Uma bilang, dulu Nay pernah punya jantung seperti gadis lain. Segumpal daging, merah, dan berdenyut—memompa darah. Uma mengatakan itu sambil menjahitkan perca baru di atas berlapis-lapis kain dengan berbagai motif yang digulung dan berbentuk seperti kuncup mawar yang setengah merekah di pengujung Mei. Setelah dingin berangsur pergi dan matahari tidak lagi enggan bersinar sepanjang siang.

Uma sudah berhenti menyebutnya ‘jantung’ setelah Nay menghancurkannya tidak lama sesudah dia bertemu dengan bujang itu di awal masa remajanya. Uma lalu menyebutnya ‘jantung-hati’, karena katanya waktu itu, di sana juga disimpan rasa.

“Siapa namanya? Bujang itu?” tanya Uma. Tangannya masih sibuk menusukkan jarum dan membuat ujung tajamnya menyembul dari dalam kain. Dia menariknya pelan namun kuat. Melewatkan benang di antara dua sisi perca yang ingin disatukan. Jarum itu terbuat dari emas. Nay masih ingat cerita Uma tentang kotak dengan berbagai perhiasan yang diturunkan sebagai warisan kepada perempuan tertua di keluarga mereka. Di kotak itu, selain kalung, giwang, dan cincin, ada dua buah jarum. Satu kecil, untuk menjahit halus seperti yang Uma kerjakan sekarang. Satu lagi lebih besar, untuk menjahit kain tebal seperti selimut. Emas memang mudah bengkok. Tapi tidak akan pernah berkarat dan meninggalkan noda.

“Leo,” jawab Nay.

“Oh, yaaa … Leo.” Uma mengulang lagi nama itu. Sekali lagi. “Leo.”

Ada yang sebagian dari ingatannya yang ingin dia panggil ketika menyebut nama itu, tapi gagal. Selain rambutnya yang cokelat tua, Uma tidak mengingat bisa apapun lagi. Nama itu baginya hanya bujang muda yang datang di depan rumah ini pada suatu sore, tidak berwajah. Yang kemudian tidak pernah datang lagi setelah di suatu hari, Nay pulang sambil menangis. Terjatuh di depan pintu sambil memegangi dadanya.

Uma mengambil gunting. Merapikan ujung kain yang serabut benangnya tidak sama panjang, lalu memutusnya. Kainnya sudah terlalu lama disimpan dan melapuk di dalam lemari yang lembab. Satu kali tarikan saja, bisa membuatnya robek. Uma sangat berhati-hati. Tangannya yang mulai keriput bergerak seperti ulat bulu yang menjalar di batang pohon; pelan tapi pasti.

“Sebentar juga sudah perlu ditambal lagi,” begitu kata Uma ketika Nay bertanya apa tidak ada kain lain yang lebih kuat untuk kali ini.

Nay tidak membantah apapun yang dikatakan Uma. Perempuan tua itu tahu apa yang dilakukannya dan bagaimana melakukannya. Nay terduduk di bangku meja makan dengan bagian atas gaun yang menutupi setengah dadanya. Ada garis lurus di tengah dada itu, yang kalau tidak dilihat baik-baik, hanya akan tampak seperti bayangan kehitaman yang kebetulan jatuh di situ. Seandainya Nay tidak menyadari ada sisa perca yang tertinggal di dalam sana dan merogohnya dengan tangan kanannya, garis hitam itu tidak akan pernah tampak seperti bekas robekan yang lama sembuh dan mengering.

Nay meletakkan perca itu di atas meja. Memandanginya. Motifnya kotak-kotak biru. Dari katun.

“Kali ini tidak terlalu parah,” komentar Uma. Dia membuat simpul mati di ujung jahitan dan memotong ujungnya.

Nay menunggu. Uma masih akan memeriksa jahitan di sekeliling permukaan gumpalan itu baik-baik. Nay terdiam. Merasakan tubuhnya yang kekurangan jantung-hati tapi dia tidak merasakan sakit apapun. Yang tidak dia punya sekarang hanya rasa. Dia tidak merasakan apapun. Kita tidak bicara tentang rasa yang dirasakan ketika kamu tersandung dan terjatuh, lalu lututmu lecet. Ini rasa yang lain. Yang cuma bisa dirasakan di dalam sana—di dalam rongga dadanya yang sekarang kosong. Hampa.

“Turunkan gaunmu,” perintah Uma. Dia membawa gumpalan itu dan membuka dada Nay dengan tangan kirinya. Membuat rongga di dalamnya terlihat jelas. Lalu meletakkan gumpalan itu di sana. Pelan-pelan. Berhati-hati. Memeriksa posisinya berkali-kali. Memastikan tidak akan terguncang ketika Nay bergerak cepat seperti, misalnya, berlari.

Nay mulai merasakan rongga dadanya menghangat. Lalu rasa itu mulai datang. Berbagai macam rasa; senang, sedih, sesal, nelangsa, bahkan putus-asa dan harap. Hangat macam-macam rasa itu merambat ke kepalanya, membuat pipinya merona. Itu pertanda bagus. Uma mencubit pipi itu dengan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya.

“Apa masih ada sakitnya?” tanyanya.

Nay menggeleng. Semua rasa yang bisa dia ingat ada di sana, kecuali satu—kecuali sakit itu.

“Uma, kenapa aku tidak dibuatkan jantung yang bisa memompa darah? Apakah itu sulit? … membuatnya, maksudku.”

Nay meraba dadanya sebelum Uma datang dengan jarum lebih besar dan benang yang lebih tebal—yang harusnya digunakan untuk menjahit selimut atau karpet. Dia lalu mulai menjahit dada Nay agar menutup. Dia tidak merasakan sakit ketika rongga dadanya dirapatkan dan dijahit. Dia hanya menangkap dingin jarum yang keluar-masuk menembus dagingnya—dan kadang, mengenai tulangnya. Bukan hanya itu sebenarnya. Nay tidak merasakan apapun di sekujur tubuhnya. Tidak sakit, tidak panas, tidak dingin. Tidak ada.

“Itu tidak perlu. Kamu sudah tidak punya darah lagi untuk dipompa sejak kejadian itu,” jawab Uma. Nay bisa merasakan kalau Uma tidak menjawab pertanyaan Nay seperti biasanya. Neneknya itu jadi canggung. Dia bahkan tidak mau menatap mata Nay.

Nay berjanji untuk tidak pernah menanyakannya lagi.

* * *

Tentang Leo, Nay tidak ingin menceritakannya pada Uma. Kemarin dia pulang dengan dada yang sesak, jantung-hati yang koyak, tapi Uma tidak menanyakan kenapa. Ini sudah terlalu sering terjadi sehingga pertanyaan seperti itu menjadi tidak menarik. Jawabannya akan sama saja; Nay mudah jatuh cinta.

Tapi Uma tidak tahu kalau kemarin, Nay bertemu dengan Leo ketika dia pulang dari tepi danau mencari jamur dan memeriksa perangkap ikan. Bujang itu sudah menjadi lelaki; tinggi dan ramping. Rambutnya masih cokelat. Matanya masih cokelat muda, sedikit lebih terang dari rambutnya. Senyumnya masih manis dan ada sedikit rambut di sekitar rahangnya. Dia tumbuh, seperti Nay yang sudah tidak sama lagi seperti dulu. Tubuhnya mulai berbentuk.

Nay berjalan cepat untuk menghindarinya. Dia tidak ingin melihat lelaki itu—apalagi sampai menatap matanya. Nay ingat kalau mata itu membius. Bisa membuat Nay lupa bahwa mata itu ada di rongga kepala lelaki itu. Tapi Leo melihatnya. Memanggilnya. Nay pura-pura tidak mendengar. Leo mengejarnya. Menangkap pinggang Nay dan memaksa Nay untuk melihat ke arahnya, menatap matanya. Nay membiarkan tangan Leo ada di pinggangnya. Dia tahu, lelaki itu pun sedikit terkejut ketika merasakan bahwa pinggangnya mengecil dan panggulnya membesar.

“Menghindar?” tanya Leo. Suaranya parau dan berat. Tidak seperti dulu.

Nay berusaha melepaskan tangan lelaki itu. Lalu berlari cepat di sepanjang jalan menuju rumah. Jalan itu menanjak dan dadanya sesak. Bukan karena napas yang seharusnya ditarik dan dihembuskan lebih cepat, tapi karena kehadiran lelaki itu menyakitinya. Nay ingin sekali mengurung dirinya di kamar dan menghindari Uma ketika dia sampai di rumah.

Tapi ketika kakinya baru masuk beberapa langkah dari pintu, Nay terjatuh. Dadanya berat dan penuh dengan rasa yang ingin dia katakan pada Uma yang berlari dari arah dapur. Tapi Uma tidak menanyakannya. Dia dengan cepat mengambil gunting. Mendudukkan Nay di bangku meja makan dan mengeluarkan jantung-hatinya. Sebelum sakit yang dibuat benda itu, tidak lagi bisa ditahan.

Pagi ini, ketika Nay masuk ke dapur, Uma sudah menyiapkan semuanya; sarapan, susu hangat, dan beberapa ekor ikan yang harus dijemur Nay sehabis makan. Nay tidak perlu mengerjakan apapun lagi. Membuat pagi ini jadi tidak biasa karena di hari lain, Uma akan membangunkannya ketika matahari belum muncul dan Nay akan memasak sarapan.

“Kamu tidur pulas sekali,” kata Uma. Dia duduk di depan Nay, meminum susunya dan menunjuk ke arah jendela. “Lihat, matahari sudah setinggi itu.”

Nay merasa bersalah. Sedikit.

“Uma,” panggilnya. “Aku masih merasa sakit ketika bangun tidur tadi. Ini tidak biasa. Kenapa masih ada sisa sakit itu, Uma?”

Uma terdiam. Nay menunggu jawabannya. Tapi jawaban itu sepertinya tidak akan pernah dia dapatkan. Sampai sarapannya habis pun, Uma tidak mengatakan apapun. Hanya suara sendok beradu dengan piring kaca yang terdengar di ruangan itu. Nay memegang dadanya. Rasa sakit yang tertinggal itu baru datang ketika dia bangun tadi pagi. Nay sendiri tidak yakin kalau itu datangnya dari dadanya. Mungkin dari tempat lain. Dia tidak bisa memastikan karena Uma pun tidak lagi ingin membicarakannya, sepertinya.

“Jangan lupa, ikan-ikan itu,” kata Uma menunjuk ke arah dapur. Nay mengangguk.

Mungkin Nay akan menanyakan pertanyaan itu lagi. Nanti.

* * *

Ini kota kecil. Dengan sudut-sudut yang mudah diingat dan dikenali. Entah apa yang membuat Nay ingin datang ke salah satu sudut kota itu, di ujung jalan setapak, di sisi hutan. Di sana ada sumur tua yang sudah tidak mengeluarkan air. Banyak yang bilang kalau mata airnya tersumbat karena banyak anak-anak melemparkan batu ke dalam sumur itu. Tapi tidak ada yang berusaha membuat airnya keluar kembali.

Di dekat sumur itu, Nay dan Leo dulu sering bertemu. Seperti anak-anak lain; bicara sambil melemparkan batu ke dalam sumur. Waktu itu, air sumur itu masih ada dan tinggi. Sekarang, ketika Nay melihat ke dalam sumur itu, hanya tumpukan batu meninggi di dalamnya. Dia mengambil beberapa batu kecil di dekat mulut sumur itu untuk dilemparkan ke dalam ketika dia merasa pundaknya disentuh. Nay menoleh. Leo ada di sana. Tersenyum dengan tangan yang penuh dengan batu.

Nay ingin menghindar. Tapi Leo tersenyum—dan itu membuat ketakutannya hilang. Nay pun berdiri. Mulai melemparkan satu persatu batu kecil yang dia kumpulkan. Terdengar suara batu beradu dengan batu yang dipantulkan dinding sumur.

 “Tidak rindu padaku?” tanya Leo.

Nay tidak menjawab. Dia merasa ada sakit di … entah. Dia tidak tahu. Bukan di dadanya. Di tempat lain. Tapi ini sakit yang sama; sakit yang ditinggalkan Leo.

“Aku rindu padamu.”

Ini pernyataan. Nay tidak perlu menjawab.

“Bagaimana kabarmu?”

Ini pertanyaan. Seharusnya Nay menjawab. Tapi dia enggan.

“Bicaralah….” Suara Leo terdengar lebih dalam.

“Bicara apa?” tanya Nay. Batu yang dia pegang habis. Leo membuka telapak tangannya. Ada banyak batu kecil di sana.

“Ambil.”

Nay mengambil beberapa buah.

“Aku kembali untuk membantu ayahku di toko,” ujar Leo. “Aku akan tinggal lama di kota ini. Kita bisa sering bertemu.”

“Untuk apa?” tanya Nay.

“Untuk apa?” Leo balik bertanya. Dia berhenti melempar batu. Nay pun berhenti—tapi karena batu yang ada di tangannya sudah habis. “Aku memintamu untuk menungguku!”

“Kamu pergi,” bantah Nay.

“Dan aku memintamu menungguku!”

“Aku tidak mau menunggu. Kepergianmu menyakitkanku.”

Leo membuang sisa batu di tangannya. Mereka bertatapan beberapa lama tapi tidak bicara. Nay tidak mengerti apa yang ada di kepala Leo. Sore itu, tujuh tahun yang lalu, dia bilang di sini, di tempat ini, kalau dia akan pergi. Lalu Nay berlari pulang setelah mendengar itu. Samar dia masih mendengar suara Leo berteriak. Meminta Nay untuk menunggu. Tapi dia juga tidak mengejar Nay. Tidak berusaha memberikan penjelasan. Nay berlari dengan dada yang sesak dan sakit. Lebih sakit dibanding kemarin. Itu pertama kali jantung Nay hancur. Pecah.

“Mau ke karnaval?” tanya Leo kemudian.

Nay menggeleng.

“Ayolah.”

Nay menggeleng lagi.

“Apa yang kamu inginkan?” tanya Leo.

“Penjelasan.”

“Tidak ada penjelasan apapun, Nay. Itu tentang waktu dan kewajiban.”

Nay menunduk. Melihat batu-batu yang ada di dekat kakinya.

“Aku akan menjelaskannya. Di karnaval.”

“Curang.”

“Memang.”

Leo tertawa. Nay tersenyum kecil. Dia merasa sakit itu sedikit menghilang.

* * *

Leo membelikan Nay kembang kapas yang manis. Merah muda, seperti warna kesukaan Nay. Lalu menggandeng tangan Nay ketika mereka memasuki sirkus gajah. Tidak ada yang baru di sana. Karnaval ini selalu ada setiap awal bulan di kota ini. Hiburannya selalu sama. Gajah yang dipaksa naik ke atas tong besar dengan ketinggian berbeda-beda dan membentuk tangga itu pun, sepertinya sudah tua. Dia sudah lelah. Dia meletakkan kakinya dengan malas. Nay pun ikut malas melihatnya. Belum lagi baunya yang menyebar di dalam tenda. Tapi Leo terlihat sangat menikmatinya.

Nay membiarkan Leo bertepuk tangan setiap kali gajah itu melakukan hal lain; menaikkan kedua kaki depannya, mengambil makanan dari tangan pelatihnya, bahkan untuk hal kecil seperti berjalan ke tepi arena dan berbaris dengan dua gajah lain yang sama lelah dan tuanya di tepi.

Mungkin Leo sudah lama tidak melihat pertunjukan seperti ini, pikir Nay.

Leo lalu mengajak Nay untuk membeli es parut dan mereka duduk di bangku tua dekat jalanan kecil yang sepi. Sedikit ke tepi sehingga mereka tidak perlu lagi berteriak ketika mengatakan sesuatu. Suara nyanyian dan alat musik dari karnaval masih terdengar tapi tidak terlalu jelas dari sini. Leo menghabiskan es parutnya cepat. Warnanya hijau muda dan bibirnya sekarang ikut menghijau. Es parut Nay masih setengah. Warnanya merah. Nay sengaja memilih warna itu walaupun dia tidak suka rasa rasberi karena dia tahu, itu akan membuat bibirnya akan memerah dan terlihat lebih cantik.

Leo meletakkan tangannya di pundak Nay. Lalu mengusap tengkuknya. Menyusup ke sela rambut Nay yang dibiarkan tergerai. Leo mendekatkan wajahnya. Nay memejamkan mata. Dia bisa merasakan bibir dingin Leo. Kemudian sedikit rasa melon bercampur dengan sisa rasberi di lidahnya. Juga hangat napas lelaki itu.

Nay menjatuhkan sisa es parutnya ketika tangan Leo memegang tangan kanannya. Sekelebat muncul penyesalan; mengapa dia tidak memegang es itu dengan kirinya. Nay mendengar detak jantung Leo menjadi cepat, tapi tidak dengan detak jantungnya sendiri. Nay bisa merasakan bibir Leo menghangat, tapi tidak dengan bibirnya sendiri.

“Kamu dingin,” komentar Leo setelah dia melepaskan bibirnya. Leo tersenyum. Ada sisa merah di tepi bawah bibir itu.

“Kamu juga,” jawab Nay cepat.

“Aku tidak.”

Nay memegang dadanya. Lalu terdiam beberapa lama. Dia merasa sesuatu di sana. Hangat yang lain. Lebih lembut, tipis, dan tajam. Menusuk naik ke kepalanya.

“Nay,” panggil Leo.

“Ya?”

Nay meluruskan pandangannya. Lelaki itu masih tersenyum.

“Menikahlah denganku.”

Itu bukan pertanyaan dan juga bukan pernyataan. Nay tidak tahu harus mengatakan apa.

“Nay,” panggil Leo lagi.

“Ya.”

“Kita akan punya anak-anak yang lucu. Mungkin bisa memelihara bebek di halaman. Lalu membuat banyak perangkap ikan.”

Nay meletakkan tangan Leo yang masih memegang tangannya di dadanya. Memastikan punggung tangan itu benar menyentuh tengah dadanya.

“Kamu merasakan sesuatu?” tanya Nay.

“Apa maksudmu?” Leo tidak mengerti.

“Kamu mendengar sesuatu?” tanya Nay lagi.

Leo melepaskan tangannya dan mendekatkan kepalanya ke dada Nay. Dia meletakkan satu telinganya di dada itu. Lalu terdiam beberapa saat.

“Apa ada jawaban dari sini?” tanyanya.

Nay terdiam. Dia membiarkan Leo mencoba mencari apa yang selama ini dia tahu, dia kehilangan.

Leo menjauhkan kepalanya dari dada Nay. Dia lalu menatap Nay beberapa lama. Kelihatan berpikir. Nay ingin Leo menanyakan sesuatu, apapun itu. Tapi lelaki itu tidak melakukannya. Dia malah mengecup lagi bibir Nay. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.

“Nay,” ujarnya sambil menjauhkan bibirnya sebentar, “bibirmu dingin.”

* * *

Tentang Leo yang ada di kota ini, Uma sudah tahu. Mungkin dia tahu dari perempuan tua lain yang pergi ke pasar setiap pagi. Atau mungkin Uma bertemu dengan Leo, entah di mana. Karena malam itu, Uma bertanya pada Nay tentang lelaki itu.

“Apa dia akan lama tinggal di sini?”

Uma tahu Nay sedang jatuh cinta. Pipi gadis itu memerah dan dia mengurus rumah sambil sesekali tersenyum-senyum sendiri. Beberapa kali, Uma melihatnya sedang mematut diri di depan cermin. Hal yang tidak pernah dilakukan Nay sebelumnya.

“Dia akan mengurus toko ayahnya, Uma,” jawab Nay. Uma melihat Nay tersenyum. Perempuan itu menghela napasnya. Nay jatuh cinta lebih dalam kali ini.

“Apa yang dia katakan padamu?” tanya Uma lagi.

Nay menggeleng. Dia pura-pura tidak mengerti.

“Apa dia mengajakmu menikah?” Uma memperjelas pertanyaannya. Perempuan tua itu sudah hidup terlalu lama. Perihal romansa muda-mudi, dia tentu sudah sangat paham bagaimana ceritanya.

Nay mengangguk.

Uma menatap Nay tajam. Mencoba mengatakan sesuatu yang tidak mampu dia lewatkan di bibirnya. Kata-kata itu tertinggal di tenggorokannya. Menjadi desah panjang yang pedih. Mendorong air bening keluar dari sudut dalam matanya.

“Uma, ada apa?” tanya Nay.

Gadis itu mendekat. Dia mengusap punggung neneknya pelan. Penuh kasih sayang. Uma merasakan tangan gadis itu. Tapi dia tidak merasakan hangatnya.

“Nay,” panggil Uma.

“Ya.”

“Kamu tidak akan bisa menikahi siapa-siapa. Kamu makhluk dingin. Bukan lagi manusia.” Uma mengatakan itu dengan berat. Beberapa tetes keluar lagi dari matanya.

Nay terdiam. Rona merah di pipinya hilang. Dia sudah tahu itu sejak lama. Perkataan Uma tidak mengangetkannya. Dia sudah tahu sejak jantung-hatinya yang pertama dikeluarkan dan digantikan dengan gumpalan kain yang dijahitkan dengan segala suka dan nelangsa. Tapi mendengar bahwa dia tidak bisa menikah karena keadaannya, membuat Nay terkejut.

“Uma, aku bisa mencintai,” ujarnya. “Aku jatuh cinta dan patah hati berkali-kali.”

“Ya. Tapi ini bukan tentang cinta, Nay,” sanggah Uma. “Ini tentang dirimu yang tidak pernah hidup lagi setelah Leo meninggalkanmu dulu. Ketika dia pergi yang pertama kali.”

Nay terdiam. Dia tahu ketika itu hatinya sakit sekali. Lebih sakit dari apapun yang pernah dia rasakan. Dia menangis sampai airmatanya berubah merah. Berteriak sampai suaranya habis.

“Itu salahku karena tidak mampu membiarkan hatimu yang hancur itu sembuh sendiri. Aku menggantikannya.” Keriput di wajah Uma terlihat lebih jelas ketika tangisannya tidak bisa ditahan lagi. “Aku menggantikannya setelah kamu berusaha menusuk jantungmu malam itu.”

Nay tidak lupa hal itu. Dia tidak mungkin lupa karena dingin dan pedih ujung pisau itu masih dirasakannya. Yang tidak dia ingat adalah; Uma yang mengeluarkan jantungnya dari bekas luka itu. Dia sudah pingsan ketika Uma melakukannya.

“Kamu tidak pingsan, Nay,” ralat Uma. “Ketika itu … kamu sudah tidak hidup.”

* * *

Bertahun kemudian, yang diingat Nay tentang kata-kata terakhir Uma adalah ketika perempuan tua yang sekarat itu menjelaskan tentang kenangan. Dia bilang, letaknya bukan di jantung-hati itu, tapi di kepala. Di ingatan. Itu yang membuat Nay masih bisa jatuh hati dan kembali patah hati, berkali-kali. Karena Nay masih mengingat betapa dia bahagia ketika cinta itu datang. Dia juga mengingat bahwa ketika cinta itu pergi, dia akan sengsara. Tapi Nay tidak selalu bisa mengingat hal ini dengan jelas di awal masa jatuh cintanya.

Nay bilang ketika itu; dia akan mengingat Uma, selalu, di kenangannya.

Lelaki itu masih bertanya apa dia mau menikahinya. Nay sudah menolak tiga kali. Ketika Leo bertanya untuk yang keempat kali, Nay mencium lembut lelaki itu, meletakkan lagi tangannya di tengah dada Nay, dan mengatakan sekali lagi, dengan lebih jelas, bahwa dia tidak punya apapun yang hidup. Leo berkeras. Nay pun berkeras. Dia pergi dari kota itu. Pindah lebih seribu mil jauhnya. Tinggal di desa yang tidak terlalu banyak penduduknya. Mencari jamur dan seminggu sekali, mengantarkannya ke pasar di kota.

Leo tidak berusaha mencarinya. Dia tahu Leo patah hati. Dia pun begitu. Malam sebelum kepergiannya, sesudah ciuman terakhir itu, Nay menjahit sendiri jantung-hatinya. Dengan tusuk tikam jejak karena tusuk jelujur yang biasa dibuat Uma, sudah tidak bisa lagi menyatukan kain-kain itu. Lalu dia menumpang kereta pertama sebelum fajar.

Tidak ada yang lebih menenangkan selain kesepian. Nay tidak pernah menjahit jantung-hatinya lagi. Semua berjalan datar dan biasa saja. Dia bisa hidup dari hari ke hari dan merasa semua baik-baik saja. Dia tidak pernah melupakan Leo. Tapi kenangan tentang lelaki itu sudah tidak ada rasanya. Dia masih mengingat bibir Leo yang kehijauan dan sedikit memerah di bawahnya setelah ciuman pertama mereka. Rasa rasberi bercampur dengan melon. Tapi hanya itu yang bisa dia ingat. Tentang dadanya yang menghangat ketika itu, dia sudah tidak bisa mengingatnya lagi.

Sampai suatu ketika, sore itu, dia melihat seorang gadis berlari di depan rumahnya. Setapak di sana tidak rata. Gadis itu terjatuh. Pelipisnya terluka. Nay menolongnya. Membawanya ke dapur dan mendudukkan dia di sana. Membuatkan susu hangat dan memotongkan roti yang diberi selai untuknya. Gadis itu tidak menjawab semua pertanyaan Nay. Hanya tangis yang terus keluar. Kadang tangis itu pelan, kadang keras dan menyakitkan hati Nay ketika mendengarnya. Nay tahu apa yang ada di depannya. Dia memegang tengah dada gadis itu. Nay bisa merasakan gemuruh di sana.

“Aku ingin mati,” kata gadis itu setelah beberapa jam menangis dan Nay duduk di depannya. Melihat dan menyodorkan lebih selusin sapu tangan.

“Kamu tidak ingin mati,” jawab Nay.

“Hatiku hancur,” katanya lagi. Masih sambil menangis.

“Biarkan.”

“Sakit.”

“Aku tahu.”

“Aku ingin mengeluarkannya.”

Nay tersenyum. Gadis itu menatap Nay.

“Kamu bisa mengeluarkannya?” tanyanya.

Nay mengangguk. Lalu dia menggeleng, “Tapi aku tidak akan melakukannya.”

“Rasanya sakit sekali.”

“Aku tahu.”

Gadis itu menangis lagi. Pipinya memerah dan hampir lecet karena usapan sapu tangan yang entah sudah berapa ratus kali.

“Biarkan,” kata Nay lagi. “Rasakan. Lalu biarkan sembuh.”

“Aku ingin tidak punya hati agar tidak bisa merasakan apapun.”

Nay berdiri. Lalu menutup jendela. Angin malam yang masuk membuat kuduknya merinding.

“Biarkan,” kata Nay lagi. “Kamu akan berterimakasih padaku untuk hari ini.”

Nay mengunci jendela itu dan berjalan masuk ke kamarnya. Mengambil bantal dan selimut untuk gadis itu. Nay tahu, gadis itu tidak akan pulang ke desa malam ini. Dia tidak akan kuat dan sanggup. Nay lalu keluar sambil membawa bantal dan selimut di tangan kirinya dan memegangi tengah dadanya dengan tangan kanannya.

Dia merasakan rasberi dan melon di lidahnya.

Dia bilang sekali lagi, “Kamu akan berterimakasih padaku untuk apa yang tidak aku lakukan di hari ini.”

Gadis itu pun menangis lagi.

* * *