#544: Stories In A Frame

Dibaca 61 kali

IMG_4965 copy

Apa yang kamu pikirkan ketika melihat lukisan? Atau foto?

Atau sebuah pertanyaan lain yang ditanyakan Tuan Sinung kepada saya ketika kami ada di art gallery, di depan sebuah lukisan, di menit yang lebih dari hitungan ke sepuluh dan saya belum juga ingin beranjak, “Jadi bagaimana caranya melihat sebuah lukisan?”

Dia tidak percaya ketika saya katakan bahwa sebuah lukisan, sama seperti sebuah buku, puisi, lagu, atau tarian; di dalamnya ada cerita. Hanya saja cara memahaminya yang berbeda.

IMG_5065 copy

Ketika mengunjungi museum, yang pertama ingin saya lihat adalah art gallery-nya–kalau ada. Saya akan berjalan, mungkin sedikit cepat–di antara lukisan-lukisan yang dipajang di sana, melihat tata cahaya yang membuat ruang di galeri itu tampak dramatis, atau menghirup dalam-dalam udaranya sehingga saya bisa mencium aroma kayu dari lantai dan pigura yang kadang dengan pembersih lantai. Tidak pernah saya mencium wangi pengharum ruangan di galeri lukisan. Belakangan saya tahu hal itu disengaja. Tidak ada pelukis yang ingin pengunjung menjalin ingatan tentang lukisannya dengan aroma tertentu, dengan wewangian tertentu. Karena, kita tahu, aroma lebih cepat memanggil kenangan dan ingatan dibandingkan imaji.

Dan saya akan berhenti, di lukisan yang entah mengapa seolah memaksa saya melakukan hal itu; diam di depannya sampai beberapa lama. Lalu saya akan mulai melihat hal-hal kecil di sana, melihat warna, melihat bentuk, lalu merangkainya jadi cerita. Selalu ada cerita di dalam bingkai itu–seharusnya. Cerita yang mungkin sangat luar biasa melebihi lukisannya sendiri.

IMG_5063 copy

Itu juga yang jadi alasannya, mungkin, kenapa banyak yang tidak tahan dengan saya ketika ada di museum. Untuk beberapa orang, kata-kata seperti ‘this painting is so powerful’ atau ‘I can see his–the painter–longing for that place’, akan kedengaran tidak masuk akal.

IMG_5071 copy

Itu pula yang jadi alasannya, selalu saja sulit untuk saya menuliskan tentang museum, art gallery, pertunjukan tari, film, atau novel. Karena kadang ada sesuatu yang saya rasakan tapi sulit sekali saya tuliskan lagi. Dan ya, foto di atas itu dari kunjungan saya ke Crystal Bridges Museum of American Arts. Kunjungan yang sangat singkat sampai-sampai selain barisan lukisan di tembok, saya tidak mengingat apa-apa lagi. :die:

Tapi ketika menuliskan post ini, saya teringat dengan sebuah lukisan Johannes Vermeer. Lukisan Vermeer ini tidak dipamerkan di Crystal Bridges Museum. Tapi entah mengapa lukisan ini yang saya ingat di perjalanan pulang. :die:

Vermeer menikah dengan seorang perempuan katolik taat yang memberinya lima belas orang anak dan mereka tinggal di pedesaan. Rasanya, ada yang aneh ketika melihat lukisan-lukisannya yang terkesan tenang karena dia melukis di rumah dengan selusin lebih anak tinggal di sana. Bayangkan keributannya. Walaupun Vermeer melukis di sebuah ruangan yang tertutup dengan larangan masuk untuk siapapun termasuk istri dan anak-anaknya, tapi suara tetap bisa menembus pintu dan itu menyisakan pertanyaan buat saya; bagaimana bisa? Ada satu lukisan perempuan yang nyaris tanpa background atau kalau mau maksa; background-nya hitam. Perempuan itu bukan istrinya. Bukan pula anaknya karena di masa itu–dan mungkin juga sekarang masih relevan–bibir yang terbuka sedikit menggambarkan sesuatu yang bisa dikatakan seksi. Bibir itu sensual. Dan sangat tidak masuk akal kalau Vermeer melukis anaknya dengan raut wajah seperti itu.

Perempuan itu berpakaian sederhana. Tidak seperti lukisan perempuan lain yang dilukis Vermeer dengan pakaian mewah, perempuan ini terlalu sederhana. Dari situ bisa disimpulkan kalau perempuan ini bukan perempuan terhormat yang minta dilukis, dia bisa jadi salah satu pelayan di rumah Vermeer. Dia memakai anting mutiara yang sangat besar, milik istri Vermeer.

Lukisan ini dibuat dalam waktu yang cukup lama. Vermeer ada dengan perempuan ini di dalam studio yang tidak boleh dimasuki siapapun. Mereka berdua di sana. Wajahnya ditempa cahaya dengan kepekatan yang membuat wajahnya tampak kelewatan berkilau. Her pupils dilated. Lukisan ini bukan tentang perempuan dan penampilannya. Bukan pula tentang pearl earring, seperti namanya. Ini lukisan tentang relationship. Tentang pelukis dan objek lukisannya.

0000003810_mh-670_2596787b

Girls with Pearl Earring

Setidaknya itulah yang dipikirkan Tracy Cevalier ketika melihat lukisan itu dan membuatnya menjadi novel. Lukisan itu punya emosi sangat kuat sehingga bisa menjadi inspirasi untuk satu cerita utuh.

Dan … sekarang saya jadi kepengen ke art gallery lagi. :die:

To see more stories in frames.

Seperti biasa, saya ngolor-ngidul lagi. Kadang-kadang saya pengen deh, nulis tuh yang teratur dan terstruktur…. :die:

Yah, begitulah. :D

1 Comment

  1. ucai
    Jul 25, 2016

    assalamualaikum mbak, apakabar? Berawal tetiba daya seneng koleksi make up padahal bukan make up cjolic hanya seneng belanjanya doang tapi jarang banget aku pake make upnya. Searching blush on, abis itü nemu blognya tuan nyonya nugroho. Seneng banget baca blognya, ringan, lucu, dan inspiratif . Jadi suka nungguin cerita ataupun ulasannya. :oops: :music:

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)