#540: Malam (Cerita Tentang A Lark And An Owl)

Dibaca 52 kali

IMG_2804 copy

Dua hari lalu, saya bangun jam lima pagi, melihat ke luar jendela yang masih gelap karena waktu subuh masih sekitar satu jam lagi, dan kembali ke tempat tidur. Bukan untuk tidur–karena saya sudah cukup tidur dan kalau saya sudah cukup tidur, saya tahu–tapi untuk … sekedar tidur-tiduran. Seharusnya saya bisa menyalakan laptop, menulis, atau mengerjakan hal yang lain. Saya juga tahu beberapa saat yang lalu, di beberapa post sebelum ini, saya mencoba kebiasaan untuk tidur lebih cepat dan bangun lebih cepat juga untuk menulis. Hasilnya cukup baik. Saya menyukai ritme kerjanya. Hanya saja, itu tidak bertahan lama. Sepertinya saya berusaha untuk menipu diri saya dengan mengatakan bahwa bangun jam dua dini hari itu bukan bangun menjelang pagi, tapi bangun di tengah malam.

Memang gak keliatan terlalu beda. Tapi saya menganggapnya beda.

Menurut salah satu tulisan di NASW: “Animal studies suggest that being a morning person or an evening person may be built into our genes, like having red hair or blue eyes. This may explain why those of us who are early-to-bed, early-to-rise types, or late-to-bed, late-to-rise types, find it so hard to change our behavior.”

Jadi morning person atau evening person itu genetik ternyata.

Saya tahu saya bisa bangun pagi, kerja pagi, dan tapi saya selalu saja terpesona pada malam hari. Ada sesuatu di malam hari (jam sepuluh malam sampai menjelang pagi) yang membuat saya selalu merasa bisa bekerja lebih baik, menulis lebih tenang, dan entahlah … seperti ada kecocokan, seperti itu saat yang tepat. Walaupun saya tahu saya tidak akan bisa bertahan untuk gak tidur di sepanjang waktu itu. Saya memilih untuk tidur lebih cepat dan bangun sekitar jam dua (ini pilihan paling baik dan paling sering saya lakukan) atau menunda tidur jauh lebih lama, sekitar jam dua atau tiga dini hari. Hanya segitu saya sanggup. Kalau saya memaksakan diri untuk tidak tidur sepanjang malam, sehari-dua hari mungkin saya masih kuat. Selebihnya, saya bisa sakit kepala.

Are_You_a_Lark__an_Owl__or_a_Hummingbird_

Di-screenshot sedikit, sisanya liat di sini, ya.

Tubuh manusia tidak bisa dikelabui. Kita–manusia–memang didesain untuk beraktivitas di siang hari. Walaupun ada orang yang lebih nyaman melakukan banyak hal di malam hari–seperti tadi malam saya belum tidur jam dua dini hari dan memutuskan untuk membuat kue bolu–tetap saja, tubuh kita tidak akan tahan dengan kehidupan malam. Kalau kita memang didesain untuk hidup di tengah malam, tentu kita sudah diberi mata yang bisa menembus gelap. :D

Kutipan dari sumber yang sama:

“Some of us think of ourselves as night people, but humans can’t truly claim the night as home territory. We are programmed to function best in the daytime. We can’t see in the dark. Even if we insist on flip-flopping our schedules to work at night, Mother Nature isn’t fooled. Night is still the down time on the body clock. Morningness and eveningness are as far apart as humans get.”

Saya menemukan tulisan di NASW itu karena penasaran; ada gak ya, tipe manusia yang lain? Yang bukan morning person atau night person? Yang bukan a lark atau an owl? Yang hidupnya di tengah-tengah? Dan ternyata ada, tipe ini disebut hummingbirds. Dan ternyata tipe ini adalah tipe manusia kebanyakan. Yang bukan morning person atau night person. Yang normal-normal saja. Karena awalnya saya pikir, normalnya manusia itu morning person dan tipe night person–kayak saya–itu yang agak gak normal. :D

Jadi, setelah saya baca sana-sini, saya pun memutuskan kalau jadi an owl itu gak apa-apa. Heheheee…. :D Kan, genetik gitu. *membela diri*

Tuan Sinung sendiri tipe larks. Dia bangun pagi, sebelum subuh, dan mengerjakan apa yang perlu dikerjakan sampai menjelang siang. Menjelang sore, dia lebih banyak mengerjakan hal yang ringan saja; nonton, baca-baca, atau menemani saya mengobrol. Kalau saya perhatikan, waktu paling baik untuk kami mengobrol (yang nyambung, yang gak banyak miscom, gak perlu diulang-ulang topiknya sampai akhirnya sepakat) itu sekitar siang sampai menjelang sore atau sekalian pagi menjelang siang. Kalau sudah malam, semakin malam, dia semakin diam. Sementara saya semakin malam, rasanya malah semakin semangat. Tapi dia lebih fleksibel. Dia bisa mengubah rencana beberapa jam sebelumnya, saya gak. Bukan karena gak bisa, tapi karena gak suka. Saya suka jadwal; itu membuat hidup saya terukur. Bahkan di hari Senin, saya sudah punya rencana sampai ke Minggu. Perubahan di tengah-tengahnya–kecuali memang di hari itu saya gak punya banyak rencana–bakalan ngebikin saya kayak hilang fokus.

Sayangnya, semua rencana saya itu biasanya dilakukan setelah jam sembilan malam ke atas. Yah, siang-siang saya free. Palingan saya nambah tidur. :D

Jadi buat kami berdua, tengah siang bolong antara jam dua belas sampai jam dua atau jam tiga sore itu semacam jam kosong yang beneran kosong kalau gak ada kegiatan di luar rumah. Yang mau ngerjain apa-apa gak semangat dan palingan berakhir dengan gegoleran dan tidur siang–because at that time, we’re dull and fuzzy.

Buat larks, mereka gak ngerti apa asyiknya tetap terjaga sampai dini hari. Saya punya banyak alasan dan cerita–karena itu saya menulis post ini. :D

Walaupun terdengar aneh, saya merasa aman di malam hari. Di siang hari, waktu saya melihat ke luar dan matahari terik, semua kelihatan jelas, saya merasa terintimidasi. Karena itu, ketika matahari terbit atau matahari tenggelam buat saya masih terasa lebih bersahabat dibanding tengah hari. Buat saya, semua jelas di malam hari. Saya punya pikiran aneh bahwa kalau malam datang dan kebanyakan manusia tidur, ide kreatif dan brilian itu mengambang di tengah udara malam. Tapi karena kebanyakan manusia tidur, tidak ada yang mengambilnya. Iya saya tahu, itu pikiran bodoh.

Kamu pernah bangun tengah malam dan berjalan ke dapur? Kamu bakalan mendengar suara kulkas yang lebih keras dan jelas. Langkah kakimu pun terdengar lebih kencang. Ketika melewati kamar anak-anak, saya bisa mendengar napas mereka ketika tidur. Saya seperti sendirian (dan memang biasanya jam segitu saya sendiri yang masih bangun) dan itu membuat saya bebas.

Malam itu seperti memberikan ketenangan dan di luar itu semua; perasaan tidak berdaya. Kalau kamu ke luar di malam hari dan melihat bintang-bintang atau bulan, kamu akan merasa kalau kamu hidup di satu titik kecil di alam semesta. Pemandangan seperti itu akan tertutup benderang di siang hari. Mungkin itu alasannya mengapa sholat tahajud itu diperintahkan di sepertiga akhir malam, bukan di awal malam (jam sebelas atau dua belas) karena perasaan tidak berdaya dan kecil itu akan membuat kamu sadar kalau kamu hanya hamba–tidak lebih. Dan saya sangat menghargai kedekatan. Bukan hanya kedekatan antara manusia yang satu dengan yang lain, tapi kedekatan dengan apa yang sedang saya kerjakan.

Kedekatan dengan orang lain itu, misalnya, kalau saya sedang mengobrol dengan seseorang–Tuan Sinung, misalnya–saya tidak akan memegang ponsel karena mengobrol itu memang hanya bertukar tutur dan pandang, tapi kalau ditambah dengan kedekatan, kesadaran bahwa saya harus ada di saat dan tempat itu, memahami setiap yang dikatakan, maka saya akan merasakan kedekatan. Dan saya sangat menghargai itu. Begitu juga kalau saya melakukan hal lain. Memasak, misalnya. Memang cerita bahwa masakan enak itu datang dari tangan yang–katanya–juga enak. Buat saya, itu juga bisa diartikan tentang kedekatan antara orang yang masak dengan apa yang dia masak. Dia benar ada di sana ketika memasak. Saya gak bisa masak cemplang-cemplung terus ditinggal atau disambi hal lain. Saya harus ada di sana.

Multi-tasking itu buat saya mitos. Semacam melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan tapi kenyataannya tidak ada yang selesai dalam waktu bersamaan–paling hanya ada satu hal yang selesai dan itu hal yang paling banyak dapat perhatian ketika kamu melakukan banyak hal sekaligus. Pun, otak manusia tidak didesain untuk multi-tasking.

Hmmm … jadi ke mana-mana ini ya, tulisannya. :D

Intinya sih, saya tadi lagi nyari kecenderungan pola tidur aja. Terus nemu tulisan kalau manusia itu dibagi jadi tiga tipe; a lark, an owl, and a hummingbird. Gitu aja. Tapi malah curhat sana-sini, ya. :D

Kalau kamu, tipe apa, Manteman? :cutesmile:

2 Comments

  1. Nurin Ainistikmalia
    Dec 10, 2015

    kalau kami makin malam makin nyambung, hehe.. sekarang-sekarang ini keseringan tidur lewat jam 12 gara-gara keasyikan menjalin kedekatan,,,ea…:D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)