#557: Selalu Ada Tumpukan Buku dan Proyek yang Belum Selesai di Meja Makan

Dibaca 54 kali

IMG_7256 copyIni foto diambil di mana dan kapan, saya lupa….

Malam ini, di antara kopi yang belum habis, anak-anak yang berkeliaran–berisik dan membuat sulit konsentrasi, dan dua Beng-Beng yang masih saya pertimbangkan untuk dimakan sekarang atau nanti, saya mendengarkan podcast Elizabeth Gilbert tentang kreativitas dan ide; Magic Lessons. Karena saya mendengarkan sekelebat lalu, sambil membaca ebook di laptop, jadi saya gak bisa menceritakan ulang lebih detail. Tapi cerita ini–entah kenapa–ketinggalan di kepala saya. Jadi setelah saya mematikan laptop dan berniat tidur–yang mana sepertinya itu cuma rencana karena saya merencanakannya sekitar empat jam yang lalu, dan sekarang, menjelang jam satu dini hari, saya masih menulis post ini dan belum juga tidur–saya malah teringat cerita itu.

Saya lupa persisnya. Jadi konsep podcast ini semacam konsultasi gitu. Ada kreator yang punya masalah (atau tantangan mungkin, untuk lebih positifnya), terus dia nulis email, dan Liz Gilbert akan membahas di podcast-nya dengan mengundang satu kreator lain (yang lebih berpengalaman dan sudah punya nama, tentu aja) untuk ngasih nasehat. Di episod ini ceritanya tentang penulis yang bingung bagaimana membagi waktu antara anak-anak dan naskahnya. Trus Liz Gilbert menelepon teman penulisnya yang juga punya anak-anak–dan saya gak inget namanya siapa. Saya udah ngedengerin ulang beberapa episod dan gak nemu cerita ini. Jadi nanti kalo saya nemu, post ini akan saya edit biar lebih detail. :D

Si Penulis temennya Liz Gilbert ini juga punya ibu yang sama terkenalnya seperti dia dan dia mengingat masa kecilnya di mana keluarganya cuma punya satu meja di rumah yang cukup besar dan bisa dipakai untuk berbagai keperluan; meja makan. Di siang hari, di meja itu akan selalu ada tumpukan buku yang belum selesai dibaca dan tumpukan proyek lain (craft, ketikan naskah, dan lainnya) milik ibunya yang harus selalu dipindahkan ketika malam datang karena meja itu akan dipakai untuk makan malam. Ingatan tentang meja itu dan ibunya, membuat dia mencintai proses kreatifnya. Bukan tentang seberapa banyak karya yang jadi, yang akhirnya bisa diperlihatkan ke publik, tapi ibunya mengajarkan tentang joy in the process of making something. Ibunya selalu ada dalam fase itu; creating. Tidak pernah diam.

Kenangan itu kemudian membuat dia merasa–sewaktu dia masih kecil–bahwa dia bisa melakukan banyak hal untuk mengisi kebosanan. Banyak hal yang bisa dikerjakan. Hal itu juga yang dia lakukan kepada anak-anaknya; memperlihatkan bahwa banyak hal yang bisa dikerjakan. Dia ingat bahwa; the reason that I’m a creator because my mother is a creator.¬†Ibunya mencontohkan kreativitas. Anak-anak gak perlu ibu yang selalu menghibur mereka dan selalu ada. Mungkin hal seperti ini diperlukan ketika anak-anak itu kecil. Tapi ketika mereka sudah beranjak besar, mereka akan sesak dengan perhatian yang berlebihan. Dan ketika itu, Si Penulis ini mulai mengambil jarak beberapa jam sehari dan memperlihatkan sesuatu yang dulu ibunya perlihatkan padanya; creating something.¬†Bukan membuat sesuatu bersama, tapi mengerjakan proyeknya sendiri agar anak-anak bisa mulai belajar mengerjakan proyeknya sendiri pula dan menemukan sendiri apa yang ingin mereka buat dan ciptakan.

Si Penulis ini dan saudara perempuannya, keduanya penulis. Sama seperti ibunya. Dan dia yakin, itu bukan kebetulan.

Ceritanya membekas banget di saya. :cutesmile:

Trus saya baper…. Trus saya bangun lagi, ngambil Beng-Beng, dan mulai menulis post ini. :D

Sekarang saya galau; mau tidur apa gak. :cry:

2 Comments

  1. wida
    Aug 16, 2016

    Kalau aku sering baper kalau denger lagu mbak, gak tahu otak ni melayang-layang ke mana-mana ingatan masa lalu, kenangan di kampung dlsb. kadang saking galaunya malah jadi mewek2 gak bisa tidur . jadi sekarang menghindari hal-hal yang bikin baper sebelum tidur hehehe

    • Octaviani Nurhasanah
      Aug 23, 2016

      Kenangan masa lalu? Cieee…. *dikeplak* Aku kalo lagu, entah kenapa, bukan hanya membuat baper, tapi juga bisa buat nyeting mood. Misalnya aku mau sedih, ya aku denger lagu sedih. Cuma akhir-akhir ini aku lebih sering denger dangdut. Efek tinggal di kampung pas musim kawin, banyak banget panggung dangdut. :D

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)