#543: Ngomongin Munjul dan Gang Cemara

Dibaca 216 kali

Octaviani_Nur_Hasanah___octanh__•_Instagram_photos_and_videos

Kompleks apartemen saya dilihat dari tepi Leverett Ave

Pagi tadi, eh … siang tadi, ding (soalnya saya tidur abis subuh dan baru bangun menjelang zhuhur) … saya iseng ngeliatin Google Maps daerah Munjul dan sekitarnya. Gak tau kenapa, lagi kepengen aja gitu. Trus saya ngeliat kalo Google Street View-nya ternyata baru. Terakhir saya lihat masih data tahun Agustus 2013, tapi tadi pagi udah jadi Juni 2015. Beuh, itu saat di mana saya sering berkeliaran di daerah Jalan Buni, Arundina, dan sekitarnya. Kepo-kepo lucu dulu dong, bentar. Siapa tahu ada gambar saya ketangkep gitu. Tapi seinget saya sih, saya gak pernah ketemu sama mobil Google yang ada kamera di atasnya buat ngambil gambar jalan itu. Jadi gambar saya gak ada. Tapi gambar tetangga-tetangga saya yang lagi jalan atau lagi duduk-duduk nongkrong di depan rumah, di warung, dan di pasar mah, banyaaak. :D

Tapi saya gak mau ngomongin itu….

Selama saya tinggal di daerah Fayetteville sini, kalo saya lagi jalan-jalan di luaran, saya suka mikir (dan kadang googling kalo udah sampe rumah); asal-muasal nama jalan di sini itu dari mana, ya? Saya suka nemu nama jalan yang asalnya dari nama pohon kayak; Oaks, Willow, Holly, Sycamore. Atau dari nama orang (yang pastinya bukan orang biasa). Saya tertarik buat tahu kalo misalnya nama jalan itu pake nama orang, siapa orang itu? Kenapa bisa namanya diabadikan jadi nama jalan? Kalo dari nama pohon, kenapa pake nama pohon itu? Kenapa gak nama … apa ya, misalnya, hmm … nama kue kayak Strawberry Pie? Atau Chocolate Tart?

Saya tinggal dan besar di Munjul, Jakarta Timur. Buat anak-anak sekarang, yang satu generasi di bawah saya, mungkin gak pernah tahu (dan juga bisa jadi gak pernah kepo) kenapa daerah tempat tinggalnya dinamakan kata yang lumayan aneh ‘munjul’. Apaan itu ‘munjul’? Tapi saya kepo, dong. Dan saya nanya-nanya.

Jadi sepertinya nama ‘munjul’ ini salah tulis. Harusnya ‘muntjoel’ atau kalo diejaan sekarang, ditulisnya; ‘muncul’. Ini diambil dari nama kuburan keramat yang ada di dekat rumah Mama saya. Jadi ada satu kuburan yang kabarnya adalah kuburan kyai atau orang pintar. Kuburan ini dulunya sih, suka diceritain sama teman-teman main saya sebagai kuburan angker yang kalo kita tunjuk pake telunjuk, misalnya, itu telunjuk mesti dijilat dan dibiarkan sampai kering. Itu menurut bocah-bocah kampung yang umurnya masih belum 10 tahun loh, ya. :D

Waktu saya masih kecil itu, banyak peziarah dari luar kota yang datang ke makam itu di waktu-waktu tertentu. Tapi jarang warga sekitar berziarah ke makam itu. Dan ada masanya di dalam satu tahun, tanah makam itu naik dan menjadi lebih tinggi dibanding tanah di sekitarnya. Itu yang membuat seolah-olah makam itu muncul ke permukaan. Dari sinilah asal-muasal kata ‘muntjul’ yang kemudian akhirnya jadi ‘munjul’.

Tapi, ini menurut warga sekitar. Riwayat asal-muasal nama Munjul yang lebih bisa dipercaya datang dari kakek-kakek tua sodaranya teman saya sewaktu saya SMA dulu. Saya lupa namanya (duh …). Beliau ini orang Betawi asli dan saya kenal beliau waktu saya main ke rumah salah seorang teman saya. Beliau sudah tua dan seperti yang saya lakukan ketika bertemu orang tua; saya minta diceritakan tentang sejarah. Sejarah apa saya, terserah. Orang tua biasanya punya banyak cerita. :cutesmile:

Jadi cerita tentang asal-muasal nama Munjul ini ada hubungannya dengan Sultan Badaruddin II yang gambarnya bisa kita temukan di uang kertas sepuluh ribuan. Sultan Badaruddin II ini bukan asli orang Betawi. Dia diasingkan dari Palembang ke Batavia dan selama diasingkan itu, dia membantu Kerajaan Jayakarta untuk mengusir Penjajah Belanda. Kepindahannya sendiri ke Batavia kabarnya karena Kesultanan Darussalam jatuh ke tangan Belanda di tahun 1821. Kakek tua sodaranya temannya saya ini gak ingat tahun atau tanggalnya, jadi saya melakukan riset kecil-kecilan (eaaa … gaya banget, dah) dan menemukan artikel ini yang menceritakan kisah lengkap tentang Kesultanan Palembang Darussalam. Menurut artikel itu, pengasingan Sultan Badaruddin dan keluarganya ke Batavia ini terjadi di tahun 1821. Karena bantuannya itu, dia diberikan tanah hibah yang namanya Tanah Tjiboeboer yang merupakan tanah dari Kerajaan Jayakarta yang dulunya diincar Belanda untuk dijadikan kebun karet.

Karena membantu Kerajaan Jayakarta, Sultan Badaruddin II dibuang sekali lagi ke Ternate, Maluku. Sementara keluarganya tetap tinggal di Tanah Tjiboeboer atau yang sekarang kita kenal dengan kawasan Cibubur. Sepeninggalan Sultan Badaruddin, tanah ini kembali diincar Belanda. Salah satu anak dari Sultan Badaruddin, namanya Pangeran Ahmad Bolonsong, kemudian ditangkap dan sisa dari keluarganya bertahan di tanah itu. Pangeran Ahmad Bolonsong kemudian dibuang ke sumur dan meninggal di tahun 1869. Pemerintah Belanda melalui notaris di Batavia, George Herman Tomas, mengeluarkan sebuah Akte Eigendom Verponding No. 5658 yang mengembalikan seluruh ‘Tanah Tjiboeboer’ kepada ahli waris Achmad Bolonsong sebelum akhirnya mereka pergi dari Indonesia. Menurut akta ini, Cibubur yang kita kenal sekarang ini adalah milik ahli waris Pangeran Ahmad Bolonsong. Dan cerita ini pun berlanjut pada sengketa tanah. Saya gak mau nyeritain masalah sengketa tanah ini karena rumit dan saya pun gak tahu banyak tentang hal itu. Mungkin kalo saya pulang ke Munjul, saya bisa kepo sana-sini dan nanya sama orang-orang tua di sekitar rumah saya. :cutesmile:

Karena ini adalah cerita tentang asal-muasal nama Munjul, jadi mari kembali ke sana. Pangeran Ahmad Bolongsong yang kemudian di buang ke sumur sampai mati lemas, dikuburkan tepat di samping sumur tersebut. Kuburan ini juga sama ceritanya seperti kuburan angker di dekat rumah saya yang banyak diziarahi orang-orang. Dan kuburan ini pun punya keistimewaan. Sumur yang ada di samping kuburan itu mengeluarkan tanah seperti tanah liat berwarna putih.

Oh, saya belum cerita kalo Pangeran Ahmad Bolonsong ini kabarnya sama seperti Si Pitung yang kebal peluru? Jadi dia ditangkap dengan cara dijebak dan untuk membunuhnya, dia dibuang ke sumur dan dibiarkan sampai mati lemas. Ini agak OOT dikit yak; Si Pitung sendiri berhasil dibunuh dengan peluru emas. Menurut hasil gosip sana-sini, saya dapat cerita kalo urusan kebal peluru ini gak ada hubungannya sama yang mistis-mistis. Si Pitung ini kan, jago silat dan dia menggunakan ilmu tenaga dalam untuk menangkal peluru. Aslinya, dia sendiri adalah seorang muslim yang sholeh. Jadi gak ada itu hubungannya dengan ilmu hitam dan sebagainya. Wallahua’lam….

Jadi nama Munjul menurut versi cerita Pangeran Ahmad Bolonsong ini berasal dari tanah putih yang muncul dari dalam sumur ke permukaan. Begitulah.

Cerita ini masih perlu banyak penelusuran untuk mencari kebenarannya. Saya sendiri sungguh penasaran dan ingin tahu lebih banyak. Kalo ada Manteman yang tahu, sempat tahu, pernah tahu, atau memang benar-benar tahu, mohon dikoreksi ya cerita saya ini. :cutesmile:

Google_Maps-3

Jalan dan gang dengan nama buah-buahan di sekitar tempat tinggal saya

Lalu tentang Gang Cemara.

Dulunya, sewaktu saya SD, gang kecil tempat saya tinggal ini belum ada namanya. Rumah di gang itu pun belum banyak, jadi yaaa … kalo mau mengirim surat, masih menggunakan alamat Jalan Buni. Tapi di suatu hari ketika saya kelas 3 SD (saya masih ingat betul karena hari itu terornya masih terasa sampai sekarang), hujan besar turun diikuti dengan petir bersahutan. Tepat di depan rumah saya, ada halaman samping rumah tetangga saya yang ditumbuhi satu pohon cemara besar. Benar-benar tinggi dan besar. Tapi mungkin ini juga masalah perspektif karena waktu kita kecil, semua hal terlihat besar, kan? :D

Saya gak ingat berapa tingginya pohon cemara itu. Mungkin sekitar 12-an meter seingat saya, ketika saya melihat ke ujung pohon cemara itu dulu, rasanya dia menusuk langit gitu.

Siang itu, Mama saya menyuruh saya pindah ke kamar belakang dengan terburu-buru. Dia kelihatan ketakutan. Di luar suara gemuruh besar yang membuat saya menyangka kalo saya disuruh pindah agar saya bisa tidur siang. Tapi belakangan saya tahu, alasannya bukan itu. Mama saya melihat ujung pohon cemara itu tersambar petir dan bergoyang ditiup angin tapi belum jatuh juga. Di sekitar pohon cemara itu ada rumah warga dan ke mana pun pohon itu tumbang, akan ada rumah yang tertimpa. Jadi Mama saya bersiap-siap karena bisa jadi itu rejeki kami kan, siapa yang tahu? :cutesmile:

Saya, Mama saya, dan adik sepupu saya, Sarah, yang ketika itu masih kecil duduk di kamar belakang dan menunggu hujan reda. Mama saya kelihatan panik dan ketika terdengar suara ‘BUMMM’ yang cukup besar tanpa ada tanda-tanda rumah kami rusak, Mama saya berlari ke luar. Dan di depan rumah kami, pohon cemara itu jatuh. Dari sekian banyak rumah yang bisa dia timpa, pohon cemara itu memilih untuk jatuh di melintang di jalan kecil di depan rumah. Menutupi hampir semua badan jalan dan untuk siapapun yang melihat, rasanya mustahil karena jalan itu sempit dan kecil. Bagaimana bisa di pohon cemara ini bisa jatuh tepat di tengah-tengahnya dan tidak mengenai rumah siapapun?

Jl__Munjul_-_Google_Maps-1Gambar hasil SC dari Google Maps Street View

Hari itu warga di sepanjang jalan kecil itu bergotong-royong membersihkan bagian ujung pohon cemara yang jatuh ke jalan (saya kira panjangnya sekitar 6-7 meter) dan sekalian memotong sisa pohon cemara yang masih tertancap di tanah. Yang saya ingat dari hari itu adalah saya dan teman-teman saya yang bermain masak-masakan dengan daun cemara. Gak lama setelah itu, hasil rapat warga pun menyetujui kalo jalan kecil di depan rumah kami dinamai Gang Cemara untuk mengingat bahwa do’a bisa menolak bencana.

Nama ‘Gang Cemara’ ini pun bukan tanpa polemik karena semua gang di sepanjang Jalan Buni dinamai dengan nama buah-buahan, seperti; Salak, Melon, Duren, dan Rambutan. Tapi saya suka dengan nama ‘Gang Cemara’. Kalo saya menulis puisi dan sok-sokan ngasih tanggal (biar berasa kayak pujangga beneran gitu), tulisan seperti:

Cemara, 22 Agustus 2015

… terlihat lebih kece dibanding, misalnya;

Alpukat, 22 Agustus 2015

… atau;

Kecapi, 22 Agustus 2015

Yah, begitulah ceritanya. :cutesmile:

Kamu tahu asal-muasal nama daerah atau nama jalan di tempat tinggal kalian gak, Manteman? Penasaran gak? Ceritain, dong…. :cutesmile:

4 Comments

  1. harniaty
    Jan 5, 2016

    Biasa aja mbk..namanya tinggal d daerah timur indonesia.ya nama jalannya nama pahlawan.. A.Yani…nice article mbk.tulisannya enak d baca :cutesmile:

    • Octaviani Nurhasanah
      Jan 22, 2016

      Makasih. :cutesmile: Di daerah rumah orangtua saya di Riau, jalannya juga pake nama pahlawan. Dan sepertinya, yang namanya Jalan Sudirman ada di mana-mana.

  2. Nurin Ainistikmalia
    Jan 5, 2016

    Nama jalan di rumah ibuku jalan AMD, ABRI Masuk Desa, karena itu jalan dirintis sama ABRI. Sekarang aku tinggal di jalan kebun sayur, karena sepanjang jalan byk petani sayur. Sekian. :)

    Di sana lg musim dingin yak? Cerita lg dooong gmn ngejalani musim dingin..

    • Octaviani Nurhasanah
      Jan 22, 2016

      Itu kayak nama wilayan Kebon Sayur di Kampung Melayu, ya Nurin. Kabarnya dinamai begitu karena memang di sana dulunya kebonan sayur isinya. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)