#538: Tentang Musim Gugur

Dibaca 74 kali

IMG_2851 copy

Ketika saya sampai di sini awal September, musim gugur belum mulai; daun-daun masih hijau, udara masih panas. Hampir sama dengan keadaan di Selayar panasnya. Saya menunggu musim gugur datang setelah terlalu banyak membaca betapa romantisnya musim itu. Di mana–sepertinya–muda-mudi jatuh cinta ketika daun-daun berguguran dan udara mendingin. Daun-daun menjadi jingga kemudian coklat dan gugur, memenuhi jalan dan pandangan.

Hari pertama musim gugur jatuh di tanggal 23 September dan tidak ada yang berubah; daun-daun masih hijau dan sepertinya saya masih harus menunggu sampai sebulan lagi untuk melihat daun-daun itu berubah warna. Saya pun menunggu lagi.

Ketika daun-daun itu berubah warna dan saya lebih sering ke luar rumah sambil membawa kamera, saya belum juga merasakan romantisnya musim gugur. Padahal, banyak foto yang saya ambil dan memperlihatkan betapa daun-daun yang berubah warna itu memang mempengaruhi perasaan saya jadi lebih sendu. Seperti foto yang diberi filter sephia.

IMG_2832 copy

Sampai di suatu malam, Tuan Sinung mengajak saya untuk nonton The Martian di bioskop. Saya mau dengan syarat; harus 3D. Film selesai hampir jam setengah sepuluh malam dan kami bergegas ke tempat perhentian bis di depan bioskop. Kalau sampai telat, kami harus jalan kaki karena bis yang kami tunggu adalah bis terakhir. Saya sudah menonton dengan si Tuan puluhan kali banyaknya dan tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bioskop itu sepi dan ketika kami berjalan setengah berlari menyeberangi halaman parkir dengan daun-daun yang berguguran di sisi-sisinya, dingin yang merasuk, jalanan lengang, dan pohon-pohon yang berjejer di sepanjang jalan itu kelihatan nyaris hitam oleh malam, saya baru merasa; ya, ini musim gugur. Seperti ini rasanya musim gugur.

Beberapa kali saya jalan ke supermarket dekat apartemen dan sengaja menginjak daun-daun yang berserakan di jalan. Saya suka bunyinya:

Kreees kres kres.

Dan pohon-pohon di tepi kali kecil di belakang apartemen saya mulai memenuhi jalanan dengan daun-daunnya. Baunya mengingatkan saya pada malam-malam ketika sama SMA dan berkemah di Bumi Perkemahan Cibubur. Bau daun yang bercampur dengan udara malam dan bau tanah. Tapi bau daun-daun di sini lebih manis, tidak terlalu keras.

Saya juga suka memperhatikan ada sebuah pohon yang tumbuh di dekat lampu jalan dan memerah lebih lambat dari pohon-pohon di sekitarnya. Udara dingin memberikan pertanda pada pohon-pohon untuk membuat daun-daun menjadi merah dan kemudian menggugurkannya. Untuk mengurangi beban pohon itu yang harus bertahan hidup di sepanjang musim dingin. Suhu yang tidak stabil (kadang panas, kadang dingin, kadang hujan, kadang hujan dan masih terasa panas, atau terik tapi malah terasa dingin), membuat pertanda menjadi berantakan. Karena itu musim gugur kali ini tidak serentak untuk semua pohon. Ada beberapa pohon yang sudah lebih dulu meranggas sementara ada pohon yang masih baru memerah. Dan pohon yang di dekat lampu jalan itu; dia masih saja hijau.

Saya berteori; mungkin saya penerangan malam ditambah suhu di sekitar lampu yang tetap hangat membuat pertanda yang diterima pohon ini lebih kacau lagi. Dia merasa suhu belum terlalu dingin dan masih mempertahankan daun-daunnya–memerah pun tidak.

IMG_2864 copy

Masuk pertengahan bulan ini, suhu tidak pernah lebih tinggi dari 20 derajat celsius. Saya keluar rumah setidaknya memakai tiga lapis pakaian dengan sweater di luar atau dua lapis saja tapi dengan thermal wear di dalam. Dini hari kadang sudah sampai 3 derajat celsius–tadi malam bahkan sudah minus. Tapi ternyata saya yang tidak tahan dingin ini masih bisa bertahan.

Tentang cuaca yang mempengaruhi suasana hati, mungkin banyak benarnya. Di hari yang mendung, matahari tidak kelihatan, saya lebih sudah berdiam di tempat tidur dan membaca–atau main games di laptop, atau browsing dari ponsel. Di hari lain ketika matahari terik tapi suhu masih di sekitar 15-18 derajat celsius, yang dikatakan Tuan Sinung sebagai nice weather, saya lebih suka membawa laptop ke ruang depan, membuka jendela, dan membiarkan cahaya matahari masuk menghangatkan ruangan.

Dan hari ini seperti itu adanya.

4 Comments

  1. milo
    Nov 20, 2015

    mbak mbak, itu bentuk daunnya gitu semua ya? *pertanyaan dodol tapi serius

    • Octaviani Nurhasanah
      Nov 20, 2015

      Yang di pinggiran jalan, kayak begitu yang banyak, Milo. Kebanyakan pohon maple emang. Tapi ada juga pohon-pohon lain. Ada pohon yang malah warna daunnya bukan jadi merah, tapi kuning. Ada yang coklat. Kebetulan yang bagus difoto emang yang merah, sih. :D

  2. warm
    Nov 20, 2015

    bentar-bentar.. saya mendadak serasa jetlag, ini gimana ceritanya tiba2 ada di musim gugur :-o

    …_baca ulang cerita2 sebelumnya hihi

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)