#546: Ngomongin Kata Sapaan, Kedekatan, Keramahan, dan Kesantunan

Dibaca 187 kali

IMG_2680 copy

Saya lagi gegoleran di tempat tidur sambil nungguin Tuan Sinung pulang kuliah waktu ngebaca sebuah status update di Facebook yang di-share seorang temannya si Tuan. Dan ya, benar sekali, Facebook si Tuan sekarang diojekin ke saya karena dia sok sibuk dan saya menawarkan diri untuk me-maintain image-nya dia. *halah* Tapi saya gak bales messages dari temen-temennya dia, loh ya. Saya hanya update status, terus share link, dan ngebales message di Facebook doi yang emang ditujukan ke saya.

Sebenernya, saya tertarik dengan konsep bahwa media sosial bisa di-share penggunaannya. Kayak telepon rumah jaman dulu. Kadang saya kepengen buat bikin satu akun Facebook yang namanya Tuan dan Nyonya Nugroho karena … kenapa gak? :D Selain itu, saya merasa bahwa sosial media kayak Facebook itu gak terlalu privasi juga. Saya ngeliat Facebook itu fungsi yang paling saya suka (karena banyak yang gak saya suka juga) adalah berbagi ide dan cerita. Beda dengan sambungan komunikasi langsung dan privat kayak telepon, SMS (dan variannya seperti BBM, LINE, Whatsapp, dan lainnya). Jadi … kenapa gak?

Tapi ide ini masih dirembukin sama si Tuan. Karena ada juga wacana untuk gak terlibat di media sosial lagi. Jadi, yah … entahlah. *lalu bingung sendiri*

Eh, tadi saya ngomongin apa?

Oh iya. Back to the topic … jadi saya lagi gegoleran sewaktu saya baca satu status update yang di-share sama seorang temannya si Tuan. Isinya tentang seorang dosen yang memutuskan untuk gak membimbing lagi seorang mahasiswanya karena … alasan yang saya belum paham sampai sekarang. Buat Manteman yang belom tahu ceritanya, sayangnya gambarnya sudah dihapus. Saya merasa gak berhak buat menyimpan gambarnya dan nge-upload di blog ini–walaupun tadinya gambarnya bisa dilihat siapa aja–karena saya merasa setidaknya saya harus minta ijin. Tapi saya pengen mengomentari hal ini sambil ngeteh siang-siang. Menunggu si Tuan pulang sholat Jum’at terus nganterin saya ke perpustakaan. :D

Masalah dosen pembimbing yang gak mau melanjutkan bimbingannya, saya rasa itu udah haknya yang bersangkutan, yah. Jadi gak perlu juga dibahas. Yang mau saya bahas sekarang adalah masalah kata sapaan dan hubungannya dengan kedekatan, keramahan, dan kesantunan. Juga sedikit tentang EYD karena … ya saya emang suka nyinyirin masalah satu ini. *ngunyah sirih*

Jadi, memang ada perbedaan masalah standar kesantunan di Indonesia. Saya sendiri mengalami kesulitan untuk urusan satu ini. Misalnya, saya besar di pinggiran Jakarta yang warganya kebanyakan orang Betawi asli. Sepanjang usia sekolah, saya berteman dengan anak-anak Betawi yang ngomongnya ‘lo-gue’. Saya juga ngomongnya jadi ikutan begitu. Tapi ini jauh sebelum ‘lo-gue’ dianggap sangat kekinian dan gaul. Saya juga merasa kalo ‘lo-gue’ itu gak kasar sama sekali, selama kamu ngomongnya sama orang yang punya pandangan yang sama kayak kamu. Kalo kamu ngerasa ‘lo-gue’ itu kasar, coba deh nonton Si Doel Anak Sekolahan. Memang begitulah orang Betawi bicara. Tapi mereka juga punya standar cara bicara dengan orangtua dan orang yang dituakan. Ada kata ganti lain yang dipakai, misalnya ‘aye’.

Waktu saya ngomong ‘lo-gue’ sama orang Jawa Tengah yang orangtuanya berasal dari Jogya dan Solo terus besar di Salatiga dan bicara kromo inggil *lirik Tuan Sinung*, tentu akan ada perbedaaan ekspektasi dan kebiasaan. Si Tuan gak biasa denger ‘lo-gue’. Tapi sekarang dia sama saya udah menyamakan ekspektasi dan kami bicara ‘lo-gue’ juga, sih. Kecuali di tanggal-tanggal tertentu, saya manggil dia ‘oh my honey bunny sweety pumpkin candy candy’. Biasanya itu di tanggal gajian. *plaaak*

Sekarang pindah ke Makassar. Saya tinggal di Sulawesi Selatan lebih lima tahun. Di sana, kata ‘Anda’ itu adalah sesopan-sopannya panggilan. Kata lain yang dipakai biasanya ‘kita’ untuk menggantikan ‘kamu’ karena ‘kamu’ itu kasar dan gak sopan. Pusing gak lo?

“Kita mau ke mana?”

Gue ditanya gitu jadi mikir, “Kita? Lo aja kali sama mantan lo.” *plaaak*

Padahal maksudnya si penanya itu dengan sangat sopan bertanya kalo saya mau ke mana. Satu-satunya cara mengakhiri kebingungan ini *halah* adalah dengan menyamakan ekspektasi. Saya berusaha beradaptasi dengan cara bicara mereka karena di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Saya pendatang, saya yang beradaptasi.

Sekarang ke masalah panggilan ‘Anda’. Selama ini saya mikir dan beranggapan kalo panggilan ini adalah panggilan paling resmi yang biasa dipakai di dunia kerja. Saya gak liat di mana kasarnya kalo panggilan ini dipakai dari orang yang tua ke yang muda atau sebaliknya selama ada di lingkungan kerja. Kalo di dunia akademik, saya sendiri sungguh bingung karena saya gak punya pengalaman di kampus yang suasananya sangat keilmuan dan resmi. Saya hanya punya pengalaman di kampus yang dosen-dosennya dipanggil dengan ‘Mas’, ‘Bang’, atau ‘Mbak’ dan dosen-mahasiswa bisa ngobrol ‘lo-gue’ atau ‘kamu-saya’ mengikuti kebiasaan dosennya. Kalo dosennya gaul abis, kadang ketemu juga yang gak mau dipanggil pake embel-embel. Jadi langsung nama aja, misalnya; sebut saja dia Bunga.

Kalo saya harus masuk ngebahas kesantunan dosen-mahasiswa, saya pikir standarnya tergantung dari kebiasaan kampus dan dosen yang bersangkutan. Makanya untuk kasus ini, ada yang gagal paham (salah satunya saya) kenapa panggilan ‘Anda’ kemudian menimbulkan masalah. Kalo emang harus ada masalah, yang akan saya permasalahkan adalah EYD yang hancur lebur jadi debu. Padahal kan, mahasiswa yah? Biasa nulis jurnal kan, yah? Nulis paper udah kayak saya nyambel kan, yah–nyaris tiap hari? Jadi tau, dong:

‘Anda’ (dengan A kapital) bukan ‘anda’.

‘Di mana (dipisah karena ‘di’-nya kata depan, bukan imbuhan) bukan ‘dimana’.

Nama orang depannya kapital, Qaqaaa! ‘Susi Simelekete’ bukan ‘susi simelekete’.

‘Silakan’ bukan ‘silahkan’.

*menyeringai* *kunyah sirih*

Tapi mungkin ada hal yang lebih kompleks di sana. Misalnya aja waktu mahasiswa nge-SMS. Kalo dese nge-SMS jam dua malem, yah sekalian sih dimandiin pake kembang tujuh rupa dan aer dari tujuh sumur biar insyaf. :D

Beberapa tahun lalu, saya baca bukunya Malcolm Gladwell dan lupa yang mana. Pokoknya itu cerita tentang kecelakaan pesawat dan kekakuan komunikasi di kokpit. Jadi si pilot dan co-pilot ini dua orang yang beda budaya; satu timur, satu barat. Waktu ada emergency, co-pilot berusaha untuk tetap berkomunikasi dengan bersopan-sopan padahal pesawat udah menukik ke bawah dan beberapa waktu lagi mau jatoh. Jadi sejak itu ada keharusan untuk penggunaan Bahasa Inggris di kokpit biar sama ekspektasinya. Biar lancar komunikasinya. (Saya gak yakin cerita ini saya ceritakan lagi dengan benar karena kata Tuan Sinung yang juga baca bukunya, dua pilot ini dua-duanya orang Korea dan bicara dalam bahasa Korea yang sangat sopan.)

Betewe, Tuan Sinung baru pulang sholat Jum’at dan dia menambahkan begini, “Kalo di sini, udah dikasih tau pas di orientasi mahasiswa baru kalo manggil dosen itu pake rumus: Doctor + last name. Jadi kalo dosen kamu namanya Amin Rois Sinung Nugroho dan dia punya gelar Doctor (aamiin …), panggilan resmi di kampus jadi: Doctor Nugroho. Kalo ngobrol yaaa … pake ‘you’ karena adanya cuma itu. Panggilan berkasta cuma ada di Keraton Inggris; Your Majesty, Your Royal Highness, Her Majesty Secret Service, atau Her Majesty Naval Army.”

“Kalo lo rakyat jelita di Westeros, manggil Raja atau Ratu juga ada aturannya. Keraton Westeros ini punya aturannya sendiri. Misalnya, lo gak bisa manggil si Jupri sembarangan. Harus begini, nih: His Grace, Joffrey of the Houses Baratheon and Lannister, the First of His Name, King of the Andals and the First Men, Lord of the Seven Kingdoms, and Protector of the Realm.”

Doi menambahkan lagi, “Seharusnya memang mahasiswa emang menghormati dosennya sesuai dengan adat-istiadat di kampus yang bersangkutan. Kalo di kampus sini, karena masuknya professional relationship, yaaa … harus resmi. Pembimbingan dijadwal lewat email karena ponsel itu sangat personal. Kalo gak deket banget, ya jangan menghubungi lewat telepon dan SMS. Jadwal pembimbingan dan lokasi udah fix selama satu semester. Dosen sudah meluangkan waktu, jadi hargailah.  Gak ada penjadwalan ulang kecuali ada hal penting yang gak bisa dihindarkan. Kalo telat harus bilang beberapa jam sebelumnya. Waktu sangat dihargai di sini.”

Begitu juga dengan adanya Bahasa Indonesia yang asalnya dari Bahasa Melayu yang dulunya adalah bahasa pedagang. Bahasa Melayu dipilih bukan tanpa alasan, tapi karena gak ada kasta dalam bahasa. Hal ini juga untuk menghindari perbedaan ekspektasi. Masalah ternyata unsur kesopanan, keramahan, dan kesantunan dimasukkan ke bahasa, itu memang udah gak terhindarkan lagi karena kata dan kalimat itu rumit dan kompleks. Komunikasi bukan hanya dengan siapa, tapi juga bagaimana. Bahasa lo boleh sopan dan bagus, cara lo ngomongnya sopan dan bagus juga kagak? Dan sekarang ini, ada perbedaan antara komunikasi digital dan analog juga. Walaupun udah ada emoji buat menjembataninya, tapi tetep aja yeee, bok, senyum manis lo gak bisa digantikan seribu emoji kayak gini –> :cutesmile: #eaaa

Jadi … inti dari nyinyiran saya siang ini adalah; kalo lo ngobs sama orang yeee, bok, itu ada yang namanya text, context, dan subtext. Lo sadar atau gak. Text dan context bisa lah ya, berusaha disamakan. Yang subtext … itu udah urusan lain lagi.

Kalo kamu ketemu orang baru, kenalan, dan bingung gimana mau manggil dese, ya nanya aja, “Saya manggilnya siapa, ya?” Saya suka nanya gini sama sodara-sodara jauh yang saya gak tau manggilnya apa dalam adat Minang. Daripada salah.

Jangan sampai salah komunikasi. Udah cukup si komunikasi ini disalah-salahin waktu ada artes cerai dan diwawancara di infotaiment. *mulai ngelantur*

Udah gitu aja. Saya mau ke perpus.

*fade out*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)