Semalem saya susah tidur lagi—halah, emang seumur hidup susah tidur kayaknya. Mau menulis review film lain, semangat sepertinya luruh bersama hujan (alasan). Jadi saya nonton anime yang sudah lama ada di list Netflix saya tapi belum juga saya tonton sejak lama. Bukan karena saya enggak suka anime, sih. Ini lebih karena prasangka saya kalau anime ini akan lucu-lucu menggemaskan seperti kebanyakan yang lain. Sesuatu yang sehabis ditonton berlalu begitu saja. Untuk prasangka ini, saya salah. Saya masih memikirkan anime ini sampai siang, sore, dan sekarang ini. Jadi saya tulis review ini agar perasaan yang mengendap di kepala saya hilang dan saya bisa move on ke urusan lain.

Saya enggak tahu siapa itu Makoto Shinkai sebelum semalam. Setelah ini, dia jadi sutradara anime yang sepertinya akan saya kejar terus filmnya. Selain The Garden of Words ini, saya sudah menyiapkan empat film Makoto Shinkai yang lain untuk pekan ini.

Saya suka slice of life; cerita tentang kejadian sekilas berlalu di kehidupan tokoh yang diceritakan. Bukan yang dengan konflik besar dan segala macam kerumitan. Kejadian biasa saja. Yang biasanya terlewatkan. Tapi ketika diingat kembali, rasanya bagaimanaaa … gitu. Anime ini tipenya seperti itu. Bukan cerita dengan konflik yang membuat kamu jadi degdegan. Sederhana sekali malah ceritanya; dua orang yang tidak sengaja bertemu di sebuah taman ketika hujan. Yang satu bolos sekolah, yang satu bolos kerja.

Awalnya mereka cuma terdiam. Takao Akizuki, yang masih berusia lima belas tahun dan punya cita-cita ingin menjadi pembuat sepatu, menggambar desain sepatu di sketch book sementara Yukari Yukino yang dua belas tahun di atas Akizuki, minum bir dan makan cokelat—padahal itu pagi hari.

Ada yang Yukino tahu tentang Akizuki setelah dia melihat logo sekolah di saku kemeja Akizuki tapi Yukino menyimpannya sendiri. Dia berdiri dan membacakan bagian pertama tanka (puisi dengan lima baris):

{

Narukami no sukoshi toyomite

(A faint clap of thunder)

sashi kumori

(Clouded skies)

Ame mo furanu ka?

(Perhaps rain comes)

Kimi wo todomemu

(If so, will you stay here with me?)

Akizuki bingung dan Yukino pun pergi. Beberapa kali mereka bertemu lagi di tempat yang sama, ketika hujan, ketika keduanya membolos lagi. Akizuki bercerita tentang keinginannya untuk menjadi pembuat sepatu dan suatu ketika, Yukino menghadiahkan Akizuki buku tentang cara pembuatan sepatu. Bukan buku yang murah, seperti kata Akizuki. Kemudian Akizuki pun punya keinginan untuk membuatkan Yukino sepasang sepatu karena gadis itu bercerita bahwa dia tidak yakin masih bisa berjalan dengan kakinya sendiri—bukan literally enggak bisa jalan, ada sesuatu yang enggak dia ceritakan ke Akizuki tentang masalah hidupnya.

Cerita selanjutnya, nonton sendiri, yaaa….

Saya mau menceritakan yang lain; tentang sepatu yang jadi simbol di sini. Waktu saya menonton untuk pertama kali, saya enggak begitu memperhatikan sepatu-sepatu yang dipakai oleh Yukino. Waktu menonton untuk kedua kali pun, masih enggak terlalu peduli. Tapi tadi sore, waktu saya melihat lagi film ini, saya menyadari satu hal; sepatu-sepatu ini jadi semacam petunjuk tentang perasaan Yukino.

Sedari awal, dia selalu memakai sepatu dan menyimpan banyak hal tentang dirinya yang enggak dia ceritakan pada Akizuki. Lalu ketika kemudian dia mulai membuka sebelah sepatunya—ketika Akizuki ingin mengukur kaki Yukino—dia mulai bercerita. Enggak banyak tapi setidaknya dia mulai membuka diri. Sampai ketika di adegan terakhir, dia mengejar Akizuki tanpa sepatu, ketika itu, dia mengatakan semua yang dia simpan.

Yukino ada di keadaan paling jujur tentang dirinya ketika dia enggak memakai sepatu. Saat seperti itu, dia membiarkan dirinya vunerable. Seolah hal itu jadi simbol untuk melindungi diri—atau mungkin menutup diri. Lalu Akizuki ingin membuatkan Yukino sepasang sepatu yang bisa membuatnya ingin untuk berjalan lagi.

Ah, saya suka sekali betapa tenangnya film ini berjalan. Dialognya enggak banyak tapi setiap kata berguna. Saya suka melihat bagaimana Yukino dan Akizuki seolah terasing di kota itu dan mencari tempat di mana mereka bisa menyendiri—awalnya. Sampai kemudian mereka saling menemukan di saat hidup mereka ada di titik terendah.

Lalu tanpa mereka sadari, mereka saling menyelamatkan. Ini film tentang perasaan yang ganjil (cowok yang suka dengan gadis yang dia temui di taman dan sejak awal dia tahu kalau usianya jauh di atasnya), tentang kesepian, tentang menemukan, mungkin juga tentang penderitaan yang enggak terkatakan.

Filmnya terasa sepi padahal banyak shot kepadatan dan kesibukan kota. Tapi rasanya hampa. Ketika kemudian masuk ke scene di taman dan Yukino dan Akizuki mulai bicara, rasa sepi yang ada mulai berkurang. Ini aneh menurut saya. Dan tentang tamannya; indah sekali.

Saya ingat beberapa bulan belakangan, ketika saya—enggak sengaja—ada di keadaan di mana, mungkin, saya diselamatkan. Saya enggak tahu apa saya menyelamatkan orang lain juga, sih, sayangnya. Tapi saya dipertemukan dengan banyak cara dengan banyak orang yang kemudian membuat banyak cerita.

Sesedih-sedihnya cerita itu, setelah bulan berlalu, sedihnya sudah enggak terasa lagi. Yang tertinggal hanya kenang-kenangan manis yang kalau diingat, rasanya ingin sekali saya berterimakasih karena mereka ada dan pernah ada. Walaupun ada yang kemudian pergi, tapi banyak juga yang masih di sini. Tanpa mereka, rasanya, bulan-bulan lalu itu, enggak akan tertahankan.

Maaf curcol. Hahahaaa…. Tapi karya yang bagus itu, menurut saya yang seperti film ini; yang ketika selesai, kamu malah memikirkan tentang dirimu sendiri dan apa yang dia bawa untukmu. Atau yang dia ingatkan, bangunkan, sentuh, apapun. Karya seperti ini, menurut saya, karya yang jujur. Yang personal karena bicara tentang perasaan terdalam karakternya tapi juga universal karena perasaan itu—bisa jadi—kamu rasakan juga, lalu membuat kamu berkata, “Ah, me too!”

Jadi, bagaimana akhirnya filmnya? Hmmm … gimana, ya? Saya menutup review ini dengan bagian kedua tanka di atas aja, deh:

{

Narukami no sukoshi toyomite

(A faint clap of thunder)

furazu to mo

(Even if rain comes not)

warewa tomaramu

(I will stay here)

imoshi todomeba

(Together with you)

Penilaian Akhir

  • Plot 82%
  • Character 80%
  • Storytelling 84%

Total Nilai