“Nanti overdosis kafein lagi,” kata Arya. Meletakkan satu cangkir kopi, yang kali ini, hitam. “Seperti tempo hari.”

Aku mengadah sebentar untuk memberikan tatapan yang seolah bicara, ‘not your business’. Biasanya dia tidak mengerti. Tapi hari ini, dia melanjutkan lagi, “Kalau itu terjadi, panggil gue, ya. Biar gue bisa berdiri di sini sambil buat bilang, I told you so.”

Aku menggerutu, sial.

Tapi ini sudah cangkir ke tiga. Yang pertama masih cappuccino dengan segala pernik gula dan krimnya. Dua yang terakhir, aku memilih hitam, pekat, tanpa gula.

Menjelang pagi tadi, dia meneleponku. Tidak menggangu tidurku sama sekali karena dini hari aku selalu terbangun. Dia hanya membuat aku harus berhenti menulis sebentar dan mengacaukan rencana menulisku hampir sepekan lamanya—setelah itu.

Dia bilang dia akan pergi ke sana. Aku menyahut, “You’re crazy.”

“Gue harus,” jelasnya.

Aku menancapkan headset ke ponsel agar kedua tanganku bisa bebas dan juga, agar suaranya lebih jelas.

“Gue mau closure.”

“Kalau dia sampai salah bicara, dalam lo yang kena,” kataku. “Kalau dia salah bersikap, dalam lo juga yang kena.” Aku mengatakan itu sambil menunjuk-nunjuk jantungku sendiri.

Kata yang terakhir itu, satu kata, tapi cukup untuk membuatku bicara lima belas menit tanpa henti. Intinya hanya; meminta dia tidak melakukannya.

“Gue udah di bandara,” katanya.

“What the …?!”

“Gue tahu lo bakalan melarang,” kilahnya, “karena itu gue baru bilang sekarang. Sorry.”

Setelah itu, yang aku ingat, aku bicara lagi entah berapa lama. Mengatakan bahwa dia tidak akan bisa memprediksi apa yang terjadi—apapun bisa terjadi. Bisa saja dia—lelaki itu—mengatakan hal yang salah dan berapa sih, jarak antara jantung dengan tulang dan daging yang menjaga dia di dalam rongga dada?

“Kalau dia sampai salah bicara, dalam lo yang kena,” kataku. “Kalau dia salah bersikap, dalam lo juga yang kena.” Aku mengatakan itu sambil menunjuk-nunjuk jantungku sendiri. 

“Yang gue cari itu closure, Ta,” katanya. “Bukan pernyataan cinta atau semacamnya. Setelah itu, gue bisa lega. Lo enggak tahu betapa lama gue harus hidup dengan kenyataan kalau gue enggak bisa melupakan dia sama sekali. Gue selalu menunggu, selalu berharap.”

Kalimat berikutnya, aku katakan dengan kesal yang sudah sampai di puncak kepala, “Tinggal dua minggu lagi dan yang lo kerjain malah pergi cuma untuk minta that goddam closure!”

Aku yakin kalau aku mengatakan itu sambil berteriak karena ibuku memanggil dari lantai bawah. Bertanya apa aku baik-baik saja. Aku berteriak singkat, mengatakan kalau semua baik-baik saja.

Dia lalu memberikan instruksi apa saja yang harus aku lakukan kalau terjadi sesuatu. Detail dan jelas. Aku mendengarkan dan mengingat setiap langkahnya sambil berharap kalau aku tidak akan melakukannya.

“Kalau begitu, gue minta dua potong croissant to soak it up,” kataku pada Arya. Dia masih di depanku dengan apron cokelat bergambar secangkir kopi mengepul.

“It doesn’t work that way,” ujarnya. Dia mengatur bungkus kecil gula di depanku. “You know.”

“Just bring it to me,” kataku keras kepala.

“Oke.” Bungkus-bungkus gula itu sudah dirapikan. Arya berdiri di sampingku dan menatapku lagi. Aku tahu, dia sudah tidak ingin berdebat. Aku dengan perut terisi dua cangkir kopi—dan mungkin juga wajah seperti ini—bukan lawan berdebat yang baik.

Aku duduk di barstool, memegang ponsel, dan menunggu. Dia bilang, dia akan menghubungiku jam sepuluh pagi. Sekarang sudah lewat tujuh belas menit dari jam sepuluh. Aku tidak sabar. Tapi aku tidak bisa menghubunginya duluan. Dia dengan jelas berkata kalau aku harus menunggu dia menghubungiku. Permintaan aneh yang aku iyakan saja karena aku mengerti keadaannya.

Sudah empat hari aku bermimpi aneh. Mimpi kosong tentang jalan, wangi dupa, dan janur. Aku tertidur jam sembilan malam, bermimpi, dan terbangun menjelang dini hari. Setelah itu, aku hanya terduduk di depan laptop tanpa bisa melanjutkan tulisan apapun. Kalau aku mencoba untuk tidur lagi, aku akan bermimpi lebih aneh lagi. Itu terjadi di dua hari pertama.

“It doesn’t work that way,” ujarnya. Dia mengatur bungkus kecil gula di depanku. “You know.”

Aku seperti orang bodoh yang setiap sebentar mengecek ponsel, menunggu dia memberi kabar. Lalu membuka semua akun sosial medianya untuk melihat apakah dia mengirim sinyal kalau dia tidak baik-baik saja. Tapi tidak ada update apapun selama empat hari terakhir dan itu membuatku semakin menggila dengan mimpi yang makin tidak karuan.

Dia meneleponku beberapa menit kemudian. Ketika satu cangkir kopi hitam sudah ada di hadapanku.

Kata pertama yang keluar dari mulutku bukan ‘halo’ tapi, “Gimana di sana?”

“Baik. Semua baik,” jawabnya.

“I love you to the moon and back, Honey, please tell me the truth,” pintaku.

“Semua baik, kok, Ta. Aku ketemu dia, kita jalan-jalan, dan….”

Kalimat itu terhenti. Aku menunggu.

Aku menghela napas. Kepalaku sedikit sakit dan jantungku sedikit sakit. Aku memegang dadaku. Degupnya lebih cepat. Aku mendorong cangkir kopi di depanku. Arya melihatnya. Dia mendekat, tersenyum, dan berkata, “I told you so.”

Aku sedang tidak ingin melayani Arya. Dia pun pergi setelah aku menatapnya lama tanpa ekspresi apapun sambil mendengarkan suaranya di telepon. Menceritakan detail hal-hal yang mereka lakukan kemarin.

“Gue bisa merasakan gimana tense-nya,” kataku. Arya sudah pergi. Membawa cangkir kopiku dan kembali dengan satu botol air mineral.

“Minum,” katanya memerintah. Aku menurut.

“Gue tahu gimana susahnya,” lanjutku setelah tiga teguk air melewati tenggorokan.

“Iya. Memang seperti itu,” ujarnya. “Tapi dia enggak yang kayak gue bayangin. Dia sweet. Dia banyak bicara tentang banyak kenangan yang dulu kita lewatin.”

“Jadi lo udah dapet that f-ing closure?” Hanya Tuhan yang tahu betapa aku ingin mengumpat banyak hari ini.

“Belum,” jawabnya. “Nanti malam. Gue belum cerita semuanya. Tapi sejauh ini, gue udah lebih tenang.”

Lalu gadis itu bercerita tentang banyak hal lain. Semuanya manis. Semuanya seolah tidak ada yang perlu ditakutkan. Aku mendengarkan sambil mengunyah croissant.

Aku ingin bicara pada gadis itu tentang yang terjadi di dini hari, lima hari yang lalu. Ketika dia menelepon dan bicara tentang rencana perjalanannya untuk menemui mantan pacarnya, dua minggu sebelum pernikahannya. Dengan alasan yang tidak aku mengerti, sampai hari ini.

“Batin gue enggak selesai, Ta,” katanya memberi alasan.

Lima hari lalu, alasan itu terdengar seperti dibuat-buat. Tapi hari ini, aku mengerti. Memang batinnya belum selesai. Ada sesuatu yang ditahan lelaki itu, yang tidak juga dia berikan untuk menutup hubungan mereka walaupun sudah bertahun berlalu. Aku tahu itu bukan tentang waktu yang dihabiskan berdua dan sebagainya. Lelaki itu sudah memberi banyak, setahuku. Dia ingin yang lain. Dia ingin sesuatu yang dia sebut, closure.

Yang dia tidak tahu, dini hari itu, aku juga menghubungi laki-laki itu. Menekan suaraku serendahnya ketika bicara tentang rencana gadis itu. Lelaki itu mengerti.

“Jangan kacaukan apa yang sudah ada,” kataku. Lagi-lagi, lelaki itu bilang kalau dia mengerti.

Setelah dia selesai bicara, aku menelepon lelaki itu sambil mengunyah potongan croissant terakhir. Kepalaku masih sakit dan jantungku masih berdegup tidak normal.

“Gue udah ngelakuin semua yang lo minta,” kata lelaki itu. “Tapi, gue mau bilang sekarang, kalau semua itu enggak ada yang pura-pura.”

Tidak ada yang pura-pura.

“Jadi, nanti malam terakhir kami ketemuan. Jelaskan sama gue, closure apa yang dia minta.”

“I should say it with a sigh,” kataku. Berat. “Dia cuma ingin mendengar—“

“Mendengar?”

“Kalau lo pernah cinta sama dia. Di sepanjang masa yang kalian habiskan berdua.”

Aku teringat penjelasannya tentang batinnya yang tidak selesai. Sekarang aku mengerti. Aku mengerti.

Lalu jeda lama keheningan di telepon itu membuatku tidak nyaman. Sampai dia berkata lagi, “Okay.”

Arya datang lagi. Kali ini membawa satu cangkir susu hangat.

“Minum itu,” katanya. “Ini Magnolia Cafe. Bukan tempat bunuh diri dengan kopi. Lo harus tetap hidup untuk akad nikah lo dua minggu lagi.”

* * *

Credit for all images: www.freepik.com