Keputusan impulsif yang saya sesali di bulan lalu; menonton film ini di jam tiga dini hari ketika saya enggak bisa tidur. Awalnya saya pikir ini film tentang keluarga, heart warming, enggak bakalan bikin mood jadi berantakan, terus bisa bikin ngantuk kalau ceritanya lambat dan banyak dialog. Jadi, ketika saya sudah menonton setengah jam pertama, saya jadi galau mau melanjutkan atau enggak.

Bukan penasaran dengan ceritanya, bukan. Tapi penasaran dengan eksekusinya. Film ini enggak perlu waktu lama untuk masuk ke bagian yang paling menyakitkan, jadi seharusnya setelah kejadian itu, enggak akan ada lagi adegan yang menyakitkan. Seperti setelah titik terendah, maka yang ada hanya garis naik—karena udah enggak mungkin lagi turun.

Saya  berhenti nonton sebentar. Saya buka IMDB, cari tambahan info di bagian ‘trivia’ film ini. Ternyata agak susah juga karena judul film ini ada banyak; Hope, Wish, dan judul aslinya; So Won.

Saya ingin tahu lebih banyak; apa yang diinginkan si sutradara, Joon-ik Lee, dengan membuat film ini. Karena—setidaknya buat saya—tema film ini terlalu sensitif, menyakitkan, dan saya tahu kalau saya enggak akan kuat menontonnya kalau saya enggak punya pendorong besar untuk tetap bertahan. Kekerasan anak, apalagi kekerasan seksual, jangankan nonton beritanya, saya bahkan enggak bisa baca judulnya. Kalau ada berita semacam itu, langsung saya skip atau hide. Ini bertolak belakang dengan hobi saya nonton film sadis, sih. Saya lalu menemukan kutipan wawancara yang menarik banget. Begini katanya:

“With this heartbreaking material, I wanted to make the film as happy as possible. I am going to present a human drama where hope blooms at the edge of unhappiness and desperation, after a series of ordeals and hardships.” (Joon-ik Lee-IMDb)

Setelah baca kutipan itu, saya melanjutkan menonton. Film ini, seperti judulnya, sepertinya adalah film tentang harapan. Bukan tentang kehancuran.

* * *

Ceritanya dimulai dari kehidupan So Won yang biasa saja. Dia anak sekolah dasar, umurnya sembilan tahun, orangtuanya sibuk sehingga kadang dia jadi kurang perhatian. Bukan ditelantarkan yang gimana banget gitu, ya. Tapi di pagi hari, orangtuanya agak keteteran mengurus dia. So Won mengerti. Dia mandiri. Dia bukan anak manja yang setiap sebentar merengek dan minta diperhatikan.

Sampai di suatu pagi, hujan turun ketika dia mau berangkat ke sekolah. Ibunya menyusul dan menawarkan untuk mengantar sampai ke sekolah. Tapi So Won menolak—dan ini menjadi penyesalan ibunya, Mi-hee.

Kalau kamu jadi orangtua dan kejadian seperti ini menimpa anakmu, kamu akan punya jutaan ‘seandainya’ yang bisa kamu lemparkan tapi enggak akan pernah mengubah keadaan. Sejuta ‘seandainya’ yang percuma karena semua sudah terjadi. Itu yang kemudian dirasakan Min-hee. So Won enggak mengikuti nasehat ibunya untuk mengambil jalan besar dan memilih untuk berbelok ke gang kecil. Di sana dia bertemu dengan seorang lelaki mabuk yang … ah, saya enggak kuat menuliskannya karena hati saya yang kuat ini, yang biasanya enggak akan menangis karena adegan apapun di film, pecah juga melihatnya. Apalagi ketika dokter mengatakan bahwa So Won harus dipotong usus besarnya karena terlalu hancur dan enggak bisa dipertahankan dan itu membuat So Won harus hidup dengan anus buatan.

Setelah itu, cerita mulai menghangat. Keadaan memang enggak jadi lebih baik, apalagi untuk Dong-hoon, ayah So Won. Dibandingkan istrinya, dia lebih hancur. Mungkin karena memang anak perempuan punya hubungan kuat dengan ayahnya. So Won enggak mau bicara dengan ayahnya. Bahkan di satu scene, dia memilih untuk menutupi tubuhnya dengan selimut karena dia malu dengan ayahnya. Dong-hoon memilih untuk keluar ruang rawat agar So Won enggak kepanasan. So Won yang sangat mengerti keadaan orangtuanya, ketika dia ada di ruang UGD dan Dong-hoon menemuinya untuk pertama kali, bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Dia enggak ingin mengganggu pekerjaan ayahnya karena dia ada di rumah sakit dan ayahnya harus menungguinya. Di sini, saya nangis lagi. Ah!

Kelanjutannya adalah persiapan persidangan, lalu usaha untuk menangkap pelakunya, dan yang lebih banyak diceritakan; tentang hubungan So Won, ayah, dan ibunya. Dong-hoon dan Min-hee sejak awal enggak punya hubungan pernikahan yang kuat. Bahkan Min-hee yang sedang hamil lima bulan enggak berani mengatakan pada suaminya kalau dia hamil dan Dong-hoon baru tahu ketika Min-hee pingsan di rumah sakit.

Dong-hoon berusaha agar bisa bicara lagi dengan So Won. Dia memakai kostum Kokomong pinjaman agar bisa menemui So Won. Dia bahkan masih memakai kostum itu ketika So Won sudah pulang dari rumah sakit. Dia mengikuti So Won di perjalanan ke sekolah agar dia merasa aman. Dan So Won memang merasa lebih aman.

Banyak hal yang saya suka dari film ini. Salah satunya adalah penggambaran hubungan anak dan ayah yang sederhana tapi manis. Enggak ada hal yang dilebih-lebihkan. Bahkan, enggak ada efek kamera yang dibuat untuk mempengaruhi emosi penonton. Semua biasa saja. Jadi jangan harap akan ada slow motion atau blur yang membuat gambar menjadi lebih indah. Semua biasa saja. Realitis.

Saya ingat ketika saya menonton film India apa itu, yaaa …, saya sudah lupa judulnya, saya nangis juga. Tapi itu karena ada scene yang memang memilukan sekali dan pemainnya rambutnya tertiup angin ke belakang dan ini memberikan efek dramatis. Atau di film lain, ketika dua tokoh yang saling mencintai mau rekonsiliasi, lalu hujan turun deras. Jadilah mereka kudu ngomong di bawah hujan, basah-basahan. Lebih dramatis memang—tapi juga rentan membuat masuk angin. Di film ini, hal seperti itu enggak ada. Mungkin ada, sih, tapi minimal sekali.

Saya sudah enggak ingat berapa banyak saya menangis ketika menonton film ini. Yang jelas setelah selesai, kepala saya sakit. Tangisannya kebanyakan bukan tangisan sedih, tapi haru. Melihat betapa semua orang yang terlibat di kehidupan So Won berusaha membuat semuanya kembali seperti sedia kala. Itu membuat So Won lebih bisa melewati saat-saat berat dibanding obrolan panjang-lebar tentang hidup.

Seperti yang dikatakan terapisnya; anak-anak melupakan trauma dengan bermain sampai berkeringat.

Saya pikir, begitu pula cara orang dewasa melewati trauma; dengan melakukan hal lain sampai berkeringat.

So Won melewati traumanya bukan karena dia bercerita berulang-ulang tentang perasaannya—semua sudah tahu perasaannya seperti apa. Tapi ketika orangtuanya, teman-temannya, dan lingkungannya membuat semua menjadi seperti sedia kala. Dia pun kemudian bisa melewati itu.

Hal yang sama juga saya temui di film A Monster Calls. Tokoh utamanya juga anak-anak dan cara mereka melewati masa sulit juga sama; dengan membuat keadaan jadi biasa dan seperti sedia kala. Di A Monster Calls, karena sudut pandangnya dari si tokoh utama, Connor, ceritanya jadi lebih deep. Berikutnya saya mau review dan bahas film ini. Tapi nanti, ya. Setelah saya selesai baca ulang bukunya.

* * *

Penilaian Akhir

  • Plot 82%
  • Character 80%
  • Storytelling 84%

Total Nilai

Saya merekomendasikan film ini untuk teman-teman yang ingin cerita tentang kejahatan pada anak tapi dari sudut pandang lain. Film ini bukan menceritakan tentang kejahatan itu—pelaku kejahatannya bahkan hanya dapat porsi kecil banget, tiga atau empat scene. Bukan itu yang ingin diceritakan. Tapi tentang harapan, tentang bagaimana membangun hidup setelah badai, dan tentang penyembuhan trauma yang sama saja dengan penyembuhan luka yang lain, ternyata; bukan hanya perlu waktu tapi juga perlu kondisi sekitar yang mendukung.

Untuk yang gampang nangis waktu nonton, duh, ini film bakalan bikin kepala kamu lebih sakit dibanding saya setelah menonton. Tapi semuanya worth it. Filmnya bagus banget dan bukan tipe film yang saya tonton demi sekedar mendapat hiburan. Film ini banyak membuat saya mikir akhirnya. Terutama tentang apa yang diinginkan anak-anak dari orangtuanya, hubungan orangtua dan anak, dan juga tentang bagaimana anak-anak melewati masa-masa kelam.

Sepertiga bagian awal memang menyakitkan untuk ditonton, tapi sisanya, ah … menghangatkan sekali.

* * *