Saya enggak pernah keberatan dengan film atau serial yang sadis, apapun istilahnya; gore, slasher, atau horror. Apapun. Bukan karena perut dan hati saya kuat. Bukan. Tapi lebih karena saya tahu kalau itu bohong-bohongan. Saya kuat nonton Dexter—sambil makan malam—maraton beberapa episod, tapi saya enggak kuat baca berita kriminal. Apalagi korbannya anak-anak.

“We’re gonna kill them so you can eat them. We’ve been Joel and Sheila since high school. I’m not gonna bail on you now.”

Saya tahu dan sadar ketika menonton film atau serial yang sadis, bahwa, saya sedang ditakut-takuti, dibuat jijik, dipancing agar bergidik. Masalahnya, itu enggak pernah terjadi.

Jauh di dalam kepala saya, saya tahu, ketika saya memilih judul tertentu dan saya tahu sinopsisnya, saya tahu ekspektasi saya, maka saya siap dengan apapun yang ada di layar. Tapi khusus untuk Santa Clarita Diet, saya enggak melihat sinopsisnya, enggak menonton trailernya, dan juga enggak mencoba mencari tahu apa yang akan saya lihat di sana.

Pengalaman dari menonton The OA bulan lalu (kapan-kapan saya bahas serial yang satu ini), yang tiba-tiba muncul di Netflix tanpa ada pengumuman apapun sebelumnya. Tengah malam, serial sepanjang delapan episod itu ada di sana, di halaman muka Netflix, dan tanpa sinopsis! Di Twitter sempat ribut tapi enggak lama karena kemudian mulai muncul beberapa tweets yang mengatakan kalau serial itu bagus. Saya pun menonton. Saya pun setuju kalau itu bagus—dengan banyak catatan tentu saja. Pengalaman itu kemudian membentuk kebiasaan menonton saya dari yang kepo sebelum menonton, menjadi memilih untuk ‘kosong’, dan menerima apapun yang ada di sana.

Balik ke urusan Santa Clarita Diet, saya menonton dengan ‘kosong’. Yang saya tahu; akan ada serial baru di Netflix dengan bintang Drew Barrymore dan ceritanya tentang—sepertinya tentang—kanibalisme. Saya masukkan serial itu ke daftar tontonan dan saya pun menunggu. Pekan lalu, saya maraton sepuluh episod selama dua hari dan … saya pun terobsesi. Bukan dengan urusan orang makan orangnya, tapi karena ada sesuatu di sana yang enggak—atau jarang—saya temukan di serial lain; strong and healthy relationship. Selama ini saya kebanyakan menonton serial atau film yang karakternya sakit jiwa. Sampai saya ada di satu titik di mana saya pernah bilang; could I ask for decent people on series? Is it too much to ask?

Tapi ini, ini … enggak! Karakter mereka, Sheila dan Joel Hammond, biasa saja, seperti keluarga menengah Amerika pada umumnya, dengan anak yang beranjak gadis dan juga biasa saja. Dengan tetangga yang juga biasa saja. Terlalu banyak hal biasa yang membuat serial ini jadi luar biasa buat saya.

Ah, mari kita bahas satu-satu.

Ide

Saya suka ide tentang orang makan orang, kanibalisme, zombie, the undead, dan apapun yang enggak akan saya temukan di dunia nyata. Karena itu, kan, intinya kegiatan menonton; melihat apa yang enggak ada—setidaknya buat saya. Tapi saya enggak suka The Walking Dead karena … entahlah. Saya juga enggak bisa jelaskan. Episod pertamanya enggak membuat saya terpesona dan jatuh cinta, jadi saya enggak mau berpayah melanjutkan ke episod selanjutnya. Tapi Santa Clarita Diet melakukan hal yang beda; dia menjerat saya sejak scene pertama.

Ya, saya akui … I’m a sucker for witty banters. Saya suka melihat dialog yang lucu tapi cerdas dari karakter yang ada di sana. Saya suka cerita romantis. Jadinya saya kepayang sama witty banters yang romantis. Ini yang saya temukan dari adegan awal serial ini. Tanpa banyak menunda, Sheila diceritakan sakit perut. Ini pun tanpa sebab—sampai akhir serial, enggak/belum ketahuan sebabnya.

Lalu dia muntah. Lalu dia mulai masuk ke petualangan yang membuat keluarga mereka jadi makin kompak. Ini bukan lagi urusan pertanyaan galau; apakah kita satu tim? Apa kita akan bersama? Apa kita saling mencintai? Apa kamu akan tetap mencintaiku walaupun aku makan orang. Sejak awal, Sheila dan Joel ada di halaman yang sama. Bahkan Nathan Fillion (Gary West) pun enggak bisa menggoyahkan cinta Sheila pada Joel.

“We’re gonna kill people, sweetheart,” kata Joel pada Sheila. “We’re gonna kill them so you can eat them. We’ve been Joel and Sheila since high school. I’m not gonna bail on you now.”

Setelah menonton berpuluh film dan serial tentang hubungan putus-nyambung, enggak dewasa, perselingkuhan, pengkhianatan, lalu melihat Sheila dan Joel, rasanya seperti menemukan satu pohon palem di padang gersang—dan dua ekor biri-biri sedang berteduh di bawahnya. (Oke, analogi biri-biri ini enggak nyambung. Jadi, lupakan.) Ide kadaluarsa tentang zombie menjadi baru dan menarik lagi buat saya. Ini memang masih tentang orang makan orang, tapi ini bukan tentang dunia yang mau kiamat, perjuangan bertahan hidup, atau tentang wabah; ini tentang cinta. Untuk ide, saya kasih poin:

Karakterisasi

Saya punya masalah dengan cerita yang—entah kenapa, kadang—enggak bisa saya identifikasi satu pun tokohnya. Saya juga punya masalah dengan gaya penceritaan tertentu yang bikin mood jadi buruk (misalnya Jessica Jones). Ini semua enggak ada di Santa Clarita Diet.

 

Bayangkan Lily dan Marshall di How I Met Your Mother. Lalu bayangkan Lily yang cute itu jadi zombie. Lalu bayangkan Marshall yang hopeless romantic itu mendukung Lily. Itulah yang terjadi. Ditambah dengan setting yang cantik; suburban California.

Adegan makan daging mentahnya tertolong dengan gaya Sheila yang imut dan biasa saja. Enggak yang menghapus darah ke wajah lalu makan dengan dua tangan sambil melotot-melotot aneh.

Di satu adegan, ketika Sheila dan Joel ingin mendatangi seseorang yang mau mereka bunuh, Joel mengingatkan Sheila untuk membawa snack (karena mereka bisa jadi akan lama di luar) dan Sheila membungkus beberapa potong jari di ziplock. Sheila menyimpan mayat di kulkas agar fresh dan membuat smoothies agar bisa diminum sambil jogging dengan teman-temannya. Di satu adegan lain, Sheila dan Joel sedang berburu manusia lain dengan cara berpura-pura membeli ganja. Tapi Joel terenyuh dengan cerita hidup si penjual ganja ini dan dia pun menggagalkan rencana yang sudah disusun. Hanya … karena … dia … terenyuh!

Ini memang masih tentang orang makan orang, tapi ini bukan tentang dunia yang mau kiamat, perjuangan bertahan hidup, atau tentang wabah; ini tentang cinta.

Satu adegan lain yang saya suka; ketika Sheila dan Joel berdebat tentang tutup kontainer plastik yang dipakai untuk membuang sisa mayat. Mereka saling menyalahkan karena tanpa tutupnya, kontainer itu jadi susah untuk dibawa dan isinya bisa jadi akan tumpah. Mereka memperdebatkan tutup plastik, bukan mayat di dalam kontainernya. Sambil membuang mayat dan menguburnya di tengah padang sepi, mereka lalu berdebat tentang rumah yang mereka harus jual—mereka berdua realtor.

Tentang tutup plastik itu, akhirnya Sheila menemukannya di episod berikutnya dan mereka berdebat lagi dan sampai pada kesimpulan bahwa memang kontainer plastik tanpa tutup itu enggak bagus performanya.

Sheila dan Joel yang manis dan baik membuat saya enggak bisa enggak suka sama mereka. Juga dengan anak mereka; Abby. Juga dengan anak tetangga sebelah yang geek dan jenius—yang harus ada untuk menjelaskan tentang The Undead dan apa yang terjadi pada Sheila—Eric.

Untuk karakterisasi, saya kasih:

Yang saya enggak suka, apa yaaa….

Oh, saya enggak suka dengan lelucon dengan inti yang sama diulang lebih dari dua kali. Iya, saya tahu Sheila makan orang. Dia harus membunuh. Joel membantunya membunuh. Tapi, kalau berkali-kali dijadikan lelucon … garing juga. Saya juga enggak suka dengan ending-nya yang menggantung—alamat bakalan ada season dua.

Untuk yang suka nonton serial atau film zombie, Santa Clarita Diet saya rekomendasikan. Juga untuk yang sudah terlalu banyak nonton komedi romantis tentang kegalauan perasaan, resah berkepanjangan, dan putus-nyambung hubungan. Atau yang ingin melihat akting Drew Barrymore yang natural banget. Juga untuk yang ingin melihat good marriage relationship; strong to the core, nice partnership, and reliable confidants.

Saya menonton dengan si patjar sambil berbisik di telinganya, “That’s what I want in our relationship. About eating other people for dinner, we can go to buy some nasi goreng or mie tek-tek instead.”

Untuk keseluruhan, saya kasih skor: