Rundung

Kamu bilang, itu penyambung.

Aku katakan, itu pemisah—dan apapun tentang perpisahan selalu saja menyakitkan. Tapi di sore Desember ini berkabut. Setelah hujan dan dingin membuat berai air sebagiannya membeku.

Kamu optimis dan aku pesimis, katamu lagi.

Terbalik, kataku.

Kamu tertawa.

Aku masih keras kepala kalau itu pemisah. Bahwa pada awalnya tidak ada siang dan malam, gelap dan terang. Semua sama. Ketika perhitungan mulai diciptakan, dan debu-debu angkasa dipadatkan, gravitasi menjadi tidak terelakkan, ketika itu, waktu menjadi relatif, dan masa pun seperti jarak dan arah pandang; di depan atau di belakang. Masa lalu atau masa depan.

Kita bicara senja, katamu lagi.

 

Tapi aku bicara rasa; senja menyakitkan, fajar pun demikian. Kalau siang dan malam adalah dua pecinta yang saling mencari dan berkejaran, maka mereka terpisahkan, terluka, berdarah. Terpapar merah di langit. Yang dikatakan indah. Dibuatkan puisi. Diawetkan dalam foto, lukisan, dan sisa-sisa ingatan yang jadi mimpiku di malam itu.

 

Kita bicara tentang senja, kataku, kita bicara tentang megah lembayung.

Aku bicara tentang jarak kita yang pernah setengah keliling dunia. Kita mengirimkan rindu lewat sinyal yang menembus ionosfer. Percakapan tidak sudah-sudah karena sampai kapanpun, rindu terlalu besar untuk dimampatkan dalam kata-kata. Rindu itu tidak habis-habis. Ketika hari itu aku bicara denganmu ketika senja di Jakarta dan fajar di tempatmu, terasa sekali pedihnya. Rindu bukan saja tentang jarak. Lebih dari itu; rindu ini tentang keinginan agar kamu selalu ada. Senja hari itu mengingatkanku bahwa jarak, waktu, dan percampurannya, melukai.

Seperti senja yang aku lihat ketika itu, aku terluka. Berdarah. Merah. Kemudian menghitam. Dan aku mencari penghiburan pada bintang-bintang—berpuisi tentang indah malam.

Aku bercerita tentang hati dan relungnya yang sampai hari ini pun, aku tidak pernah tahu isinya. Mungkin itu tentang kejujuran. Mungkin juga tentang keinginan. Entahlah. Tapi aku tahu kalau kamu sudah berhasil menyentuhnya, karena itu, siapapun yang berusaha menyelam ke sana setelahmu, hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan—tidak akan pernah menjumpai kepastian.

Kamu cuma kangen, ledekmu.

Lebih dari itu, aku kehilangan, kataku.

Desember ini berkabut. Kita berjalan dan bercerita. Tidak ada lagi pemisah atau penyambung. Hanya kabut menghalangi pandangan dan dingin menyakitkan pernapasan.

Aku masih juga dirundung rindu….

Kamu cuma kangen, ledekmu.

Lebih dari itu, aku kehilangan, kataku.

Desember ini berkabut. Kita berjalan dan bercerita. Tidak ada lagi pemisah atau penyambung. Hanya kabut menghalangi pandangan dan dingin menyakitkan pernapasan.

Aku masih juga dirundung rindu….