Aku mengingatmu dengan cara berbeda pagi ini. Setelah ceceran huruf, kata, dan kalimat itu aku singkirkan, kamu tidak lagi berbentuk seperti lembaran cerita. Kamu jadi tinggal makna. Seperti salju tipis yang turun perlahan tadi malam; meninggi, lalu mencair, dan kemudian kembali membeku. Kamu bukan lagi tumpukan itu. Kamu adalah cerah langit setelahnya, ketika aku tengadah.

Aku mengingatmu dengan cara berbeda pagi ini.

Itu yang ingin aku katakan padamu. Tapi percakapan itu hanya ada di kepalaku.

Aku mengatakannya sambil menekuri cangkir kopiku—dengan campuran banyak creamer, tidak hitam pekat seperti yang ada di cangkirmu. Lalu kamu, seperti biasa, akan menanggapinya dengan satu-dua kata. Lalu aku pun bertanya, apa yang ada di kepalamu?

Aku ingin menceritakan mendung siang dan muram malam. Mungkin beberapa hal yang ingin aku ulang lagi, pertegas lagi, tentang keberadaanmu. Mungkin juga tentang cangkir-cangkir kopi di dini hari. Percakapan ringan dan singkat tentang apapun selain emosi. Tentang apapun selain hati.

Kamu tahu apa yang aku kejar. Aku tahu apa yang ingin aku dengar. Kamu tahu apa yang aku tuntut. Tapi aku tidak tahu apa yang kamu sembunyikan. Mungkin bukan kamu sembunyikan. Hanya terlalu sederhana untuk aku pahami maknanya. Karena seperti katamu; aku rumit, aku sulit.

Aku katakan bahwa tidak ada satu detik pun yang aku sesali. Seperti tidak ada satu huruf pun yang ingin aku hapus dari surat-surat pendek atau catatan panjang kita. Hanya saja, ini bukan tentang itu. Ini tentang sesuatu yang jauh di dalamnya. Yang aku pertanyakan dan kamu tidak juga berikan jawabnya.

Kamu mungkin akan berkelakar, sebaiknya aku berhenti minum kopi saja. Menggantinya dengan hal lain. Teh, misalnya.

Kadung, kataku, aku kadung menyukainya.

Kamu pun kadung sudah ada di sini. Datang diam-diam dan aku biarkan duduk sendiri di dekat jendela sore itu. Cahaya matahari masuk dan menimpa rautmu. Tidak mungkin aku membiarkanmu sendiri ketika kamu melambaikan tangan dan menatap ke arahku. Bukan aku yang mengundangmu. Kamu ada di sana lebih dulu. Yang salah adalah; kamu mengira aku sendiri dan kesepian. Atau kamu menyangka, aku sedang mencari teman. Ternyata tidak keduanya.

Lalu, ketika cangkir-cangkir kopi itu datang dan pergi, terisi dan kosong; kita sudah kadung tahu bawa racun hitam itu kita sukai lebih dari apapun juga.

Aku mengingatmu dengan cara berbeda hari ini. Setelah semua hitam kopi itu pergi dan pahit-kelatnya tidak aku rasakan lagi, kamu adalah sisa endapan gula di bawahnya yang lupa diaduk. Karena itu, dulu, aku hanya menahan getirnya. Sekarang, ingatan tentangmu tersisa hanya manisnya.

Credit for all images: Freepik