Penulis: Kate diCamillo
Penerjemah: Diniarty Pandia
Tebal: 275 halaman paperback
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama 2005
Harga: Errr … lupa.

Ini kisah tentang Despereaux Tilling, tikus kastil yang jatuh cinta pada musik, cerita-cerita, dan putri bernama Pea. Ini juga kisah tentang tikus got bernama Roscuro, yang hidup dalam kegelapan namun sangat menyukai dunia yang dipenuhi cahaya. Dan ini kisah tentang Miggery Sow, gadis pelayan berotak lamban yang memiliki satu harapan yang sederhana tapi mustahil.

Saya suka membaca novel anak. Bukan karena ceritanya aja sih, tapi juga karena “mudah”. Beberapa novel anak yang saya baca berakhir menjadi hiburan saja. Tapi, yang satu ini beda.

Yang paling menarik buat saya adalah: tokoh utamanya, si Despereaux itu, tidaklah sempurna. Dia terlahir dengan telinga yang besar dan mata terbuka. Dia lahir sebagai anak terakhir yang saudara-saudara kembarnya meninggal ketika dilahirkan. Jadi hanya dia saja yang hidup sendirian. Hal itu membuat ibunya, yang punya keturunan Prancis dan suka berdandan, menjadi kecewa.

Si Ibu tikus menutupi hidungnya dengan sapu tangan, lalu melambaikan sapu tangan itu di depan wajahnya. Ia terisak. “Aku akan menamainya. Ya. Aku akan menamai tikus ini Despereaux, karena banyaknya kesedihan, karena banyaknya keputusasaan di tempat ini. Nah, mana cerminku?”

Para tikus got yang tinggal di kastil pun tidak ada yang menyangka bahwa Despereaux akan bertahan. Tapi dia bertahan dan tumbuh tidak seperti tikus lain. Dia tidak suka menggigiti kertas di perpustakaan. Dia malah membaca tulisan di kertas itu. Dia juga tidak suka mempelajari seni berlari terbirit-birit. Dia juga suka mendengar musik dan mengatakan bahwa musik itu terdengar seperti madu. Karena di satu kesempatan dia muncul di hadapan manusia dan bahkan disentuh oleh Putri Pea, dia pun diadili dan dikirim ke ruangan bawah tanah kastil. Tempat tikus dari jenis yang berlainan hidup di kegelapan; kaum tikus got.

Yang sangat saya suka adalah karakter di novel ini berkembang dan semua abu-abu. Padahal ini novel anak. Novel dewasa dan remaja saja suka gagal memasukkan karakter dengan tipe seperti ini dan biasanya berakhir dengan Mary Sue atau Gary Sue. Tapi, novel ini beda. Dia membuat tokohnya wajar.

Bahkan Putri Pea yang cantik itu pun digambarkan punya sisi gelapnya sendiri yang diliputi oleh kesedihan dan kemarahan karena kematian mamanya.

Satu lagi yang saya tangkap dan sangat menarik: tiap karakter punya gaya bicaranya masing-masing. Tanpa melihat siapa yang bicara, mudah dibedakan antara Despereaux, Roscuro (si tikus got yang ingin membalaskan dendamnya), Putri Pea, dan Miggery Sow. Penulisnya menggunakan dialog untuk mempertegas karakter, bukan hanya sebagai bantu penceritaan.

Hal lain yang menarik dan bagus menurut saya adalah cara buku ini membagi ceritanya menjadi empat bagian. Jadi, di sepanjang buku ini diceritakan tiga tokoh lain yang akhirnya bertemu dan menyelesaikan masalah mereka.

Bagian pertama adalah cerita tentang Despereaux dan kelahirannya. Juga tentang keanehannya. Sampai dia dibawa ke ruang bawah tanah. Bagian kedua adalah flashback yang menceritakan tentang masa lalu Roscuro. Bagian ini membuat pembaca mengerti latar belakang dendam dan kemarahan Roscuro. Di sini juga diberitahu tentang penyebab kematian Ratu.

Bagian ketiga menceritakan tentang Miggery Sow yang dijual oleh orangtuanya dan menjadi budak sampai dia dibawa ke istana dan menjadi pelayan. Juga tentang cita-citanya menjadi seorang putri.

Bagian terakhir baru diceritakan semua tokohnya bertemu dan sekaligus penyelesaian.

This is the danger of loving: No matter how powerful you are, no matter how many kingdoms you rule, you cannot stop those you love from dying.

Semua tokoh punya masa lalu dan latar belakang yang menyebabkan mereka melakukan sesuatu. Semua terjelaskan. Begitu juga dengan sisi gelap yang mereka punya karena masa lalu itu. Enggak ada teknik yang enggak biasa atau penggunaan bahasa yang luar biasa. Semua biasa-biasa aja menurut saya. Tapi itu gak membuat ceritanya menjadi biasa juga. Karena sederhana itu, saya jadi lebih memperhatikan ceritanya. Plot flashback-nya enggak membuat bingung dan jelas kegunaannya.

Satu hal yang menurut saya agak mengganjal adalah penggunaan kata-kata yang terlampau kasar, seperti goblok. Saya gak tahu di versi aslinya kata apa yang digunakan. Tapi, saya merasa kata “goblok” itu terlalu keras. Mungkin bisa diganti dengan bodoh. Karena ini, kan, novel anak, kebanyakan pembacanya mungkin anak-anak.

Sisanya, ini adalah novel yang saya suka. Saya baca dua kali dan ketika saya menulis review ini, saya jadi ingin membaca–setidaknya–sekali lagi.

Penilaian Akhir

  • Plot 82%
  • Character 80%
  • Storytelling 84%

Total Nilai

Info tambahan: Pada tahun 2004, Kate DiCamillo dianugerahi Newbery Medal oleh American Library Association (ALA) atas karya ini. Penghargaan ini ditujukan bagi penulis yang karyanya memberi kontribusi pada pendidikan anak Amerika.