#567: Tetaplah Berani

Dibaca 165 kali

hand

Aku lupa malam itu hari apa—mungkin Sabtu atau Minggu. Entahlah.

Kamu bercerita tentang tugas-tugas kuliahmu dan aku duduk di depanmu. Aku melihat layar laptop-ku. Aku tidak ingin melihatmu karena cukuplah mendengar suaramu. Kamu tertawa. Aku tidak. Tidak lucu.

Kita sudah sejauh ini, kataku malam itu. Aku juga sudah lupa, setelah atau sebelum kamu tertawa. Kita terbang separuh dunia untuk sampai di sini.

Kamu bertanya, apa aku ingin pulang.

Aku jawab, tidak.

Aku berkata, aku akan tetap di sini, menemanimu bergelut dengan waktu. Dengan kode-kode yang tidak pernah aku mengerti, yang kamu ketik di komputermu.

Ketika kamu bertemu denganku, tiga belas tahun lalu, kamu tahu kalau kepalaku lebih keras dari batu. Aku selalu saja menentang. Menantang. Kalau kemudian kamu aku seret masuk ke hidupku, itu bukan mauku. Kamu yang merelakan dirimu sendiri.

Kamu terpana pada gadis yang katamu, membaca lebih banyak dari orang manapun yang pernah kamu temui. Bicara tentang mimpi dengan cara yang membiusmu.

Yang kamu tidak tahu; dia membaca untuk melenyapkan dirinya sendiri. Lalu dia menulis untuk menemukannya kembali.

Kita sudah sejauh ini. Kita sudah bolak-balik bertanya seberapa kadar cinta yang harus ada agar kita tetap bisa bersama. Atau sebanyak apa malam yang harus dihabiskan untuk bicara. Seberapa lama waktu yang digunakan untuk melempar argumen dan bertengkar.

Oh, seandainya kamu tahu. Aku ingin jatuh cinta bukan denganmu. Aku ingin orang yang akan membalas setiap perkataanku. Yang bisa hilang kewarasannya ketika marah dan terlalu bernafsu untuk menaklukkan kematian—mungkin juga kehidupan. Tapi kamu tetap mencoba. Sudah aku katakan padamu kalau separuh waktu kita, mungkin akan dihabiskan untuk memahami bahwa kita terlalu berbeda.

Aku lupa malam itu. Mungkin Sabtu atau Minggu.

Aku marah ketika itu. Anehnya, sekarang aku sudah lupa, apa sebabnya. Kamu bilang kalau aku harus meredakannya. Suaramu lembut sekali—ingin menangis aku mendengarnya. Aku pun bertanya, dengan apa? Dan ada ribuan malam seperti itu.

Kita ini terlalu berani. Mengadu hidup dengan kesempatan dan melumurinya dengan kepahitan. Memecah hening malam dengan banyak do’a dan pengharapan.

Kita ini terlalu berani.

Dan kamu pun terlalu berani. Mengadu cintamu dengan aku yang bahkan tidak ingat hari itu, Sabtu atau Minggu. Ketika kamu bilang kalau kita selalu bisa mencoba. Kita selalu bisa bersama karena kita sudah memutuskan seperti itu.

Tapi aku ingat. Hari ini, Sabtu. Sudah sepuluh tahun kita bersama. Kita sudah mencoba.

Happy anniversary, Sayang.

Kalau kamu ingin tiga puluh atau empat puluh tahun lagi penuh dengan keras kepala, ketidakwarasan, amarah, dan kepahitan, aku mengundangmu. Aku juga akan pastikan, tahun-tahun itu akan berlalu dengan canda, tawa, dan banyak senja yang kita habiskan untuk mensyukuri cinta.

Tetaplah di sini. Tetaplah berani.

5 Comments

  1. Kado Unik
    Dec 1, 2016

    bener banget, harus kuat untuk menjalani sesuatu karena dgn begitu kita dapat tumbuh dengan layak..

  2. Info Magetan
    Nov 25, 2016

    Benar sekali, tetaplah berani walaupun sendiri, apalagi jomblo #eh hehehe

  3. Deweezz
    Nov 13, 2016

    Keren mbak.. like banget

  4. Satriabajahitam
    Nov 10, 2016

    Ma syaa ALlah.
    Ungkapan sayang yang berani! :D

    Renyah tulisannya, mbak, enak dibaca.
    Salam kenal. :)

  5. Warm
    Nov 10, 2016

    Lagi2, tulisanmu kali ini indah, indah sekali

    Lagi2 saya harus berterimakasih atas ini

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:| :twisted: :teror: :sniff: :siul: :roll: :oops: :nyucuk: :ngiler: :ngikik: :music: :mewek: :lol: :hohoho: :evil: :die: :cutesmile: :cry: :bored: :T.T: :D :?: :> :-x :-o :-P :-? :( 8-O 8)