Kemarin, saya mulai membaca ulang The Giver karena saya—berencana—untuk mendiskusikannya dengan seorang teman. Tentang teman ini, dia adalah satu-satunya orang yang ketika saya katakan kalau saya suka The Giver (dan Lois Lowry), dia langsung menyahut dan bilang, “Aku juga suka!”

Saya tidak tahu, apa banyak yang belum kenal Lois Lowry dan karyanya—padahal The Giver sudah difilmkan dan Taylor Swift main di sana. Iya, Taylor Swift yang itu. Yang satu itu. Memang bukan film yang bagusnya kebangetan, sih. Tapi cukup bagus untuk membuat saya tidak punya banyak komplain. Tentang filmnya, nanti kapan-kapan saya review. Saya bukan mau nyeritain itu sekarang.

The worst part of holding the memories is not the pain. It’s the loneliness of it. Memories need to be shared. (The Giver-Lois Lowry)

Jadi, kemarin saya mulai membaca ulang The Giver, versi ebook, dengan harapan saya bisa memahami apa saya tidak pahami ketika saya membaca kali pertama—yang mana ternyata banyak. Ini juga mungkin karena entry point saya sama The Giver ini bukan lewat novelnya, tapi lewat audiobook dan suara naratornya, oh, ya Tuhan … enak banget.

Saya dengerinnya kayak lagi didongengin dan—sedikit, iya sedikit—tidak peduli dengan detail ceritanya. Saya dapat gambaran besarnya, tapi saya hilang di detail kecilnya.

Yang tidak ada di audiobook, salah satunya, adalah kata pengantar dari penulis. Saya coba membaca itu. Hanya sekedar ingin tahu, apa yang penulisnya katakan tentang novel ini. Dan ternyata, Lois Lowry menuliskannya dengan indah sekali. Dia tidak bercerita tentang dari mana dapat ide (seperti kebanyakan kata pengantar yang saya baca). Mungkin karena ini bukan cetakan pertama dan novel ini sudah lebih dari dua puluh tahun diterbitkan. Dia menceritakan tentang banyak hal yang terjadi setelah novel ini terbit, pada dirinya dan juga pada pembacanya.

Dia bercerita bahwa dia banyak mendapat surat. Lima puluh sampai enam puluh surat setiap hari. Awalnya, itu adalah surat-surat yang ditulis oleh anak sekolah menengah sebagai tugas dari gurunya; tugas menulis surat untuk penulis. Isinya standar dan rutin. Mengatakan bahwa novel ini bagus dan sebagainya. Tapi makin ke belakang, surat itu dikirimkan oleh pembaca yang lebih dewasa, dengan kata-kata seperti; novel ini mengubah hidup saya. Lalu banyak cerita yang di balik itu semua.

Novel, buku dengan cerita rekaan di dalamnya, ternyata bisa menyentuh banyak orang. Mengubah pandangan seseorang tentang hidup, jalan hidup, dan mungkin juga tentang kematian. Kita selalu takut dengan sesuatu yang tidak kita tahu; tersesat di hutan, hantu, dan mungkin juga; kematian. Novel menceritakan itu. Memberikan gambaran tentang banyak hal yang tidak kita ketahui sampai di satu titik, kita, seolah benar mengalaminya sendiri. Lalu kemudian, tidak lagi takut pada apapun itu yang awalnya kita takuti.

Saya ingat ketika saya selalu siap dengan batu ketika melihat bekicot di jalan sekitar rumah karena saya takut, geli, dan jijik. Saya tidak suka. Dia harus mati. Tapi, saya sudah lupa kapan tepatnya, ketika saya melihat salah seorang teman memperhatikan bekicot yang sedang jalan di pagar sekolah dan bilang kalau binatang itu lucu sekali. Saya terganggu dengan kata ‘lucu’. Tapi saya juga tidak bisa menahan rasa penasaran saya; di mana lucunya?

Saya pun mulai ikut memperhatikan. Melihat gerakannya yang lambat, cangkangnya, badannya yang lembek, dan jejak perak berkilat yang dia tinggalkan.

Saya tidak setuju—sampai hari ini pun saya tidak setuju—dengan kata ‘lucu’. Tapi saya sudah berpindah dari ingin membunuh setiap bekicot menjadi ingin membiarkannya saja dan tidak lagi merasa jijik. Binatang itu tidak menjijikkan. Yah, memang seperti itulah dia. Jadi saya menerimanya.

Saya takut dengan perasaan yang akan saya katakan pada cowok pintar yang duduk di barisan paling depan. Bukan karena saya takut pada perasaan saya sendiri; saya takut pada penolakan atau penerimaan. Karena saya tidak tahu, di antara keduanya, mana yang akan saya terima. Saya takut pada gelap malam dan apa yang ada di dalamnya. Padahal gelap bukan lawan dari terang; gelap hanya kondisi di mana sedang tidak ada cahaya.

Tapi saya masih takut pada ular. Semakin besar, semakin besar pula rasa takut saya. Juga pada kematian. Tentang kematian ini, saya pernah membaca buku—ah, saya lupa judulnya—yang mengatakan bahwa semakin kita tua, semakin kita dekat dengan kematian, semakin pandangan terhadap kematian itu akan berubah. Bisa jadi, di suatu ketika, dia akan terlihat indah.

Membaca kata pengantar Lois Lowry, saya jadi ingat satu hal yang dulu menjadi pendorong saya untuk banyak membaca; saya ingin tahu. Karena mungkin dengan banyak tahu, saya akan lebih sedikit merasa takut—pada apapun.

He knew that there was no quick comfort for emotions like those. They were deeper and they did not need to be told. They were felt. (The Giver-Lois Lowry)

Hari ini, saya ingin melanjutkan baca The Giver. Lalu mungkin—kalau sempat—menonton filmnya untuk membuat catatan diskusi.

Apa rencanamu hari ini?