#555: Relativitas Ingatan

Dibaca 134 kali

ng'kin

 

Beberapa hari yang lalu, di perjalanan dari menjemput anak-anak pulang sekolah, saya melewati bangunan SD saya dulu. Angkot yang saya naiki berhenti beberapa waktu di depannya karena ada penumpang yang turun. Saya melihat ke bangunan sekolah itu. Seingat saya … dulu bangunan itu tinggi, besar, angkuh, dan menyeramkan. Apalagi di waktu saya baru pindah ke sana di kelas 3. Tapi kemarin, ketika saya melihatnya lagi, bangunan itu tampak kecil–terlalu kecil, malah. Pagar di depannya tampak pendek, padahal di ingatan saya, pagarnya itu tinggi dan mengintimidasi. Apalagi kalo saya terlambat datang di hari Senin dan terpaksa menunggu upacara bendera selesai di depan pagar.

Mungkin ingatan saya menjadi berubah. Relatif terhadap tinggi badan saya? Mungkinkah?

Sewaktu saya kecil dan baru pindah ke rumah ini, saya mengingat ada jalan kecil menuju mushala yang di sebelahnya ada kebun besar. Sangat besar sampai-sampai saya dan teman-teman saya ketika itu mempercayai kalo bisa jadi di sana ada harimau. Saya lewat di jalan itu beberapa waktu lalu. Kebun itu masih ada, masih sama seperti dulu. Hanya saja, dia tidak besar sama sekali. Satu hektar pun rasanya nggak sampai. Apa ketika saya lewat di samping kebun ini dulu, badan saya masih kecil, tinggi saya masih semeter kotor, jadinya saya melihat kebun ini sebagai hamparan tanah luas yang mengerikan?

Saya juga mengingat tentang betapa sakitnya melahirkan anak kedua saya dulu karena rahim saya robek di bulan ke delapan. Ketuban pecah di dini hari bercampur darah. Sakitnya luar biasa. Saya ingat sakitnya sampai membuat pandangan saya jadi menghitam. Tapi kalo saya ingat-ingat lagi, sekarang ini, saya nggak bisa menggambarkan dengan tepat bagaimana sakitnya. Saya tahu itu sakit, tapi saya lupa sesakit apa. Pokoknya sakit banget dan nggak ada duanya. Waktu itu saya berpikir, mungkin yang sakitnya menyamai ini hanya ketika ajal dicabut. 

Apa ingatan saya mengabur sejalan waktu? Atau ingatan saya seperti ketika kita menghapus file di SSD laptop; ketika ingatan baru ditulis, ingatan lama jadi nggak begitu jelas lagi karena tertimpa ingatan baru? Karena nggak ada file yang benar-benar terhapus; file lama yang dihapus hanya ditandai available¬†lokasinya agar bisa ditimpa dengan file baru di atasnya. Atau sekarang ini, setelah lama waktu berlalu, banyak jenis rasa sakit lain yang saya rasakan–termasuk ketika saya melahirkan anak ketiga–rasa sakit yang dulu itu pun jadi punya pembanding dan menjadi relatif dengan rasa sakit yang lain? Karena saya sendiri nggak punya patokan jelas untuk mengukur rasa sakit. Saya hanya menbandingkan satu dan lainnya.

Sama ketika bangunan sekolah SD saya menjadi relatif besarnya karena saya melihat dengan tinggi badan yang berbeda. Begitu pula dengan jalanan dan kebun yang katanya ada harimaunya itu.

Saya ingat betapa dulu saya iri sekali dengan sepatu Dr. Martens yang dipakai teman-teman sekelas saya. Rasanya sepatu itu keceee … banget! Bulan lalu, ada diskon Dr. Martens di salah satu website belanja yang suka saya kunjungi. Tapi waktu saya melihat modelnya–yang mana masih sama dengan model yang dulu dipunyai teman-teman saya karena memang begitulah ciri khasnya–saya malah berpikir, kenapa ada sepatu semembosankan ini modelnya? :D Pendapat saya sekarang terhadap sepatu Dr. Martens itu jadi relatif terhadap banyaknya pengalaman saya melihat model-model sepatu yang lain. Mungkin juga selera saya berubah. Sekarang saya suka sepatu yang girly dengan warna-warna cerah.

Mungkin itu pula yang membuat ada ungkapan bahwa kasih sayang kita pada orangtua akan berubah setelah kita punya anak; kita jadi lebih menyayangi dan menghormati mereka karena kita sendiri sudah merasakan jadi orangtua.

Kalo saya merasa buku tertentu bagus banget, mungkin sekarang saya bisa membaca lebih banyak buku biar saya tahu bahwa bisa jadi, pendapat saya terhadap buku itu juga relatif terhadap buku lain. Atau, mungkin saya harus mencoba tinggal di banyak tempat biar tahu bahwa pendapat saya terhadap satu tempat itu relatif terhadap tempat lain. Kalo misalnya saya cuma tahu dua atau tiga kota sepanjang hidup saya, rasanya nggak adil untuk menghakimi salah satu kota itu nggak bagus atau nggak enak ditinggali.

Lalu, bagaimana dengan suami? *plaaak* :D

Ini cuma tulisan ringan di pagi hari sambil minum kopi dan makan kue setelah anak-anak berangkat sekolah. Jangan diambil hati. :D

4 Comments

  1. docomox
    Aug 9, 2016

    wow… sat membaca ini, saya jadi teringat kembali kejadia 3 tahun yang lalu kaka :3 salam kenal juga kak ^^ :cutesmile:

  2. xeno
    Jul 26, 2016

    Well, rasa-rasanya perbedaan seperti itu lebih berat ke arah perspektif dan imajinasi (apalagi klo gedenya jadi penulis, imajinasi masa kecilnya pasti heboh banget). Klo gak percaya, cobalah berjongkok di depan bangunan lama yang dulu terasa tinggi, atau berbaring di jalan/lapangan yang dulu terasa panjang dan luas. Lamat-lamat setelah otak membiasakan diri dengan perspektif ruang dan jarak berdasarkan penglihatan, semua itu seakan-akan ‘kembali seperti semula’.

    Atau, klo gak mau dilihat orang dengan tatapan aneh ketika sedang berjongkok atau berbaring di tempat terbuka, coba saja tiduran di lantai sambil mengamati langit-langit rumah/kamar masa kecil. Jika tidak ada detil mencolok yang berubah, maka yakin akan mucul kata “masih sama seperti dulu” di dalam kepala, tanpa sadar merujuk dari perkspektif masa kecil. Aku menyebutnya efek rumah nenek, mana kala langit-langit pendopo selalu serasa tampak sama klo tiduran di atas panggung kecil tempat lesehannya :ngikik:

  3. ennykus
    Jul 25, 2016

    Qaqa cantiiikk…… Saya juga pas lulus kuliah, lewat bangunan SD saya juga berasa kuecil. Padahal dulu berasa gede banget. Halamannya bisa buat lari-larian. Eh, pas udah gede, rupanya buat beberapa langkah aja abis. Saya kira itu ulah alien yang telah memanipulasi memori. Saya yakin. :-x

  4. milo
    Jul 25, 2016

    Saya ngelewatin jalan Haji Yahya berasa makin sempit. Apa karna saya menggemuk??? :T.T:

    Selain mengabur, kadang kok curiga kalo ingatan saya kecampur sama imajinasi. Emosi tentang memori saya juga jangan2 banyak dipengaruhi imajinasi yang melebih-lebihkan kejadian yang saya alami. *malah numpang curhat*

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)