#550: Bike Trail

Dibaca 185 kali

IMG_6127 copy

Sebulan–atau mungkin dua bulan–yang lalu, Tuan Sinung bertanya, “What will you miss the most if we have to come back to Indonesia?”

Saya berpikir … lama. Saya suka tempat ini. Sedikit mengherankan memang, entah mengapa kami selalu saja pindah dari satu tempat ke tempat yang lain tapi bukan kota besar. Saya memang sempat tinggal di Jakarta, tapi di tepiannya; di perbatasan Jakarta, Depok, dan Jawa Barat. Masuknya bukan kota, tapi kampung. Di mana sewaktu saya SD, masih ada sawah di sana. Kemudian kami pindah ke Selayar. Pulau yang bahkan tidak pernah saya dengar namanya sebelumnya–dan kemudian acara kontes dangdut di salah satu stasiun televisi memenangkan peserta dari pulau ini. Setelah itu, kalau saya bercerita tentang Selayar, mulai ada beberapa orang yang menimpali dengan, “Oh, itu yang asalnya Aty D’Academy, ya?” :D

Pindah ke Amerika sini, jangan bayangkan saya tinggal di tempat seperti New York atau Seattle. Jangan bayangkan saya ke mana-mana naik subway atau sedang berjalan di kaki gedung pencakar langit. Amerika sama juga seperti Indonesia. Banyak tempat yang masih bisa disebut ‘kampung’. Salah satunya, tempat saya tinggal sekarang ini; Fayetteville, Arkansas. Tapi, jangan bayangkan juga Kampung Fayetteville ini sama seperti kampung di Indonesia, misalnya Selayar. Walaupun kampung, tetap saja kota ini punya fasilitas minimal yang biasa ada di Amerika.

Mall adaaa … tapi yah, di Jakarta yang mall-nya bertebaran di mana-mana dan mewahnya luar biasa aja, saya jarang banget nge-mall. Salah satu alasannya memang karena gak punya duit, sih. Hahahaaa…. Tapi alasan yang lain; saya emang gak emotionally attached sama mall. Ada pusat perbelanjaan yang punya banyak kenangan; PGC. Tapi itu pun bukan kenangan saya belanja di sana. Tanah Abang lebih punya kenangan kuat tentang urusan belanja ini. Karena di tahun-tahun saya tinggal di Jakarta, saya suka mampir di pinggiran PGC untuk makan soto, beli donat, beli es krim di McD (yang dulu harganya masih Rp1.400,-), dan di sebelahnya ada terminal tempat saya menunggu angkot. PGC jadi tempat yang kenangannya kuat menancap di kepala saya.

Karena perasaan terhubung dengan sesuatu–termasuk tempat–itu penting buat saya, mungkin itu pula yang membuat saya gak terlalu suka jalan-jalan. Saya mau pergi ke suatu tempat, tapi bukan hanya untuk sekedar melihat dan menandai sebagai tempat yang pernah didatangi. Ini pula yang membuat pertanyaan semacam, “Udah berapa state di Amerika sini yang kamu datangi?” membuat saya berpikir–bukan berpikir atau menghitung banyaknya–tapi memikirkan pertanyaan lain, “Kenapa?”

Memang bisa sih, mempertimbangan alasan, “Yah, kan, mumpung di Amerika.” Iya, saya setuju itu. Tapi kalau kemudian saya bicara tentang keinginan saya untuk terhubung dengan tempat yang saya kunjungi, rasanya jawaban saya akan kedengaran seperti setengah menceracau dan setengah mengigau. :D Tapi lagi, itu pendapat saya sendiri. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa saya punya pendapat berbeda tanpa ingin mengundang debat karena daripada berdebat, lebih baik menabung untuk beli tiket untuk sampai ke tempat lain yang saya inginkan dan–mungkin–akan saya sukai. :cutesmile:

Saya pernah ke Bali–karena memang dapat tiket dan hotel gratis. Yang saya pikirkan ketika akan pergi ke sana; bagaimana Bali ini akan memberikan kenangan buat saya. Bukan hanya sekedar datang. Saya ingin menghirup udaranya, merasakan airnya, melihat langitnya, berjalan di tanahnya. Saya ingin emotionally attached dengan tempat itu. Dan itu terjadi. Menurut analisa saya, itu bukan karena Bali itu memang indah aja, tapi karena dia juga punya sesuatu yang bakalan membuat kamu selalu ingat–saya gak tau apa. Mungkin bisa diumpamakan ketika kamu bertemu dengan orang baru dan orang ini punya pesona, aura, cara bicara, gesture, bahan pembicaraan, dan lainnya yang membuat bisa membuat kamu berkedip pun enggan di dekatnya. Itu pula yang membuat banyak orang selalu ingin kembali ke sana.

Seperti ketika Tuan Sinung bilang, “Let’s go to Seattle someday.” 

Saya bertanya balik, “Why Seattle? Why not New York? Boston? Chicago?”

Dia menjawab, “You’re easily attached with sea and glommy sky. You’ll love that city.”

Yang kemudian membuat kenapa saya–ketika menulis ini–merasa masuk akal ketika saya lebih tertarik pada satu-dua orang yang benar-benar bisa membuat saya sedikit-banyak jatuh hati dibanding harus mengenal begitu banyak orang tapi di akhir hari, saya hanya bisa mengeluhkan penatnya.

Sampai di sini, Fayetteville ini belum membuat saya jatuh cinta. Sampai ketika–akhirnya–saya bisa naik sepeda.

* * *

sepeda

Saya pernah belajar naik sepeda di Selayar. Tapi gak sampai benar-benar lancar. Ketika ada kesempatan–dan juga pinjaman sepeda–di sini, saya pun menyambung latihan saya yang tertunda. Perlu waktu sebulan lebih untuk akhirnya saya bisa bersepeda tanpa harus menarik rem setiap sebentar, untuk gak berhenti di tikungan, dan untuk gak berteriak grogi setiap kali berpapasan dengan sepeda lain. :D

Beberapa waktu belakangan, saya sudah lancar walaupun belum berani ngebut. Tapi saya sudah bisa bersepeda sendiri tanpa harus ditemani Tuan Sinung. Di hari pertama saya bersepeda sendiri, ketika saya mulai melupakan untuk tetap menjaga keseimbangan–karena untuk urusan ini, akhirnya saya paham, kalau semakin dipikirkan, semakin sulit keseimbangan itu dijaga–dan saya mulai berani untuk mengarahkan pandangan ke kanan-kiri … saya melihat kalau bike trail ini membuat saya jatuh cinta. Sungguh.

Sesuai dengan namanya, jalur ini hanya dilintasi cyclist (itu istilah yang dipakai untuk pengendara sepeda) dan pejalan kaki. Dibuat agak jauh dari jalan raya. Ada beberapa titik bike trail ini yang memang bersilangan dengan jalan raya, tapi tetap ada lampu merah dan–seperti kebiasaan di sini–pejalan kaki adalah raja di jalanan, berikutnya; cyclist. Kalau saya ingin menyeberang jalan di zebra cross, bukan saya yang berhenti menunggu mobil melintas, tapi kebalikannya; mobil berhenti menunggu saya melintas. Tapi ini selama gak ada alat yang membuat semuanya jadi lebih fair; lampu merah. :D Awalnya saya masih merasa aneh dengan kebiasaan ini dan sering terjadi akhirnya saya dan mobil sama-sama berhenti, sama-sama menunggu yang lain jalan duluan. Begitu juga ketika saya bersepeda, ketika saya menyeberang jalan raya, kalau gak ada lampu merah, saya cuma perlu berhenti sebentar untuk memastikan mobil-mobil yang lewat melihat saya dan kemudian menunggu mereka semua berhenti.

sepeda-3

Setiap beberapa mil, akan ada tempat peristirahatan untuk para cyclists. Biasanya ada tempat duduk, pancuran minum, tempat mengisi botol air, dan tempat meletakkan sepeda. Foto di atas itu adalah tempat istirahat yang jaraknya sekitar 1 mil dari apartemen saya.

Ketika saya mulai bisa melupakan bagaimana harusnya mengendalikan sepeda dan mengayuh begitu saja, saya mulai menyadari kalau ada sungai kecil yang ada di sepanjang bike trail, ada bunga-bunga yang kadang tercium wanginya, dan ada pohon-pohon besar yang menjulang. Dua sampai tiga kali seminggu, setelah semua pekerjaan rumah selesai, saya mengambil sepeda dan mengayuh setidaknya sampai 2 mil sebelum kembali lagi. Saya lebih memilih sore hari karena pemandangannya luar biasa.

IMG_6155 copy

Setiap kali pulang bersepeda, walaupun capek, saya merasa pikiran lebih tenang, badan lebih enak, dan yang paling penting; mood saya jadi lebih baik.

Kemarin, saya bilang sama Tuan Sinung, “Bike trail!”

“Apaan bike trail?” tanyanya bingung.

“Dulu lo kan tanya, ‘What will you miss the most if we have to come back to Indonesia?’ I can answer it now. Bike trail.

* * *

Udah lama gak nulis, kaku semua ototnya. Maafkan kayak begini tulisannya. Hiks. :cry:

9 Comments

  1. Ikan Hias
    Jun 13, 2016

    Wah kalo ada sepada bagus kayak gini, bisa2 dilirik begal hehehe

  2. anofchan
    Jun 3, 2016

    Kalo di Jakarta sepedaannya masih lancar ga yaa? hehehe, secara jalanannya semrawut banget.

  3. warm
    Jun 3, 2016

    komen saya barusan manna :cry:

  4. warm
    Jun 3, 2016

    kalo kangen bersepeda, datanglah ke Jogja nyonya hehehe

    Dan saya jatuh cinta sama sepeda merah deket bangku taman itu, keren kayaknya, sedangkan sepeda bernuansa ungu bernama Magna itu, setangnya agak janggal dan sedikit salah arahnya, coba dibenerin dikit, dijamin bakal lebih nyaman ngegowesnya ehehehe

    • Octaviani Nurhasanah
      Jun 6, 2016

      Sesungguhnya, Mas Warm, saya gak ngerti masalah teknis sepeda. Sepeda yang merah, itu boleh pinjem tetangga. Yang ungu, boleh dikasih. Dari awal dikasih, stangnya udah kayak gitu. Plus stangnya itu gak pas di tengah. Saya gak ngerti mau diapain itu…. :cry:

  5. Rosa
    Jun 2, 2016

    Iya, saya nunggu2 mbak octa nulis lagi

Trackbacks/Pingbacks

  1. #554: Nyeritain Apartemen|Octaviani Nurhasanah - […] court juga–yang bikin saya nyesel; kenapa saya nggak bisa main tenis. Di belakangnya ada bike trail yang sangat saya …

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)