#565: Hari Wisuda

Dibaca 175 kali

img_7558-copy

Foto di stadion kampus udah jadi tradisi, konon kabarnya demikian. 

Saya enggak banyak cerita tentang urusan sekolahnya Tuan Sinung, ya. Ini sebenernya porsi cerita yang sengaja disisakan biar si Tuan sendiri yang cerita nanti, di blognya. Sekalian dengan cerita pengalaman dia di kampus dan urusan beasiswa. Tapi dia sibuk terus, sih. Cuma ini kayaknya kata yang kurang tepat. Dia enggak sibuk yang lari-larian sana-sini, tugas kurang ini-kurang itu. Dia udah punya jadwal dan di jadwal itu jelas kegiatannya apa, di mana, dan kapan. Tidur pun dijadwal–karena tidur itu penting dan dia harus tetap fresh tiap hari. Di jadwal itu, sayangnya, enggak/belum ada pembagian waktu untuk nulis-nulis ringan atau sekalian ngeblog yang panjang.

Tapi saya mau cerita tentang hari itu; hari wisuda. Atau kalau di sana, namanya commencement day. Saya cerita karena ini hari yang–ternyata–biasa aja, buat saya dan juga buat si Tuan. Saya masih mengingat hari pertama anak-anak sekolah; gimana rasanya, gimana senengnya saya, gimana buat saya itu nyaris seperti memasuki era baru. Tapi hari wisuda si Tuan, mungkin karena saya dan si Tuan menyiapkan semuanya untuk jadi biasa-biasa saja, akhirnya memang jadi biasa-biasa saja.

Bukan enggak istimewa. Tapi dibanding dengan hampir dua tahun belajar di kampus itu, hari wisuda ini seperti kehilangan pesona. Dibandingkan dengan hari si Tuan thesis defense, hari wisuda ini enggak ada apa-apanya. Hari thesis defense itu kami bersulang sparkling water. Heheheee. :D

Sebulan sebelumnya, si Tuan dapat pembagian regalia (toga), yang dicoba sekali, lalu simpan tanpa dicuci. Semalam sebelumnya, toga itu baru dikeluarkan, dan kami baru belajar bagaimana cara memakainya karena bentuknya agak aneh. Saya ingat, hari itu, hari Sabtu. Jum’atnya, si Tuan masih ke kampus karena masih ada yang harus dikerjakan–paper related. Jum’at malam, saya dan si Tuan masih mengetik. Saya mengetik sampai pagi, si Tuan berhenti setelah tengah malam. Paginya saya dandan sejak jam setengah enam, si Tuan mandi, terus kami kedatangan Reza yang mau kasih tumpangan ke tempat wisuda di Bud Walton Arena, terus kami berangkat jam tujuh karena saya mau dapat spot bagus untuk foto.

Yang paling saya ingat tentang hari itu, malah orkestra yang mengiringi wisuda. Saya berulang kali bertepuk tangan di sepanjang permainan mereka menjelang acara dimulai. Lalu setelah itu, saya sibuk foto-foto. Setelah selesai, saya keluar dari arena, ketemu si Tuan, dan foto-foto lagi sampai tengah hari. Setelah itu, kami pulang jalan kaki, cerita ini-itu di jalan, dan sampai rumah langsung makan siang. Setelahnya, tidur siang. Besoknya kami malas-malasan seharian karena memang sudah dijadwal kalau hari itu ‘kosong’. Senin dia sudah balik ke lab, riset, dan mulai lagi cerita yang lebih dia suka; belajar dan riset. Membuat wisuda di hari Sabtu jadi enggak ada apa-apanya.

Saya menelepon si Tuan pagi ini, bertanya apa dia masih ingat hari wisudanya. Dia bilang kalau dia udah enggak terlalu inget juga. Yang lebih dia ingat; pertama kali bertemu pembimbing (yang di saat itu dia telat karena masih nyari kantornya di mana). Hari di mana ada dosen tamu yang luar biasa ngasih materinya karena beliau suka diorder sama FBI untuk recovery data kriminal di ponsel atau laptop/harddisk. Orang di kampusnya enggak tahu kalau dia punya ruang rahasia di labnya. Cerita dosen tamu ini masih jadi bahan omongan sampai dua hari lamanya–sampai saya bosan.

Yang paling menarik adalah belajarnya, katanya.

Sotoy, kata saya.

Bukannya enggak bersyukur sih. Mungkin juga karena sedikit sedih karena (awalnya) dia pikir itu akan jadi hari terakhir dia ke kampus. Tapi setelah sekitar sepuluh hari sebelumnya dia dikabari kalau dia dapat funding untuk Ph.D., itu ngebikin dia lebih excited buat kembali belajar. Karena itu juga saya menulis tentang ini; karena dia sudah mulai lupa hari itu. :mewek:

Foto sih, banyak. Tapi kalau dilihat lagi, ya jadi sekedar foto aja. Enggak ada yang bisa dipamer-pamerin banget juga. Hal-hal lain di belakang foto itu, yang enggak bisa dipamerin, yang cuma bisa dirasain sama yang ngerjain, itu yang lebih menarik dan berkesan. Begitulah kata si Tuan. :D

6 Comments

  1. Penulisngapak
    Nov 6, 2016

    Wisuda adalah awal waktu untuk berpisah dengan kawan-kawan dan sahabat #Hiksss

  2. yuzarsif
    Nov 5, 2016

    jadi ingat kenangan ketika saya wisuda 3 tahun lalu.

    rasanya waktu begitu cepat, dan teman-teman sudah berpencar mengejar mimpinya masing-masing.

    sungguh momen tak terlupakan.

  3. bagiinfo
    Nov 5, 2016

    Yang pasti hari wisuda adalah hari yang paling di tunggu-tunggu hehehe
    secara kita udah susah payah ngerjain skripsi dan akhirnya bisa wisuda itu plonggg banget ya hehe

  4. davin
    Nov 5, 2016

    selamat buat pa octa….

    boleh minta saran ga supaya skripsiku bisa cepat di terima ? :cutesmile:

  5. milo
    Oct 31, 2016

    Yaaah, hari thesis defense mah emang jauuuuh lebih “berkesan” dibanding wisuda :lol:

    Semoga Pak Octa lancar kuliahnya :cutesmile:

  6. Warm
    Oct 28, 2016

    Wahhh tuan Sinung mu kereeenn

    Smoga sukses Ph.D nya yaa

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)