Kopi, Kenangan, dan Kebiasaan

Saya suka dengan perkembangan kopi akhir-akhir ini; banyak kedai kopi baru bermunculan; sederhana, hangat, enak, dan harganya terjangkau. Kebiasaan minum kopi yang beberapa waktu belakangan dibawa ke tempat mahal, dijadikan bagian dari kegiatan nongkrong, sekarang kembali seperti yang dulu pernah sangat saya kenal.

Saya lupa tepatnya kapan saya mulai ngopi. Mungkin SMA … kelas dua—entahlah. Yang jelas, sepertinya saya menghabiskan masa remaja saya dengan minum kopi, mendengarkan radio, dan membaca buku. Waktu itu, baru saja mulai ada kopi saset yang agak fancy; dengan tambahan creamer dan bermacam rasa. Sebelumnya yang ada hanya kopi saset hitam, kopi yang dijual kiloan di pasar, dan yang dijual dengan bungkus besar.

Jaman itu, kedai kopi seperti Starbuck belum ada. Kopi rasanya belum jadi sesuatu yang keren dan diminum untuk status sosial. Saya minum kopi bukan untuk apa-apa yang ada hubungannya dengan pergaulan waktu itu. Saya cuma ingin bisa bertahan tidak tidur lebih lama dan bisa mengerjakan PR tanpa mengantuk. Beberapa teman saya yang tahu kebiasaan saya minum kopi, menganggapnya aneh.

Cewek kok, ngopi?

Saya lebih suka kopi yang tidak terlalu manis dengan dua sendok kopi, dua sendok gula, dan satu sendok creamer atau satu sendok susu kental manis. 

Hitam legam dengan atau tanpa gula, tidak masalah. Tapi saya jarang minum kopi hitam saja–kecuali di hari ketika creamer habis. Walaupun kadang saya ingin juga membiasakan untuk minum kopi hitam tanpa gula dan creamer. Katanya sih, itu cara untuk mengecap cita rasa asli dari seduhan kopinya.

Masalahnya, mereka tidak tahu kalau saya menghabiskan sebagian masa kecil saya di kedai kopi. Kakek saya, punya kedai kopi yang dibuka setelah sholat subuh. Letaknya tidak seberapa jauh dari mesjid di kampung. Ketika para lelaki selesai sholat berjama’ah, mereka akan mampir, ngopi, makan gorengan, dan bercerita—atau kadang berdebat—tentang situasi politik sampai hari terang. Tapi, apalah yang menarik dari situasi politik waktu itu. Tidak semenarik sekarang.

Ini cangkir kopi bokong Mickey kesayangan saya.

Para perempuan akan langsung pulang. Tidak ikut ngopi dan bicara politik karena masih ada piring yang harus dicuci, baju yang harus dijemur, anak-anak yang perlu disiapkan untuk pergi sekolah, lauk yang harus dimasak, dan setelah itu semua selesai, mereka harus pergi ke kebun atau sawah. Mencuci tidak dilakukan di rumah. Mereka harus pergi ke mata air yang ditampung dengan bak besar, terbuat dari batu yang disemen. Di tepiannya, mereka melakukan apa yang perlu dilakukan; mandi, mencuci piring, membilas baju, dan juga memandikan anak-anak.

Tempat mandi ini adanya di ceruk tepat di belakang kedai kopi kakek saya. Jadi yang saya dengar di pagi hari ketika ada di kedai kopi itu, selain suara ribut para lelaki yang mendebatkan entah apa, juga suara para perempuan bercerita di tempat mandi. Samar. Tapi cukup untuk memberi kesan bahwa di pagi hari itu semua orang sudah bangun dan melakukan sesuatu.

Saya masih ingat aroma kopi di kedai itu. Aroma air yang dimasak di periuk besar dengan kayu bakar. Juga aroma pisang goreng yang entah mengapa, setelah sekian lama, saya belum juga menemukan rasa yang sama—yang seenak itu. Kakek saya tidak pernah melarang saya mencicipi kopi. Kalau saya mau beberapa sendok, dia akan memberikannya. Para lelaki itu tidak semuanya memesan kopi hitam; ada yang pakai telur, ada yang pakai susu. Tapi ada satu kebiasaan yang dilakukan para peminum kopi hitam; mereka melumurkan ampasnya ke rokok batangan sebelum membakarnya.

Saya ingin suasana seperti itu lagi. Kopi dan ngopi yang jadi begitu mewah membuat semua hal itu hilang. Saya suka ke Starbucks, jangan salah. Tapi saya juga ingin kemungkinan yang lain. Suasana lain dengan judul yang sama; ngopi. Di dekat rumah saya di Munjul, ada satu kedai kopi yang jadi favorit saya. Namanya Acidity. Kedai sederhana, biasa saja, ada di tepi jalan, dengan bangku dan meja kayu, dan jauh dari mahal. Semua minuman yang ada di sana, harganya di bawah dua puluh ribu rupiah. Tapi rasanya, enak sekali. Setiap cangkir yang dipesan, dibuat dari awal; dari menggiling biji kopi.

Saya pernah berbincang dengan pemilik kedainya. Dia bilang, ini adalah cara agar kopi yang disajikan tetap segar dan enak karena menggiling semua biji kopi sekaligus, kalau ada sisanya, akan membuat rasa seduhan kopinya tidak enak keesokan harinya. Ini juga karena mereka menyediakan banyak varian biji kopi yang bisa dipilih. Kamu bisa pilih latte dengan Robusta atau Arabica. Bisa juga yang lebih berkarakter seperti Toraja.

Kadang, saya tahu, ketika saya minum kopi, menghirup aromanya, sebagian dari itu saya lakukan bukan karena saya ingin; tapi kenangan itu yang memaksa.

Sekarang, saya tidak bersemangat di pagi hari kalau belum kena kopi. Saya tahu, bisa jadi ini masalah kebiasaan saja karena ada masa di mana saya berhenti ngopi sementara waktu dan saya baik-baik saja.

Beberapa hari, memang rasanya badan tidak enak dan kepala berat. Tapi setelah itu, semua biasa saja. Hanya saja, beberapa tahun belakangan, kopi itu jadi minuman wajib di pagi hari dan malam—kalau perlu.

Sepertinya, setiap orang punya racun pilihan mereka sendiri. Saya memilih kopi. Ini bukan saja tentang pikiran yang jadi lebih tajam setelah ngopi, tapi juga tentang kenangan. Kadang, saya ingin ada di kedai kopi kakek saya lagi. Melihat sebagian wajah di balik meja panjang mengabur di balik asap rokok dan kabut yang mengaburkan jalanan di belakang jendela. Kadang, saya tahu, ketika saya minum kopi, menghirup aromanya, sebagian dari itu saya lakukan bukan karena saya ingin; tapi kenangan itu yang memaksa.

Apa kamu suka ngopi juga, Manteman?