya. Gya memegang cangkir tehnya sambil mendengarkan Ale menceritakan perjalanannya dari Bandung ke Jakarta. Tentang kereta paling pagi yang dia tumpangi.

“Gue berdiri di stasiun dan sepi banget. Belum jam enam dan lo tahu Bandung? Dinginnya beda dengan Jakarta. Tapi kayaknya Jakarta nggak pernah dingin kecuali kalau hujan di pagi hari dan itu bukan dingin seperti yang gue maksudkan. Dan kereta datang tepat jam enam. Menyeruak di antara kabut dan kalau nggak karena gue mau ketemu lo sini, mungkin gue akan membatalkan rencana naik kereta itu karena suasananya mirip dengan scene di film-film Hitchcock.”

“Suka Hitchcock juga?” tanya Gya. Ale mengangguk. “Mee too,” lanjut Gya. Dia senang karena menemukan satu lagi kesamaan antara dirinya dan Ale.

Terbayang oleh Gya kereta di pagi hari, kabut, dan suasana seram. Lalu Ale yang naik ke atas kereta setelah menembus kabut. Ale menceritakan kejadian itu dengan cara yang membuat Gya bisa membayangkan sejelas-jelasnya. Gya suka itu. Mereka lalu berpindah menceritakan tentang jalanan Jakarta dan berakhir dengan Gya menceritakan jalan kecil di belakang kompleks perumahan mereka yang menjadi jalan rahasia dia dan Nino. Tidak ada yang tahu jalan setapak itu.

“Jalan itu sepertinya dibuat oleh orang yang dulu tinggal di rumah besar di belakang rumah gue. Dia tinggal sendiri dan gue nggak yakin dia laki-laki atau perempuan karena gue nggak pernah ngeliat langsung dari dekat. Selalu aja yang kelihatan siluet berbentuk manusia di kejauhan. Setelah rumah itu ditinggalkan dan kosong sampai sekarang, jalan itu jadi tempat rahasia gue dan Nino. Jalan itu bisa tembus ke jalan raya di depan kompleks tapi siapa yang peduli? Nggak ada orang yang jalan kaki sekarang ini.” Gya menggambarkan bentuk jalan itu dengan gula pasir yang dia tuang dari bungkus kertas ke atas meja. “Jalan itu meliuk aneh dan yang lebih aneh, gue suka. Gue dan Nino nggak pernah takut jalan di sana. Malam hari sekalipun.”

Gya membuka bungkus brown sugar pelan-pelan dan memastikan kalau dia menyobek ujungnya sedikit saja sebelum menuangkan butiran gula yang berwarna coklat itu ke atas meja. Dia membuat lingkaran dengan butiran gula itu.

“Di sini, ada kayak kolam kecil. Kabarnya dulu, lubang ini lebih dalam dan waktu gue dan Nino masih kecil, gue percaya cerita salah seorang teman kami kalau lubang itu dulunya berisi harta karun. Ada orang yang datang malam-malam ke tempat itu dan menggali harta karun di sana. Karena matahari keburu muncul, dia meninggalkan lubang itu tanpa ditutup lagi.” Gya merapikan sisa-sisa butiran gula merah dan mendorongnya ke arah ‘lubang’ yang dia buat.

“Dalam banget berarti?” tanya Ale.

“Hmmm … ya. Entah kenapa nggak ada yang berinisiatif untuk menimbun lubang itu sampai sekarang.”

“Apa banyak rumput di sana?” tanya Ale lagi. Dia mengambil kantong teh celup dari tatakan gelas tehnya dan membukanya pelan-pelan.

“Di sini,” ujar Gya menunjuk. Ale lalu mengeluarkan teh basah itu dan meletakkannya di tempat yang ditunjuk Gya.

“Di sini juga.” Gya menunjuk bagian yang lain dan dia ikut membantu membuat rerumputan di tepi jalan itu.

“Bagus ya, jalannya?”

Gya mengangguk. Dia lalu mengambil croissant dan membelahnya pelan. Dia lalu merobek bagian luar pastry itu dan meletakkannya di antara ‘jalan’ dan ‘rerumputan’ yang ada di meja. “Di sini ada pohon sukun yang besar sekali. Gue tahu jalan ini seperti gue mengenali jalur vena di punggung tangan gue sendiri.” Gya menganggat tangan dan menunjukkan punggung tangannya dan Ale melihatnya sebentar. Bukan punggung tangan dan garis-garis berwarna kebiruan itu yang dilihat Ale, tapi wajah manis Gya yang sedang tersenyum tiga jengkal di belakang punggung tangan itu.

“Gue mau datang ke sana,” kata Ale. Dia masih memandangi Gya walaupun gadis itu sudah menurunkan tangannya.

“Kapan?” tanya Gya. Dia meluruskan pandangannya ke arah Ale.

Ale memperhatikan Gya nyaris tanpa berkedip. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau rambut gadis itu, bagaimana caranya bicara, bagaimana caranya mengambil sisa croissant, membelahnya jadi dua dan kemudian memakan sebagiannya, membuatnya tidak bisa memikirkan hal lain. Mata Gya sering menatap ke arahnya dan beberapa kali tatapan mereka berpaut. Membuat Ale merasa dadanya jadi sedikit sesak.

“Kapan lo mau memperlihatkan ke gue this magical place?”

“Nggak hari ini,” jawab Gya.

* * *

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)