#552: Sekolah di Luar Negeri; Semacam Tips Hidup dan Curhat dari Bini Rewel

Dibaca 351 kali

IMG_7552 copy

Iya, saya emang bini yang rewel. Saya gak malu mengakui itu soalnya itu yang paling disuka si Tuan dari saya. Hahahaaa…. *kepedean*

Beberapa kali saya diminta untuk menulis pengalaman hidup di luar negeri. Tapi bukan yang sekedar cuma curhatan tentang kisah panjang saya sampai akhirnya saya bisa naik sepeda atau resep. Boleh deh, resep. Tapi–ada tapinya–resep masakan Indonesia tradisional yang dibuat dengan bahan-bahan yang ada di sana. Entah kenapa saya nggak nulis-nulis. Biasanya saya suka nulis kalau ada hal yang menyentuh atau gimanaaa … gitu. Apa Amerika kurang menyentuh, ya?

Sekarang saya nulis, deh. Tips hidup di luar negeri dari kacamata istri mahasiswa. Maafkan kalau tips ini berlumur curhat. Yah, namanya juga cewek. :D

1. Buat ekspektasi realistis sebelum berangkat. 

Buat saya ini penting karena saya sangat realistis. Ekspektasi berlebihan tentang tempat baru yang mau ditinggali itu kadang cuma membuat kamu bakalan sedih nantinya. Jangan pula melihat tempat yang mau kamu tinggali itu dengan nge-search foto traveling di Google karena yang namanya foto model begitu, sungguh, bisa bikin ekspektasi berlebihan. Pernah ke Kota Tua, kan? Pernah liat foto traveling Kota Tua? Kamu pasti paham maksud saya. Foto traveling Kota Tua nggak menggembarkan betapa padatnya kereta ke sana, panasnya, lelahnya, dan lain-lain yang nggak bisa ‘dimasukkan’ ke sebuah foto.

Pahamilah bahwa di setiap tempat ada perjuangan dan ada privilege-nya. Saya bilang begini ke semua orang yang nanya tentang Selayar. Itu kota di pulau terpencil tapi tetap bisa dicintai. Saya juga akan berkata begini tentang Fayetteville yang mungkin lebih mudah dicintai tapi di antara keduanya, saya nggak bisa memilih mana yang lebih saya suka.

Selain ekspektasi tentang tempat tinggal dan apa yang bisa kamu lakukan di sana, buat pula ekspektasi realistis tentang bagaimana kamu akan hidup di sana. Jangan bentar-bentar menangisi makanan Indonesia yang susah didapat dan bentar-bentar kangen sama street food-nya Indonesia. Belajarlah makan makanan setempat atau masak sendiri makanan yang kamu suka. Saya picky eater, tapi saya percaya di setiap tempat, selalu ada makanan yang bisa dipilih. Membandingkan keadaan negara asal dengan negara tempat kamu tinggal sementara cuma bakalan bikin kamu nggak bahagia.

Octaviani_Nur_Hasanah___octanh__•_Instagram_photos_and_videosBang Kumis, maaf aku berusaha melupakanmu selama aku pergi, Bang…. 

2. Jangan nyusuh!

Di kampung halaman, bolehlah kamu nyusuh. Apalagi kalau kamu sudah punya rumah sendiri. Kamu tahu ‘nyusuh’, kan? Hmmm…. Kamu tahu burung, kan? Pernah liat sarang burung? Burung-burung itu suka membawa barang-barang nggak penting yang dia temui untuk dikumpulkan di sarangnya sehingga sarangnya makin lama makin besar. Itu namanya nyusuh.

Nyusuh itu memang indah. Beli barang ini-itu yang pas beli kayaknyaaa … bakalan kepakai. Tapi nyatanya, cuma jadi koleksi. Setiap barang perlu diurus dan memakan tempat. Kamu perlu ingat itu. Masalahnya bukan ketika beli; tapi ketika kamu harus pindah. Waktu kamu packing untuk pulang nanti, kamu bakalan terkejut sendiri, betapa banyaknya barang yang kamu punya dan selama ini kamu simpan hanya untuk keperluan disimpan. Saya juga mengerti godaan besar untuk beli sepatu lebih dari dua puluh pasang dan tas lebih dari tujuh puluh buah–terutama kalau mereknya dijual lebih murah di negara tempat kamu menetap sementara dibanding di Indonesia. Kamu harus ingat kalau packing bukan hanya tentang jumlah berapa kilo barang yang kamu mau bawa pulang, tapi juga berapa banyak barang yang mesti kamu bereskan dan ini belum tentang berapa banyak yang harus kamu buang karena nggak ada yang mau lungsuran dari kamu.

Tips dari saya; kalau godaan belanja itu terlalu kuat, ingat lagi tujuan kamu datang. Kalau untuk si Tuan, tentu untuk belajar. Sehingga dia harus ingat kalau keberhasilan dia akan dilihat dari seberapa baik kualitas belajarnya nanti; apa dia lulus dengan nilai yang baik, prestasinya di kampus gimana, dan sebagainya. Sementara untuk saya, istri yang menemani, tujuan saya datang untuk menemani si Tuan belajar. Mengambil alih tugas-tugas lain yang bisa saya kerjakan sehingga si Tuan bisa lebih fokus belajar. Keberhasilan saya; kalau si Tuan hasil belajarnya baik. Bukan dari seberapa jauh saya jalan-jalan, seberapa banyak oleh-oleh, atau seberapa lusin tas yang saya beli. Memang buat tukang belanja kayak saya, ini sulit. Tapi keadaan ini kan, sementara saja.

Beli barang keperluan rumah tangga secukupnya saja. Kalau ada lungsuran, manfaatkan sebaik-baiknya. Kalau barangnya cukup spesifik dan kamu perlu kualitas tententu, beli tapi camkan bahwa barang itu harus bermanfaat. Barang seperti ini, buat saya contohnya; mixer. Saya perlu mixer tapi nggak bisa yang abal-abal. Saya perlu spesifikasi tertentu. Saya nggak bisa hidup nggak punya mixer karena buat saya, baking itu sama pentingnya dengan cooking. Jadi saya beli. Cukup mahal, tapi worth it karena saya jadi nggak terlalu banyak jajan di luar.

Pertimbangkan juga bahwa nggak semua barang yang kamu punya bisa dibawa pulang. Sebagian bisa diberikan ke orang lain waktu kamu pulang nanti, sebagian dijual, dan sebagian lagi–walaupun saya masih denial juga tentang ini–harus dibuang. Dan kalau seandainya kamu harus memberikan barang bekasan kamu ke orang lain, hal pertama yang mesti kamu pastikan; yang mau kamu kasih itu memang butuh. Jangan maksa ngasih karena hanya kamu males ngurus, males ngebuang, atau males ngejual. Karena buat saya sih, barang-barang itu juga beban. Kayaknya saya udah nulis di atas ya? Tiap barang perlu diurus. Jadi jangan sampai ada barang yang tugasnya bukan untuk mendukung hidup kita tapi malah jadi beban hidup buat kita. Barang-barang bekas yang mau kamu kasih ke orang ini juga harus kamu seleksi. Nggak main kasih aja. Pastikan barang itu masih berfungsi, bermanfaat untuk yang menerima, dan kondisinya masih baik.

Pokoknya setiap kali kamu beli barang, ingat; kamu harus ngurus barang itu nanti ketika kamu harus pulang. Entah itu kamu packing dan dibawa pulang, dibuang, diberikan ke orang lain, atau dijual. Jadi pikirkan.

3. Berteman lah … selama nggak menjadi beban.

Ini hal baru buat saya karena selama ini saya memang agak susah dekat dengan orang lain. Bukan karena saya sombong, tapi karena waktu dan pikiran saya sudah habis untuk urusan anak, sepupu, dan saudara yang jumlahnya sekampung. :D

Berteman itu seharusnya menyenangkan. Kalau kamu bertemu dengan orang-orang baru, sesama orang Indonesia atau orang dari negara lain, berteman lah. Tapi kalau pertemanan itu kemudian jadi sesuatu yang membuat hidup kamu jadi sulit, review lagi hubungan kamu itu. Karena kamu hanya akan tinggal di sana sementara dan seharusnya di waktu yang sebentar itu, lebih banyak hal indah yang diingat dibanding hal yang nggak baik.

Sependek pengamatan saya, di mana-mana yang namanya manusia sama aja. Saya pernah punya ekspektasi bahwa kalau berteman dengan orang-orang dengan tingkat pendidikan tertentu akan lebih menyenangkan dibanding berteman dengan orang-orang kampung, orang-orang biasa saja. Ternyata ini salah. Tiap orang punya kegelisahannya sendiri, masalahnya sendiri. Kegelisahan dan masalah ini nggak memandang tingkatan hidup orangnya. Dan kalau kamu berteman dekat dengan orang lain, kamu harus ingat, kamu bukan berteman dengan orangnya saja, tapi dengan kebahagiaan dan masalahnya. Kalau kamu nggak siap, yaaa … jangan terlalu dekat. Walaupun sebaik-baik manusia itu yang bermanfaat bagi orang lain, kamu juga harus mengukur seberapa kuat dirimu sendiri. Kalau urusan diri sendiri belum selesai, urus dulu, selesaikan dulu, baru urus yang lain. Selama nggak bisa ngasih manfaat, jangan sampai ngasih masalah. Begitulah. :D

4. Cukupkan.

Ini masalah stipend dan biaya hidup. Saya akui kalau saya dan Tuan Sinung bukan tipe yang mau sengsara menabung. :D Walaupun saya membeli sesuatu dengan pertimbangan perlu atau tidak, bermanfaat atau tidak, tapi ada kalanya saya membeli sesuatu karena pertimbangan lain. Misalnya; saya nggak mau beli laptop murah tapi setahun-dua tahun, rusak. Laptopnya cuma akan jadi beban. Untuk barang-barang standar, saya suka beli yang murah. Misalnya untuk garam dan gula; kalau merek keluaran Walmart sama manis dan asinnya, kenapa harus beli merek lebih mahal? Tapi hal yang sama nggak berlaku untuk tepung karena tepung keluaran Walmart rasanya jauh banget kalau dibandingkan dengan merek King Arthur. *bukan promosi*

Saya nggak mau juga berhemat makanan. Buat saya, makanan itu bagian dari kebahagiaan dan juga kesehatan. Dia yang bakalan jadi tenaga. Makanan juga mempengaruhi mood. Jadi, saya lebih memilih beli buah segar dan sayuran segar tapi masak sendiri semua cemilan walaupun harus mengeluarkan tenaga lebih banyak. Di kulkas saya selalu ada es krim dan buah karena si Tuan harus makan buah dan saya harus ketemu es krim tiap hari. :D Saya tahu kalau saya menghemat pengeluaran untuk makanan, saya bisa menabung. Tapi … tujuan si Tuan ke sini kan, untuk belajar. Stipend diberikan untuk mendukung proses belajar dia, bukan untuk ditabung dan dibawa pulang. Stipend yang ada, sebaik-baiknya saya–karena saya yang ngurus beginian–gunakan untuk kenyamanan belajar dia. Biar dia sehat, senang, dan bahagia. Kalau nanti ternyata memang ada sisa, itu urusan lain.

5. Enjoy!

Syukuri perjalanan kamu sampai sejauh ini. Seperti kata teman saya, Nurin; bukan karena sesuatu itu indah lantas kita bersyukur, tapi sesuatu itu akan indah kalau kita bersyukur. Kesyukurannya dulu, baru indahnya. :cutesmile:

Ingat juga bahwa semua ini sementara. Tapi balik lagi; apa sih, yang nggak sementara di dunia ini? *lalu mumet sendiri*

Selanjutnya, saya bisa ngasih tips pindahan kali, ya. :D Hari ini, segini dulu nulisnya. Udah 1.200-an kata soalnya. Sudah melebihi ‘aturan nggak baku’ ngeblog yang sebaiknya satu post 700 kata. :D *halesyaaaan* :D

3 Comments

  1. Risky_Pastiguna
    Nov 12, 2016

    Kalau boleh tahu apa sih motivasi mbak sehingga bisa seperti itu?
    terima kasih mbak sangat menginspirasi…

  2. Nurin Ainistikmalia
    Jul 22, 2016

    6. Cari kosan. 7. Bertahan dengan musim 8. Ada gak ya tips bagaimana sebaiknya mengatur keluarga kalau kita dapat beasiswa yang tidak menanggung keluarga, baik mana, ldr sementara sepanjang masa kuliah atau maksa ikut saja dengan banyak konsekuensi

    • Octaviani Nurhasanah
      Jul 23, 2016

      Duh, banyak ya topiknya, ternyata…. :D Kalo tentang LDR, sungguh, itu urusannya ribeeet, Nurin. Yang terlibat bukan hanya pasangan, tapi juga keluarga. Perlu support soalnya.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)