#564: Ngomongin Karakter Fiksi

Dibaca 43 kali

the-merchants2

Ini proyek kolaps, eh, kolab yang baru aja akan dimulai. 

Satu hal tentang membaca fiksi yang akhir-akhir ini rutin saya lakukan adalah; mempelajari karakter. Katanya–kata penulis-penulis keren itu–karakter fiksi seharusnya ‘bulat’, ‘utuh’, multidimensi, dan enggak boleh Mary Sue/Gary Sue. Saya menemukan satu hal lagi–setidaknya–yang harus mereka punya; harus bisa disukai.

Kadang kita–karena saya termasuk di dalamnya–lupa bahwa cerita tidak hanya masalah plot. Atau sederhananya; kejadian-kejadian yang cool dan keren. Bukan juga hanya masalah ide-ide bagus dan yang tidak terpikir sebelumnya.

Sebelum ini, saya membaca novel yang idenya luar biasa keren, baru, dan saya suka. Sayangnya, saya enggak bisa suka sama karakternya. Kamu pernah enggak ngalamin ketemu orang yang kamu enggak suka. Misalnya yang ngomongnya kasar, atau attitude-nya buruk, atau yang pokoknya kamu enggak suka. Apapun yang dilakukan orang itu, mau dia menyelamatkan dunia sekali pun, kamu enggak akan peduli. Akibat berikutnya; kamu enggak peduli sama yang dia lakukan. Kebalikannya, kalau ada orang yang kamu suka, hal kecil yang dia lakukan pun akan jadi menarik.

Contoh karakter seperti ini, misalnya; Walter White di Breaking Bad. Ini karakter punya semua hal yang perlu dikasih asteriks dengan keterangan:

* don’t try this at home

Dia punya semua yang jelek, yang enggak patut ditiru. Tapi di awal, dia dibuat relevan dengan penonton. Siapa sih, yang enggak mau hidupnya yang penuh rutinitas berubah jadi penuh petualangan? Efeknya sangat besar karena kemudian, kamu–penonton–mendukung apapun yang dia lakukan. Bahkan berharap dia sukses di urusan jualan meth-nya. Yang mana, itu urusan buruk. Kamu–penonton–berharap dia jadi orang yang sukses menjadi produsen dan distributor drugs.

Sementara, ada karakter baik dengan segala kebaikan yang patut dicontoh tapi enggak meninggalkan apapun. Semua yang dia lakukan enggak menarik. Membaca apapun tentang dia, seperti membaca berita di portal online; skimming.

Sementara itu lagi, semua plot dan ide besar seolah hanya cerita tidak menarik di buku sejarah atau makalah penelitian kalau tidak ada karakter bagus yang mengeksekusi plot dan ide itu. Paling nyebelinnya; sudah karakternya enggak bisa diidentifikasi sejak awal, plot besarnya pun enggak bisa dipahami. Hancur jadi debu semuanya.

Saya bicara menurut pendapat saya sendiri sih, di sini. Walter White yang membuat penonton sangat bersimpati itu, kemudian enggak didukung banget juga sih, sebenarnya. Karena ketika di akhir musim Breaking Bad, penonton–yang perlu ditekankan bahwa semuanya mendukung–bahkan setuju kalau Walter White harus mendapatkan ganjaran dari perbuatan dia. Series itu pun ditutup dengan Walter White yang harus mati karena dia orang jahat yang jadi protagonis cerita. Jadi protagonis bisa jahat? Yaaa … bisa lah. Kenapa enggak? Protagonis dan antagonis itu bukan urusan karakternya baik atau enggak. :D

Balik ke urusan karakter utama yang harus bisa disukai, seharusnya, karakter utama itu terasa seperti sahabatnya pembaca. Sehingga ketika dia/mereka menceritakan masalah dan drama hidupnya, lalu melalui apa yang disebut (kalau di urusan struktur naratif) sebagai character’s arc, kamu/pembaca akan mau mengikuti dia/mereka. Seperti kalau kamu punya sahabat tapi melakukan hal-hal enggak baik sekali pun, kamu enggak bakalan meninggalkan mereka begitu aja, kan? Setidaknya, paling minimal, kamu bakal ngebilangin. Dan kalau kamu sukaaa … banget sama sahabat kamu ini, hal kecil yang dia ceritakan pun, akan terasa seolah penting dan menarik.

Sekarang agak belok sedikit. :D

Dengan penjelasan demikian, kamu ngerti, kan, kenapa di musim menjelang pemilu atau pilkada begini, ada pendukung yang keras mendukung calon tertentu. Alasan pertamanya sih, menurut saya, karena ‘relate’ dan mereka bisa mengindentifikasi diri mereka dengan calon itu. Seperti Tuan Sinung, misalnya, dia bisa ‘relate’ dengan calon yang berusaha menyederhanakan birokrasi karena dia sendiri tahu, betapa rumitnya birokrasi itu bukan hanya membuat hidup jadi ribet, tapi juga banyak waktu terbuang. Tapi dia lebih bisa mengidentifikasikan dirinya dengan calon yang punya pendidikan tertentu dan punya program ingin memajukan pendidikan karena dia merasa kalau itu hal yang penting. Untuk yang lebih dasar lagi, ‘relate’ tentang agama juga pokok.

Yang dilakukan juru kampanye calon-calon itu, seharusnya, menurut saya, yaaa … berusaha agar calonnya bisa diidentifikasi lebih banyak orang. ‘Relate’ dengan banyak orang. Imejnya diperbaiki sampai golongan paling bawah pun, kalau tidak bisa ‘relate’, minimal simpati. Bukan kah cara itu sudah berhasil dengan presiden kita sekarang ini? :D

Saya mau menambahkan lagi tentang Rosulullah. Beliau itu, dibuat relatable, loh. Hidup sederhana, kaya tapi ada masa di mana beliau kelaparan. Hal ini bisa ngebikin orang kaya dan orang miskin sama-sama bisa ‘relate’. Punya istri janda dan perawan. Punya anak dari istri yang satu dan enggak dari istri lain. Ada anak yang hidup, ada anak yang meninggal. Ada masa harus berperang, ada masa bisa bermanja di rumah. Semuanya menjadi mungkin dicontoh. Kalau seandainya beliau itu penguasa kaya yang tinggal di istana, sungguh, jelita, eh, jelata macam saya bisa mencontoh apa? Bisa ‘relate’ bagaimana? Ini belum lagi dengan tambahan Para Sahabat yang bisa di-‘relate’ juga.

Ceracau ini akan saya akhiri dengan; kalo penulis bisa membuat skema identifikasi yang baik, yang kemudian bisa membuat karakter protagonis jahat sekali pun bisa ‘relate’ dengan penonton, maka jangan heran kalau karakter seperti Walter White pun bisa ditangisi kematiannya dan disoraki ketika drug’s empire-nya jadi besar. Mungkin kalau dia mencalonkan jadi gubernur, penonton pun akan mendukung. :D

(Maksud hati enggak mau politis, tapi yaaa … sudah lah. Karena pada akhirnya, kita semua ini tinggal cerita, Kak~) :D

1 Comment

  1. alligator sky
    Nov 5, 2016

    setuju banget sama yang tentang rasulullah

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)