#531: Just Another Relationship Lesson (From Me)

Dibaca 142 kali

IMG_9309

Menemukan seseorang yang mau ada di dalam hubungan dengan kita itu sulit, berada dalam hubungan itu sulit, dan menjaga hubungan itu sulit. Tapi saya tidak tahu mana yang lebih sulit. Begitu pula hubungan saya dan Tuan Sinung. Entah mengapa sedari awal saya selalu saja merasa bahwa hubungan ini tidak akan berjalan baik. Saya membayangkan akan menghabiskan hari dengan lelaki yang membacakan Keats atau Neruda. Yang akan menemani saya membicarakan tentang bintang dan romantisme penyair ketika mereka melihat senja. Saya selalu berkata, Hon … if you’ve got love you’d better hope that that’s enough.

Bahwa cinta saja tidak pernah cukup, itu saya pelajari dari tahun ke tahun pernikahan kami. Sayangnya, kami jarang bertengkar. Kami lebih banyak berdebat. Membunuh ide dengan ide, mengunci pemikiran dengan pemikiran, meremukkan harapan dengan harapan. Saya terlalu takut hubungan ini tidak akan berjalan baik sampai-sampai saya tidak pernah membaginya dengan siapa-siapa. Saya memang menulis catatan perjalanan pernikahan saya setiap tahun. Berusaha untuk memilih setiap kata dan kalimat agar jadi tidak detail, jadi tidak jelas. Saya menjaganya secret dan sacred. Dia pun selalu berkata, it will work out, trust me.

Saya mencoba menyimpan semua foto, semua kemesraan, semua cerita tentang kami yang membuat orang lain bisa melihat lebih dari sekedar permukaannya saja. Yang tidak saya tahu, dia ingin memperlihatkannya. Semua orang yang dekat dengan kami tahu betapa dia tidak bisa membiarkan saya jalan sendiri–dia selalu menggandeng tangan saya. Betapa dia tidak bisa membiarkan saya tidur lebih dulu–dia selalu memastikan saya tertidur sebelum akhirnya dia pun ikut tidur. Betapa dia tidak bisa membiarkan saya membawa kantong belanjaan sendiri–dia selalu memaksa membawakannya. Betapa saya tidak pernah sanggup membuat teh sendiri sepanjang tahun ini karena selama delapan tahun kami bersama, dia yang selalu membuatkannya. Tapi saya selalu saja takut memperlihatkan itu semua. Saya masih ingat dia berkata, I turn on your axis, revolve around you, spinning outwards from your sun.

Saya selalu takut dengan public display of affection di sosial media. Saya tahu beberapa pasangan yang melakukannya untuk menutupi apa yang sebenarnya ada. Saya merasa sangat tidak nyaman melakukannya, sampai suatu ketika dia bertanya, “Kapan kita punya foto berdua yang bisa di-sharing dengan yang lain?” Saya menggeleng, “Tidak akan pernah.” Dia pun berkata, please Honey, stop being Mr. Kaplan to my Mr. Reddington.

I’m Mr. Kaplan. Perempuan (yah, it’s a she) yang ada di belakang Mr. Reddington, tidak terlihat, tapi bisa melakukan apapun yang diminta. Yang tidak ingin terlihat karena memang tidak perlu terlihat.

“Bagaimana kalau ada seseorang yang merasa bahwa hubungan kita buruk dan memanfaatkannya untuk masuk?” tanyanya. Saya pun menjawab, “Tidak ada hubungan yang kuat, sebenarnya. Yang ada hanya orang-orang yang kuat menjaga hubungan itu. Kalau ada yang masuk ke hubungan kita, itu bukan salah hubungannya, itu salah kita. Lalu apa hubungannya dengan foto bersama?”

“I want to show people that I’m devoted to you.”

“With pics?”

“A pic tells more than words. You know that. You know better than me.”

Dan perdebatan itu pun dia akhiri dengan, please Honey, stop being Sheldon to my Leonard.

Dia ingin kami seperti pasangan lain; membagi foto, membagi cerita, membagi kebahagiaan–hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya ijinkan. Saya ingin hubungan yang terukur dan terencana. Dia ingin hubungan yang hangat dan manis. Ya, saya sedingin itu. Sedingin Sheldon, mungkin. Lalu katanya, please Honey, stop being Sherlock to my Watson.

Berhari-hari kami membicarakan ini sampai kesepakatan itu pun datang juga. Dan mungkin beberapa orang yang mengenal Tuan Sinung di sosial media akan mulai melihat foto saya atau kami. Mungkin juga akan ada cerita–tentang rasa.

Karena kami harus sepakat dan sepertinya, ini salah satu bug fix yang saya lakukan untuk membuat hubungan kami bisa berjalan lebih baik. Lagipula, ini sudah nyaris sembilan tahun. Hubungan kami sudah teruji. Bukan lagi hubungan baru dengan rasa madu, bukan rumah baru dengan bau cat menyengat. Sudah saatnya saya mengarahkan kamera ke tempat lain, sepertinya. Ke arah kami berdua.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)